Archive

Imagined Community

“Semua kerendahan dan kejahatan peradaban kita dapat diukur dengan sebuah aksioma bodoh, bahwa bangsa yang bahagia tidak punya sejarah.” ― Albert Camus

Inggris sebagai kerajaan dan Inggris sebagai pemerintahan berakar dari dua serpihan sejarah yang berbeda. Mengapa rakyat Inggris, sebagian besar, hingga saat ini masih menghormati kemonarkian Ratu Inggris?

Sebab imajinasi yang terbangun tentang Inggris lahir dari hukum sebab-akibat yang dalam dan panjang. “Tidak mungkin ada negara saat ini, jika keluarga raja di masa lalu, tidak pernah melakukan invasi.” Ini mutlak dan dapat dibuktikan, setidaknya, rakyat Inggris percaya pada sejarahnya.

Melalui jurnal perjalanan, karya sastra, dan folklor, kisah heroik nenek moyang mereka terus terpelihara. Ini yang kemudian membentuk pengakuan, jika tidak bisa disebut sebagai bentuk terima kasih, yang kemudian mengeras dalam benak masyarakat Inggris sebagai citraan masa lalu yang mereka agungkan.

Kerajaan dan imajinasi yang melekat padanya kemudian dijadikan simbol yang menyatukan rakyat. Negara jajahan atau yang pernah bersinggungan dengan Inggris, tetap akan melihat sejarah panjang bangsa ini — bahkan setelah mereka merdeka. Meskipun banyak yang berubah, termasuk bentuk pemerintahan yang kini diatur oleh seorang perdana menteri. Tapi yang menjadi panutan dan yang mengurus masalah kenegaraan secara menyeluruh, tetaplah The Queen.

***

James Richardson Logan, pada tahun 1850, menulis artikel dengan judul The Ethnology of the Indian Archipelago. Dalam tulisannya, ia menyebut “Mr Earl menyarankan istilah etnografi “Indunesian”, tetapi menolaknya dan mendukung “Malayunesian”. Saya lebih suka istilah geografis murni “Indonesia”, yang hanya sinonim yang lebih pendek untuk Pulau-pulau Hindia atau Kepulauan Hindia.”

Dari sanalah kemudian, nama Indonesia mulai dikenal dan digunakan para peneliti secara permanen untuk menyebut wilayah Kepulauan Hindia.

Sampai di sini, pertanyaan yang harus kita rumuskan jawabannya adalah, apa itu Indonesia? Apakah sebuah bangsa atau istilah ilmiah yang digunakan peneliti? Apapun jawaban yang kita pilih, tentu dibutuhkan sebuah penalaran yang dalam dan kuat.

Untuk menyebutnya sebagai bangsa, tentu tidaklah cukup. Mengingat pada lintasan abad dua belas hingga enam belas, ada istilah yang lebih akrab, setidaknya itu lahir dari salah satu cikal bakal negara ini kemudian, Nusantara. Penggunaan nama ini bisa kita temukan dalam literatur Jawa kuno yang digunakan untuk menggambarkan konsep kenegaraan yang digunakan Majapahit.

Lantas apa itu Indonesia? Sederhananya adalah kumpulan kerajaan yang sepakat untuk melebur dalam satu bangsa yang lebih besar. Bangsa yang dimaksud adalah sebuah gagasan yang mereka ciptakan. Sebuah imajinasi yang mewakili keadaan mereka.

Dalam sejarahnya, kerajaan-kerajaan ini yang kemudian menjadi penyumbang dana untuk digunakan oleh Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia.

Meskipun kerajaan-kerajaan ini kemudian tunduk pada aturan negara yang mereka ciptakan sendiri, tapi di setiap wilayah adatnya, kerajaan ini memiliki peranan penting. Simaklah bagaimana Kasunanan Surakarta memiliki Sunan atau dalam hal ini raja dan juga memiliki bupati. Atau intiplah bagaimana Daerah Istimewa Jogjakarta hingga saat ini masih memiliki raja yang diakui rakyatnya.

Sebagai negara, Indonesia kemudian memiliki sistem pemerintahan sendiri. Mulai kepala RT hingga presiden. Tapi pada satu sisi, kerajaan-kerajaan ini, yang lahir jauh sebelum Indonesia merdeka, tetap memelihara apa yang disebutnya sebagai bangsa, meskipun seiring waktu kian lemah atau mungkin memang dilemahkan.

***

Di Kabupaten Gowa, muncul Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Lembaga Adat Gowa, yang salah satu isinya menyebutkan bahwa, “Ketua adalah Bupati Gowa yang selanjutnya disebut Raja Gowa.”

Bagaimana mungkin seorang pengendara kuda, tanpa ilmu laut yang memadai, menjadi kapten kapal yang dituntut piawai oleh awaknya? Pertanyaan ini mungkin cukup mewakili kekisruhan tersebut. Jangan terlihat bodoh dengan memaksakan suatu kehendak yang keliru.

Meskipun Ranperda ini kemudian disahkan dan Adnan Purichta I.Y.L, sebagai bupati, resmi menjadi Raja Gowa. Dia tidak bisa melawan imajinasi kolektif rakyat. Seperti di Inggris, Kerajaan Gowa memiliki garis keturunan resmi sebagai raja dan sebagai keturunan bangsawan.

Tidak cukupkah jabatan bupati bagi Adnan? Ataukah ini merupakan upaya nama yang melekat padanya untuk melemahkan Gowa sebagia kerajaan, yang di masa lalu pernah berjaya?

Entahlah, barangkali saya yang keliru melihat niat baik kehadiran Ranperda ini. Apapun alasannnya, bupati dipilih oleh rakyat dan raja dipilih oleh sejarah. Semoga apa yang dikatakan Albert Camus dalam pembuka tulisan ini, tidak terjadi pada Kerajaan Gowa. Onjoki to Bajeng!

*Pernah tayang di Kolom Literasi Koran Tempo Makassar

Standard

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *