Archive, Journal

1-Struktur Cinta yang Pudar

Dulu, dulu sekali, saya tidak memiliki bayangan utuh tentang kekusutan kepala penulis dan segera menemukan alasan mengapa jalan hidup mereka tak perlu membuat saya khawatir. Dua simpulan yang membutuhkan untuk saling meniadakan. Semua itu bermula ketika membaca catatan Arief Budiman dalam buku Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan ketika saya masih duduk di penghujung bangku sekolah menengah pertama yang membosankan. Mereka yang ingin lari dari rumah, membenci masa silam yang baru saja berlalu, dan mereka yang mendengar terlalu banyak aturan, mencintai pukul sepuluh malam dengan pintu kamar yang tertutup, akan menemukan sabana dengan gubuk kecil berpenerang suluh. Ke sana dan hanya di sana, tempat terbaik untuk mengumpat nasib buruk. Masa itu, saya tidak peduli sama sajak-sajak Chairil, nisan, aku ini bintang jalang, cintaku jauh di pulau, atau di pintumu aku mengetuk, hanya kepura-puraan yang saya kutip pada banyak omong kosong agar mereka tidak perlu mengerti apa yang sebenarnya ingin saya katakan. Mereka berbicara tentang dunia yang teratur dengan simbol-simbol moral yang akut. Saya hanya ingin mempertemukan belasan tahun baru dalam satu malam yang panjang dan segera bangun di usia dua puluh lima tahun. Tidak ada rumah atau satu-satunya yang berani saya anggap rumah adalah diri saya sendiri. Tidak ada desakan atau satu-satunya yang saya anggap mendesak adalah masuk ke dalam kamar dan seseorang bisa memastikan mengunci pintunya dari luar. Chairil Anwar pada masa itu – mungkin juga kini, nanti, atau di neraka, tetap akan dianggap sebagai panutan. Tetapi bagi saya, dia adalah godam dari palung yang berguna untuk menghancurkan apa yang manusia anggap sebagai dirinya. Lebur tanpa nama atau utuh tanpa nyawa. Diri yang dibenamkan ke dalam cermin dan mereka berdiri di hadapannya dengan penuh syaraf kegetiran. Mereka tertawa dan meminta seseorang di dalam sana menemaninya menghabiskan kebahagiaan yang sudah kadaluwarsa. Sesekali mereka mencoba mendefinisikan apa itu kehidupan dan arti pentingnya terlibat dalam struktur masyarakat yang sakit. Melacak riwayat kebahagiaan dan ingin melibatkan dirinya ke dalam semua warna yang tersedia di dunia, kecuali pekat hitam yang selalu mereka percayai seperti mitos. Lalu apa yang membuat manusia tetap ingin bangun di pagi hari untuk menyiapkan senapan yang tidak bisa mereka kokang? Penyangkalan! Manusia butuh berpura-pura dalam waktu yang lama agar sanggup menjaga jarak dari batas yang selalu berusaha menjadi realitas. Seperti usaha menghindari bising kendaraan tetapi sulit untuk berhenti menghirup polusinya. Manusia menyelamatkan telinganya tetapi membiarkan paru-parunya menjadi saringan polusi lalu sesekali menepi diri ke dalam hutan untuk menghirup udara yang asing. Siapa yang tidak bisa berpura-pura akan menisankan dirinya tanpa nama. Seperti lirik lagu Ridwan Sau yang saya terjemahkan, jika ada tanah baru yang bergunduk / kubur yang tak ditaburi bunga / aule! sayalah itu. Di dunia ini, manusia bisa menciptakan apa pun yang belum pernah dibayangkan sebelumnya, kecuali solusi. Usaha terbaik untuk masalah yang manusia hadapi hanya kompromi yang radiusnya, jika bukan untuk menyelamatkan biografi seseorang, berarti untuk menolong autobiografinya. Jika seseorang dan itu kamu, atau kamu, atau mungkin adalah saya, menemukan solusi atas hidup ini, cukup katakan bahwa itu adalah doktrin. Sampai di sini saya masih sulit menekan tombol enter untuk paragraf baru tetapi harus menutup catatan ini sebelum semua diri saya di masa lalu datang dan tidak bisa kembali lagi ke dunianya yang sudah punah itu. Alasan lain catatan ini hanya terdiri dari satu paragraf panjang yang konstan adalah, untuk mempersilakan dirimu menulis paragraf baru sebelum atau sesudah atau di antaranya. Barangkali kamu punya trauma dan ingin pura-pura melupakan luapannya.

Standard

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *