Uncategorized

1-Struktur Cinta yang Pudar

Dulu, dulu sekali, saya tidak memiliki bayangan utuh tentang kekusutan kepala penulis dan segera menemukan alasan mengapa jalan hidup mereka tak perlu membuat saya khawatir. Dua simpulan yang membutuhkan untuk saling meniadakan. Semua itu bermula ketika membaca catatan Arief Budiman dalam buku Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan ketika saya masih duduk di penghujung bangku sekolah menengah pertama yang membosankan. Mereka yang ingin lari dari rumah, membenci masa silam yang baru saja berlalu, dan mereka yang mendengar terlalu banyak aturan, mencintai pukul sepuluh malam dengan pintu kamar yang tertutup, akan menemukan sabana dengan gubuk kecil berpenerang suluh. Ke sana dan hanya di sana, tempat terbaik untuk mengumpat nasib buruk. Masa itu, saya tidak peduli sama sajak-sajak Chairil, nisan, aku ini bintang jalang, cintaku jauh di pulau, atau di pintumu aku mengetuk, hanya kepura-puraan yang saya kutip pada banyak omong kosong agar mereka tidak perlu mengerti apa yang sebenarnya ingin saya katakan. Mereka berbicara tentang dunia yang teratur dengan simbol-simbol moral yang akut. Saya hanya ingin mempertemukan belasan tahun baru dalam satu malam yang panjang dan segera bangun di usia dua puluh lima tahun. Tidak ada rumah atau satu-satunya yang berani saya anggap rumah adalah diri saya sendiri. Tidak ada desakan atau satu-satunya yang saya anggap mendesak adalah masuk ke dalam kamar dan seseorang bisa memastikan mengunci pintunya dari luar. Chairil Anwar pada masa itu – mungkin juga kini, nanti, atau di neraka, tetap akan dianggap sebagai panutan. Tetapi bagi saya, dia adalah godam dari palung yang berguna untuk menghancurkan apa yang manusia anggap sebagai dirinya. Lebur tanpa nama atau utuh tanpa nyawa. Diri yang dibenamkan ke dalam cermin dan mereka berdiri di hadapannya dengan penuh syaraf kegetiran. Mereka tertawa dan meminta seseorang di dalam sana menemaninya menghabiskan kebahagiaan yang sudah kadaluwarsa. Sesekali mereka mencoba mendefinisikan apa itu kehidupan dan arti pentingnya terlibat dalam struktur masyarakat yang sakit. Melacak riwayat kebahagiaan dan ingin melibatkan dirinya ke dalam semua warna yang tersedia di dunia, kecuali pekat hitam yang selalu mereka percayai seperti mitos. Lalu apa yang membuat manusia tetap ingin bangun di pagi hari untuk menyiapkan senapan yang tidak bisa mereka kokang? Penyangkalan! Manusia butuh berpura-pura dalam waktu yang lama agar sanggup menjaga jarak dari batas yang selalu berusaha menjadi realitas. Seperti usaha menghindari bising kendaraan tetapi sulit untuk berhenti menghirup polusinya. Manusia menyelamatkan telinganya tetapi membiarkan paru-parunya menjadi saringan polusi lalu sesekali menepi diri ke dalam hutan untuk menghirup udara yang asing. Siapa yang tidak bisa berpura-pura akan menisankan dirinya tanpa nama. Seperti lirik lagu Ridwan Sau yang saya terjemahkan, jika ada tanah baru yang bergunduk / kubur yang tak ditaburi bunga / aule! sayalah itu. Di dunia ini, manusia bisa menciptakan apa pun yang belum pernah dibayangkan sebelumnya, kecuali solusi. Usaha terbaik untuk masalah yang manusia hadapi hanya kompromi yang radiusnya, jika bukan untuk menyelamatkan biografi seseorang, berarti untuk menolong autobiografinya. Jika seseorang dan itu kamu, atau kamu, atau mungkin adalah saya, menemukan solusi atas hidup ini, cukup katakan bahwa itu adalah doktrin. Sampai di sini saya masih sulit menekan tombol enter untuk paragraf baru tetapi harus menutup catatan ini sebelum semua diri saya di masa lalu datang dan tidak bisa kembali lagi ke dunianya yang sudah punah itu. Alasan lain catatan ini hanya terdiri dari satu paragraf panjang yang konstan adalah, untuk mempersilakan dirimu menulis paragraf baru sebelum atau sesudah atau di antaranya. Barangkali kamu punya trauma dan ingin pura-pura melupakan luapannya.

Standard
Uncategorized

Sebuah Pesta Perpisahan

Saya selalu mewaspadai dua hal dalam hidup; jawaban dan kepastian. Terhadap yang pertama, di tengah taman, saya akan menangkap banyak kupu-kupu meskipun sadar tidak semua dan mungkin tidak ada, yang bisa saya rawat dan menetap di rumah. Terhadap yang kedua, di dalam kepala ini, segala sesuatu terbelah dan tidak pernah selesai, memastikan sesuatu hanya membuatnya menjadi kesia-siaan belaka.

Dalam sebuah kesempatan diskusi, ketika berbicara tentang proses kreatif, saya memilih berbagi tentang pengalaman di awal menulis dan pertanyaan-pertanyaan yang datang dari teman-teman sekitar saat itu.

Sebutlah lima tahun lalu, meski mungkin kurang lebih, bersama beberapa teman, kami memutuskan mulai menjalani salah satu tugas mahasiswa sastra; menulis. Tidak jelas mengapa demikian, awalnya kami hanya senang membaca dan sesekali diskusi kecil-kecilan tentang apa yang kami temukan.

Penjelajahan dimulai dari salah satu periodesasi sastra buatan H. B Jassin, Balai Pustaka. Robohnya Surau Kami milik A. A. Navis memulai pelahapan kami terhadap karya angkatan mereka.

Seiring waktu berjalan, kesenangan saya menulis puisi – juga beberapa teman lain, membuat diskusi semakin menarik. Hingga pada sebuah perjumpaan, teman saya bertanya, “Kenapa-ko kau masih menulis puisi, baru ada-mi Aan Mansyur?” pertanyaan yang akhirnya membuat dia lebih sering dan tekun menulis prosa. Pada kesempatan lainnya, teman itu mengajak saya untuk membenci Aan, baik dalam karya maupun pribadi. Dengan alasan, jika tidak demikian, kami kesulitan terlepas dari bayang-bayangnya.

Saya terbiasa untuk tidak menjawab pertanyaan dan pernyataan semacam itu. Tapi dalam benak, sebuah pertanyaan menyusun tubuhnya sendiri, apakah dengan membenci, saya bisa sehat dan terlepas dari bayang-bayang seseorang? Move on tidak semudah itu, Gaes.

Secara sadar, ketika memutuskan menjadi penulis puisi, saya tinggal di sebuah kota di mana Aan Mansyur begitu berpengaruh dan mendominasi banyak penulis muda. Dan tawaran membencinya bukan pilihan yang baik, setidaknya bagi saya, untuk usaha menemukan dan berkenalan dengan proses kreatif itu sendiri.

Maka yang saya lakukan adalah sebaliknya, saya berusaha mengenal – bahkan jika perlu hingga cara kencingnya, dengan penyair yang saya senangi karyanya. Itulah yang membuat saya membaca puisi-puisi melalui jejak generasi, dimulai dari Sitor Situmorang, Afrizal Malna, Aslan Abidin, dan Aan Mansyur. Beruntung karena dua di antara mereka berada di kota yang sama dengan saya.

Saya tidak tahu apakah pilihan ini salah dan pilihan teman saya benar. Atau mungkin sebaliknya atau tidak kedua-duanya. Saya tidak tahu sekaligus ragu. Yang saya lakukan hanya berusaha dan terus berusaha menemukan jawaban paling sederhana tentang apa itu puisi?

Cara saya saat ini untuk menemukan jawaban itu, dengan membaca sedikit buku – secara jumlah barangkali dalam setahun hanya dua puluh hingga dua puluh lima, dan mengulang-ngulangnya sebanyak mungkin. Selain karena saya sadar kemampuan otak saya mencerna sesuatu memang tidak begitu kuat, itu juga melatih saya untuk fokus terhadap sebuah frame tertentu. Sekali lagi, saya tidak tahu apakah cara ini benar.

Saya selalu mewaspadai dua hal dalam hidup; jawaban dan kepastian. Di kota ini, beberapa penyair muda masih sering terjebak dan mempertanyakan hal serupa. Semisal, mengapa banyak sekali yang ingin menulis puisi dan menjadi penyair? Atau bagaimana cara menaklukkan penyair yang puisinya lebih kuat dari dirinya?

Pertanyaan pertama hanya membenarkan penggalan soneta Neruda, mungkin karena puisi adalah between the shadow and the soul. Tapi untuk menaklukkan penyair lain? Bagi saya, dunia puisi – juga persajakan, harus terlepas dari ambisi kepanikan semacam itu. Saya tidak tertarik kesurupan dengan praktik bahwa, untuk tumbuh harus menebang dulu. Kenapa kita tidak sama-sama tumbuh? Bukankah itu jauh lebih sehat.

Jika pada akhirnya saya memang harus menebang, maka pilihannya adalah menghilangkan beberapa bagian paling mengganggu dalam hidup saya. Semacam menonaktifkan akun facebook, melepas instagram, dan membiarkan path menjadi museum. Itu yang saya lakukan. Dan sekali lagi, saya tidak tahu apakah cara ini yang benar. Saya hanya rindu. Rindu sama siapa? Entahlah. Mungkin seseorang yang di kejauhan sana sedang membaca tulisan ini.

Saat ini saya merasa cukup muda untuk melakukan banyak hal, tapi bayangan bahwa yang saya lalui adalah jalan kecil menjadi tua, membuat saya hanya bisa memilih sedikit hal di dunia ini dan tenggelam di dalamnya. Dan kini, puisi adalah laut yang saya pilih. Maukah kau membantuku bertukar napas ketika tenggelam bersama?  

Standard
Uncategorized

Bersama Joko Pinurbo

Mei 2016, jarum pendek menunjuk angka sepuluh. Kala itu Makassar sedang berada di 36o C ketika penyair yang akrab dengan kata celana dan sarung itu menikmati pagi di beranda hotel. Sebatang rokok setia terapit di jemari dan tangan kanannya bermalasan di lengan kursi. Hirup-hembus-hirup-hembus. Asyik sekali.

“Selamat pagi, Mas Jokpin.” Dia tersenyum. Ajakan berbincang yang disarankan Shinta Febriany disanggupi. Jadilah kami (Chalvin James Papilaya, Cicilia Oday, Irma Agryanti, Wahid Afandi, dan saya sendiri) menuju satu ruang di mana dunia ini terlihat sangat berbeda. Ruang merokok. Ditemani kurator cantik itu, Jokpin berjalan di depan sambil sesekali mengisap rokoknya.

Same Hotel meletakkan ruang merokok di lantai dua. Kami menaiki tangga sambil mengupas lelah. Dalam benak kami, percakapan ini adalah ruang belajar yang jarang dan penting. Apa yang akan dicakapkan?

Penyair kelahiran 1962 itu memilih duduk di pojok. Lima anak muda yang tahun ini terpilih sebagai Emerging Writers MIWF 2016 santun di depannya. Mirip ruang kuliah tapi dalam versi yang lebih santai dan terbuka.

“Sastra kita mulai bergeser ke timur. Kalau sebelumnya dikuasai Sumatra dan Jawa, kini orang-orang mulai tertarik membaca karya-karya dari sini.” Jokpin membuka perbincangan dan menjelaskan pandangannya terhadap keadaan geografis kesusastraan Indonesia saat ini.

“Coba kita perhatikan Mario (F Lawi), karya-karyanya memenuhi halaman sastra hari ini dan Aan (Mansyur) memecahkan rekor penjualan buku puisi.” Pembuka Jokpin mengajak kami untuk masuk ke dalam dunia yang lebih rumit. “Kalian harus menulis sebanyak mungkin dan memanfaatkan bergesernya pusat sastra agar gagasan kalian dapat dibaca banyak orang.” Sebenarnya, pesan ini berlaku bagi siapapun yang ingin menulis.

“Semalam, waktu kalian membaca karya, saya perhatikan kok.” Sambungnya dengan anggukan yang tidak saya pahami. Dia menyebut satu demi satu nama kami dan membahas karya yang didengarnya itu. Tatapan Chalvin dalam, Irma kokoh mendengarkan, Cicilia terlihat tidak ingin kehilangan satu kata pun, Wahid mencerna pesan-pesan untuknya, dan saya sendiri, memperhatikan ekspresi mereka dengan serius.

“Karya kalian, secara teknik, sudah bagus. Tinggal menemukan frame dalam karyamu. Semisal kalau saya baca kumpulan puisi orang lain, saya akan cari tahu frame-nya itu bicara tentang apa. Nah di karya kalian, hal itu belum terasa. Ada. Tapi belum kuat.”

Saya melirik asbak yang tergeletak di depan Jokpin. Sudah empat batang. Membandingkannya dengan asbak yang di depan saya, masih dua batang. “Pakaluru tattara.” Gumam saya dalam hati.

Tidak terasa setengah jam berlalu. Kini Jokpin berbicara soal proses kreatif. “Ibe, ingat waktu kita ngobrol di pojok itu?” Tanya Jokpin dan saya mengangguk sebagai jawaban iya. “Sadar tidak, rokok dan korek kamu ketinggalan.” Kami tertawa. “Nah, tertinggalnya rokokmu itu bisa jadi ide tulisan. Apa lagi pas saya buka, isinya sudah kosong.”

Jokpin membakar rokoknya yang ke lima dan lanjut menjelaskan. “Kamu tinggal ganti pembungkus rokok dengan apa. Kembangkan ceritanya, buat pembaca penasaran dan tertarik untuk tahu apa isinya. Tapi kalau ternyata kosong, mereka mungkin akan ketawa, kecewa, atau malah, tersinggung. Itu bergantung cerita apa yang kamu kembangkan.”

Penyair yang juga senang membaca puisi Remy Silado itu memberikan kami contoh bagaimana, di sekitar kita, ada banyak ide, peristiwa, dan gagasan yang dapat dikembangkan ke dalam puisi. “Tugas seorang penulis adalah memperhatikan sekitarnya.” Sambungnya dengan tekanan nada yang meminta diingat.

Saya sebenarnya mendapat tugas untuk mewawancarai Jokpin. Wawancara? Yang muncul dalam benak saya adalah, menyiapkan draft pertanyaan, kertas, dan pulpen. Tapi melihat Jokpin yang asyik diajak berbicara panjang lebar, muncul pertanyaan lain. Apa ia perbincangan kami yang asyik ini kemudian dibatasi oleh draft pertanyaan?

Jadilah selama kurang lebih dua jam, kami menikmati lintasan pikiran – bertukarnya gagasan, ide, dan semangat untuk terus menulis. “Saya tunggu karya-karya kalian.” Tutup Jokpin yang disambung senyum simpul Shinta Febriany.

31 Mei 2016 di revi.us

Standard
Uncategorized

Tiga Puisi Paling Berpengaruh dalam Hidup Saya

Jika kau bertanya apa arti puisi, maka saya akan menjawab seadanya. Seperti kau menjawab pertanyaan, bagaimana perasaanmu ketika melihat orang yang kau cintai telah mencintai orang lain sebagaimana dia dulu mencintaimu? Huft!

Apa pun jawabanmu, itulah puisi bagi saya. Sederhana? Tentu. Cukup masa lalu saja yang rumit. Lah, apa hubungannya dengan puisi? Terserah, kan saya yang menulis.

Kembali pada pembahasan semula. Puisi adalah ruang sunyi tempat menyimpan makna. Tapi orang lain dibebaskan melihatnya dari sudut berbeda. Sudut yang mungkin berlainan dari makna semula. Bahkan, orang lain dengan bebas menarik keramaian dalam ruang sunyi itu.

Saya bukan pembaca yang tekun. Saya lebih senang membaca wajah kekasih saya – tunggu dulu, kekasih? Memang kamu punya? Punya dong. Memangnya saya Arkil. Tulisan ini hanya upaya untuk mengingat pengalaman yang saya temukan dari beberapa puisi.

Berikut 3 puisi yang paling berpengaruh dalam hidup saya;

“The Road Not Taken” – Robert Frost

Two roads diverged in a yellow wood,

And sorry I could not travel both

And be one traveler, long I stood

And looked down one as far as I could

To where it bent in the undergrowth;

Then took the other, as just as fair,

And having perhaps the better claim,

Because it was grassy and wanted wear;

Though as for that the passing there

Had worn them really about the same,

And both that morning equally lay

In leaves no step had trodden black.

Oh, I kept the first for another day!

Yet knowing how way leads on to way

I doubted if I should ever come back.

I shall be telling this with a sigh

Somewhere ages and ages hence:

Two roads diverged in a wood, and I,

I took the one less traveled by,

And that has made all the difference.

Pertama kali membaca puisi ini, saya merasa menemukan peta. Peta kata-kata. Puisi ini seperti setan cantik yang dengan lembut masuk melalui celah kecil di kulit dan menembus tengkorak kepala saya. Pengalaman yang membawa saya pada satu titik kehijrahan. Dan itu mengubah cara saya memandang kehidupan yang cetar membahana dan lebay ini.

Larik Oh, I kept the first for another day!/Yet knowing how way leads on to way/I doubted if I should ever come back bahkan mampu menjadi kawan yang setia memberi nasihat.

Puisi ini seperti bibir ayah saya yang pernah berpesan, “Meskipun orang menganggap jalan yang kamu pilih salah, teruslah menempuhnya. Kamu tahu karena melalui, dan kamu tahu karena melihat adalah dua hal yang berbeda. Dan hanya satu yang menuntunmu lebih tegar.” Kalimat itu ia sampaikan ketika mengeluarkan saya dari sekolah. Beberapa tahun setelah itu, saya bertemu The Road Not Taken dan membuat saya semakin paham makna pesan itu.

“Between Going And Coming” – Octavio Paz

Between going and staying

the day wavers,

in love with its own transparency.

The circular afternoon is now a bay

where the world in stillness rocks.

All is visible and all elusive,

all is near and can’t be touched.

Paper, book, pencil, glass,

rest in the shade of their names.

Time throbbing in my temples repeats

the same unchanging syllable of blood.

The light turns the indifferent wall

into a ghostly theater of reflections.

I find myself in the middle of an eye,

watching myself in its blank stare.

The moment scatters. Motionless,

I stay and go: I am a pause.

Dari judulnya saja, puisi ini sudah membawa kita pada dirinya. Diri yang sunyi. Jika memiliki tubuh, maka peluklah tubuh puisi ini setiap kau melihat hal-hal yang kau cintai pergi dan lepaslah ketika kau menemukan sesuatu yang bertahan di antara sekian kepergian. Dan barangkali hanya puisi ini yang kau temukan paling terakhir. Puisi yang meminta kejedaan dari semua yang riuh dan berlalu. Cepat dan sulit diterka.

Saya baru berkenalan dengan Octavio Paz, kesulitan memahami puisi asing alasannya. Tapi kebetulan, seorang kawan menawarkan link di Twitter dan saya membukanya. Ternyata, di antara sekian puisi yang di muat di blog itu, salah satunya “Between Going and Coming”. Sedikit demi sedikit saya mengartikan dan yang saya temukan adalah pusat kesunyian. Pusat di mana seseorang dengan keharusan yang disadari menerima hal-hal yang datang padanya. Dan puisi ini menawarkan cara. Cara untuk menghadapi semuanya

“Aku” – Chairil Anwar

Kalau sampai waktuku

‘Ku mau tak seorang kan merayu

Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang

Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku

Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari

Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Buku pertama yang saya beli berjudul Aku, kumpulan puisi Chairil Anwar. Saya lupa alasan membeli buku itu. Mungkin hanya sok-sok supaya dikira senang dengan sastra. Tapi, ke-sok-sok-an itulah yang mengantar perkenalan pertama saya dengan puisi.

Waktu itu saya hanya mengenal puisi dari bangku sekolah dasar yang diajarkan almarhumah guru bahasa Indonesia. Tapi semuanya berubah ketika mulai membaca satu demi satu puisi di buku itu. Dan setelah selesai membacanya, saya kembali membuka halaman Aku. Membacanya sekali lagi. Sekali lagi.

Larik favorit saya di puisi ini adalah Aku ini binatang jalang/Dari kumpulannya terbuang. Ketika membacanya, secara naluri, saya langsung tertarik. Terlebih ketika dikeluarkan dari sekolah, kalimat itu seperti bernyawa dan berdiri menjadi bayangan saya.

Belakangan, ketika internet sudah masuk di kampung, saya mencari biografi Chairil Anwar dan tepat, dia memang binatang jalang yang paling terhormat. Saya tidak pernah menyesal mengapa harus jatuh cinta dengan puisi.

***

Demikianlan perkenalan saya dengan puisi, barangkali tidak sepenting mencari tahu siapa anak kecil kurang ajar yang bilang “heart” di lagu “Thinking Out Loud”-nya Ed Sheeran. Yang jelas, saya mencintaimu seperti puisi-puisi yang tidak pernah mengkhianti penyairnya meskipun kelak penyairlah yang memiliki kuasa mengkhianati puisinya sendiri. Bravo sepak bola Indonesia!

14 Mei 2015

Standard
Archive

Menggenapkan Keganjilan

Tradisi masyarakat kita senang berkumpul, bertemu, dan merayakan pesta. Kegiatan-kegiatan yang memiliki peran tersendiri untuk membangun sistem sosial dalam masyarakat. Pertemuan-pertemuan yang terjadi kemudian menjadi instrumen yang membangun rasa persaudaraan. Kita bertemu dan merayakan semua pesta, mulai dari kelahiran, pernikahan, masuk rumah baru, kelulusan, kematian, hingga sunatan.

Tradisi ini telah melampaui waktu. Menembus sekat peradaban dan masih terawat hingga saat ini. Meskipun harus diakui bahwa zaman telah mengubahnya ke dalam bentuk yang lebih sederhana. Pesta yang biasanya kita lakukan di rumah – atau paling tidak di halaman rumah, berpindah ke warung kopi, cafe, atau hotel.

Kesenangan berkumpul ini kemudian menjadi budaya yang turun temurun. Siapapun yang pertama kali membuat pesta korontigi, atau pelamaran tidak pernah membayangkan bahwa kegiatan itu akan bertahan hingga saat ini. Dan sekarang, korontigi telah sampai di masa kita sebagai sesuatu yang tak terpisahkan. Begitupun dengan kebiasaan-kebiasaan lain yang masih terpelihara hingga saat ini.

***

Ada ungkapan yang sering terdengar jika menghadiri acara di kampung saya. Jika sudah sampai di pintu, tuan rumah berdiri dan mempersilakan tamu untuk masuk seraya mengucapkan antamaki mae/katte mami nitayang/punna tena nakintama/tena na angganna ilalang yang dalam arti bahasa Indonesia yang tidak baku, masuk-ki ke dalam, sisa kita ditunggu, kalau tidak masuk-ki tidak genap-ki. Meskipun si pemilik rumah tidak pernah menghitung, apakah tamu yang datang itu sudah genap atau masih ganjil.

Sekilas kalimat dalam bahasa Makassar tadi terdengar biasa saja. Tapi pernahkah kita bayangkan bahwa penggunaan kata “angganna” yang dalam bahasa Indonesia diartikan genap adalah ungkapan keakraban yang mengandung makna keakraban yang tinggi.

Bahwa mengundang orang untuk bergabung dengan menggunakan kata genap berarti bahwa pesta ini ganjil jika orang tersebut tidak bergabung. Kata genap juga dapat diartikan cukup atau utuh.

Kalimat bahasa Makassar tadi masih digunakan meskipun saya lebih sering mendengarnya dilafalkan dengan bahasa Indonesia. Masuk-ki, kita mami yang ditunggu, kalau tidak masuk-ki, tidak jadi acara. Kata anggannadan tidak-jadi memang memiliki efek sosial yang sama. Tapi angganna jauh lebih kuat untuk membangun keakraban sosial. Entah mengapa, mungkin memang dalam budaya kita sengaja diciptakan pengomunalan kelompok masyarakat.

***

Disadari atau tidak, berkumpul adalah salah satu cara untuk membangun keakraban. Bahkan lebih dari itu, bisa membangun kekuatan yang sangat besar. Bayangkanlah, seandainya pada tahun 1914 Henk Sneevliet dan Pak Yahya tidak bertemu, maka Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV) atau Persatuan Sosial Demokrat Hindia Belanda pasti tidak didirikan. Jika Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV) tidak didirkan maka tidak ada kongres ISDV. Jika kongres ISDV di Semarang pada Mei 1920 tidak ada, maka penggantian nama dari ISDV ke Perserikatan Komunis Hindia tidak pernah terjadi. Jika perubahan nama dari ISDV menjadi PKH tidak terjadi maka Partai Komunis Indonesia juga tidak ada. Jika PKI tidak lahir pada tahun 1924 maka pada tahun 1965 tidak ada pengganyangan. Jika pengganyangan itu tidak ada maka Soeharto tidak pernah jadi Presiden. Jika Soeharto tidak jadi presiden, maka reformasi yang mahasiswa perjuangkan pada tahun 1998 tidak pernah terjadi. Jika tidak ada reformasi, mungkin negara kita masih dikuasai oleh rezim Soeharto – bahkan bisa saja lebih buruk dari saat ini.

Henk Sneevliet dan Pak Yahya sebagai pendiri Indische Sociaal-Democratische Vereeniging, tidak pernah bertemu dengan Soeharto. Tapi apa yang dilakukan oleh Sneevliet pada tahun 1914 masih punya kaitan dengan apa yang kita rasakan saat ini.

Sneevliet tidak pernah membayangkan bahwa ISDV yang ia dirikan pada tahun 1914 akan berubah menjadi Partai Komunis Indonesia. Apa lagi membayangkan bahwa partai non-penguasa terbesar di dunia itu akan dijadikan korban. Simpatisan dan pendirinya ditangkap dan dituduh sebagai biang onar.

Sneevliet, Soeharto, Mahasiswa 1998, dan kita semua adalah sebuah kegenapan. Kegenapan yang tercipta tanpa kita sadari. Terbangun dari akar sejarah yang sama. Ini termasuk ke dalam konsep kegenapan dalam tradisi kita. Kegenapan yang membangun ikatan yang dapat menembus ruang dan waktu.

1 November 2014 di revi.us

Standard
Archive, Journal, Resensi

Panritasaga

Museum dan perpustakaan adalah simbol peradaban.

13 Maret 2016, setelah melalui tujuh jam perjalanan darat, saya bersama empat orang kawan dari Makassar tiba di Desa Pambusuang. Aroma laut menyatu dengan udara pukul delapan pagi yang sejuk di tanah Mandar.

Seorang lelaki dengan rambut yang dililit ke dalam topi menuruni tiga anak tangga dan menyambut kami; Muhammad Ridwan Alimuddin. Dialah penggagas Armada Pustaka, di desa yang terletak di Kecamatan Bala Nipa ini.

“Sejak tahun lalu, kami sudah mengoprasikan Perahu Pustaka, Becak Pustaka, Bendi Pustaka, dan Motor Pustaka. Nusa Pustaka – perpustakaan dan museum maritim,  hadir untuk melengkapi Armada Pustaka yang selama ini, secara aktif digunakan sebagai alat kampanye literasi di Sulawesi Barat.” Terangnya dengan ramah ketika menjelaskan kepada kami aktivitasnya belakangan ini.

Sebelum tiba, saya mencari beberapa pralana di internet tentang Nusa Pustaka, termasuk acara Perpustakaan Rakyat Sepekan III yang akan saya hadiri. Tidak banyak, tapi lumayan lengkap. Belakangan, melalui balasan surat elektronik, Ridwan membilangkan, “Hanya saja, di internet, ada beberapa pemberitaan “Armada Pustaka” yang berfantasi. Hahaha”

 Mulanya, saya merasa tempat ini tidak jauh berbeda dengan perpustakaan alternatif pada umumnya. Namun ketika berdiri di ambang pintu, memandang beberapa anak-anak sibuk membaca dan Sandeq – perahu tradisional Mandar, sepanjang tiga meter terpajang dengan ratusan buku di atasnya, saya nyaris tidak percaya. Bagaimana mungkin, perpustakaan menjadi tempat “bermain” anak-anak?

Dalam benak saya, bersit kecemburuan muncul pada gairah orang-orang di desa ini terhadap dunia literasi. Menyandingkan dengan Katakerja, tempat saya bekerja sebagai pustakawan di Makassar, hanya ada satu anak kecil yang rutin berkunjung, itupun adalah tetangga kami.

Salah satu yang menarik perhatian saya, di antara deretan buku di atas Sandeq itu, adalah Kalindaqdaq – puisi khas Mandar. Saya mengambil buku bersampul kuning dengan gambar seorang lelaki Paqkalindaqdaq itu, kemudian membuka halamanya secara acak.

Polei paqlolang posa

Pesiona balao

Soroqmo dolo

Andiang buku bau

Telah bertandang seekor kucing

Yang mengaku utusan tikus

Sudahlah, pulanglah

Di sini tidak ada tulang-tulang ikan

            Dinding yang dibuat dari Alisiq – anyaman bambu, membuat sirkulasi udara terus terjaga. Almanak dan beberapa foto kegiatan Armada Pustaka terpajang. Lantai dari bilahan bambu semakin menguatkan kesan lokalitas dari perpustakan ini.

            Ridwan menyajikan seteko kopi dan memanggil kami untuk istirahat sejenak. Tapi karena masih penasaran, saya melanjutkan ke bagian dalam Nusa Pustaka. Dua rak buku berwarna merah saling memunggungi atau sedang berpelukan. Berdempet rapat.

“Ada ribuan buku hasil sumbangannya teman-teman. Selain yang terpajang di sini, masih ada juga yang di Perahu Pustaka.” Tutur Ridwan ketika saya menanyakan jumlah bukunya.

            Saya mengamati judul-judul bukunya yang sangat beragam. Mulai dari sastra, sejarah, budaya, dan buku pelajaran.

“Apa yang terjadi bila setiap desa di Indonesia memiliki perpustakaan semacam ini?”

Lelaki berambut panjang itu hanya tersenyum mendengar lirih yang sengaja saya ucapakan sedikit keras itu. Dari caranya menjawab, saya coba menerka dua singgungan, yang pertama, apakah setiap desa memiliki orang yang tertarik menggeluti literasi? Kedua, sampai sejauh mana komitmen mereka bersetia pada dunia literasi yang sunyi ini?

            Tepat di atas rak buku tersebut, dengan penghubung lima anak tangga, ada ruangan lain yang lebih privat. Benar saja, itu adalah kantor Nusa Pustaka. Ketika menjulurkan kepala, saya melihat sebuah komputer dan beberapa kertas catatan terhambur di sekitarnya, “Barangkali bekas jurnalis Radar Sulbar yang produktif menulis tentang kemaritiman Mandar itu senang mengerjakan tulisannya di sana.” Gumam saya sambil meletakkan kembali buku Mandar Nol Kilometer.

            Setelah puas mengamati Nusa Pustaka, barulah saya mencecap kopi itu dan mengobrol bersama teman-teman lain. Tampak beberapa pustakawan, sedang mendata buku-buku. Sementara di halaman, beberapa anak kecil tadi kini sibuk bercengkrama dengan beberapa orang dewasa.

 “Hari ini rencananya mau dikasi’ pulang Perahu Pustaka, mauki ikut?” Ridwan menawari kami untuk menemaninya.

“di manaki perahunya itu, Kak? sambung Irmawati dengan lugas.

“Di Tanga-tanga, dekat pasar Tinambung. Kemarin ada Festival Sungai Mandar di sana, tapi sudah selesai. Jadi maumi dikasih pulang itu perahu.”

“Bagaimana yang lain? Kalau saya mauka ikut.”

            Selain Aan Manyur yang nampak masih lelah dan memilih beristirahat di Nusa Pustaka. Kami bertujuh sepakat untuk ikut berlayar, Randi Akbar, Hardiman, Maman Suherman, Irmawati, Ridwan bersama anak lelakinya, Nabigh Panritasaga, dan saya sendiri.

            Setelah bersiap-siap, di antar seorang pemuda menggunakan mobil, jadilah kami menuju desa Tanga-tanga, sekitar enam belas kilo meter dari Pambusuang.

***

Dia melempar anak lelakinya yang berusia enam tahun dari kapal. Melayang beberapa saat sebelum terhempas di lautan. Bantuan pelampung yang memeluk tubuhnya membuat anak itu terapung. Tapi itu tidak cukup untuk melawan ketakutannya. Di bawah matahari pukul tiga belas siang, ia menangis, sedu sekali.

            Sesaat sebelumnya, tiga awak perahu menepikan Baqog – perahu tradisional Mandar, dengan menarik penambatnya. Tulisan pada dinding luar kapal mulai luntur, tapi masih jelas terbaca, Perahu Pustaka Pattingaloang. Setelah cukup dekat, salah seorang awak perahu menurunkan tangga dan kami menaikinya. “Orang Mandar percaya bahwa tangga itu harus ganjil, sebab yang menggenapi adalah rezeki.” Tutur Ridwan menjelaskan mengapa tangga perahu itu jumlahnya lima. 

Sejak kami naik, perahu terus berbuncang. “Keras ombat kapiteng.”Teriak Randi.

Kurang lebih dua puluh batang bambu sisa Festival Sungai Mandar ditumpuk. Sementara dalam lambungnya, tersimpan sekitar empat ratusan buku. Melalui buritan perahu, Maman Suherman memilih masuk dalam lambung kapal untuk melihat tampakan di dalamnya. Saya memilih berdiri di dekat tiang perahu bersama Randi dan Irmawati. Tidak jauh dari tempat saya, Hardiman terlihat cemas memegang tali layar. Sementara Ridwan bersama anaknya berada di bagian belakang, berdiri dengan tenang.

Dua puluh meter perahu meninggalkan bibir pantai, mesin belum dinyalakan, dan keseimbangan perahu tetap tidak bisa dikendalikan. Para awak terlihat cukup tenang. Sebagai pelaut Mandar, mereka sepertinya telah terbiasa menghadapi keadaan ini. Wajah para awak yang setangguh karang membuat saya kurang merisaukan kebuncangan perahu.

            Beberapa detik setelah itu, ketika salah seorang awak perahu ingin naik, keseimbangan semakin sulit dikendalikan. Hingga akhirnya, perlahan tapi pasti,  Perahu Pustaka terbalik. Blurp!

Satu persatu dari kami menceburkan diri ke laut. Kecuali Hardiman dan Maman Suherman. Dia memeluk tiang dan baru ikut tercebur ketika penyangga layar itu menyentuh permukaan laut, sementara Maman terjebak di lambung perahu bersama buku-buku. Dengan bantuan dua orang awak, butuh beberapa menit untuk dirinya bisa keluar.

Beberapa warga yang melihat kejadian itu langsung berenang menuju perahu. Salah seorang di antaranya menarik Sandeq berukuran kecil untuk kami tumpangi ke daratan. Sementara itu, para awak dan beberapa pemuda, berusaha membalik Perahu Pustaka agar buku-buku yang sebagian masih tersimpan di lambung perahu, dapat segera diselamatkan.

Layar patah dan mesin perahu harus dikeringkan. Sambil menunggu pemuda yang mengantar kami tadi kembali, buku-buku dan gawai yang ikut tercebur kami jemur di halaman rumah warga.

***

Selain ucapan kekasih yang memberi harapan palsu, salah satu pembunuh paling akrab adalah media dengan segala kegegeran yang ditimbulkannya.

Kurang lebih satu jam setelah Perahu Pustaka terbalik, salah satu media daring langsung mengangkat beritanya, “Perahu yang ditumpangi Maman Suherman dan Aan Mansyur Terbalik di Perairan Majene.” Meskipun belakangan berita ini dihapus oleh adminnya, tapi itu sudah cukup merepotkan. Setidaknya bagi Aan sendiri, melalui panggilan telepon dan grup whatsaap, beberapa kawan di Makassar yang mendengar kabar ini langsung menghubunginya.

“Saya yang setengah mati tenggelam, Aan Mansyur-ji yang terkenal.” Canda Randi saat membaca berita itu, ketika kami tiba kembali di Pambusuang.

Setelah beristirahat dan melewatkan acara pembukan Perpustakaan Rakyat Sepekan III, menjelang Maghrib, saya meminjam gawai seorang kawan yang bekerja sebagai reporter Fajar, kemudian menjejaki “Perahu Pustaka Terbalik” melalui mesin penelusuran di internet.

Apa yang saya temukan membenarkan candaan Randi. Setidaknya membuat saya senyum-senyum geli. Semisal yang ditulis oleh Junaedi di regionalkompas.com dengan judul “Perahu Pustaka Terbalik, 11 Awak Selamat tetapi Ribuan Buku Terendam” dalam pemberitaannya, dia menuliskan, “Sebanyak 11 awak, termasuk seorang anak, selamat. Namun, ribuan buku, sejumlah laptop, dan handphone rusak setelah terendam air.”

            Data yang sebenarnya adalah, kami hanya bersepuluh, termasuk tiga awak perahu. Tidak ada leptop dan jumlah buku yang ikut tenggalam sekitar empat ratusan.

Efek yang ditimbulkan oleh berita ini hanya berkisar tentang taksiran jumlah kerugian secara materi. Namun bagaimana nasib anak-anak di pulau dan di kampung nelayan, yang karena kerusakan Perahu Pustaka, barangkali akan mengganggu jadwal mereka mendapat bahan bacaan?

Ini juga adalah kerugian lain, kerugian yang jauh lebih penting. Mengingat Sulawesi Barat, pada tahun 2012, melalui rilis yang dikeluarkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menempatkan provinsi termuda di Indonesia itu sebagai tiga daerah dengan jumlah buta aksara paling tinggi.

Sementara kanal berita gosulsel.com, dengan tagline, melihat lebih utuh, memuat tiga berita tentang terbaliknya Perahu Pustaka. Salah satunya adalah “Maman Suherman Selamat Setelah Perahu yang Ditumpangi Terbalik di Mandar.”

Dengan mengutip beberapa tweet kawan Maman yang sudah mendapat kabar dari Notulen Gondolo itu, terbitlah sebuah berita yang fantastis. Ini sangat mengharukan tentunya.

Ketika membaca beberapa berita – atau bisa juga disebut karangan bebas, itu di halaman rumah Ridwan, saya menyayangkan mengapa tidak ada media yang tertarik mengulas nasib para penunggu buku, yang selama ini biasa disambangi oleh Perahu Pustaka?

Padahal perahu itu sudah menebar semangat literasi di Pulau Battoa dan Pulau Tosalamaq yang terletak di Teluk Polewali. Tidak lupa juga menyinggahi beberapa kampung nelayan di pesisir Sulawesi Barat, mulai dari Gonda di Campalagiang hingga yang berada di kota Majene, seperi Pamboang, Sendana dan Malunda.

Berita semacam ini semakin mengaburkan apa yang seharusnya masyarakat kenal dari usaha Ridwan Alimuddin untuk menghidupkan budaya literasi di Sulawesi Barat. Itu juga tidak akan membantu mengurangi angka buta huruf, yang berdasarkan data Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Sulbar, mencapai 90,54 persen dari 1,5 juta penduduk Sulbar pada tahun 2014.  

Berita yang muncul akhirnya hanya mengedepankan pemuatan kegegeran konten tanpa punya kepentingan terhadap kebenaran dan bagaimana dampak yang ditimbulkan. Saya kembali mengingat balasan surat elektronik Ridwan, “Ada beberapa pemberitaan yang berfantasi.” Tapi kali ini, saya merasa bahwa semua berita tentang insiden terbaliknya Perahu Pustaka Pattingaloang lebih jelek dari fantasi yang buruk.

***

Sebagai penulis dan notulen di Indonesia Lawak Klub, Maman Suherman memang cukup dikenal oleh publik. Sementara Aan Mansyur sendiri, penyair yang puisi-puisinya akan kita temukan dalam film Ada Apa dengan Cinta 2 ini cukup digemari penikmat puisi di Indonesia.

            Media, dengan cara seperti ini, berhasil membuat kepopuleran dua tokoh itu mengaburkan makna penting dari perjuangan Ridwan menyabarkan semangat literasi. Pada akhirnya, yang masyarakat ketahui hanya percikan insiden yang juga tidak begitu mendalam.

Sementara Armada Pustaka masih harus berjuang untuk ikut membantu pemerintah memberantas buta aksara. Selain itu, yang menjadi tugas utamanya,  memudahkan anak-anak untuk mendapatkan bahan bacaan, bukan hanya di pulau dan pesisir, tapi juga yang berada di pegunungan.

“Gerakan kita langsung dengan beberapa armada yang saling melengkapi. Awalnya perahu saja, yang menjangkau jauh hingga ke pulau. Tapi itu menjadi “sia-sia” bila ternyata di lingkungan tempat saya tinggal tidak membaca buku. Nah saat proses finishing Perahu Pustaka, kita buat juga Bendi Pustaka, untuk kemudian Becak Pustaka. Sebab di sini juga banyak kampung di pegunungan, kita buat juga Motor Pustaka. Lalu akhirnya hadirlah Nusa Pustaka ini. Setidaknya itulah yang membedakan gerakan literasi kami dengan yang lain.” Demikian penjelasan Ridwan ketika saya menanyakan apa yang harus diketahui oleh orang tentang Armada Pustaka dan gerakan literasinya.

Aan Mansyur sendiri menganggap bahwa “Kalau katakerja – perpustakaan yang dikelola Aan di Makassar, itu untuk semakin mendekatkan orang-orang pada buku. Sementara apa yang dilakukan oleh Ridwan dengan Armada Pustaka untuk semakin memperkenalkan masyarakat pada buku. Kondisinya tentu berbeda.”

Maka yang menjadi perhatian penting dari Ridwan Alimuddin, selain menjaga ciri khas dalam mendorong anak-anak mencintai buku, turut membantu mengurangi angka buta huruf di daerahnya.

Jika di antara kita, ada yang memiliki bahan bacaan yang lebih, Armada Pustaka selalu terbuka untuk menerima pendonasian buku. Tentu, selain modal untuk melayarkan Perahu Pustaka.

***

Adzan maghrib berkumandang. Langit senja di Mandar mulai pudar. Selain warga yang berjalan menuju masjid di pertigaan jalan itu, nyaris tidak seorangpun yang berkeliaran. Desa ini menjadi lebih sunyi dari sebelumnya.

Salah satu hal yang jarang saya jumpai lagi di Makassar, antara Maghrib dan Isya, di masjid itu terdengar pengajian kitab kuning. Seorang ustadz menjadi pemandu yang menerangkan isi kitab dalam bahasa Mandar dan puluhan santri terlihat khidmat memahaminya. Assaduna.

Jeda waktu shalat ini, tidak ada aktivitas selain kegiatan keagamaan. Pambusuang seolah menjadi pesantren. Meskipun kita bisa melihat banyak rumah warga.

Memasuki pukul dua puluh, rangkaian acara Perpustakaan Rakyat Sepekan III dilanjutkan. Puluhan orang memenuhi Nusa Pustaka, termasuk beberapa santri yang tadi ikut pengajian di masjid. Kali ini giliran Aan Mansyur yang membawakan materi.

“Kalau kamu mau kaya, jangan jadi penulis. Kalau ada penulis yang terlihat kaya, Talatalekangji itu,” ucapnya dengan nada bercanda, “Persoalan penerbitan buku di Indonesia, itu telah menjadi industri yang dikuasai oleh segelintir orang. Lihatlah coba Gramedia. Penulis sendiri hanya menjadi bagian paling kecil dari industri itu.” Sambungnya menerangkan.

            Di hadapan pulahan anak muda, Aan bercerita tentang kiat menulis dan proses kreatifnya melalui beberapa kisah.

“Ibu saya tinggal di Balikpapan dan bekerja sebagai penjahit. Suatu waktu, saya bertanya, “Mengapa banyak kain yang dilebihkan, bukankah itu pemborosan?” Dan ibu saya menjawab, “Lebih mudah mengecilkan hal yang besar dari pada membesarkan hal kecil.” Dari cerita itu, kita bisa menemukan banyak sekali pelajaran tentang menulis. Misalnya saya, jika ingin menulis sesuatu yang panjangnya seribu kata, maka saya akan membuatnya menjadi tiga ribu kata dan menyuntingnya hingga seribu.”

Beberapa orang coba memahami penjelasan yang dituturkan Aan, lelaki berkacamata yang belum menikah di usia tiga puluh lima tahun itu kemudian melanjutkan.

“Saya juga senang dengan  kisah Gandhi, suatu waktu, seorang ibu dan anak datang menemuinya, “Putra saya ini tidak mau mendengar saya. Namun entah mengapa dia selalu mau mendengar nasehatmu. Saat ini dia terlalu banyak makan gula. Saya khawatir, giginya akan rusak dan gula sangat berbahaya bagi kesehatannya.” Mendengar itu, Gandhi menyanggupi dan memintanya kembali dua minggu kemudian. Ibu dan anak itu kembali pada waktu yang telah dijanjikan. “Nak, dengarlah yang ibumu katakan, terlalu banyak makan gula itu tidak baik.” Ibu itu heran, “Kalau sekadar mengucapkan itu, mengapa harus menunggu dua minggu?” tanyanya, “Karena saya harus latihan berhenti memakan gula.”

Aan menutup materinya dengan membacakan puisi Tidak Ada New York Hari Ini, salah satu yang termuat dalam buku puisi terbarunya yang terbit April ini.

Resah di dadamu, dan rahasia yang menanti di jantung puisi ini.

Dipisah kata-kata. Begitu pula rindu.

Lihat tanda tanya itu.

Jurang antara kebodohan dan keinginanku.

Memilikimu sekali lagi.

***

Di halaman Nusa Pusataka, untuk hari ini, kegiatan Perpustakaan Rakyat Sepekan III sudah selesai. Bersama pustakawan, kami duduk melingkar dan bercerita kembali tentang pengalaman siang tadi. Maman memperlihatkan luka di kakinya yang tergores karang, Randi yang juga kakinya terluka menimpali.

“Perawatnya tadi, seharusnya lebih lama lagi na-obati kakiku.” Kami tertawa dan paham betul kegenitan itu.

Pukul dua puluh tiga, rombongan kami pamit untuk pulang ke Makassar.

“April atau selambatnya Mei, Perahu Pustaka berlayar ke Kepuluan Supermonde sampai ke Makassar.” Melihat kami berjalan ke mobil, Ridwan mengucapkan sampai jumpanya itu.

Jalan begitu lengang, hanya satu dua kendaraan melintas. Efek Rumah Kaca mengalun. Menemani kepulangan kami.

Standard