Archive, Journal

Catatan atas Pre-teks Naskah Digitalisasi Memori Eksternal oleh Tri Wibowo

Dari mana kata pertama itu datang? Pertanyaan ini dapat digunakan penyair menelusuri ingatan masa kecil mereka. Suatu masa yang kini silam terbentang. Beberapa adegan dari masa kecil tersebut barangkali menjadi samar bagi penyair, tetapi tidak sedikit pula yang turut tumbuh di tubuh dewasanya dan membawa daya traumatis. Hal tersebut mempengaruhi bagaimana penyair memandang dunia, bagaimana mereka menginterogasi sorotan yang datang, dan tentu saja, gejolak yang membuatnya rentan terhadap emosi yang tidak stabil.

Penyair adalah pemilik tunggal dari masa kecil itu. Tetapi tidak satu pun dari mereka yang mampu masuk kembali ke dalam sana, menyamar menjadi seorang bocah yang bertemu dengan diri mereka di masa lalu. Jika bisa, saya akan mengirim seorang bocah yang menjadi pembunuh berantai ke masa kecil saya. Saya penasaran bagaimana diri saya di masa lalu menghadapinya.

Sebelum tiba pada kesadaran dewasanya, penyair bisa saja kehilangan suara dari kisah masa lalunya – terendam rutinitas, diembus arus pengetahuan baru, dijerat pangkal kota yang terus tumbuh tanpa melibatkan masa kecilnya lagi. Sementara itu, penyair harus terus berada pada titik kesadaran sebagai subjek dan objek atas segala yang ada di sekitarnya.

Lalu apa yang mesti ditulis menjadi sajak? Terlebih dahulu, suara dari kisah-kisah itu mesti dirangkai kembali menjadi lanskap ingatan. Yap! masa kecil adalah momen-momen terjujur saya melihat dunia! Proses perangkaian ingatan itu bisa dilakukan dengan berbagai metode, salah satunya tentu adalah menarik diri dari dunia atau dalam kisah para nabi, kita mengenalnya dengan istilah pengendapan.

***

Satu-satunya yang bisa dipercaya oleh penyair adalah ingatan mereka sendiri. Tetapi pada waktu yang sama ingatan itu pula yang paling mereka ragukan. Kerentanan penyair menghadapi ingatan mereka adalah tragedi yang ketika diolah menjadi sajak, maka menjadi sekumpulan paradoks yang ingin segera dilupakan tetapi berharap, di ujung sajaknya, ia menemukan pembenaran atas diri mereka.

Ketika seorang penyiar menulis sebuah sajak, dia adalah subjek sekaligus objek. Dua peran yang berbeda ini sering kali berperang untuk saling mendominasi dan menimbulkan emosi yang rentan dan tidak stabil dari sebuah sajak.

Barangkali, sajak-sajak semacam, “Kita selalu berada di daerah perbatasan/antara menang dan mati. Tak boleh lagi/ada kebimbangan memilih keputusan…” atau “Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun,/karena angin pada kemuning. Ia dengar resah kuda serta langkah pedati ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti,/yang jauh. Tapi di antara mereka berdua, tidak ada yang berkata-kata…” Atau sajak penyair Sitor, yang dari pemilihan judulnya saja, kita bisa merasakan kesadaran posisi subjek-objek itu, Dia dan Aku, “Akankah kita bercinta dalam kealpaan semesta?/-Bukankah udara penuh hampa ingin harga?-/Mari, Dik, dekatkan hatimu pada api ini/Tapi jangan sampai terbakar sekali…” adalah sajak yang ditulis di ruang netral penyiarnya. Nyaris tidak ada letupan di dalam sajaknya, dan penyairnya memindahkan metafora itu kepada kita – pembaca yang senang menebak-nebak maksud dari sesuatu yang sebenarnya cukup untuk kita nikmati.

***

Beberapa penyair butuh menciptakan “kamus”-nya sendiri agar diksi dalam sajak-sajaknya konsisten dan tetap sinkronis. Beberapa yang lain tentu saja tidak membutuhkan itu dengan berbagai pertimbangan yang cermat.

Salah satu yang kerap diperhatikan ketika membaca sebuah sajak tentu saja adalah keutuhannya – keutuhan yang lahir dari kejelian penyair menyusun kelas kata, menciptakan idiom, dan tentu saja meramu metafora.

Sebuah sajak yang dipenuhi konjungsi sering dianggap “tidak padat” tetapi di satu sisi, sajak liris sedikit mengabaikan permasalahan itu. Ia justru memilih mengolah wilayah konjungsi sebagai satu kekuatan bahasa agar menciptakan interpretasi baru dari sebuah sajak.

Ingatan masa kecil, kesadaran atas peran penyair sebagai subjek dan objek, keutuhan sebuah sajak adalah hal-hal mendasar yang barangkali akan turut mempengaruhi performa sajak yang ia hasilkan. Selain perkara tersebut, hal lain yang tentu tidak kalah penting adalah, bagaimana bentuk sajak itu menyesuikan dengan tema yang penyair pilih.

Standard

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *