Archive, Journal, Resensi

Panritasaga

Museum dan perpustakaan adalah simbol peradaban.

13 Maret 2016, setelah melalui tujuh jam perjalanan darat, saya bersama empat orang kawan dari Makassar tiba di Desa Pambusuang. Aroma laut menyatu dengan udara pukul delapan pagi yang sejuk di tanah Mandar.

Seorang lelaki dengan rambut yang dililit ke dalam topi menuruni tiga anak tangga dan menyambut kami; Muhammad Ridwan Alimuddin. Dialah penggagas Armada Pustaka, di desa yang terletak di Kecamatan Bala Nipa ini.

“Sejak tahun lalu, kami sudah mengoprasikan Perahu Pustaka, Becak Pustaka, Bendi Pustaka, dan Motor Pustaka. Nusa Pustaka – perpustakaan dan museum maritim,  hadir untuk melengkapi Armada Pustaka yang selama ini, secara aktif digunakan sebagai alat kampanye literasi di Sulawesi Barat.” Terangnya dengan ramah ketika menjelaskan kepada kami aktivitasnya belakangan ini.

Sebelum tiba, saya mencari beberapa pralana di internet tentang Nusa Pustaka, termasuk acara Perpustakaan Rakyat Sepekan III yang akan saya hadiri. Tidak banyak, tapi lumayan lengkap. Belakangan, melalui balasan surat elektronik, Ridwan membilangkan, “Hanya saja, di internet, ada beberapa pemberitaan “Armada Pustaka” yang berfantasi. Hahaha”

 Mulanya, saya merasa tempat ini tidak jauh berbeda dengan perpustakaan alternatif pada umumnya. Namun ketika berdiri di ambang pintu, memandang beberapa anak-anak sibuk membaca dan Sandeq – perahu tradisional Mandar, sepanjang tiga meter terpajang dengan ratusan buku di atasnya, saya nyaris tidak percaya. Bagaimana mungkin, perpustakaan menjadi tempat “bermain” anak-anak?

Dalam benak saya, bersit kecemburuan muncul pada gairah orang-orang di desa ini terhadap dunia literasi. Menyandingkan dengan Katakerja, tempat saya bekerja sebagai pustakawan di Makassar, hanya ada satu anak kecil yang rutin berkunjung, itupun adalah tetangga kami.

Salah satu yang menarik perhatian saya, di antara deretan buku di atas Sandeq itu, adalah Kalindaqdaq – puisi khas Mandar. Saya mengambil buku bersampul kuning dengan gambar seorang lelaki Paqkalindaqdaq itu, kemudian membuka halamanya secara acak.

Polei paqlolang posa

Pesiona balao

Soroqmo dolo

Andiang buku bau

Telah bertandang seekor kucing

Yang mengaku utusan tikus

Sudahlah, pulanglah

Di sini tidak ada tulang-tulang ikan

            Dinding yang dibuat dari Alisiq – anyaman bambu, membuat sirkulasi udara terus terjaga. Almanak dan beberapa foto kegiatan Armada Pustaka terpajang. Lantai dari bilahan bambu semakin menguatkan kesan lokalitas dari perpustakan ini.

            Ridwan menyajikan seteko kopi dan memanggil kami untuk istirahat sejenak. Tapi karena masih penasaran, saya melanjutkan ke bagian dalam Nusa Pustaka. Dua rak buku berwarna merah saling memunggungi atau sedang berpelukan. Berdempet rapat.

“Ada ribuan buku hasil sumbangannya teman-teman. Selain yang terpajang di sini, masih ada juga yang di Perahu Pustaka.” Tutur Ridwan ketika saya menanyakan jumlah bukunya.

            Saya mengamati judul-judul bukunya yang sangat beragam. Mulai dari sastra, sejarah, budaya, dan buku pelajaran.

“Apa yang terjadi bila setiap desa di Indonesia memiliki perpustakaan semacam ini?”

Lelaki berambut panjang itu hanya tersenyum mendengar lirih yang sengaja saya ucapakan sedikit keras itu. Dari caranya menjawab, saya coba menerka dua singgungan, yang pertama, apakah setiap desa memiliki orang yang tertarik menggeluti literasi? Kedua, sampai sejauh mana komitmen mereka bersetia pada dunia literasi yang sunyi ini?

            Tepat di atas rak buku tersebut, dengan penghubung lima anak tangga, ada ruangan lain yang lebih privat. Benar saja, itu adalah kantor Nusa Pustaka. Ketika menjulurkan kepala, saya melihat sebuah komputer dan beberapa kertas catatan terhambur di sekitarnya, “Barangkali bekas jurnalis Radar Sulbar yang produktif menulis tentang kemaritiman Mandar itu senang mengerjakan tulisannya di sana.” Gumam saya sambil meletakkan kembali buku Mandar Nol Kilometer.

            Setelah puas mengamati Nusa Pustaka, barulah saya mencecap kopi itu dan mengobrol bersama teman-teman lain. Tampak beberapa pustakawan, sedang mendata buku-buku. Sementara di halaman, beberapa anak kecil tadi kini sibuk bercengkrama dengan beberapa orang dewasa.

 “Hari ini rencananya mau dikasi’ pulang Perahu Pustaka, mauki ikut?” Ridwan menawari kami untuk menemaninya.

“di manaki perahunya itu, Kak? sambung Irmawati dengan lugas.

“Di Tanga-tanga, dekat pasar Tinambung. Kemarin ada Festival Sungai Mandar di sana, tapi sudah selesai. Jadi maumi dikasih pulang itu perahu.”

“Bagaimana yang lain? Kalau saya mauka ikut.”

            Selain Aan Manyur yang nampak masih lelah dan memilih beristirahat di Nusa Pustaka. Kami bertujuh sepakat untuk ikut berlayar, Randi Akbar, Hardiman, Maman Suherman, Irmawati, Ridwan bersama anak lelakinya, Nabigh Panritasaga, dan saya sendiri.

            Setelah bersiap-siap, di antar seorang pemuda menggunakan mobil, jadilah kami menuju desa Tanga-tanga, sekitar enam belas kilo meter dari Pambusuang.

***

Dia melempar anak lelakinya yang berusia enam tahun dari kapal. Melayang beberapa saat sebelum terhempas di lautan. Bantuan pelampung yang memeluk tubuhnya membuat anak itu terapung. Tapi itu tidak cukup untuk melawan ketakutannya. Di bawah matahari pukul tiga belas siang, ia menangis, sedu sekali.

            Sesaat sebelumnya, tiga awak perahu menepikan Baqog – perahu tradisional Mandar, dengan menarik penambatnya. Tulisan pada dinding luar kapal mulai luntur, tapi masih jelas terbaca, Perahu Pustaka Pattingaloang. Setelah cukup dekat, salah seorang awak perahu menurunkan tangga dan kami menaikinya. “Orang Mandar percaya bahwa tangga itu harus ganjil, sebab yang menggenapi adalah rezeki.” Tutur Ridwan menjelaskan mengapa tangga perahu itu jumlahnya lima. 

Sejak kami naik, perahu terus berbuncang. “Keras ombat kapiteng.”Teriak Randi.

Kurang lebih dua puluh batang bambu sisa Festival Sungai Mandar ditumpuk. Sementara dalam lambungnya, tersimpan sekitar empat ratusan buku. Melalui buritan perahu, Maman Suherman memilih masuk dalam lambung kapal untuk melihat tampakan di dalamnya. Saya memilih berdiri di dekat tiang perahu bersama Randi dan Irmawati. Tidak jauh dari tempat saya, Hardiman terlihat cemas memegang tali layar. Sementara Ridwan bersama anaknya berada di bagian belakang, berdiri dengan tenang.

Dua puluh meter perahu meninggalkan bibir pantai, mesin belum dinyalakan, dan keseimbangan perahu tetap tidak bisa dikendalikan. Para awak terlihat cukup tenang. Sebagai pelaut Mandar, mereka sepertinya telah terbiasa menghadapi keadaan ini. Wajah para awak yang setangguh karang membuat saya kurang merisaukan kebuncangan perahu.

            Beberapa detik setelah itu, ketika salah seorang awak perahu ingin naik, keseimbangan semakin sulit dikendalikan. Hingga akhirnya, perlahan tapi pasti,  Perahu Pustaka terbalik. Blurp!

Satu persatu dari kami menceburkan diri ke laut. Kecuali Hardiman dan Maman Suherman. Dia memeluk tiang dan baru ikut tercebur ketika penyangga layar itu menyentuh permukaan laut, sementara Maman terjebak di lambung perahu bersama buku-buku. Dengan bantuan dua orang awak, butuh beberapa menit untuk dirinya bisa keluar.

Beberapa warga yang melihat kejadian itu langsung berenang menuju perahu. Salah seorang di antaranya menarik Sandeq berukuran kecil untuk kami tumpangi ke daratan. Sementara itu, para awak dan beberapa pemuda, berusaha membalik Perahu Pustaka agar buku-buku yang sebagian masih tersimpan di lambung perahu, dapat segera diselamatkan.

Layar patah dan mesin perahu harus dikeringkan. Sambil menunggu pemuda yang mengantar kami tadi kembali, buku-buku dan gawai yang ikut tercebur kami jemur di halaman rumah warga.

***

Selain ucapan kekasih yang memberi harapan palsu, salah satu pembunuh paling akrab adalah media dengan segala kegegeran yang ditimbulkannya.

Kurang lebih satu jam setelah Perahu Pustaka terbalik, salah satu media daring langsung mengangkat beritanya, “Perahu yang ditumpangi Maman Suherman dan Aan Mansyur Terbalik di Perairan Majene.” Meskipun belakangan berita ini dihapus oleh adminnya, tapi itu sudah cukup merepotkan. Setidaknya bagi Aan sendiri, melalui panggilan telepon dan grup whatsaap, beberapa kawan di Makassar yang mendengar kabar ini langsung menghubunginya.

“Saya yang setengah mati tenggelam, Aan Mansyur-ji yang terkenal.” Canda Randi saat membaca berita itu, ketika kami tiba kembali di Pambusuang.

Setelah beristirahat dan melewatkan acara pembukan Perpustakaan Rakyat Sepekan III, menjelang Maghrib, saya meminjam gawai seorang kawan yang bekerja sebagai reporter Fajar, kemudian menjejaki “Perahu Pustaka Terbalik” melalui mesin penelusuran di internet.

Apa yang saya temukan membenarkan candaan Randi. Setidaknya membuat saya senyum-senyum geli. Semisal yang ditulis oleh Junaedi di regionalkompas.com dengan judul “Perahu Pustaka Terbalik, 11 Awak Selamat tetapi Ribuan Buku Terendam” dalam pemberitaannya, dia menuliskan, “Sebanyak 11 awak, termasuk seorang anak, selamat. Namun, ribuan buku, sejumlah laptop, dan handphone rusak setelah terendam air.”

            Data yang sebenarnya adalah, kami hanya bersepuluh, termasuk tiga awak perahu. Tidak ada leptop dan jumlah buku yang ikut tenggalam sekitar empat ratusan.

Efek yang ditimbulkan oleh berita ini hanya berkisar tentang taksiran jumlah kerugian secara materi. Namun bagaimana nasib anak-anak di pulau dan di kampung nelayan, yang karena kerusakan Perahu Pustaka, barangkali akan mengganggu jadwal mereka mendapat bahan bacaan?

Ini juga adalah kerugian lain, kerugian yang jauh lebih penting. Mengingat Sulawesi Barat, pada tahun 2012, melalui rilis yang dikeluarkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menempatkan provinsi termuda di Indonesia itu sebagai tiga daerah dengan jumlah buta aksara paling tinggi.

Sementara kanal berita gosulsel.com, dengan tagline, melihat lebih utuh, memuat tiga berita tentang terbaliknya Perahu Pustaka. Salah satunya adalah “Maman Suherman Selamat Setelah Perahu yang Ditumpangi Terbalik di Mandar.”

Dengan mengutip beberapa tweet kawan Maman yang sudah mendapat kabar dari Notulen Gondolo itu, terbitlah sebuah berita yang fantastis. Ini sangat mengharukan tentunya.

Ketika membaca beberapa berita – atau bisa juga disebut karangan bebas, itu di halaman rumah Ridwan, saya menyayangkan mengapa tidak ada media yang tertarik mengulas nasib para penunggu buku, yang selama ini biasa disambangi oleh Perahu Pustaka?

Padahal perahu itu sudah menebar semangat literasi di Pulau Battoa dan Pulau Tosalamaq yang terletak di Teluk Polewali. Tidak lupa juga menyinggahi beberapa kampung nelayan di pesisir Sulawesi Barat, mulai dari Gonda di Campalagiang hingga yang berada di kota Majene, seperi Pamboang, Sendana dan Malunda.

Berita semacam ini semakin mengaburkan apa yang seharusnya masyarakat kenal dari usaha Ridwan Alimuddin untuk menghidupkan budaya literasi di Sulawesi Barat. Itu juga tidak akan membantu mengurangi angka buta huruf, yang berdasarkan data Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Sulbar, mencapai 90,54 persen dari 1,5 juta penduduk Sulbar pada tahun 2014.  

Berita yang muncul akhirnya hanya mengedepankan pemuatan kegegeran konten tanpa punya kepentingan terhadap kebenaran dan bagaimana dampak yang ditimbulkan. Saya kembali mengingat balasan surat elektronik Ridwan, “Ada beberapa pemberitaan yang berfantasi.” Tapi kali ini, saya merasa bahwa semua berita tentang insiden terbaliknya Perahu Pustaka Pattingaloang lebih jelek dari fantasi yang buruk.

***

Sebagai penulis dan notulen di Indonesia Lawak Klub, Maman Suherman memang cukup dikenal oleh publik. Sementara Aan Mansyur sendiri, penyair yang puisi-puisinya akan kita temukan dalam film Ada Apa dengan Cinta 2 ini cukup digemari penikmat puisi di Indonesia.

            Media, dengan cara seperti ini, berhasil membuat kepopuleran dua tokoh itu mengaburkan makna penting dari perjuangan Ridwan menyabarkan semangat literasi. Pada akhirnya, yang masyarakat ketahui hanya percikan insiden yang juga tidak begitu mendalam.

Sementara Armada Pustaka masih harus berjuang untuk ikut membantu pemerintah memberantas buta aksara. Selain itu, yang menjadi tugas utamanya,  memudahkan anak-anak untuk mendapatkan bahan bacaan, bukan hanya di pulau dan pesisir, tapi juga yang berada di pegunungan.

“Gerakan kita langsung dengan beberapa armada yang saling melengkapi. Awalnya perahu saja, yang menjangkau jauh hingga ke pulau. Tapi itu menjadi “sia-sia” bila ternyata di lingkungan tempat saya tinggal tidak membaca buku. Nah saat proses finishing Perahu Pustaka, kita buat juga Bendi Pustaka, untuk kemudian Becak Pustaka. Sebab di sini juga banyak kampung di pegunungan, kita buat juga Motor Pustaka. Lalu akhirnya hadirlah Nusa Pustaka ini. Setidaknya itulah yang membedakan gerakan literasi kami dengan yang lain.” Demikian penjelasan Ridwan ketika saya menanyakan apa yang harus diketahui oleh orang tentang Armada Pustaka dan gerakan literasinya.

Aan Mansyur sendiri menganggap bahwa “Kalau katakerja – perpustakaan yang dikelola Aan di Makassar, itu untuk semakin mendekatkan orang-orang pada buku. Sementara apa yang dilakukan oleh Ridwan dengan Armada Pustaka untuk semakin memperkenalkan masyarakat pada buku. Kondisinya tentu berbeda.”

Maka yang menjadi perhatian penting dari Ridwan Alimuddin, selain menjaga ciri khas dalam mendorong anak-anak mencintai buku, turut membantu mengurangi angka buta huruf di daerahnya.

Jika di antara kita, ada yang memiliki bahan bacaan yang lebih, Armada Pustaka selalu terbuka untuk menerima pendonasian buku. Tentu, selain modal untuk melayarkan Perahu Pustaka.

***

Adzan maghrib berkumandang. Langit senja di Mandar mulai pudar. Selain warga yang berjalan menuju masjid di pertigaan jalan itu, nyaris tidak seorangpun yang berkeliaran. Desa ini menjadi lebih sunyi dari sebelumnya.

Salah satu hal yang jarang saya jumpai lagi di Makassar, antara Maghrib dan Isya, di masjid itu terdengar pengajian kitab kuning. Seorang ustadz menjadi pemandu yang menerangkan isi kitab dalam bahasa Mandar dan puluhan santri terlihat khidmat memahaminya. Assaduna.

Jeda waktu shalat ini, tidak ada aktivitas selain kegiatan keagamaan. Pambusuang seolah menjadi pesantren. Meskipun kita bisa melihat banyak rumah warga.

Memasuki pukul dua puluh, rangkaian acara Perpustakaan Rakyat Sepekan III dilanjutkan. Puluhan orang memenuhi Nusa Pustaka, termasuk beberapa santri yang tadi ikut pengajian di masjid. Kali ini giliran Aan Mansyur yang membawakan materi.

“Kalau kamu mau kaya, jangan jadi penulis. Kalau ada penulis yang terlihat kaya, Talatalekangji itu,” ucapnya dengan nada bercanda, “Persoalan penerbitan buku di Indonesia, itu telah menjadi industri yang dikuasai oleh segelintir orang. Lihatlah coba Gramedia. Penulis sendiri hanya menjadi bagian paling kecil dari industri itu.” Sambungnya menerangkan.

            Di hadapan pulahan anak muda, Aan bercerita tentang kiat menulis dan proses kreatifnya melalui beberapa kisah.

“Ibu saya tinggal di Balikpapan dan bekerja sebagai penjahit. Suatu waktu, saya bertanya, “Mengapa banyak kain yang dilebihkan, bukankah itu pemborosan?” Dan ibu saya menjawab, “Lebih mudah mengecilkan hal yang besar dari pada membesarkan hal kecil.” Dari cerita itu, kita bisa menemukan banyak sekali pelajaran tentang menulis. Misalnya saya, jika ingin menulis sesuatu yang panjangnya seribu kata, maka saya akan membuatnya menjadi tiga ribu kata dan menyuntingnya hingga seribu.”

Beberapa orang coba memahami penjelasan yang dituturkan Aan, lelaki berkacamata yang belum menikah di usia tiga puluh lima tahun itu kemudian melanjutkan.

“Saya juga senang dengan  kisah Gandhi, suatu waktu, seorang ibu dan anak datang menemuinya, “Putra saya ini tidak mau mendengar saya. Namun entah mengapa dia selalu mau mendengar nasehatmu. Saat ini dia terlalu banyak makan gula. Saya khawatir, giginya akan rusak dan gula sangat berbahaya bagi kesehatannya.” Mendengar itu, Gandhi menyanggupi dan memintanya kembali dua minggu kemudian. Ibu dan anak itu kembali pada waktu yang telah dijanjikan. “Nak, dengarlah yang ibumu katakan, terlalu banyak makan gula itu tidak baik.” Ibu itu heran, “Kalau sekadar mengucapkan itu, mengapa harus menunggu dua minggu?” tanyanya, “Karena saya harus latihan berhenti memakan gula.”

Aan menutup materinya dengan membacakan puisi Tidak Ada New York Hari Ini, salah satu yang termuat dalam buku puisi terbarunya yang terbit April ini.

Resah di dadamu, dan rahasia yang menanti di jantung puisi ini.

Dipisah kata-kata. Begitu pula rindu.

Lihat tanda tanya itu.

Jurang antara kebodohan dan keinginanku.

Memilikimu sekali lagi.

***

Di halaman Nusa Pusataka, untuk hari ini, kegiatan Perpustakaan Rakyat Sepekan III sudah selesai. Bersama pustakawan, kami duduk melingkar dan bercerita kembali tentang pengalaman siang tadi. Maman memperlihatkan luka di kakinya yang tergores karang, Randi yang juga kakinya terluka menimpali.

“Perawatnya tadi, seharusnya lebih lama lagi na-obati kakiku.” Kami tertawa dan paham betul kegenitan itu.

Pukul dua puluh tiga, rombongan kami pamit untuk pulang ke Makassar.

“April atau selambatnya Mei, Perahu Pustaka berlayar ke Kepuluan Supermonde sampai ke Makassar.” Melihat kami berjalan ke mobil, Ridwan mengucapkan sampai jumpanya itu.

Jalan begitu lengang, hanya satu dua kendaraan melintas. Efek Rumah Kaca mengalun. Menemani kepulangan kami.

Standard

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *