Archive, Journal, Resensi

Everybody Knows; Membawa Rahasia ke Tempat Terbuka

Apakah sebenarnya rahasia yang pedih kita pendam adalah kebohongan menyakitkan bagi orang lain?

Sekiranya ada jalan tebus menuju semesta konflik dalam film Everybody Knows, pertanyaan di atas barangkali menjadi rambu paling awal yang mengikat keseluruhan fragmen konflik dalam film ini. Terdiri dari lapisan cerita tentang sisa-sisa kejayaan masa lalu keluarga tuan tanah bernama Antonio, bagaimana masyarakat menghadapi keraguan pada institusi negara, dan perayaan atas kekalahan-kekalahan kecil mereka pada kecurigaan yang rapuh. Serumpun peristiwa itu diurai di kota kecil di pinggiran Madrid yang menjadi latar film.

Ana dan Joan mengumpulkan kembali keluarga Antonio melalui pesta pernikahan mereka. Mariana dan Rocio menyambut kepulangan saudaranya, Laura – yang kini tinggal bersama Alejandro, suaminya di Buenos Aires. Laura datang dengan kedua anaknya, gadis cantik bernama Irene yang usianya terpaut cukup jauh dengan adik lelakinya. Pelukan hangat Laura kepada ayahnya mengembalikan sekali lagi arti rumah bagi mantan tuan tanah yang kini renta dan temperamen itu. Kepulangan ini juga disambut oleh Paco – suami Bea, mantan kekasih Laura yang kini mengelola tanah perkebunan anggurnya.

Sekilas, apa yang dirasakan Laura di kota kelahirannya sering pula kita jumpai, bahkan mungkin menjadi laku kita dalam keseharian. Euforia pulang kampung setelah merantau cukup lama. Kejutan atas perubahan yang amat lambat pada tubuh kota. Orang-orang yang kita jumpai menjadi lebih tua dari bayangan semula. Sudut-sudut kota yang menyimpan kisah. Laura bernostalgia dengan masa lalunya.

Namun peristiwa tak terduga pada malam pernikahan Ana dan Joan menjadi mula perkara dalam film ini. Saat pesta sedang berlangsung, lampu seketika padam. Sesaat sebelumnya, Irene harus istirahat lebih dulu karena kepalanya sedikit pusing. Setelah lampu menyala kembali, Laura memeriksa keadaan kedua anaknya di kamar. Irene tidak ada di ranjang dan pintu kamar kecil terkunci. Dalam keadaan kalut, Laura memanggil Paco untuk mendobrak pintu. Mata Bea menangkap adegan itu sebagai kecemburuan yang halus dan penuh ambisi.

Di ranjang tempat Irene tidur sebelumnya, tergeletak potongan koran tentang penculikan anak yang baru-baru ini terjadi. Tidak berantara lama, ketika Laura masih sibuk mencari Irene di loteng, pesan singkat masuk ke ponselnya, Putrimu bersama kami. Jika lapor polisi kami akan membunuhnya. Ia segera memperlihatkan pesan itu kepada Paco. Kesimpulan mereka, Irene diculik!

Peristiwa penculikan itu menjadi sumbu yang membakar rahasia masing-masing tokoh. Rahasia yang enggan mereka bicarakan secara terbuka selama bertahun-tahun itu, kini tiba pada kulminasi yang menderetkan sejumlah dampak dan berujung pada sikap saling curiga satu sama lain.

Dalam film ini, apa yang disebut rahasia hanya sesuatu yang tidak mereka bicarakan langsung dengan objek tertuju. Tetapi di kamar tidur, dapur yang sepi, meja makan yang dingin, pojok bar yang hangat, pematang perkebunan anggur yang diterpa terik, atau sudut gereja yang tak terduga, rahasia lama ditukar dengan rahasia baru melalui interaksi yang intim oleh tokoh.

Antonio menyimpan rahasia atas kekecewaannya pada Paco yang membeli tanah dengan murah dari Laura ketika mereka pacaran. Ia berkali-kali menyinggung hal tersebut lantaran Paco dianggap memanfaatkan kedekatannya dengan Laura saat itu. Rocio menyimpan rahasia atas perpisahannya dengan Gabriel yang palsu. Paco diam-diam merahasiakan perasaannya pada Laura yang masih menyala walau redup dan mungkin hanya kilasan. Alejandro menyimpan rahasia dari keluarga Laura tentang kebangkrutannya selama dua tahun belakangan ini. Laura menyimpan rahasia dari Paco tentang status Irene. Selama ini Laura menganggap bahwa semua orang hanya tahu bahwa Irena adalah anak dari Alejandro.

Rahasia dan peristiwa penculikan itu rupanya dirasakan imbasnya oleh seluruh masyarakat di kota itu. Suatu siang, Antonio bertengkar di bar setelah memabuki kehilangan cucunya. Ia mengumpat, Kamu berutang padaku. Tanah ini milikku. Seluruh tanah ini milikku! Umpatan itu dibalas salah satu pengunjung bar, Seharusnya kamu tidak mempertaruhkan tanahmu di perjudian. Paco yang menenangkan Antonio juga tidak menjelaskan penyebab mabuk Antonio meski pemilik bar bertanya apa masalah yang menimpa mereka.

Setelah Alejandro menyusul Laura, mereka pergi bersama ke kantor polisi dengan niat awal melaporkan kehilangan anak mereka. Aku sangat takut jika sesuatu terjadi padanya, ucap Laura mengingat ancaman si penculik. Alejandro terpaksa mengurungkan niatnya untuk turun dari mobil.  

Ketika Bea pulang, para buruh pemetik anggur di perkebunan mereka  berkumpul di depan rumahnya. Mereka mendatangi Bea karena beredar isu bahwa Paco akan menjual tanahnya, Mereka dengar bahwa kau akan menjual perkebunan ini, siapa yang akan bayar upah kami? Tanya salah satu buruh dengan wajah bingung dan putus harap.

Suatu hari yang saling terpisah, Mariana mendapati Rocio pulang tengah malam dengan keadaan basah dan mencurigai keanehan adiknya tersebut. Bea mencurigai bahwa Paco masih mencintai Laura. Laura mencurigai Paco yang menculik Irene karena cinta mereka tidak suci sampai altar pernikahan. Setelah Paco tahu bahwa Alejandro menganggur selama dua tahun, ia curiga dalang penculikan Irene adalah ayahnya sendiri.

Deretan kejadian di atas tentu sering kita jumpai rupanya dalam kehidupan sehari-hari. Mereka hidup bukan hanya saling curiga, tetapi juga diikat oleh konsensus dan konflik. Penculik menekan keluarga Laura – karena mereka kira keluarga ini telah berhasil, padahal Alejandro menganggur selama dua tahun. Sementara Laura – yang sejak awal melibatkan Paco dengan kasus penculikan putrinya juga menekan suami Bea itu. Paco yang merasa dibutuhkan untuk menyelamatkan nyawa Irene kemudian menekan buruh pemetik anggur itu dengan niat untuk menjual tanahnya. Para buruh ini harus menekan apa selain menyerahkan nasibnya pada cara orang-orang di atas dalam menyelesaikan kasus penculikan Irene? Benar saja, sebab posisi tertentu di dalam masyarakat mendelegasikan kekuasaan dan otoritas terhadap posisi yang lain.

Apa yang terjadi pada masyarakat ini dijelaskan oleh Ralf Dahrendorf sebagai imperatively coordinated associations atau asosiasi yang dikoordinasikan secara paksa. Karena kepentingan pihak-pihak dalam asosiasi tersebut berbeda. Penculik itu berkepentingan mendapatkan keuntungan dari keluarga Laura yang mereka duga telah sukses di tanah rantau. Laura berkepentingan melibatkan Paco karena ia tidak memiliki uang untuk menebus penculik tersebut. Paco berkepentingan menjual tanahnya demi memenuhi permintaan penculik agar nyawa Irene selamat. Dan buruh pemetik anggur itu, hanya bisa bertanya, siapa yang akan bayar upah kami?

Nyaris seluruh tokoh dalam film ini terlibat dalam kekalahan-kekalahan kecil mereka. Kekalahan yang bersumber pada ketertutupan satu sama lain, asumsi berlebihan pada kenyataan yang mereka tidak tahu, dan rahasia yang mereka simpan hingga konflik semakin runyam. Namun konflik yang mendera para tokoh dalam film ini tentu bisa membawa perubahan sosial, jika mereka mengorganisir diri dan bersama-sama menyadari perannya sosialnya dalam masyarakat.

Tentu catatan ini hanya mengurai hal-hal sederhana dari keruwetan dalam semesta film Everybody Knows. Jadi, siapa yang menculik Irene? Silakan nonton filmnya!

Standard
Archive, Sajak

Malam dan Bulan Penuh dan Tiga Kabel atau Sebuah Gitar yang Ganjil

Kecurigaan yang tak terlatih akan melarung cinta di sungai seperti sebatang kayu dan padanya kita lihat nasib mengalir tak berdaya.

Sebuah lagu menghapus liriknya di antara kursi tua dan dermaga yang sama hampanya. Salah satu pada mereka bersedih dan menyamarkan air mata melalui tangkapan waktu yang sulit kita lepaskan.

Tetapi sungai pandai menertawakan kehilangan kita. Yang tak terucap tetap tancap terasa di dada. Yang tak terasa tetap lancar kita ucap. Siapa yang lebih sulit kita tipu, malam yang sendirian atau diri kita yang telah pada masing-masing?

Standard
Archive

Imagined Community

“Semua kerendahan dan kejahatan peradaban kita dapat diukur dengan sebuah aksioma bodoh, bahwa bangsa yang bahagia tidak punya sejarah.” ― Albert Camus

Inggris sebagai kerajaan dan Inggris sebagai pemerintahan berakar dari dua serpihan sejarah yang berbeda. Mengapa rakyat Inggris, sebagian besar, hingga saat ini masih menghormati kemonarkian Ratu Inggris?

Sebab imajinasi yang terbangun tentang Inggris lahir dari hukum sebab-akibat yang dalam dan panjang. “Tidak mungkin ada negara saat ini, jika keluarga raja di masa lalu, tidak pernah melakukan invasi.” Ini mutlak dan dapat dibuktikan, setidaknya, rakyat Inggris percaya pada sejarahnya.

Melalui jurnal perjalanan, karya sastra, dan folklor, kisah heroik nenek moyang mereka terus terpelihara. Ini yang kemudian membentuk pengakuan, jika tidak bisa disebut sebagai bentuk terima kasih, yang kemudian mengeras dalam benak masyarakat Inggris sebagai citraan masa lalu yang mereka agungkan.

Kerajaan dan imajinasi yang melekat padanya kemudian dijadikan simbol yang menyatukan rakyat. Negara jajahan atau yang pernah bersinggungan dengan Inggris, tetap akan melihat sejarah panjang bangsa ini — bahkan setelah mereka merdeka. Meskipun banyak yang berubah, termasuk bentuk pemerintahan yang kini diatur oleh seorang perdana menteri. Tapi yang menjadi panutan dan yang mengurus masalah kenegaraan secara menyeluruh, tetaplah The Queen.

***

James Richardson Logan, pada tahun 1850, menulis artikel dengan judul The Ethnology of the Indian Archipelago. Dalam tulisannya, ia menyebut “Mr Earl menyarankan istilah etnografi “Indunesian”, tetapi menolaknya dan mendukung “Malayunesian”. Saya lebih suka istilah geografis murni “Indonesia”, yang hanya sinonim yang lebih pendek untuk Pulau-pulau Hindia atau Kepulauan Hindia.”

Dari sanalah kemudian, nama Indonesia mulai dikenal dan digunakan para peneliti secara permanen untuk menyebut wilayah Kepulauan Hindia.

Sampai di sini, pertanyaan yang harus kita rumuskan jawabannya adalah, apa itu Indonesia? Apakah sebuah bangsa atau istilah ilmiah yang digunakan peneliti? Apapun jawaban yang kita pilih, tentu dibutuhkan sebuah penalaran yang dalam dan kuat.

Untuk menyebutnya sebagai bangsa, tentu tidaklah cukup. Mengingat pada lintasan abad dua belas hingga enam belas, ada istilah yang lebih akrab, setidaknya itu lahir dari salah satu cikal bakal negara ini kemudian, Nusantara. Penggunaan nama ini bisa kita temukan dalam literatur Jawa kuno yang digunakan untuk menggambarkan konsep kenegaraan yang digunakan Majapahit.

Lantas apa itu Indonesia? Sederhananya adalah kumpulan kerajaan yang sepakat untuk melebur dalam satu bangsa yang lebih besar. Bangsa yang dimaksud adalah sebuah gagasan yang mereka ciptakan. Sebuah imajinasi yang mewakili keadaan mereka.

Dalam sejarahnya, kerajaan-kerajaan ini yang kemudian menjadi penyumbang dana untuk digunakan oleh Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia.

Meskipun kerajaan-kerajaan ini kemudian tunduk pada aturan negara yang mereka ciptakan sendiri, tapi di setiap wilayah adatnya, kerajaan ini memiliki peranan penting. Simaklah bagaimana Kasunanan Surakarta memiliki Sunan atau dalam hal ini raja dan juga memiliki bupati. Atau intiplah bagaimana Daerah Istimewa Jogjakarta hingga saat ini masih memiliki raja yang diakui rakyatnya.

Sebagai negara, Indonesia kemudian memiliki sistem pemerintahan sendiri. Mulai kepala RT hingga presiden. Tapi pada satu sisi, kerajaan-kerajaan ini, yang lahir jauh sebelum Indonesia merdeka, tetap memelihara apa yang disebutnya sebagai bangsa, meskipun seiring waktu kian lemah atau mungkin memang dilemahkan.

***

Di Kabupaten Gowa, muncul Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Lembaga Adat Gowa, yang salah satu isinya menyebutkan bahwa, “Ketua adalah Bupati Gowa yang selanjutnya disebut Raja Gowa.”

Bagaimana mungkin seorang pengendara kuda, tanpa ilmu laut yang memadai, menjadi kapten kapal yang dituntut piawai oleh awaknya? Pertanyaan ini mungkin cukup mewakili kekisruhan tersebut. Jangan terlihat bodoh dengan memaksakan suatu kehendak yang keliru.

Meskipun Ranperda ini kemudian disahkan dan Adnan Purichta I.Y.L, sebagai bupati, resmi menjadi Raja Gowa. Dia tidak bisa melawan imajinasi kolektif rakyat. Seperti di Inggris, Kerajaan Gowa memiliki garis keturunan resmi sebagai raja dan sebagai keturunan bangsawan.

Tidak cukupkah jabatan bupati bagi Adnan? Ataukah ini merupakan upaya nama yang melekat padanya untuk melemahkan Gowa sebagia kerajaan, yang di masa lalu pernah berjaya?

Entahlah, barangkali saya yang keliru melihat niat baik kehadiran Ranperda ini. Apapun alasannnya, bupati dipilih oleh rakyat dan raja dipilih oleh sejarah. Semoga apa yang dikatakan Albert Camus dalam pembuka tulisan ini, tidak terjadi pada Kerajaan Gowa. Onjoki to Bajeng!

*Pernah tayang di Kolom Literasi Koran Tempo Makassar

Standard
Archive

Kepada Tuhan yang Mana Lagi

Adam – seorang pemuda dari kelompok Islam garis keras, bersama puluhan penduduk beragama nasrani terjebak di gereja saat perang itu menghancurkan Kota Yursala. Suara tembakan, bom meledak, dan teriakan orang-orang yang tidak bisa menyelamatkan diri terdengar sangat nyaring.

Suara ketakutan dari orang-orang di luar sana menggema hingga ke altar gereja. Mereka yang berhasil sembunyi di dalam gereja juga terlihat menyimpan kesedihan, ketakutan, juga kebencian. Perasaan itu bersatu dan melahirkan keputusasaan yang dalam.

Keadaan yang mencekam ini membuat Pastor Costana berlari ke atas mimbar gereja. Ia menyerukan kepada seluruh yang ada di ruangan ini untuk berdoa. Adam juga ikut berdoa. Berdoa dengan cara nasrani, bukan karena ia takut dikeluarkan dari gereja. Tapi Adam sadar bahwa perang ini tidak memandang agama apa. Maka ia berdoa kepada Tuhan di hadapan patung Yesus dan Bunda Maria agar perang sipil antar kelompok masyarakat dan pasukan pemberontak ini segera berakhir.

Setelah larut malam, samar-samar Adam melihat Ghandi, teman sekolahnya dulu yang beragama Hindu, Dr. Patra, seorang pengacara yang Atheis, dan Dini, penganut kepercayaan kuno di Kota Yursala. Mereka semua berkumpul di gereja yang sama. Berdoa agar perang ini segera usai.

***

Jangan cari kisah di atas. Karena tidak akan ditemukan di novel, cerpen, apa lagi dikehidupan nyata. Saya mengutipnya di sebuah diskusi kecil dengan seorang kawan. Kisah itu hanya bayangan kami berdua. Bayangan yang lahir dari keresahan usang.

Seperti biasa, menjelang natal, selalu saja muncul perdebatan usang. Di media sosial, di televisi, di warung kopi, di ruang kuliah, bahkan di atas ranjang. Perihal seorang muslim yang memberikan ucapan selamat natal kepada seorang kristiani.

Di Twitter, beberapa orang memenggal kalimat perkalimat dan mendadak menjadi juru kebenaran. Juru kebenaran yang menyerukan agar seorang muslim tak memberikan ucapan selamat natal.

Atau di Facebook, beberapa orang menyusun status yang panjang. Mengutip kiri dan kanan apapun yang bisa digunakan sebagai pembenaran agar tak seorangpun yang beragama islam berani mengucapkan selamat natal.

Tapi saya kurang yakin di antara mereka ada yang benar-benar kembali ke Alquran dan hadis. Mereka hanya berlindung di belakang dogma keyakinan yang sangat picik. Dogma yang seringkali mengurung kita pada perkara yang terlihat meyakinkan padahal sebenarnya itu sangat meragukan.

Yang paling mengerikan, beberapa hari yang lalu ada sekelompok mahasiswa yang mengaku beragama tapi  melakukan pemboikotan perayaan natal di fakultas sastra – ini terjadi di salah satu universitas negeri di Makasssar. Dengan keadaan dan tekanan yang tentu sulit diterima, kegiatan khidmat itu akhirnya dipindahkan keluar kampus.

Meskipun membahas tulisan seperti ini terlalu rentan dan bisa menjadi pemantik sebuah konflik. Tapi saya yakin, masih lebih banyak di antara kita yang beragama dan menjunjung keberagaman sebagai pilar utama kehidupan. Masih banyak di antara kita yang bisa menerima perbedaan. Bahkan Rasullullah SAW pernah mengatakan; Perbedaan adalah rahmat.

Saya lahir dan besar di pesantren tapi tidak sekalipun ada ajaran untuk bersikap intoleran terhadap agama lain. Apa lagi sampai menghalangi saudara kita untuk beribadah. Tuhan yang mana melarang agama lain untuk beribadah?

 Ini bukan perkara siapa yang benar dan siapa yang salah. Tapi perkara kita meletakkan Tuhan di mana saat melakukan pelarangan orang lain untuk beribadah. Apakah Tuhan kita masih hidup jika sebagai hamba menganggap Tuhannya yang paling benar?

Sikap-sikap arogan seperti itu hanya dimiliki oleh pecundang sosial. Pecundang yang memiliki pembenaran yang buta di dalam hatinya. Arogansi seperti itu lebih tepat disebut sebuah ego. Ego yang juga dimiliki oleh para iblis.

***

Terkikisnya kemampuan untuk hidup berdampingan dalam perbedaan adalah bukti jika kita adalah manusia biasa. Manusia biasa yang dengan mudah dicuri oleh pemahaman yang sangat jauh dari konsep kebudayaan kita.

Kita bisa belajar dari sepasang kekasih yang menjalani kisah cinta tapi dalam banyak hal mereka berbeda, tentu terasa hangat dan menggairahkan. Tak bermaksud berkhutbah, tapi hidup di tengah perbedaan dan bisa menerima itu sebagai keindahan tentu terasa menenangkan.

  Saya mengingat puisi Robert Fost – penyair asal Amerika Serikat, di hutan, kulihat dua cabang jalan terbentang. Kuambil yang jarang dilalui orang. Dan itulah yang membuat segala perbedaan.

Perbedaan itu memang tidak menciptakan dirinya sendiri atau diciptakan oleh manusia. Tapi ia selalu ada. Selelah apapun kita menghindarinya, ia hidup dalam bayang-bayang setiap benda bernyawa ataupun tidak.

Siapa yang tahu, Tuhan mungkin saja menciptakan banyak agama dan kepercayaan agar ia bisa disembah dengan banyak cara. Agar kita bisa hidup dalam banyak rasa. Selamat hari natal.

*Pernah dimuat di Kolom Literasi Tempo Makassar

Standard
Archive

Kota Puisi

Tereliminasi dari peradaban semacam hukuman bagi mereka yang tinggal di kota metropolitan. Kota dengan kumpulan orang yang lebih bahagia melupakan dari pada dilupakan. Lebih senang memiliki dari pada dimiliki. Lebih memilih dicintai dari pada mencintai. Sialnya, kita terjebak di kota semacam itu.

Merasa kalah saing dan terasing jika tidak memiliki telepon genggam yang cerdas, baju yang bermerek, potongan rambut terbaru, atau terlibat hura-hara yang banyak digemari oleh manusia lain. Padahal semua itu serupa puisi Sapardi Djoko Damono; yang fana adalah waktu, kita abadi.

Kita seperti berburu di hutan belantara. Memanah hewan apapun yang kita inginkan. Itulah kebuasan yang manusia miliki. Kebuasan tersembunyi yang lebih buas dari hewan yang terlihat paling buas. Sehingga kadang terlupakan, jika menyembunyikan sesuatu, kita sebenarnya sedang membiarkan seseorang menemukannya.

Di sekolah dan bangku perkuliahan kita hanya belajar untuk menyembunyikan kebuasan tersebut. Para guru mendidik kita cara untuk sabar dan patuh. Para dosen menuntut kita untuk pintar dan lebih bijak. Bukankah itu berangkat dari kesadaran bahwa manusia memang memiliki sifat kebinatangan. Sifat tersembunyi dalam diri setiap orang yang harus ditaklukkan.

***

Ruang karoke, diskotek, rumah ibadah, atau gelanggang tinju adalah beberapa tempat yang kadang dijadikan manusia sebagai hutan belantara. Hutan kebebasan untuk mengeluarkan kebuasan.

Benarkah tempat karoke adalah wahana hiburan? Bukankah itu lebih mirip penjara dalam bentuk yang lebih bebas. Manusia bisa berteriak sambil bernyanyi. Memilih lagu tentang kekesalan jiwanya atau emosi yang ia simpan menahun.

Cobalah perhatikan mereka yang memilih diskotek sebagai tempat meluapkan emosi. Musik keras hanya membantu kita untuk berhenti sejenak memikirkan masalah. Kerlip lampu yang tiada henti membius mata kita hanya ilusi yang menenangkan pikiran. Toh, setelah pulang dan berhadapan dengan tumpukan pekerjaan yang belum selesai, kita akan memikirkannya lagi.

Atau rumah ibadah yang kadang didatangi oleh manusia hanya untuk buang hajat, atau istirahat dari penatnya perjalanan. Bahkan dengan perasaan yang tidak tentu, kita kadang berdoa meminta agar Tuhan memudahkan semua hal yang susah.

Atau di gelanggang tinju dan riuhan seporter yang berteriak mendukung petinju andalan mereka. Benarkah mereka menikmati pertandingan itu? Atau hanya senang melampiaskan emosinya melihat sepasang manusia saling memukul satu sama lain. Mereka mungkin tersenyum dan penuh semangat bersorak. Tapi saya melihat mata mereka merah. Wajah murung durja dan tangan mereka terkepal seakan ingin ikut memukul.

Kita sepertinya kehabisan cara untuk menikmati hidup. Seakan kota ini telah berubah menjadi deretan kalimat tuntutan. Milikilah ini! Jadilah itu! Bencilah ini! Cintailah ini! Dan tanpa sadar, suatu saat kita mungkin akan mendengar kalimat tuntutan; Bunuhlah dia!

Betapa kota ini telah mengubah bayi-bayi tak berdosa menjadi manusia-manusia penuh derita. Kita hanya tidak begitu pandai menyadari bahwa memiliki telepon genggam cerdas adalah sebuah penderitaan, menggunakan pakaian mewah adalah penderitaan, juga menghadiri kegiatan hura-hara adalah penderitaan. Penderitaan yang tidak akan sanggup kita anggap penderitaan.

Ada benarnya yang Pramoedya Ananta Toer pernah katakan, “Kehidupan ini seimbang, Tuan. Barang siapa hanya memandang pada keceriaannya saja, dia orang gila. Barang siapa memandang pada penderitaannya saja, dia sakit.”

Parahnya, kita bukan tidak bisa menyeimbangkan kehidupan lagi, tapi kita tidak bisa melihat yang mana penderitaan dan yang mana keceriaan.

***

Saya membayangkan suatu kapan. Ketika semua hal sudah terlalu abstrak untuk dijalani. Ketika semua manusia mulai merasa payah dalam menentukan seperti apa hidup yang layak. Ketika kita sudah berani memilih nasib sendiri. Mulai belajar membenci dan berkata tidak pada apa yang lama kita yakini sebagai kebenaran. Kita akan keluar dari semua jerat itu dan membangun kota baru. Kota puisi.

Kota puisi adalah kota di mana setiap orang bebas menentukan nasibnya sendiri. Bisa menjadi apa yang ia inginkan tanpa harus takut tuduhan orang lain. Percayalah, tuduhan sosial kepada seseorang jauh lebih penjara dari pada jeruji besi yang mengurung kita bertahun-tahun.

Saya berharap suatu saat tidak ada lagi orang yang dianggap aneh karena memanjangkan rambut. Seseorang tidak dipandang sinis lagi ketika badannya dipenuhi rajah. Atau orang lain tidak lagi protes ketika ada yang berani menyebut kata hantu sama indahnya dengan menyebut kata Tuhan. Semoga!

*Pernah tayang di Kolom Literasi Tempo Makassar

Standard
Shop

Cuaca Buruk Sebuah Buku Puisi

"Tubuh-puisi dikonstruksi sebagai ranting-ranting sejarah dengan daun dan akarnya yang belum pasti. Dahannya: kepercayaan atas Bahasa yang akut. Ibe S. Palogai di antara sebagian penyair yang menjadikan puisi sebagai suara performatif sejarah lokal ke tubuh masakini. Mencari dan memetakan waktu sebagai “durasi kreatif” antara masalalu dan masakini, kadang ikut terjerembab ke dalam sejarah sebagai “berita hoax” yang asal-usulnya berlangsung dalam penebalan historisisme sebagai ideologi nasionalisme lokal. 

Salah satu ungkapan dalam puisinya: bukankah liang kubur diletakkan di sampul buku agar kau tak keliru menebak ke mana rantau membawa kekasihmu – yang ditutup dengan tanda tanya (?), merupakan semiotika sejarah yang dipasang dalam tubuh puisi sebagai semacam “ranjau” untuk pembaca memposisikan diri pada batas teritori di luar dan di dalam makna." Afrizal Malna - penyair
Standard
Journal

Catatan Penutup dari Leiden

Saya berusaha menanam begitu banyak suara di sudut-sudut bibliotheek, menelusuri rak-rak yang telah merangkum peradaban manusia menjadi salinan teks, membuka lembaran-lembaran manuskrip yang terlihat akrab tetapi asing betul rasanya. Semua itu membawa saya pada kekosongan, tempat di mana saya merasa cukup tenang untuk memulai riset dengan fokus pada apa yang ingin saya tahu.

Malam terakhir di Leiden saya habiskan di Café Ubé — cafe yang terletak di lantai dasar bibliotheek. Bersama Natasha D. Santoso, Tessa, Sunlie Thomas Alexander, dan Arman Az. Kami menghabiskan waktu untuk bercakap banyak hal. Duduk melingkar, bergantian bercerita tentang apa dan bagaimana, siapa dan mengapa. Pertemuan manusia dari dunia ketiga semacam ini, selain bertukar perspektif, juga membicarakan riset kami masing-masing. Barangkali ada yang bisa kami bagi dan terjemahkan bersama.

Bel pulang terdengar di perpustakaan. Bel yang mengingatkan saya pada kalimat pendek penuh hikmah, arm your desires. Saya berencana untuk berjalan larut menyusuri kota ini sepulang dari bibliotheek. Tetapi di pintu keluar, Vilam Nguyen dan Miliar Daria — dua teman persekutuan saya yang diperkenalkan oleh Fynn, mengajak ke Bad Habits. Saya sulit untuk menolak. Terutama karena dia mengatakan, “ini malam terakhirmu dan kita hanya sebentar.” Jadi saya pikir, ide menyusuri kota pada malam hari bisa dimulai setelah perjamuan kami selesai. Amstel Beer menamani perjumpaan kami bertiga. Karena datang pukul dua belas malam, bar itu sudah sepi. Hanya ada dua lelaki dan seorang pramusaji. Kami berlepas tangkap tentang kota, puisi, dan sebuah perpisahan yang larut.

***

Dan malam ini saya menikmati momen-momen terbaik saya di Leiden. Berjalan sendiri pada malam hari. Memungut puisi-puisi yang belum selesai dalam kepala saya. Menabur diri di jalan-jalan yang kelak akan saya jenguk kembali. Mengalirkan bayangan di sepanjang kanal-kanal kota ini. Jika ada dua kata yang bisa mewakili momen semacam ini, mungkin hanya, kesepian dan keasingan.

Saya berdiri di jembatan Molen de Put. Seluruh pandangan berubah menjadi puisi. Tidak jauh dari tempat saya berdiri, ada tiga patung yang menatap saya dari remang malam. Di bawahnya, tertulis, Een Afscheid Zonder Thuiskomst. Ada tiga patung logam berdiri, hitam dan kelam. Dua patung berdampingan dan yang satunya terpisah jarak. Patung itu untuk mengenang pejuang Belanda yang dikirim ke beberapa wilayah koloni mereka dahulu. “Mungkin yang kosong itu dibunuh oleh nenek moyang saya sehingga tidak pulang.” Gumam saya dalam hati sambil mengangkat jari telunjuk di depan mata dan memposisikan tepat di ruang kosong antara mereka bertiga. “Tenanglah, kita sama-sama kesepian dan diserang runtun larut kehilangan.” lanjut saya sambil menurunkan tangan.

Saya lalu melintasi taman kecil, rumah tempat Rembrandt dilahirkan berdiri di sisi kiri saya. Di dindingnya ada plakat kecil bertuliskan, “Hier werd geboren/op den 15 den Juli 1606/Rembrandt van Rijn” dalam hati saya kembali bergumam, “Wah, dasar seniman cancer yang begitu emosional!” tentu, saya merasa dekat karena kami sama-sama lahir dibulan juli. Hanya terpisah tiga ratus delapan puluh tujuh tahun dan seratus sembilan puluh dua jam. Di depan rumah kelahiran Rembrandt ini ada sebuah taman, di tengahnya, di atas sebuah trap permanen, patung anak kecil berdiri berhadapan dengan kanvas dengan lukisan wajah Rembrandt. “Mungkin itu Rembrandt kecil yang memandang dirinya di masa depan yang sudah berlalu begitu jauh.” Saya naik ke atas trap tersebut. Berdiri di antara patung anak kecil dan kanvas. Setelah pamit dengan Rembrandt, saya melanjutkan perjalanan.

Arsenaalstraat yang sempit dan remang mengantar saya ke taman bermain yang menjadi bagian belakang gedung Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde atau KITLV. Lembaga yang didirikan pada tahun 1851 dengan tujuan utamanya ialah penelitian ilmu antropologi, ilmu bahasa, ilmu sosial, dan ilmu sejarah wilayah Asia Tenggara, Oseania dan Karibia. Saya menyentuh dinding dan jendelanya, “Kaca ini sama dengan yang ada di negara saya, dinding ini tidak kalah kuat dengan yang ada di negara saya. Tetapi saya tidak tahu, apakah orang-orang yang bekerja di tempat ini bisa saya temukan gairahnya di negara saya.” Saya memunggungi Gedung KITLV dengan menggeleng kepala.

Jembatan kayu yang memisahkan Lipsius dan bibliotheek mengantar saya menyeberangi Witte Single yang lengang dan bisu. Saya ke sisi kiri bibliotheek, di sana menjadi tempat favorit saya selama di Leiden. Cuplikan puisi Robert Frost terukir di dinding kayu, The Road Not Taken. Sebelum kembali, saya memandang Perpustakaan Universitas Leiden. Ini mengingatkan saya dengan perpustakaan di kampus saya. Muncul meme ala instagram di kepala, realita dan ekspektasi. Tetapi saya tidak tahu harus tertawa atau bersedih.

Saya memutuskan kembali melewati jembatan kayu di Reuvensbrug, melintasi Pakhuis hingga tiba di Houtstraat. Saya berhenti di sebuah gereja yang dikelilingi beberapa bangunan. Ada tulisan di dinding Pieterskerk, “But now we are all, in all places, strangers and pilgrims, travelers and sojourners.” — Robert Cushman, Pilgrim Leader, 1622. Di bawahnya, berderet nama-nama yang pernah menyinggahi Leiden sebagai pilgrim. Salah satunya adalah Thomas Blossom yang merupakan kakek buyut Barack Obama. Ada rumah berplakat 1683 — barangkali pernah direnovasi dan berdiri kuat dan kokoh sejak tahun itu. Rumah ini menjadi salah satu saksi Pilgrim. Karena penasaran, saya mencari tahu di brogo sejarah tempat ini, dan ada begitu banyak tulisan tentang Pilgrim. Mantap Bro Google!

Saya lalu berjalan ke arah De Burcht. Benteng yang terletak di atas bukit ini lebih misterius dan garang pada malam hari. Bentuknya yang bulat menandakan De Burcht adalah model klasik dari benteng pertahanan sebuah kota. Benar saja, ia memang dibangun dari tahun 800 hingga 1150. Di sisinya, Oede Rijn dan Nieuwe Rijn dipisah dan disatukan oleh kanal. Sayangnya, saya tidak naik karena gerbangnya tertutup. “Sampai jumpa!”

***

Tidak terasa, satu bulan lebih saya habiskan waktu di kota Leiden. Ada banyak teman baru, pengetahuan baru, pertemuan baru, dan mengunjungi tempat-tempat baru. Perpisahan akan membelah semua itu menjadi masa lalu. Setelah ini, waktunya untuk mulai mengerjakan riset. Dan saya tahu, ini sesungguhnya bagian paling berat dari semua ini.

Setelah selesai melakukan perpisahan dengan kota ini, saya pulang Marienpoelstraat — tempat saya tinggal selama di Leiden. Tetapi rute yang saya pilih sedikit berputar. Saya melewati Oude Single, rumah itu ditinggali oleh Santy Kouwagam, seorang teman yang bekerja sebagai pengacara, di sana saya pertama kali mendengar kisah dari Salleng dan sisi lain Westerling. Setelah tiba di ujung jalan, kincir dari Molen de Valk terlihat melambai kepada saya. Di sisinya, saya pernah jatuh dari sepeda dan Molen itu menertawakan saya. Sejak itu kami berteman. Saya mengingat ucapan Daria waktu kami masih di Bad Habits, “Ada mitos di Leiden, jika kamu pernah jatuh dari sepada, orang-orang percaya bahwa kamu akan kembali ke kota ini.” Entahlah. Daria tidak bisa membaca masa depan, tetapi saya tidak berani meremehkan nasib.

Saya terus berjalan, setelah tiba di Boerhavelaan, saya menelusuri hingga ke ujung jalan, melewati rumah yang ditinggali Andi Yani. Lalu ke Marienpoelstraat, rumah Dian Akram, lalu beberapa rumah kemudian menjadi tempat tinggal Rahmat Latif. Saya mengingat kembali beberapa nama, Ria Maya Sari, Rahmah, Muhammad Imran, Noli Ceo, Melita Tarisa, Riama Maslan, Setiadi Sopandi, dan Eko Triono. Mereka semua adalah kawan, kakak, dan mentor yang membantu saya dalam banyak hal selama riset di Leiden. Tibalah saya di rumah Ade Jaya Suryani dan Destyka Putri — kedua anaknya adalah teman saya, Maryam dan Umar. Satu bulan saya tinggal di sana dengan kebaikan yang mereka berikan. Saya pamit dan berterima kasih kepada mereka semua!

Rokok di tangan belum habis. Saya memutuskan menyimpan tas di depan pintu lalu berjalan ke jembatan yang berada tepat di depan rumah tempat saya tinggal. Di bawahnya, air kanal mengalir, pelan dan dingin. Bayangan yang menemani saya bertanya, “Kota ini tidak lebih tua dari peradaban di tempat asalmu, tetapi mengapa Rembrandt, Pilgrim, Molen de Put, Pieterskreek, Molen de Valk, dan De Burcht terasa begitu dekat. Sedangkan sejarah kamu terasa lampau, jauh dan terpisah dari masyarakat?” Saya tersenyum lalu menjitak kepalanya. “Tahu apa kamu soal sejarah? Kami punya penguasa yang senang menghapus ingatan orang-orang!” dia kemudian terdiam dan mendorong saya ke kanal. Blurs!

Standard
Sajak

3 Sajak; Disadur dari Struktur Cinta yang Pudar

Identitas Kesepian

Setiap orang memiliki perang yang tak pernah mereka menangkan. Obsesi pada kesendirian terjungkal seimbang. Hari-hari muda penuh label merekayasa struktur waktu. Masa depan menghapus rahasia dan yang autentik dari diri tak pernah ada.

Setiap orang memesan citra diri tiap pekan di penjahit langganan. Usaha memenuhi lemari dengan koleksi kemeja tak pernah berhasil. Sebagai zirah, kemeja ini cukup tebal, tetapi begitu tipis untuk tidur di bawah naungan benda-benda dan pelukan tepuk tangan.

Setiap orang mematahkan hatinya sendiri. Meyakini kebahagiaan adalah pencarian yang tersembunyi pada babak akhir. Ia membenci masa lalu tetapi menceritakannya sebagai perayaan terbaik.

Setiap orang tertipu oleh kesetiaan yang diciptakan untuk menipu diri sendiri. Begitu banyak yang tenggelam di permukaan. Sementara inti kehidupan yang tersisa hanya kedangkalan-kedangkalan yang digandakan rahasia.

I – Bacakan Aku Sajak ini

Jika aku belum sanggup mencintaimu kembali, jangan meminta penjelasan pada sajak yang kutulis. Selalu ada tangan yang sanggup menghapus kata-kata sebelum menjadi peluru dalam pikiranmu.

Barangkali kau tak pernah mengingat bagaimana aku menunda semua kesimpulan. Berharap resah dalam kepalaku hanya roman yang bisa dibaca dalam karangan atau sesuatu yang tak sengaja berubah menjadi fiksi.

Kau tak perlu berkenalan pada penyesalan karena mengulang kesalahan pada orang yang sama. Barangkali aku yang memberi kesempatan diriku terluka berkali-kali.

Aku ingin berubah menjadi senjata dan kenangan buruk adalah gagangnya. Kelak aku sanggup membidik diriku di masa lalu, jika kau mendengar ledaknya, adakah bait yang kau siapkan untuk menutup sajak ini?

II – Sebelum Kau Pergi Bersamanya

Jika aku terus berjalan pada malam hari dan mengabaikan semua rambu, jangan mengusap punggungku dengan ajaran-ajaran ketegaran. Biarkan aku berpura-pura mampu menanggung semua kelemahan yang tersisa atau semua yang tersisa adalah kelemahanku.

Aku tak ingin kau mencari luka yang kubiarkan betah di punggungku, mencari semai luka yang tak ingin kusembuhkan. Biarkan aku mengingat cinta sebagai silogisme dari kesepian yang kau serahkan kepada orang yang masih mencintaimu.

Kau tak perlu merasa bersalah karena aku belum tentu benar dalam segala. Biarkan malam menyamarkan penjelasan-penjelasan yang tak perlu lagi kita karang.

Aku ingin mengubah punggungku menjadi taman. Kelak akan tumbuh mawar pada bekas lukanya. Datanglah. Kau boleh memetik putik terbaik. Sebab durinya yang pendendam akan mencintaimu dan cintamu kubiarkan menyakitiku sekali lagi.

Standard