Archive, Journal

1 – Puisi Post-Tragedy: Kisah Romeo dan Hawa

Kepala karangan ini adalah asumsi reflektif tentang salah satu hal yang barangkali sudah sangat klise. Adalah cinta – yang pernah memusnahkan dewa-dewa, menyusun kasta-strata, dan sanggup mengobarkan perang di bumi ini. Kisahnya tertuang dalam kitab suci serta tertelusur di epos. Cinta pula yang sanggup menggerakkan infanteri ke selatan untuk merebut mahkota kaisar agung. Cinta dan darah adalah perang!

Tragedi pertama dalam sejarah manusia adalah kisah cinta tentang nestapa pengusiran, berderet kemudian tentang persilangan restu, lalu berhala-berhala yang diserang oleh api, dan mungkin yang paling banyak memberondong manusia adalah kisah cinta kepada seseorang yang tidak bisa dimiliki.

Oleh penyair, kisah-kisah ini telah mengilhami karya mereka. Kita membacanya penuh heroisme. Sejumlah masterpiece mereka hasilkan atas interpretasi dan respons mereka kepada tragedi-tragedi tersebut. Turut pula berbagai persoalan lain yang begitu deras dikandung masyarakat melalui pembacaan karya mereka. Mulai dari problem patriarki, patron klien, hingga kolonialisme. Dan di hadapan cinta, manusia tunduk dan pada masa yang lain menjadi tanduk untuk segala kekacauan itu.

Lalu apa yang disisikan penyair terdahulu kepada kita? Pertanyaan ini tentu terdengar putus asa – jika tidak bisa disebut menyerah. Beberapa penyair masa kini masih berkarya dengan meneruskan trah dari tragedi-tragedi tersebut. Sementara kebudayaan diciptakan bersamaan dengan hadirnya tragedi baru. Apakah kepurbaan tragedi akan menambah keeksotikan sebuah puisi? Atau para penyair masa kini hanya berusaha menelusuri keluasan bacaan mereka pada tragedi di masa silam dan pada waktu yang bersamaan, mereka memudarkan anasir penting dari hubungan puisi dan manusia?

Memang benar bahwa bagi penyair masa kini, jarak antara tragedi-tragedi itu dihalangi oleh masterpiece – dipenuhi interpretasi, keseimbangan logika, intertekstualitas, hingga counterfactual, dari penyair sebelumnya, dan sebelumnya, lalu sebelumnya lagi. Apakah ini menandakan bahwa penyair masa kini terancam menulis sesuatu yang berulang? Tak ada darah yang mengalir dari tubuh untuk kedua kalinya seperti tidak ada tragedi yang terulang.

Barangkali inilah saatnya menghancurkan tragedi-tragedi itu – yang barangkali telah menjadi monumen ingatan dalam kepala manusia. Beberapa tragedi berubah menjadi mitos atau folklor, sehingga sangkalan atau kritikan atas itu berarti menyeberangi batas tabu dan moral.

Beberapa penyair sedang mengontekskan tragedi nun lampau menjadi karya. Tentu hal ini bukan sebuah kemunduran yang berisiko – dengan segala upaya menghubung-hubungkannya dengan masyarakat masa kini. Tetapi itu artinya ada pula alternatif yang membentang sebagai tragedi baru bagi penyair.

Watak kolonialisme yang mencetak laku modernisme di sebuah kota melahirkan begitu banyak problem. Katakanlah, unsur kegilaan, kriminalitas, perusakan ekosistem alam, dan penggusuran – yang oleh negara dianggap sebagai bagian dari penertiban. Apakah pembangunan memang harus menyerahkan itu kepada kita? Lalu bagaimana dengan kelompok sub-urban yang sering kali menjadi subjek dari penertiban semacam itu? Bukankah ini merupakan tragedi baru yang menarik untuk diolah menjadi puisi? Dengan Romeo-nya adalah penguasa dan kita adalah Hawa yang tahu bahwa khuldi dari Romeo berdampak Buruk. Tetapi selalu saja, karma dan simalakama adalah satu-satunya pilihan. Atau katakanlah sebenarnya penguasa adalah Adam yang misoginis dan kesepian. Kita hanyalah Juliet yang diminta berbaring di tepi pantai dengan secawan racun bersamanya.

*berlanjut

Standard

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *