Uncategorized

Kelambanan yang Membantu Saya

Saya selalu lamban dalam memahami sesuatu. Memindahkan sebuah teks atau gambar ke dalam kepala saya atau menangkap pesan yang tertulis di soal-soal ujian. Kelambanan ini pernah saya benci. Dunia terasa berjalan cepat sementara saya tertatih-tatih di belakangnya. Itulah kesadaran yang dibangun komunitas tempat saya hidup pada masa remaja.

Kelambanan adalah kekalahan. Dan kekalahan semacam itu adalah yang paling lemah! Itulah gambaran bagaimana komunitas saya membentuk pemahaman soal lamban dan cepat!

Kesadaran itu dibangun melalui media. Di ruang kelas, selain gambar Pancasila yang memisahkan presiden dan wakilnya, juga ada poster-poster pencerahan — begitu kami dulu menyebutnya. Satu kalimat yang terus menghantui saya pada saat itu, Buku adalah Jendela Dunia. Di tembok-tembok pesantren, ada tipografi berbahasa Arab atau Inggris yang juga berfungsi sebagai kalimat pencerahan. Yang paling saya ingat adalah, experience is the best teacher – dua kalimat ini tentu akrab dengan kita.

Tante saya adalah pustakawan di sekolah. Saya sering diam-diam masuk ke perpustakaan pada malam hari dan mengambil beberapa buku, sebut saja Malu Aku Jadi Orang Indonesia, O Amuk, O Kapak, Atheis, Siti Nurbaya, Rubuhnya Surau Kami, Jalan Tak Ada Ujung, Belenggu, Tenggelamnya Kapal Var der Wijck. Saya membaca karena dorongan kalimat pencerahan pertama. Sementara kalimat kedua membuat saya menjadi pribadi yang sedikit liar. Kabur dari pesantren untuk melakukan hal-hal yang pada saat itu dianggap nakal. Ke stadion untuk menonton PSM bertanding. Ke tempat penyewaan playstation, kolam renang, bioskop, dan tentu saja toko buku.

Pada masa itu, di kepala saya, dunia berjalan cepat. Segala hal seperti berkaki seribu dan ia berlari secepat mungkin. Semua itu berubah ketika saya dikeluarkan dari pesantren oleh ayah saya sendiri. Bagi orang lain, mungkin saya dikeluarkan, tetapi bagi saya, itu proses pencabutan diri dari tempat saya lahir.

Di pesantren kedua itu, setiap hari kamis, ada seorang ibu yang datang pada siang hari. Ia membawa sebakul buku dan dijual kepada kami. Jika keuangan saya sedang menyedihkan, ia rela saya membawa bukunya dengan kesepakatan, “Dari pulang pako baru kau bayar, Nak”.

Ia menjual novel-novel yang sedang laris saat itu, sebut saja, Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, Maryamah Karpov, Ipung I, Ipung II, Ayat-ayat Cinta, Pudarnya Pesona Cleopatra. Itulah judul yang sempat saya ingat. Oh iya, saat itu ia juga menjual novel-novel Tere Liye, tetapi entah mengapa saya tidak tertarik membelinya.

Orang lain mungkin berpikir betapa hancurnya hidup saya pasca dikeluarkan, tetapi setelah kembali melanjutkan pendidikan di pesantren yang kedua, saya menemukan kalimat pencerahan baru yang tidak ditulis di mana-mana, tidak disebutkan oleh siapa pun. Dunia tidak berjalan cepat, hanya orang-orang yang terus mengejarnya! Saat itu, saya masih menjadi seorang pembaca liar yang terobsesi membaca semua buku. Saya tidak menyesalinya, tapi menyadiri, bukan itu yang saya butuhkan sekarang!

***

Kini, dalam satu tahun, saya hanya mampu membaca paling banyak dua puluh lima sampai dua puluh lima judul buku (kalau tidak salah, pernah beberapa kali melebihi angka itu). Jumlah yang sedikit tentu saja — apa lagi jika bercita-cita menjadi penulis. Tetapi saya melakukan itu atas kesadaran yang membantu saya selama ini tetap bisa belajar.

Kesadaran itu lahir ketika saya mempelajari ingatan di tahun-tahun krusial dalam hidup saya. Ketika di sekolah dasar, saya bukan murid yang cerdas — jika ukurannya adalah rangking. Hanya pernah beberapa kali mendapatkan peringkat tiga di kelas. Itu pun, nilai matematika saya tidak pernah berubah dari tahun ke tahun. Jika guru saya jujur mengisi rapor, mungkin itu selalu merah. Saya benar-benar membenci pelajaran itu. Dulu!

Tetapi pelajaran bahasa membuat saya bergairah di hari-hari tertentu. Perjumpaan pertama saya dengan puisi Walau Hujan dan Cerita Pengembala dari kelas bahasa. Saya membuka buku ajar Bahasa Indonesia untuk mencari puisi dan cerpen. Membacanya berkali-kali. Dan setelah itu merasa telah mempelajari seisi buku. Konyol tapi membahagiakan.

Itu satu-satunya ingatan yang bisa dihubungkan dengan hidup saya sekarang. Menjadi pembaca yang lamban dan belajar menulis.

Seperti yang saya tulis di pembuka catatan ini, saya hanya mampu membaca dua puluh lima judul buku selama satu tahun. Yah, saya lamban dan itu memang benar adanya. Tetapi untuk menyiasati kelambanan itu, saya menggunakan metode membaca. Biasanya, jika di bulan pertama saya membaca buku A, C, dan F, maka bulan kedua saya membaca, H, L, dan M. Bulan ketiga, saya akan mengulangi membaca A, F, dan M.

Setiap kali mengulangi buku yang pernah saya baca, saya mendapatkan sesuatu yang baru. Sesuatu yang luput saya masukkan dalam kepala saya. Saya benar-benar lamban memahami sesuatu.

Misalnya dua tahun lalu, buku yang saya baca berulang sampai tujuh kali adalah The Art of War. Setiap kali saya membaca bukunya, selalu ada pemahaman, penafsiran, dan pengetahuan baru. Betapa lambannya saya menangkap sesuatu.

Akhirnya, pola semacam ini berpindah pada medium lain, ketika saya menonton film, mendengar lagu, dan ketika saya jatuh cinta — hahahah.

Saya pernah membenci kelambanan saya dan memaksa diri saya membaca begitu banyak buku. Tetapi saya merasa hanya menemukan tumpukan buku dalam kepala saya dan tidak tahu bagaimana cara membuka halamannya. Dan itu membuat saya merasa lebih lamban dan dungu!

Standard