Archive

Bajak dan Laut

“Pemerintah dan rakyat Makassar tidak boleh berlayar ke mana pun kecuali Bali, pantai Jawa, Jakarta, Banten, Jambi, Palembang, Johor, dan Kalimantan, dan harus meminta surat izin dari Komandan Belanda di sini (Makassar). Mereka yang berlayar tanpa surat izin akan dianggap musuh dan diperlakukan sebagaimana musuh. Tidak boleh ada kapal yang dikirim ke Bima, Solor, Timor, dan lainnya semua wilayah di timur Tanjung Lasso, di utara atau timur Kalimantan atau pulau-pulau di sekitarnya. Mereka yang melanggar harus menebusnya dengan nyawa dan harta.”

– Butir Sembilan Perjanjian Bungaya

Siapa yang hendak ditunggu jika semua orang telah berkumpul dalam halaman penuh kecemasan? Kabar apa yang mesti disiarkan karena kekalahan telah mengalir seperti sungai yang menghanyutkan ranting patah, daun gugur, dan harapan ke lautan yang ombaknya menghapus makna dari pepatah.

Dalam beberapa epos purba dan folklor, laut telah menjadi tinta sumpah – bukan hanya sebagai latar, tetapi juga penentu alur dan ilham bagi kemunculan kisah heroik selama sekian abad. Dari jiwa gelap Anne Bonny hingga Khairuddin Barbarossa yang dijuluki kapten berjanggut merah yang kejam. Kisah kemurkaan Sawerigading di lautan untuk menemukan kekasihnya hingga kemistisan kapal Flying Dutchmen yang dikutuk mengarungi tujuh samudera.

Pada periode yang sama, Alfonso de Alburquerque – seorang penjelajah dari Portugis, membuka gerbang bangsa Eropa memasuki Asia dan merintis lahirnya kolonialisme selama berabad-abad. Demi Feitoria, Fortaleza, dan Igreja, mereka memulai pelayaran dari Sungai Tagus dan akhirnya berhasil menanam tapal wilayah dari perang dan diplomasi di negeri asing.

Tanjung Harapan di Afrika adalah terminal laut yang menghubungkan penjelajah Eropa dengan benua yang kini kita kenal sebagai Asia. Dari sana, kapal-kapal ini berlayar ke Malaka sebelum tiba di Maluku, Banda, dan Ternate – yang menjadi jantung kekayaan di Nusantara pada masa itu. Portugis – wilayah yang berjarak kurang lebih 6.894 mil laut dari Nusantara, tiba di Banda pada tahun 1512 dan memulai monopoli perdagangan rempah-rempah.

Waktu mengubah wajah benua dan teknologi pelayaran meringkas jarak. Kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara waktu itu tumbuh menjadi kota kosmopolit. Terjadi interaksi dan transaksi antar bangsa. Namun harga yang harus ditebus untuk itu semua tidaklah murah. Sebab, bangsa yang datang kemudian, bukan hanya hendak memonopoli perdagangan, tetapi juga jalur pelayaran.

Sebuah bangsa yang hendak monopoli dua hal tersebut, mesti mengangkat bendera merah, menembakkan meriam, dan menjadi pemenang yang memaksa sebuah kerajaan melakukan perjanjian. Itulah yang terjadi di Kerajaan Gowa pada tahun 1667 ketika VOC hendak memonopoli perdagangan dan pelayaran di timur Nusantara. Butir perjanjian yang dikutip di awal catatan ini merupakan salah satu siasat kolonialisme untuk mengamankan dua jalur yang hendak mereka kuasai.

Seorang pelaut ulung tidak pernah bisa diceraikan dari laut. Ketika pertama kali membaca buku Bajak Laut karangan La Side, ada hubungan erat antara kolonialisme, kebudayaan maritim, dan kesenjangan ekonomi yang ditunjukkan melalui pesta pernikahan para bangsawan. Dan dengan segera – kausalitas dari tujuan Alfonso de Alburquerque berlayar ke Asia kian tidak tertebak – melahirkan kolonialisme, monopoli pelayaran, penindasan, dan munculnya gerakan anti penjajahan semacam I Tolok – juga itu berarti memicu terjadinya kekacauan sosial yang membuat tokoh seperti Nakhoda Salabangka menjadi bajak laut yang oportunis dan kejam.

Laut – dengan pantainya, adalah cara kita menunggu ketika semua telah berkumpul dalam halaman penuh kecemasan. Sebab ia selalu menyimpan rahasia dari kesedihan dan kepasrahan manusia. Buku ini patut dibaca untuk mencurigai makna laut dalam benak kita. Apakah tempat indah untuk menghibur diri pada akhir pekan atau akan ada petang yang mengambang dan menemani debur ombak tempat kita menemukan kisah-kisah agung yang telah dan akan terjadi? Selamat membaca!

Prolog untuk buku Bajak Laut karangan La Side yang akan terbit di Basabasi.

Standard
Archive

Bocah Lelaki yang Menulis Puisi

(NASKAH MONOLOG ADAPTASI CERPEN YUKIO MISHIMA DENGAN JUDUL YANG SAMA)

JAM MENUNJUKKAN PUKUL DUA DINI HARI. LELAKI ITU TERBANGUN DARI TIDUR. MEMBUKA BUKU CATATAN DI ATAS MEJA TULIS. SETELAH BERUSAHA MENULIS, TETAPI TETAP TIDAK BISA.

Ini adalah momen puitik. Mimpi itu kembali. Aku ada dalam alam puitik. Mimpi yang aku tunggu sekian lama akhirnya membentuk dunia metafor. 

Mimpi ini tidak seperti dunia metafor yang telah lalu, kepompong yang membuat renda dari daun-daun akasia atau kawanan bangau melesat ke tengah lipatan ombak untuk mencari jasad orang tenggelam. 

Aku harus menulis puisi malam ini. Betapa tahun-tahun usang dan sunyi begitu kejam terhadap kehidupanku. Kekejaman itu seringkali menumbuhkan hasrat untuk bunuh diri.

Dan aku, dalam sunyi kehidupan dan pikiran, telah berkali-kali melihat tubuhku diseret ke taman berbunga yang disinggahi para peziarah putus asa.

Hidup sendiri dan sendirian adalah keegoisan tertinggi manusia. Kadang, saat melihat sepasang kekasih bercumbu dengan latar matahari senja, sepintas sesal menghangat. Dan aku tahu, puisi bisa menyelamatkan hidupku dari semua perkara yang tidak bisa aku maafkan.

BERDIRI DARI KURSINYA.

Kata apa yang tepat untuk membuka puisiku? Hanya pada momen puitik seperti ini, metafor dalam benak menjalar dan menguasai seluruh indraku. 

Metafor ini tentang melapas kutukan benci dalam jiwaku. Terbayang tubuh perempuan yang pernah aku cintai atau masih aku cintai, terlilit lidahku yang lemah dan tajam. Ia meronta dengan seluruh hasrat dalam diri dan mulutnya yang penuh rayu memuntahkan kata-kata ke atas lantai ini.

Metafor ini menggali penyesalan dalam diriku. Tapi mengapa aku tetap tidak bisa menulis satu kata pun?

DUDUK DI TEPI RANJANG DAN TERMENUNG MEMANDANG PIALA.

Aku adalah penyair. Lihatlah piala itu. Seluruh kata-kataku berdiri di sana. Mengakui kemahiranku menjelaskan persoalan rumit yang orang-orang alami di dunia ini.

Cinta? Airmata? Politik? Penggusuran? Onani? Aku telah merangkumnya ke dalam satu kata; puisi. Piala itu adalah milikku dengan seluruh kata yang menjunjungnya dengan abadi.

BERDIRI MENGANGKAT PIALA ITU DENGAN BANGGA.

Lihatlah piala ini. Aku telah abadi sebagai penyair. Jika penyair lain butuh merasakan tergusur untuk menulis penggusuran, berbeda denganku. Aku hanya butuh membayangkan semuanya dalam kamar ini. 

Di dalam jiwaku, segala perasaan di dunia ini telah aku terima, meski bentuknya hanya firasat, dan kadang-kadang datang sebagai dugaan semata. Tapi itu sudah cukup untuk mengetahui apa yang terjadi di dalam jiwa orang-orang dan menuliskannya ke dalam puisi yang terang.

Oh, waktu begitu cepat berlalu. Dua puluh tiga tahun lalu, saat seluruh penyair yang karyanya dipuja saat ini, bertepuk tangan untuk diriku yang masih berusia lima belas tahun. 

Inilah Penyair Muda kita dengan karyanya yang mengagumkan, Sepekan: Sebuah Kumpulan Puisi.

TERTAWA.

Merah penuh cahaya. Aku masih hapal warna karpet yang disediakan untuk menyambutku ke atas panggung. Seluruh lampu sorot mengarah kepadaku. Tidak ada beban yang mampu memberatkan hidupku sebagai penyair. 

Kebebasan adalah sebatang lilin. Tapi jangan pernah membakarnya dalam ruang yang penuh cahaya. Demikianlah aku menutup pidato kemenangan buku puisiku malam itu. 

KEMBALI KE MEJA TULIS.

Malam ini, aku tidak akan membuyarkan momen puitik ini begitu saja ke udara kamarku yang pengap dan penuh dendam. Aku adalah penyair. Puisi adalah sukma yang kugenggam.

MENGUCAPKAN APA YANG IA TULIS.

Malam membuka mulut rimba dan lidahku…BERPIKIR SEJENAK LALU MENCORETNYA.

Lidahku adalah rahim bagi kekalahan…BERPIKIR SEJENAK LALU MENCORETNYA.

Rimba kekalahan memancung lidahku…BERPIKIR SEJENAK LALU MENCORETNYA.

BERDIRI DARI KURSI MENJAUHI MEJA TULISNYA.

Mengapa semua kata hambar dalam kepalaku? Apakah ini sama saat aku melihat perempuan yang pernah aku cintai atau masih kucintai itu, mengambil sayap dan terbang ke pelukan orang yang lain?

Kata-kata tidak bersayap. Tapi mengapa ia bisa terbang begitu saja dari kepalaku?

Tidak, ia tidak hilang, mungkin aku belum menemukan pengalaman puncuk agar bisa lebih mengilhami alam puitik ini.

Kalian harus tahu, tahun saat berhasil mendapatkan piala itu, dalam sehari aku bisa menuliskan dua atau tiga puisi. Beberapa di antaranya dipuji bagus oleh kakak kelas dan guru-guruku, meski bagiku puisi itu lemah dan payah. 

Bayanglah, betapa rendah selera puisi mereka di mata penyair muda seperti diriku?

Muda? Apakah kerutan penderitaan ini masih membuatku muda? Apakah rerimbun kumis penyesalan ini tetap membuatku muda?

TERTAWA.

Penyair muda. Kala itu, semua orang menginginkan gelar tersebut di depan namanya. Agar gelar itu masih milikku, aku harus menulis puisi malam ini. Inilah saat paling tepat menulis puisi. Metafor, alam puitik, dan kepergiannya sudah cukup menjadi puisi.

TERMENUNG.

Jika tubuhku diseret ke taman berbunga yang disinggahi para peziarah putus asa, apakah aku masih dinggap penyair yang mati muda?

Tidak. Tidak. Aku tidak ingin mati sebelum menuntaskan dendamku melalui puisi kepada perempuan yang mencuri kata-kataku dan menjadikannya sayap untuk terbang.

Aku ingin menjalani hari tua seperti Goethe. Kehidupan Schiller, seperti kata juru monitor dulu, tidaklah begitu tepat dengan kondisiku saat ini. Masih ada begitu banyak hal yang harus aku puisikan sebelum jiwaku bebas.

KEMBALI KE MEJA TULISNYA DAN TERMENUNG MEMIKIRKAN JUDUL PUISINYA.

Sepertinya judul ini menarik, Sarang Dusta pada Lidi Sayapmu. 

Dunia ini butuh dusta agar tetap seimbang. Kesedihan adalah cermin tempat wajah manusia tersenyum. Bukankah mereka seperti kumpulan lidi yang mengepak dan membersihkan halaman.

Mengapa manusia membersihkan halaman sementara bukan dirinya yang mengotori? Apakah karena takut pada realitas atau selama ini mereka terpenjara oleh ilusi yang membingungkan?

Satu puisi lahir karena kesedihan, kutukan, atau keputusasaan, dan pusatnya adalah kesunyian.

Setelah kepergian perempuan jahannam itu, bertahun-tahun aku hidup sendiri sebagai seorang perenung yang berusaha menulis puisi. Kamar ini adalah saksinya, aku ada dalam pusat kesunyian, tempat puisi-puisi agung lahir.

Aku tidak takut pada realitas dan segala kejeniusan dalam diriku tidak membuat aku terpenjara oleh ilusi membingungkan. Aku selalu jujur dalam menuliskan puisi.

Puisi tidak boleh diisi dusta. Maka biarkanlah aku yang menuliskan tentang kedustaan dalam puisi ini.

BERDIRI MENGANGKAT KERTAS DAN PULPENNYA.

Aku telah menemukan judulnya. Berapa waktu yang saya habiskan sepanjang malam hanya untuk menemukan judul puisi yang ingin aku tulis?

Apakah kalian bisa bertahan hidup merenungi banyak hal dalam kamar kecil ini? 

Aku melakukan itu karena hidupku telah dikuasai puisi. Dan pusat puisi ada dalam kesunyian.

Sekarang tinggal menemukan ritus untuk membuka puisi ini.

BERJALAN MENGELILINGI KAMAR DAN BERULANG KALI MENGUCAPKAN KATA-KATA INI.

Dusta.

Penyesalan.

Pegkhianatan.

WAJAH BINGUNG.

Mengapa tidak ada emosi yang aku temukan dari kata-kata itu? Apa itu dusta? Betapa menjengkelkannya ketika berada di alam puitik, aku justru kehilangan emosi terhadap kata-kata. Semuanya menghambar.

Aku harus membuka kamus untuk menemukan arti katanya.

MENGAMBIL KAMUS DI ATAS MEJA DAN MENCARI ARTI KATANYA.

dusta/dus·ta/ a tidak benar (tentang perkataan); bohong;
berdusta/ber·dus·ta/ v berkata tidak benar; berbohong;
pendusta/pen·dus·ta/ n pembohong

BERPIKIR.

Mengapa aku tetap tidak menemukan emosi dari kata dusta. Apakah ini karena sudah terlalu lama perempuan itu pernah berdusta kepadaku. Ataukah aku butuh dusta yang baru untuk menemukan epifani dair semua ini.

Tidak. Tidak demikian. Segala perasaan telah ada dalam diriku. Aku bisa merasakaan semua perasaan tanpa harus melakukan hal-hal yang aneh. Aku pasti bisa menulis sebuah puisi malam ini.

MENGAMBIL PULPEN DAN BEBERAPA LEMBAR KERTAS DARI ATAS MEJA. KE SAMPING LEMARI DAN MENULIS SAMBIL BERDIRI DAN MEMBAKAR ROKOK. 

BEBERAPA KALI MENULIS KALIMAT PEMBUKA DAN TIDAK MENYUKAINYA LALU MENGGULUNG KERTAS TERSEBUT DAN MEMBUANGNYA.

Sial. Kata-kata yang dimuntahkan perempuan itu ke lantai mengganggu pikiranku.  Aku harus menbersihkannya sebelum hal itu mengotori alam puitikku.

BERJALAN KE SAMPING RANJANG. MENARIK KARDUS DI BAWAHNYA. MENGAMBIL BUKU SEPEKAN: SEBUAH KUMPULAN PUISI.

Meski berdebu, inilah buku pertama yang aku tulis. Ada baiknya aku membaca beberapa puisi untuk membantuku menemukan kalimat pembuka untuk puisi yang ingin aku tulis ini.

Siapa tahu, dari puisi lama ini, aku bisa juga menemukan emosi dari kata dusta.

MEMBACA PUISI.

Nyanyian Orang Hilang

seorang anak menghapus kata-kata dari papan tulis

padahal itu tidak pernah jadi miliknya

dari jendela, daun-daun menguning enggan gugur

meski tangan angin berusaha meraihnya

biarkanlah terpisah, dengarlah jeritan alam

anak itu menghapus kata-kata dengan tangan angin

kini, kulihat matahari begitu dekat dari jendala

membawa duka mereka yang gugur ke tanah 

24 Juni 1974

TERTAWA.

Jika ada yang ingin membandingkan puisiku dengan puisi Rangkuli, ketua Klub Sastra di sekolahku dulu, tentu itu adalah sebuah ketidakseimbangan yang mendekati penghinaan. 

Rangkuli terlalu manja memilih kata. Terlebih setelah ia jatuh cinta dengan seorang perempuan yang telah menjadi istri seseorang, puisi-puisinya menjadi melankolis dan penuh bualan. Jatuh cinta memang adalah hal yang menjijikkan.

Aku tidak ingin terjebak dengan melankolis serupa. Aku telah merasakan jatuh cinta, meski sesaat dan kini telah didustai karenanya, itu tidak bisa membuatku menjadi menjijikkan.

Ah, sudahlah membahas Rangkuli. Membaca puisi-puisiku yang dulu cukup memberi semangat untuk menulis puisi saat ini.

BERJALAN KEMBALI KE DEKAT LEMARI DAN MULAI MENULIS.

Dusta. Dusta. Dusta. Ah, puisinya telah terlintas dalam benakku. Aku telah menemukan puisinya.

Aku harus segera menuliskannya.

Sarang Dusta pada Lidi Sayapmu

kau adalah pigura terakhir yang berdiri di ruang tamuku

aroma glacier meruak an dusta membusana di tubuhmu

tanganmu menggapai udara yang kering dan hambar 

sepasang sayap atau mungkin puisiku 

membawamu terbang

tetapi tanganku terlipat ketika ingin menggapai ketinggianmu

hanya lidahku menjulur jauh mendekatimu

menahanmu dan menjeratmu

kau meronta dengan mengharap maaf atas luka

yang tak laku bagi tangguh jiwaku

terbanglah bila kata-kata telah kau muntahkan habis

ke lantai ini, aku akan manari, melepasmu hingga mati 

dalam ketinggian yang tak seorangpun mampu menjangkaunya

TERTAWA

Akhirnya malam ini aku bisa menulis puisi. Setelah sekian tahun lamanya. Hari-hariku hanya penuh perenungan akan dusta, penyesalan, dan pengkhianatan. Kamar ini kembali menjadi saksi, betapa kecerdasan dalam diriku belum benar-benar punah.

Puisi ini menjauhkan aku dari taman berbunga yang disinggahi para peziarah putus asa. Puisi ini telah menyelamatkanku. 

MENGULANG-ULANG BAIT TERAKHIR DARI PUISI

aku akan menari, melepasmu hingga mati 

dalam ketinggian yang tak seorangpun mampu menjangkaunya

LAMPU PADAM. TOKOH KEMBALI TIDUR DI ATAS RANJANG. SEMUA PROPERTI KEMBALI SEPERTI SEMULA.

LAMPU MENYALA. TOKOH KEMBALI BANGUN SEPERTI ADEGAN PERTAMA IA TERBANGUN. MELIHAT JAM DAN TERSENTAK.

Bukankah pukul dua telah berlalu. Ke mana mimpiku yang mengagumkan itu. Ke mana puisi dalam mimpiku itu.

BERGEGAS KE MEJA MENCARI KERTAS YANG IA GUNAKAN MENULIS PUISI. TAPI SEMUANYA TETAP TERSUSUN SEPERTI SEMULA.  MENCARI KERTAS ITU DI ATAS LEMARI. TETAP TIDAK ADA. MENCARI GULANGAN KERTAS YANG BUANG KE LANTAI. TETAPI TIDAK ADA. 

Ke mana mimpiku yang mengagumkan itu. Ke mana puisi dalam mimpiku itu.

MENARIK KARDUS DI BAWAH RANJANG. MENGAMBIL BUKU PUISI PERTAMANYA. 

Perasaan tadi aku telah membersihakn buku ini. Mengapa tetap berdebu. Ke mana puisiku.

SETELAH LELAH MENCARI. IA TERMENUNG DAN MENYADARI. PUISI ITU HANYA DALAM MIMPI DAN IA TIDAK PERNAH BISA MENULIS PUISI.

Kamar ini telah berubah menjadi taman berbunga yang disinggahi para peziarah putus asa.

— SELESAI —

Standard
Journal

Biarkan Kami Membuat Semua ini Menjadi Singkat dan Manis

Hidup kami adalah masa lalu yang sedang terjadi. Dan dengan sumbu yang entah menyala hingga kapan, kami berusaha menyangkal hal tersebut; pasungan gelar akademik, punggung muda yang menolak zaman, dan upaya meniup dunia yang berkabut, membuat kami tidak ingin menjadi epigon atas sejarah yang telah ada. Tetapi tetap saja, upaya ini tidak membuat sejarah menjadi gentar dan bertepuk tangan – ia telah menghadapi euforia semacam ini setiap zaman.

Mereka yang pernah liar di padang awanama untuk memburu babi dan rusa, mereka yang pernah menyerbu hutan dan membabat pohon-pohon untuk menanam gandum dan padi, mereka yang pernah dikirim ke medan perang lalu pulang dengan kaki pincang dan lencana pahlawan, mereka yang pernah menemukan rumus-rumus fisika dan kimia sambil menulis puisi tentang cinta dan revolusi. Produk terbaik dari setiap generasi itu adalah kalimat-kalimat indah yang kami kutip lagi tanpa konteks peristiwa. Kami ingin membom dunia ini dengan selongsong gagasan yang tampaknya berbahaya dan kosong.

Sementara di dunia nyata ini, kami masih berjuang dalam pertempuran yang sudah mereka menangkan – mungkin juga telah membunuh mereka berkali-kali, sebelum tiba di sini dan kami luput menyiapkan taktik apa pun untuk mengalahkan mereka. Atau satu-satunya taktik yang kami siapkan hanya menyalahkan warisan buruk; orde baru, segregasi, komunisme, sekolah, kerusakan alam, sampah plastik, atau tataran cara beragama. Sungguh itu semua hanya dan mungkin menjadi catatan kaki yang gagal kami rumuskan menjadi konsep.

Lalu kami mengidentifikasi fakta-fakta semacam itu menjadi turunan dari problem sosial yang egois. Tidak cukup sampai di sana, kami juga melengkapinya dengan argumen yang hampa; tentang hidup yang sementara dengan ide-ide keabadian, tentang bunuh diri kelas dengan negosiasi pengetahuan, tentang tumbuh dan saling menjatuhkan. 

Tetapi ada fakta lain yang kami sangkal sepanjang musim, pohon-pohon tua yang tidak sempat mereka tebang itu bisa menyimpan ingatan. Mereka tumbuh dan menyaksikan kehancuran demi kehancuran dan biologi sebagai ilmu selalu luput menjelaskan fenomena tumbuhan itu kepada kami. Perusahaan kayu lalu menebangnya dan memindahkan ingatan itu menjadi meja. Kami gunakan bekerja di pagi hari, meminum kopi pada sore yang melelahkan, dan pada malam hari kami menaplaki meja itu dengan kisah-kisah durhaka penuh keluh tentang bau balsem dan bir dingin.

Seluruh keagungan atas permenungan cita-cita terendam di rawa belantara. Petuah tentang, emas yang terkubur di lumpur akan tetap menjadi emas adalah panduan yang menunggu kami menyerah di ujung keangkuhan masa muda. Sebab kami adalah generasi yang memikirkan kematian lebih sering dibandingkan menyadari diri kami terbangun setiap hari pada pagi yang terlintang seperti tali jemuran – yang padanya, seprai dengan bolong kecil bekas rokok dan noda orgasme tidak saling mengenal. Andai saja kami bukan pengecut, sudah kami tinggalkan barak-barak kantor, mengejek setelan jas orang tua kami, menghapus praktik usang adat tentang pernikahan, masuk rumah, dan kematian. Kami akan melakukan semua kebalikan dari kemapanan pikiran orang tua kami. Nyatanya, kami hanya peduli pada lampu sorot yang sesungguhnya tidak pernah benar-benar menyala.

Kami baru saja melintasi pangkal usia dua puluh lima tahun dan telah memandang masa kecil dengan penuh romantisme – dan sedikit arogansi kami menertawakan masa kecil mereka yang lahir belakangan. Padahal kami adalah produk yang sama seperti mereka, yang dihajar oleh lokalitas kolektif atau dihapus dari identitas destruktif. Kami mendulang masa kecil yang dramatis sebagai jalan pintas untuk merasa lebih baik dari mereka – atau paling tidak dari diri sendiri. Pada akhirnya, seperti penutup paragraf pertama, kami memang tidak sanggup membuat perubahan, juga lagi membuat sejarah menjadi gentar dan bertepuk tangan. Kami tidak melakukan apa-apa dengan benar. 

Sementara bahasa tak punya industri ketika tamu-tamu dari masa kecil melintas sebagai puisi yang tidak laku di toko buku. Kami ingin membunuh ingatan mereka atau mereka satu persatu. Masa kecil kami tidak bahagia. Masa kecil kami tidak bahagia. Itu nyata dan kenyataan itu masih bisa membuat kami tertawa. Meski kami tetap bingung komedi apa yang disisakan tragedi ini yang membuat kami terus tertawa dan bangga atau tertawa bangga.

Oh! Guru kami monster bernama pengganti orang tua di sekolah. Mereka mencintai kami dan membuat kami ketakutan. Mereka memaksa kami menulis nama sendiri dengan tangan kanan. Mereka memaksa kami duduk dengan tenang di kursi yang tidak boleh digeser. Mereka memaksa kami meninggalkan kelas saat jam istirahat. Mereka memaksa kami menyelesaikan pekerjaan rumah setiap hari. Mereka memaksa kami menghafal nama-nama pahlawan yang hidupnya penuh omong kosong. Mereka memaksa kami melukis pemandangan dengan sepasang gunung yang tidak pernah meletus. Kami hidup di masa kecil dengan paksaan-paksaan. Tetapi ketika dewasa, kami berharap mengguncang dunia seperti super hero.

Sungguh terlambat bagi kami untuk bertemu dengan surat Charles Bukowski yang ia tulis pada tanggal 12 Agustus 1986 – beberapa di antara kami belum lahir dan atau mungkin orang tua kami bahkan belum menikah. Surat yang ditujukan kepada John itu ingin kami salin. Kami ingin mengirim surat itu kepada diri kami sendiri. Tetapi kami kemudian terus menerus menemukan diri kami di dalam surat itu dan merasa tidak perlu melakukan apa pun lagi, “…sebagai seorang pemuda, saya tidak dapat percaya bahwa orang-orang dapat menyerahkan hidup mereka pada kondisi-kondisi itu…” sebab frasa kondisi-kondisi ituadalah segala keangkuhan. Kami yang keras kepala dan mudah menyesal. Kami yang penuh rencana dan mudah putus asa. 

Tunggu! Mengapa kami membahas surat Bukowski? Bukankah kami tidak senang membaca sesuatu yang membuat kami tidak nyaman dan tersinggung. Kami tidak ingin kenyataan kami diremehkah oleh orang asing. Kami tidak ingin kemegahan masa muda ini diejek oleh orang tua. Kami bahkan tidak ingin membaca tulisan semacam ini!

Apakah pemabuk itu tidak tahu, kami kini purna-virtualyang hidup di media sosial. Di sana, kami berkerumun seperti serigala dan bereaksi seperti lebah; kami menyerang pandangan pribadi yang berbeda dengan kami, kami menggunakan semua umpatan buruk untuk menjatuhkan mental orang lain. Kami menolak gagasan atas kebenaran tunggal dan pada waktu yang sama kami hanya setuju pada kelompok kami. Apakah Bukowski tidak khawatir makamnya kami kencingi karena menyerang kesangaran kami? 

Kami baru saja melintasi pangkal usia dua puluh lima tahun dan telah melihat semua kesengsaraan yang dunia ini tawarkan. Tidak seorang pun yang punya kuasa menginterupsi kami! Kami tidak punya identitas dan kami harus mengaku sebagai pewaris sah dunia ini. Tetapi kami bingung mesti menuntut pengakuan kepada siapa. Kami tidak peduli jika dunia ini tidak ingin berbicara kepada kami. Kami dibuat menderita oleh dunia ini dan secara alami kami tumbuh dengan segala eksklusivisme abad dua puluh satu.

Ya! Kami mencuri dunia ini dari generasi sebelum kami. Mereka tidak percaya kami bisa memperbaiki dunia ini. Kami ingin dunia ini menjadi lebih baik dengan tidak melakukan apa pun. Apakah mereka tidak bisa memahami semangat zaman ini? Kami ingin meninju dunia dengan cara yang kami curigai tidak dilakukan oleh generasi sebelum kami. Tetapi nyatanya, yang berbeda bukan berarti yang pertama. Kami hanya tumbuh sebagai orang asing yang mencoba membantu kalian mengerti hal-hal yang sudah kalian ketahuimeskikami tidak tahu siapa diri kami sebenarnya. Historia magistra vitae.

pertama kali tayang di https://www.asumsi.co/post/biarkan-kami-membuat-semua-ini-singkat-dan-manis

Standard
Archive, Journal

Gula, Mesin Cetak, dan Kereta Api

Kemunculan kelas menengah pada masa kolonial hadir seiring berkembangnya kapitalisme perkebunan – dilanjutkan dengan munculnya industri mesin, yang digerakkan oleh komoditas gula, lalu mesin cetak untuk koran dan hadirnya kereta api setelah masa tanam paksa di Batavia diberlakukan.

Laju permintaan kapitalisme perkebunan saat itu memaksa pemerintah kolonial melakukan cultuurstelsel. Pada waktu yang sama, mereka sadar, untuk menjalankan program juga butuh menyebarkan berbagai maklumat resmi. Surat kabar tentu pilihan tepat. Tetapi, untuk menunjang semua itu, dibutuhkan transportasi yang lebih gegas. Jalan raya yang sudah dibangun sejak tahun 1808 dianggap tidak lagi mampu mengatasi tinggi dan cepatnya permintaan. Tercetuslah ide untuk membangun moda transportasi baru. Yap! Kereta api. 

***

Dibutuhkan lahan yang cukup luas dan di banyak tempat untuk membangun industri gula. Hal tersebut dimulai oleh orang-orang Cina pada abad 17 di Batavia.  Meski kala itu tebu masih digiling menjadi sari kemudian diproses menjadi gula. Industri gula modern baru hadir dua abad kemudian di Pamanukan, Jawa Barat. Sayangnya, karena kesalahan lokasi dan kekurangan pekerja, saudagar dari Inggris yang mencoba membangun industri itu hanya bertahan sekitar satu dasawarsa. Belanda yang memiliki riset yang cukup dalam tentang geografis Batavia, berhasil mengelola industri gula modern secara masif. Kala itu, mereka bahkan sanggup mengekspor gula ke Eropa sekitar 10.000 pikul setiap tahun.

Perjanjian Bungaya antara Laksamana Cornelis Speelman dan Sultan Hasanuddin di Makassar pada tahun 1667 adalah dokumen cetak pertama yang diproduksi oleh pemerintahan kolonial saat itu. Hendrik Brant mendapat kontrak mencetak dan menjilid buku atas nama VOC dengan upah 86 dolar yang dibayar dengan cara mencicil. Sekitar 77 tahun kemudian, surat kabar pertama terbit dengan nama Batavia Nouvelles. Percetakan Benteng yang dikelola oleh Jan Erdman Jordens menandai sumber informasi pertama di Batavia. Meski surat kabar saat itu hanya terdiri dari selembar kertas berukuran folio.Sumber lain manyatakan bahwa surat kabar pada saat itu masih ditulis tangan.

Desa Kemijen layak dicatat dalam sejarah perkeretaapian di Indonesia. Sebab di sanalah pertama kalinya jalur rel kereta api dibangun oleh Gubernur Jenderal Hindia belanda kala itu, L. A. J. Baron Sloet van den Beele. Pembangunan ini diprakarsai oleh perusahaan swasta yang bernama  Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij yang dimulai pada tanggal 17 Juni 1864. Rute pertama kereta api ini adalah Stasiun Semarang-Tanggung, yang kemudian dilanjutkan dengan menghubungkan Semarang dengan Surakarta yang berjarak 110 KM. 

***

Gula, mesin cetak, dan kereta api menjadi simbol dominasi kolonial atas pribumi. Lalu pada peristiwa yang lain, juga menjadi alasan memulai kolaborasi kolonial dengan pribumi untuk menindas pribumi yang lebih lemah. Dalam tulisan ini, tiga bagian itu dijadikan ruang terpisah yang tumbuh bersama untuk melihat kemunculan kelas menengah pada saat itu.

Kolonialisme dalam bentuknya kapitalisme perkebunan dan cultuurstelsel sebatas menjadi rangsangan struktural untuk hadirnya kelas menengah pada masa itu. Mereka adalah para bangsawan dan mestizo yang posisinya semakin lemah. Sejak awal mereka memiliki legacy. Dengan legacy itu mereka menganalisis bagaimana struktur sosial pada masa kolonial bekerja. Mereka percaya bahwa struktur sosial itu dapat diubah dengan segala konsekuensi yang ada di belakangnya.

Metode untuk mengubah struktur sosial cukup beragam. Tetapi, para bangsawan dan mestizo ini sadar, akses mereka kepada kekuasaan, senjata, dan ekonomi cukup lemah. Maka jalan terakhir adalah memanfaatkan kekuatan massa yang pada waktu yang sama juga mengalami penindasan secara kolektif.

Tirto Adhi Soerjo adalah patron nyata tentang hipotesis di atas. Ia golongan bangsawan yang memiliki hasrat untuk menjalani gaya hidup baru. Dan itu yang membuatnya menjadi versi lokal dari kaum borjuis. Dengan agensi yang dimilik, ia mulai menulis di media tentang kritik atas pemerintahan kolonial. Ia menyuarakan kegelisahan massa – mereka yang datang dari kelas bawah. 

Tetapi dalam upaya memahami perjuangan kelas, dibutuhkan konteks untuk melihat pengaruhnya terhadap pranata. Selain itu, kita harus selalu mencurigai perjuangan dan apa yang diperjuangkan oleh kelas menengah. Sebab itu tidak selamanya murni perjuangan kelas. Mereka juga sering kali memanfaatkan perjuangan itu untuk menaikkan posisi mereka sendiri. 

Gula, mesin cetak, dan kereta api adalah pola berulang yang harus selalu diwaspadai. Untuk konteks masa kini, hadir kelas menengah yang datang dari atas atau muncul dari bawah. Mereka memperjuangkan demokrasi, korupsi, dan kebebasan pers. Sayangnya, setelah cukup dekat dengan kekuasaan, mereka hilang. Apakah memang perjuangan yang diinisiasi oleh kelas menengah hanyalah mitos?

Kabar baiknya, sebagian besar kita – jika bukan semuanya, yang memiliki akses bacaan semacam ini adalah kelas menengah. Yang seperti apa? Carpe diem!

Standard
Archive, Journal

1 – Para Pembual yang Populer

Catatan ini saya tulis setelah selamat dari kematian dalam perjalanan ke Toraja. Dengan kaki kanan yang patah, saya akan mengingat mereka melalui tulisan ini; Charles Bukowski yang mulutnya adalah kolam penampungan alkohol, Franz Kafka yang menggerutu pada realitas; Chuck Palahniuk yang selalu kontra pada dirinya sendiri; Milan Kundera yang bijaksana dan penuh kemarahan.

Yap! Semua ini bermula saat sedang memberi makan dua ayam kesayangan saya, Nagasakti dan Heroisma di halaman kontrakan, berdering pula panggilan telepon dari Arkil Akis – teman saya yang bekerja sebagai editor dan punya travel, dia menawarkan pekerjaan untuk mengantar empat orang tamunya yang akan melakukan residensi penulis di Toraja.

Sesuai jadwal, kamis malam saya menjemput mereka di Bandara Sultan Hasanuddin. Setelah perkenalan singkat, mereka naik ke mobil dan kami mulai menyusuri jalur utara yang panjang dan membosankan. Tetapi transmisi Mobil Elf putih yang bertuliskan pariwisata di kaca depannya ini bermasalah. Kemalangan itu terjadi di perbatasan Pangkep dan Barru, tepat di lokasi deretan warung remang-remang – tempat para sopir truk lintas Sulawesi singgah menghibur lelah. Walhasil, saya mengarahkan mereka untuk masuk di warung tersebut.

“Apakah di dalam ada bir dingin?” Bukowski bertanya sambil membuka tutup botol wine flask-nya yang tampaknya sudah kosong.

“Tentu saja!” jawab saya sambil mencari kontak Mahfud – salah seorang kawan di Barru, yang mungkin bisa membantu memperbaiki transmisi mobil ini. Menjaga mereka tidak bosan adalah tugas lain, “selain itu, kamu akan ditemani perempuan-perempuan cantik di dalam sana.”

Kafka hanya tertawa mendengar pertanyaan itu. Kundera membuka dompetnya dan melempar kondom ke arah Bukowski. Sementara Palahniuk duduk di trotoar seraya memasang headset dan mulai mendengar podcast favoritnya. Dengan kata lain, hanya Bukowski yang masih punya inspirasi masuk ke warung remang-remang itu.

Butuh waktu satu jam buat Mahfud datang dan satu jam lagi buat memperbaiki transmisi mobil ini. Kafka, Palahniuk, dan Kundera sibuk memperdebatkan kemenangan Bob Dylan yang meraih Nobel Sastra. Dan Bukowski belum juga keluar dari warung remang-remang itu.

 “Si brandal itu belum juga keluar!” gerutu Palahniuk.

“Tenanglah, Sob. Biarkan dia menyelesaikan malamnya yang berkabut itu dengan bir dan perempuan.” Kafka memberi pemakluman kepada Palahniuk.

“Iya, sampai kapan kita menunggu di sini sementara dia sedang membuat seorang perempuan menjerit-jerit di dalam sana? Kita punya tujuan dan itu sudah melelahkan. Mengapa dia bisa tenang-tenang saja!”

“Paling sebentar lagi dia keluar.”

“Wah, saya jadi paham mengapa kamu sanggup menulis karya tentang metamorfosis kecoak. Kamu memberi terlalu banyak kewajaran pada hidup tetapi pada waktu yang sama gagal menjelaskan kerangka dasarnya; hidup ini keras dan tiada ampun!” Palahniuk merapikan posisi kacamatanya.

“Kamu kira semua hal di dunia ini bisa selesai dengan bergabung bersama komunitas yang pekerjaannya melampiaskan tekanan hidup pada ring perkelahian?”

“Tentu saja! Segala tentang kota adalah perjudian nyata atas hidup. Dan kekerasan selalu punya akar yang sama pada banyak kebudayaan di dunia ini!”

Suara tawa Kafka seolah mengejek pandangan Palahniuk. Perdebatan itu terjadi selama satu jam. Dan Bukowski belum juga keluar dari warung remang-remang itu. Saya akhirnya berinisiatif menelepon dia. Panggilan pertama berlalu. Panggilan kedua berlalu. Dia mengangkat panggilan ketiga saya.

“Sudah beres, Kamerad?”

“Siapa?”

“Saya sopir yang mengantar kamu!”

“Saya sudah di jalan.”

“Di jalan? Maksudnya?”

“Iya, saya sudah di jalan.”

“Kamu tidak salah naik mobil?”

“Anjing! Iya, kalian berbeda di mobil ini.” jawab Bukowski dengan nada kacau.

Setelah kami menunggu satu jam, Bukowski tiba juga. Dia jalan dengan memegang wine flask-nya yang kembali kosong. Matahari mulai terang dan saya belum tidur.

“Bukowski, kamu terlalu payah! Sekali-kali berpisahlah dengan wine flask di tanganmu itu. Lepaskan fiksi-fiksi tentang penderitaan yang kamu karang di bawah kupluk usangmu itu. Hiduplah dengan kenyataan yang ada.” Gerutu Palahniuk kepada kawan residensinya itu.

Don’t try!” jawab Bukowski.

“Bangke!

Kami kembali melanjutkan perjalanan. Setelah melewati perbatasan Barru – Pare-pare, saya mengarahkan mobil ke Cafe Kampoeng Kopi Teras Empang. Jika ada nasib baik, mereka mungkin kelelahan dan butuh istirahat. Saya juga barangkali akan tertidur.

Harapan untuk istirahat sejenak itu sirna! Mereka memang benar-benar pembual, setengah sadar sambil berbaring, mereka masih berdebat. Kali ini tentang belly-side of contemporary life. Saya sudah menebak bahwa ini akan panjang dan membosankan. Dua kutub realisme dalam sastra; realisme lusuh dan realisme magis akan diperdebatkan.

“Apakah mereka benar-benar tidak bisa diam?” gerutu saya dalam hati. Saya yang awalnya tertarik atas semua obrolan mereka mulai jengkel. Rasa kantuk yang payah, tekanan dari kekasih yang ingin dilamar, kontrakan yang berakhir Desember ini, dan bualan mereka atas dunia ini sama sekali tidak bisa menyelamatkan apa pun.

“Kamu pikir realisme lusuh yang kamu agung-agungkan itu bisa menyelamatkan manusia dari tekanan hidup?” Kafka yang semula pasif kini mulai menyerang argumen Bukowski.

“Diam, Kafka!” pinta Palahniuk, “Semua karyamu, Bukowski. Semuanya! Adalah ilusi puisi semata; penderitaan yang kamu lampiaskan pada alkohol; kesedihan yang kamu sandarkan pada alkohol; masa lalu yang kamu tayangkan melalui alkohol, hanyalah ilusi!” lanjut Palahniuk yang mulanya membela realisme lusuhnya Bukowski kini cenderung mengambil pandangan yang berbeda dari keduanya.

Milan Kundera memukul meja dan melempar semangkuk pisang goreng ke arah Bukowski.

*Perjalanan ini berlanjut di 2 – Para Pembual yang Populer

Standard
Archive, Journal

1-Struktur Cinta yang Pudar

Dulu, dulu sekali, saya tidak memiliki bayangan utuh tentang kekusutan kepala penulis dan segera menemukan alasan mengapa jalan hidup mereka tak perlu membuat saya khawatir. Dua simpulan yang membutuhkan untuk saling meniadakan. Semua itu bermula ketika membaca catatan Arief Budiman dalam buku Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan ketika saya masih duduk di penghujung bangku sekolah menengah pertama yang membosankan. Mereka yang ingin lari dari rumah, membenci masa silam yang baru saja berlalu, dan mereka yang mendengar terlalu banyak aturan, mencintai pukul sepuluh malam dengan pintu kamar yang tertutup, akan menemukan sabana dengan gubuk kecil berpenerang suluh. Ke sana dan hanya di sana, tempat terbaik untuk mengumpat nasib buruk. Masa itu, saya tidak peduli sama sajak-sajak Chairil, nisan, aku ini bintang jalang, cintaku jauh di pulau, atau di pintumu aku mengetuk, hanya kepura-puraan yang saya kutip pada banyak omong kosong agar mereka tidak perlu mengerti apa yang sebenarnya ingin saya katakan. Mereka berbicara tentang dunia yang teratur dengan simbol-simbol moral yang akut. Saya hanya ingin mempertemukan belasan tahun baru dalam satu malam yang panjang dan segera bangun di usia dua puluh lima tahun. Tidak ada rumah atau satu-satunya yang berani saya anggap rumah adalah diri saya sendiri. Tidak ada desakan atau satu-satunya yang saya anggap mendesak adalah masuk ke dalam kamar dan seseorang bisa memastikan mengunci pintunya dari luar. Chairil Anwar pada masa itu – mungkin juga kini, nanti, atau di neraka, tetap akan dianggap sebagai panutan. Tetapi bagi saya, dia adalah godam dari palung yang berguna untuk menghancurkan apa yang manusia anggap sebagai dirinya. Lebur tanpa nama atau utuh tanpa nyawa. Diri yang dibenamkan ke dalam cermin dan mereka berdiri di hadapannya dengan penuh syaraf kegetiran. Mereka tertawa dan meminta seseorang di dalam sana menemaninya menghabiskan kebahagiaan yang sudah kadaluwarsa. Sesekali mereka mencoba mendefinisikan apa itu kehidupan dan arti pentingnya terlibat dalam struktur masyarakat yang sakit. Melacak riwayat kebahagiaan dan ingin melibatkan dirinya ke dalam semua warna yang tersedia di dunia, kecuali pekat hitam yang selalu mereka percayai seperti mitos. Lalu apa yang membuat manusia tetap ingin bangun di pagi hari untuk menyiapkan senapan yang tidak bisa mereka kokang? Penyangkalan! Manusia butuh berpura-pura dalam waktu yang lama agar sanggup menjaga jarak dari batas yang selalu berusaha menjadi realitas. Seperti usaha menghindari bising kendaraan tetapi sulit untuk berhenti menghirup polusinya. Manusia menyelamatkan telinganya tetapi membiarkan paru-parunya menjadi saringan polusi lalu sesekali menepi diri ke dalam hutan untuk menghirup udara yang asing. Siapa yang tidak bisa berpura-pura akan menisankan dirinya tanpa nama. Seperti lirik lagu Ridwan Sau yang saya terjemahkan, jika ada tanah baru yang bergunduk / kubur yang tak ditaburi bunga / aule! sayalah itu. Di dunia ini, manusia bisa menciptakan apa pun yang belum pernah dibayangkan sebelumnya, kecuali solusi. Usaha terbaik untuk masalah yang manusia hadapi hanya kompromi yang radiusnya, jika bukan untuk menyelamatkan biografi seseorang, berarti untuk menolong autobiografinya. Jika seseorang dan itu kamu, atau kamu, atau mungkin adalah saya, menemukan solusi atas hidup ini, cukup katakan bahwa itu adalah doktrin. Sampai di sini saya masih sulit menekan tombol enter untuk paragraf baru tetapi harus menutup catatan ini sebelum semua diri saya di masa lalu datang dan tidak bisa kembali lagi ke dunianya yang sudah punah itu. Alasan lain catatan ini hanya terdiri dari satu paragraf panjang yang konstan adalah, untuk mempersilakan dirimu menulis paragraf baru sebelum atau sesudah atau di antaranya. Barangkali kamu punya trauma dan ingin pura-pura melupakan luapannya.

Standard
Archive, Journal

Sebuah Pesta Perpisahan

Saya selalu mewaspadai dua hal dalam hidup; jawaban dan kepastian. Terhadap yang pertama, di tengah taman, saya akan menangkap banyak kupu-kupu meskipun sadar tidak semua dan mungkin tidak ada, yang bisa saya rawat dan menetap di rumah. Terhadap yang kedua, di dalam kepala ini, segala sesuatu terbelah dan tidak pernah selesai, memastikan sesuatu hanya membuatnya menjadi kesia-siaan belaka.

Dalam sebuah kesempatan diskusi, ketika berbicara tentang proses kreatif, saya memilih berbagi tentang pengalaman di awal menulis dan pertanyaan-pertanyaan yang datang dari teman-teman sekitar saat itu.

Sebutlah lima tahun lalu, meski mungkin kurang lebih, bersama beberapa teman, kami memutuskan mulai menjalani salah satu tugas mahasiswa sastra; menulis. Tidak jelas mengapa demikian, awalnya kami hanya senang membaca dan sesekali diskusi kecil-kecilan tentang apa yang kami temukan.

Penjelajahan dimulai dari salah satu periodesasi sastra buatan H. B Jassin, Balai Pustaka. Robohnya Surau Kami milik A. A. Navis memulai pelahapan kami terhadap karya angkatan mereka.

Seiring waktu berjalan, kesenangan saya menulis puisi – juga beberapa teman lain, membuat diskusi semakin menarik. Hingga pada sebuah perjumpaan, teman saya bertanya, “Kenapa-ko kau masih menulis puisi, baru ada-mi Aan Mansyur?” pertanyaan yang akhirnya membuat dia lebih sering dan tekun menulis prosa. Pada kesempatan lainnya, teman itu mengajak saya untuk membenci Aan, baik dalam karya maupun pribadi. Dengan alasan, jika tidak demikian, kami kesulitan terlepas dari bayang-bayangnya.

Saya terbiasa untuk tidak menjawab pertanyaan dan pernyataan semacam itu. Tapi dalam benak, sebuah pertanyaan menyusun tubuhnya sendiri, apakah dengan membenci, saya bisa sehat dan terlepas dari bayang-bayang seseorang? Move on tidak semudah itu, Gaes.

Secara sadar, ketika memutuskan menjadi penulis puisi, saya tinggal di sebuah kota di mana Aan Mansyur begitu berpengaruh dan mendominasi banyak penulis muda. Dan tawaran membencinya bukan pilihan yang baik, setidaknya bagi saya, untuk usaha menemukan dan berkenalan dengan proses kreatif itu sendiri.

Maka yang saya lakukan adalah sebaliknya, saya berusaha mengenal – bahkan jika perlu hingga cara kencingnya, dengan penyair yang saya senangi karyanya. Itulah yang membuat saya membaca puisi-puisi melalui jejak generasi, dimulai dari Sitor Situmorang, Afrizal Malna, Aslan Abidin, dan Aan Mansyur. Beruntung karena dua di antara mereka berada di kota yang sama dengan saya.

Saya tidak tahu apakah pilihan ini salah dan pilihan teman saya benar. Atau mungkin sebaliknya atau tidak kedua-duanya. Saya tidak tahu sekaligus ragu. Yang saya lakukan hanya berusaha dan terus berusaha menemukan jawaban paling sederhana tentang apa itu puisi?

Cara saya saat ini untuk menemukan jawaban itu, dengan membaca sedikit buku – secara jumlah barangkali dalam setahun hanya dua puluh hingga dua puluh lima, dan mengulang-ngulangnya sebanyak mungkin. Selain karena saya sadar kemampuan otak saya mencerna sesuatu memang tidak begitu kuat, itu juga melatih saya untuk fokus terhadap sebuah frame tertentu. Sekali lagi, saya tidak tahu apakah cara ini benar.

Saya selalu mewaspadai dua hal dalam hidup; jawaban dan kepastian. Di kota ini, beberapa penyair muda masih sering terjebak dan mempertanyakan hal serupa. Semisal, mengapa banyak sekali yang ingin menulis puisi dan menjadi penyair? Atau bagaimana cara menaklukkan penyair yang puisinya lebih kuat dari dirinya?

Pertanyaan pertama hanya membenarkan penggalan soneta Neruda, mungkin karena puisi adalah between the shadow and the soul. Tapi untuk menaklukkan penyair lain? Bagi saya, dunia puisi – juga persajakan, harus terlepas dari ambisi kepanikan semacam itu. Saya tidak tertarik kesurupan dengan praktik bahwa, untuk tumbuh harus menebang dulu. Kenapa kita tidak sama-sama tumbuh? Bukankah itu jauh lebih sehat.

Jika pada akhirnya saya memang harus menebang, maka pilihannya adalah menghilangkan beberapa bagian paling mengganggu dalam hidup saya. Semacam menonaktifkan akun facebook, melepas instagram, dan membiarkan path menjadi museum. Itu yang saya lakukan. Dan sekali lagi, saya tidak tahu apakah cara ini yang benar. Saya hanya rindu. Rindu sama siapa? Entahlah. Mungkin seseorang yang di kejauhan sana sedang membaca tulisan ini.

Saat ini saya merasa cukup muda untuk melakukan banyak hal, tapi bayangan bahwa yang saya lalui adalah jalan kecil menjadi tua, membuat saya hanya bisa memilih sedikit hal di dunia ini dan tenggelam di dalamnya. Dan kini, puisi adalah laut yang saya pilih. Maukah kau membantuku bertukar napas ketika tenggelam bersama?  

Standard
Uncategorized

Bersama Joko Pinurbo

Mei 2016, jarum pendek menunjuk angka sepuluh. Kala itu Makassar sedang berada di 36o C ketika penyair yang akrab dengan kata celana dan sarung itu menikmati pagi di beranda hotel. Sebatang rokok setia terapit di jemari dan tangan kanannya bermalasan di lengan kursi. Hirup-hembus-hirup-hembus. Asyik sekali.

“Selamat pagi, Mas Jokpin.” Dia tersenyum. Ajakan berbincang yang disarankan Shinta Febriany disanggupi. Jadilah kami (Chalvin James Papilaya, Cicilia Oday, Irma Agryanti, Wahid Afandi, dan saya sendiri) menuju satu ruang di mana dunia ini terlihat sangat berbeda. Ruang merokok. Ditemani kurator cantik itu, Jokpin berjalan di depan sambil sesekali mengisap rokoknya.

Same Hotel meletakkan ruang merokok di lantai dua. Kami menaiki tangga sambil mengupas lelah. Dalam benak kami, percakapan ini adalah ruang belajar yang jarang dan penting. Apa yang akan dicakapkan?

Penyair kelahiran 1962 itu memilih duduk di pojok. Lima anak muda yang tahun ini terpilih sebagai Emerging Writers MIWF 2016 santun di depannya. Mirip ruang kuliah tapi dalam versi yang lebih santai dan terbuka.

“Sastra kita mulai bergeser ke timur. Kalau sebelumnya dikuasai Sumatra dan Jawa, kini orang-orang mulai tertarik membaca karya-karya dari sini.” Jokpin membuka perbincangan dan menjelaskan pandangannya terhadap keadaan geografis kesusastraan Indonesia saat ini.

“Coba kita perhatikan Mario (F Lawi), karya-karyanya memenuhi halaman sastra hari ini dan Aan (Mansyur) memecahkan rekor penjualan buku puisi.” Pembuka Jokpin mengajak kami untuk masuk ke dalam dunia yang lebih rumit. “Kalian harus menulis sebanyak mungkin dan memanfaatkan bergesernya pusat sastra agar gagasan kalian dapat dibaca banyak orang.” Sebenarnya, pesan ini berlaku bagi siapapun yang ingin menulis.

“Semalam, waktu kalian membaca karya, saya perhatikan kok.” Sambungnya dengan anggukan yang tidak saya pahami. Dia menyebut satu demi satu nama kami dan membahas karya yang didengarnya itu. Tatapan Chalvin dalam, Irma kokoh mendengarkan, Cicilia terlihat tidak ingin kehilangan satu kata pun, Wahid mencerna pesan-pesan untuknya, dan saya sendiri, memperhatikan ekspresi mereka dengan serius.

“Karya kalian, secara teknik, sudah bagus. Tinggal menemukan frame dalam karyamu. Semisal kalau saya baca kumpulan puisi orang lain, saya akan cari tahu frame-nya itu bicara tentang apa. Nah di karya kalian, hal itu belum terasa. Ada. Tapi belum kuat.”

Saya melirik asbak yang tergeletak di depan Jokpin. Sudah empat batang. Membandingkannya dengan asbak yang di depan saya, masih dua batang. “Pakaluru tattara.” Gumam saya dalam hati.

Tidak terasa setengah jam berlalu. Kini Jokpin berbicara soal proses kreatif. “Ibe, ingat waktu kita ngobrol di pojok itu?” Tanya Jokpin dan saya mengangguk sebagai jawaban iya. “Sadar tidak, rokok dan korek kamu ketinggalan.” Kami tertawa. “Nah, tertinggalnya rokokmu itu bisa jadi ide tulisan. Apa lagi pas saya buka, isinya sudah kosong.”

Jokpin membakar rokoknya yang ke lima dan lanjut menjelaskan. “Kamu tinggal ganti pembungkus rokok dengan apa. Kembangkan ceritanya, buat pembaca penasaran dan tertarik untuk tahu apa isinya. Tapi kalau ternyata kosong, mereka mungkin akan ketawa, kecewa, atau malah, tersinggung. Itu bergantung cerita apa yang kamu kembangkan.”

Penyair yang juga senang membaca puisi Remy Silado itu memberikan kami contoh bagaimana, di sekitar kita, ada banyak ide, peristiwa, dan gagasan yang dapat dikembangkan ke dalam puisi. “Tugas seorang penulis adalah memperhatikan sekitarnya.” Sambungnya dengan tekanan nada yang meminta diingat.

Saya sebenarnya mendapat tugas untuk mewawancarai Jokpin. Wawancara? Yang muncul dalam benak saya adalah, menyiapkan draft pertanyaan, kertas, dan pulpen. Tapi melihat Jokpin yang asyik diajak berbicara panjang lebar, muncul pertanyaan lain. Apa ia perbincangan kami yang asyik ini kemudian dibatasi oleh draft pertanyaan?

Jadilah selama kurang lebih dua jam, kami menikmati lintasan pikiran – bertukarnya gagasan, ide, dan semangat untuk terus menulis. “Saya tunggu karya-karya kalian.” Tutup Jokpin yang disambung senyum simpul Shinta Febriany.

31 Mei 2016 di revi.us

Standard
Uncategorized

Tiga Puisi Paling Berpengaruh dalam Hidup Saya

Jika kau bertanya apa arti puisi, maka saya akan menjawab seadanya. Seperti kau menjawab pertanyaan, bagaimana perasaanmu ketika melihat orang yang kau cintai telah mencintai orang lain sebagaimana dia dulu mencintaimu? Huft!

Apa pun jawabanmu, itulah puisi bagi saya. Sederhana? Tentu. Cukup masa lalu saja yang rumit. Lah, apa hubungannya dengan puisi? Terserah, kan saya yang menulis.

Kembali pada pembahasan semula. Puisi adalah ruang sunyi tempat menyimpan makna. Tapi orang lain dibebaskan melihatnya dari sudut berbeda. Sudut yang mungkin berlainan dari makna semula. Bahkan, orang lain dengan bebas menarik keramaian dalam ruang sunyi itu.

Saya bukan pembaca yang tekun. Saya lebih senang membaca wajah kekasih saya – tunggu dulu, kekasih? Memang kamu punya? Punya dong. Memangnya saya Arkil. Tulisan ini hanya upaya untuk mengingat pengalaman yang saya temukan dari beberapa puisi.

Berikut 3 puisi yang paling berpengaruh dalam hidup saya;

“The Road Not Taken” – Robert Frost

Two roads diverged in a yellow wood,

And sorry I could not travel both

And be one traveler, long I stood

And looked down one as far as I could

To where it bent in the undergrowth;

Then took the other, as just as fair,

And having perhaps the better claim,

Because it was grassy and wanted wear;

Though as for that the passing there

Had worn them really about the same,

And both that morning equally lay

In leaves no step had trodden black.

Oh, I kept the first for another day!

Yet knowing how way leads on to way

I doubted if I should ever come back.

I shall be telling this with a sigh

Somewhere ages and ages hence:

Two roads diverged in a wood, and I,

I took the one less traveled by,

And that has made all the difference.

Pertama kali membaca puisi ini, saya merasa menemukan peta. Peta kata-kata. Puisi ini seperti setan cantik yang dengan lembut masuk melalui celah kecil di kulit dan menembus tengkorak kepala saya. Pengalaman yang membawa saya pada satu titik kehijrahan. Dan itu mengubah cara saya memandang kehidupan yang cetar membahana dan lebay ini.

Larik Oh, I kept the first for another day!/Yet knowing how way leads on to way/I doubted if I should ever come back bahkan mampu menjadi kawan yang setia memberi nasihat.

Puisi ini seperti bibir ayah saya yang pernah berpesan, “Meskipun orang menganggap jalan yang kamu pilih salah, teruslah menempuhnya. Kamu tahu karena melalui, dan kamu tahu karena melihat adalah dua hal yang berbeda. Dan hanya satu yang menuntunmu lebih tegar.” Kalimat itu ia sampaikan ketika mengeluarkan saya dari sekolah. Beberapa tahun setelah itu, saya bertemu The Road Not Taken dan membuat saya semakin paham makna pesan itu.

“Between Going And Coming” – Octavio Paz

Between going and staying

the day wavers,

in love with its own transparency.

The circular afternoon is now a bay

where the world in stillness rocks.

All is visible and all elusive,

all is near and can’t be touched.

Paper, book, pencil, glass,

rest in the shade of their names.

Time throbbing in my temples repeats

the same unchanging syllable of blood.

The light turns the indifferent wall

into a ghostly theater of reflections.

I find myself in the middle of an eye,

watching myself in its blank stare.

The moment scatters. Motionless,

I stay and go: I am a pause.

Dari judulnya saja, puisi ini sudah membawa kita pada dirinya. Diri yang sunyi. Jika memiliki tubuh, maka peluklah tubuh puisi ini setiap kau melihat hal-hal yang kau cintai pergi dan lepaslah ketika kau menemukan sesuatu yang bertahan di antara sekian kepergian. Dan barangkali hanya puisi ini yang kau temukan paling terakhir. Puisi yang meminta kejedaan dari semua yang riuh dan berlalu. Cepat dan sulit diterka.

Saya baru berkenalan dengan Octavio Paz, kesulitan memahami puisi asing alasannya. Tapi kebetulan, seorang kawan menawarkan link di Twitter dan saya membukanya. Ternyata, di antara sekian puisi yang di muat di blog itu, salah satunya “Between Going and Coming”. Sedikit demi sedikit saya mengartikan dan yang saya temukan adalah pusat kesunyian. Pusat di mana seseorang dengan keharusan yang disadari menerima hal-hal yang datang padanya. Dan puisi ini menawarkan cara. Cara untuk menghadapi semuanya

“Aku” – Chairil Anwar

Kalau sampai waktuku

‘Ku mau tak seorang kan merayu

Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang

Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku

Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari

Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Buku pertama yang saya beli berjudul Aku, kumpulan puisi Chairil Anwar. Saya lupa alasan membeli buku itu. Mungkin hanya sok-sok supaya dikira senang dengan sastra. Tapi, ke-sok-sok-an itulah yang mengantar perkenalan pertama saya dengan puisi.

Waktu itu saya hanya mengenal puisi dari bangku sekolah dasar yang diajarkan almarhumah guru bahasa Indonesia. Tapi semuanya berubah ketika mulai membaca satu demi satu puisi di buku itu. Dan setelah selesai membacanya, saya kembali membuka halaman Aku. Membacanya sekali lagi. Sekali lagi.

Larik favorit saya di puisi ini adalah Aku ini binatang jalang/Dari kumpulannya terbuang. Ketika membacanya, secara naluri, saya langsung tertarik. Terlebih ketika dikeluarkan dari sekolah, kalimat itu seperti bernyawa dan berdiri menjadi bayangan saya.

Belakangan, ketika internet sudah masuk di kampung, saya mencari biografi Chairil Anwar dan tepat, dia memang binatang jalang yang paling terhormat. Saya tidak pernah menyesal mengapa harus jatuh cinta dengan puisi.

***

Demikianlan perkenalan saya dengan puisi, barangkali tidak sepenting mencari tahu siapa anak kecil kurang ajar yang bilang “heart” di lagu “Thinking Out Loud”-nya Ed Sheeran. Yang jelas, saya mencintaimu seperti puisi-puisi yang tidak pernah mengkhianti penyairnya meskipun kelak penyairlah yang memiliki kuasa mengkhianati puisinya sendiri. Bravo sepak bola Indonesia!

14 Mei 2015

Standard