Archive, Journal

Televisi Bekas dan Reformasi

Suatu sore yang masam di penghujung tahun 1997, ayah saya pulang membawa televisi bekas dua belas inci yang terikat di sadel motornya. Saya yang sedang bermain di halaman, berselebrasi melihat benda terajaib pada masanya itu. Aye, Captain!

Setelah sekian kali bertanya kepada ayah, kapan kita punya televisi sendiri agar pada hari minggu saya tidak perlu lagi kuturut ayah ke kota, naik delman istimewa. Terkabul sudah hasrat menonton Dragon Ball, Detektif Conan, One Piece, Felix the Cat, Wiro Sableng, hingga Keluarga Cemara dari rumah sendiri. Sebelumnya, jika hari minggu tiba, saya harus segera ke rumah teman untuk menemani dia menonton – kadang, momen semacam ini saya rindukan kembali dan karenanya, pada hari minggu saya sesekali tetap ke rumah teman itu atau dia yang datang ke rumah saya. Ternyata yang kita butuhkan memang adalah teman.

Sembilan bulan pasca rumah kami memiliki tabung kaca itu, suatu sore sepulang ayah bermain bola di lapangan pesantren, seperti biasa, ia bersiap-siap mandi dan menuju ke masjid. Tetapi di hadapan televisi dia berdiri menggunakan handuk berwarna hijau. Sesekali berkedip. Tak bergerak dan tak menjawab pertanyaan saya. Kenapa mahasiswa kumpul-kumpul? Kenapa mahasiswa ditembaki? Kenapa mahasiswa minta presiden turun? Kenapa? Kenapa?

Ayah saya hanya diam. Untuk pertama kalinya pula ayah saya – entah waktu itu dia sadar atau tidak, belum mandi untuk ke masjid saat azan sudah selesai. Dan saya tidak disuruh pula ke masjid. Kami berdua hanya menonton pewarta berbaju merah jambu dengan rambut sebahu mewartakan apa yang sedang terjadi di Ibu Kota. Saat jeda iklan, ayah saya tersenyum dan mengatakan, akhirnya Soeharto turun, Nak! Saya ikut tersenyum. Waktu itu saya tidak paham mengapa ayah saya tersenyum. Tetapi senyum saya pertanda yang lain, akhirnya saya bisa salat magrib di rumah dan langsung menonton Tuyul dan Mba Yul. Dalam hati, saya berdoa semoga setiap hari Soeharto turun dari jabatannya. Tetapi saya keliru, keesokan magribnya, ayah saya sudah berpakaian lengkap dan berjalan menuju ke masjid. Di belakangnya, saya ikut berjalanan. Itulah shalat magrib pertama saya ketika Habibie resmi menjadi presiden.

Belakangan saya tahu, tabungan ayah berbulan-bulan mungkin cukup membeli televisi baru sekiranya tahun itu tidak terjadi krisis moneter. Pada saat yang sama, di kampung saya, benda-benda yang ada kata bekas di belakangnya menjadi primadona – mulai motor hingga kulkas. Tumbuh pula beberapa penyedia servis reparasi alat elektronik yang selalu laku karena orang-orang lebih mampu memperbaiki dari pada mengganti. Pada titik terburuk, mereka menjual yang ada tanpa tahu kapan bisa membeli yang baru.

Pengaruh itu rupanya tertanam dalam kepala saya – mungkin juga teman sebaya pada masa itu. Sejak kecil saya tidak pernah bercita-cita menjadi polisi, dokter, apa lagi presiden. Beruntung pula ayah saya tidak pernah mengharuskan saya menjadi apa. Cukup pelihara kiblatmu! Teman-teman saya juga waktu itu lebih banyak membayangkan dirinya menjadi seorang yang mampu memperbaiki semuanya, kecuali negara ini.

Saya ingat percakapan dengan Ahmad dan Yabot – saya sudah bertaman dengan mereka sekitar dua puluh dua tahun yang lalu. Suatu hari ketika selesai bermain kelereng, kami singgah meminum air keran di masjid. Mulanya, Ahmad bercerita tentang bentuk susunan pohon dekat lapangan bola yang menyerupai helikopter – tentu kami tidak pernah benar-benar melihat helikopter. Sambil menunggu ibu kami keluar mencari anaknya. Pantang pulang sebelum sapu patah adalah jalan ninja kami.

Di penghujung sore itu, kami berbagi cerita soal cita-cita. Dengan penuh semangat, Ahmad menjelaskan kepada kami berdua tentang cita-citanya, ahli air! Tentu yang muncul di benak saya adalah Mario Bros. Yabot menjadikan sepak bola sebagai jalan mengubah nasibnya yang harus menjadi penghafal seperti ayahnya. Saya sendiri waktu itu, punya dua cita-cita, seorang tukang jahit dan penjual gado-gado. Bukan tanpa alasan, saya pernah melihat ibu saya memberi uang lima ribu – bukan nominal yang kecil pada masa itu, kepada tukang jahit. Lalu menjadi penjual gado-gado itu terinspirasi oleh seorang Mba yang berjualan gado-gado tepat di depan sekolah dasar saya. Dia baik dan gado-gadonya enak! Alfatihah!

Pada akhirnya, tentu saja tidak ada di antara kami yang menjadi apa yang pernah dicita-citakan. Ahmad sekarang menjadi seorang tenaga ahli profesional, Yabot merintis karir sebagai guru di pesantrennya. Lalu saya? Di tulisan inilah saya mungkin menjadi cerita dan menuang separuh kenaifan jika kembali mengingat pertanyaan saya kepada ayah soal televisi. Jika bisa memilih, rasanya keluarga kami tidak perlu memiliki televisi di rumah dan berharap apa yang saya nonton bersama ayah sore itu seharusnya hanya sebuah fiksi.

Tetapi, rupanya negara membuat harapan saya itu benar-benar terjadi. Dia terus-menerus menganggap masa lalu itu sebagai fiksi yang tak beriman.

Standard

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *