Archive, Journal

1 – Para Pembual yang Populer

Catatan ini saya tulis setelah selamat dari kematian dalam perjalanan ke Toraja. Dengan kaki kanan yang patah, saya akan mengingat mereka melalui tulisan ini; Charles Bukowski yang mulutnya adalah kolam penampungan alkohol, Franz Kafka yang menggerutu pada realitas; Chuck Palahniuk yang selalu kontra pada dirinya sendiri; Milan Kundera yang bijaksana dan penuh kemarahan.

Yap! Semua ini bermula saat sedang memberi makan dua ayam kesayangan saya, Nagasakti dan Heroisma di halaman kontrakan, berdering pula panggilan telepon dari Arkil Akis – teman saya yang bekerja sebagai editor dan punya travel, dia menawarkan pekerjaan untuk mengantar empat orang tamunya yang akan melakukan residensi penulis di Toraja.

Sesuai jadwal, kamis malam saya menjemput mereka di Bandara Sultan Hasanuddin. Setelah perkenalan singkat, mereka naik ke mobil dan kami mulai menyusuri jalur utara yang panjang dan membosankan. Tetapi transmisi Mobil Elf putih yang bertuliskan pariwisata di kaca depannya ini bermasalah. Kemalangan itu terjadi di perbatasan Pangkep dan Barru, tepat di lokasi deretan warung remang-remang – tempat para sopir truk lintas Sulawesi singgah menghibur lelah. Walhasil, saya mengarahkan mereka untuk masuk di warung tersebut.

“Apakah di dalam ada bir dingin?” Bukowski bertanya sambil membuka tutup botol wine flask-nya yang tampaknya sudah kosong.

“Tentu saja!” jawab saya sambil mencari kontak Mahfud – salah seorang kawan di Barru, yang mungkin bisa membantu memperbaiki transmisi mobil ini. Menjaga mereka tidak bosan adalah tugas lain, “selain itu, kamu akan ditemani perempuan-perempuan cantik di dalam sana.”

Kafka hanya tertawa mendengar pertanyaan itu. Kundera membuka dompetnya dan melempar kondom ke arah Bukowski. Sementara Palahniuk duduk di trotoar seraya memasang headset dan mulai mendengar podcast favoritnya. Dengan kata lain, hanya Bukowski yang masih punya inspirasi masuk ke warung remang-remang itu.

Butuh waktu satu jam buat Mahfud datang dan satu jam lagi buat memperbaiki transmisi mobil ini. Kafka, Palahniuk, dan Kundera sibuk memperdebatkan kemenangan Bob Dylan yang meraih Nobel Sastra. Dan Bukowski belum juga keluar dari warung remang-remang itu.

 “Si brandal itu belum juga keluar!” gerutu Palahniuk.

“Tenanglah, Sob. Biarkan dia menyelesaikan malamnya yang berkabut itu dengan bir dan perempuan.” Kafka memberi pemakluman kepada Palahniuk.

“Iya, sampai kapan kita menunggu di sini sementara dia sedang membuat seorang perempuan menjerit-jerit di dalam sana? Kita punya tujuan dan itu sudah melelahkan. Mengapa dia bisa tenang-tenang saja!”

“Paling sebentar lagi dia keluar.”

“Wah, saya jadi paham mengapa kamu sanggup menulis karya tentang metamorfosis kecoak. Kamu memberi terlalu banyak kewajaran pada hidup tetapi pada waktu yang sama gagal menjelaskan kerangka dasarnya; hidup ini keras dan tiada ampun!” Palahniuk merapikan posisi kacamatanya.

“Kamu kira semua hal di dunia ini bisa selesai dengan bergabung bersama komunitas yang pekerjaannya melampiaskan tekanan hidup pada ring perkelahian?”

“Tentu saja! Segala tentang kota adalah perjudian nyata atas hidup. Dan kekerasan selalu punya akar yang sama pada banyak kebudayaan di dunia ini!”

Suara tawa Kafka seolah mengejek pandangan Palahniuk. Perdebatan itu terjadi selama satu jam. Dan Bukowski belum juga keluar dari warung remang-remang itu. Saya akhirnya berinisiatif menelepon dia. Panggilan pertama berlalu. Panggilan kedua berlalu. Dia mengangkat panggilan ketiga saya.

“Sudah beres, Kamerad?”

“Siapa?”

“Saya sopir yang mengantar kamu!”

“Saya sudah di jalan.”

“Di jalan? Maksudnya?”

“Iya, saya sudah di jalan.”

“Kamu tidak salah naik mobil?”

“Anjing! Iya, kalian berbeda di mobil ini.” jawab Bukowski dengan nada kacau.

Setelah kami menunggu satu jam, Bukowski tiba juga. Dia jalan dengan memegang wine flask-nya yang kembali kosong. Matahari mulai terang dan saya belum tidur.

“Bukowski, kamu terlalu payah! Sekali-kali berpisahlah dengan wine flask di tanganmu itu. Lepaskan fiksi-fiksi tentang penderitaan yang kamu karang di bawah kupluk usangmu itu. Hiduplah dengan kenyataan yang ada.” Gerutu Palahniuk kepada kawan residensinya itu.

Don’t try!” jawab Bukowski.

“Bangke!

Kami kembali melanjutkan perjalanan. Setelah melewati perbatasan Barru – Pare-pare, saya mengarahkan mobil ke Cafe Kampoeng Kopi Teras Empang. Jika ada nasib baik, mereka mungkin kelelahan dan butuh istirahat. Saya juga barangkali akan tertidur.

Harapan untuk istirahat sejenak itu sirna! Mereka memang benar-benar pembual, setengah sadar sambil berbaring, mereka masih berdebat. Kali ini tentang belly-side of contemporary life. Saya sudah menebak bahwa ini akan panjang dan membosankan. Dua kutub realisme dalam sastra; realisme lusuh dan realisme magis akan diperdebatkan.

“Apakah mereka benar-benar tidak bisa diam?” gerutu saya dalam hati. Saya yang awalnya tertarik atas semua obrolan mereka mulai jengkel. Rasa kantuk yang payah, tekanan dari kekasih yang ingin dilamar, kontrakan yang berakhir Desember ini, dan bualan mereka atas dunia ini sama sekali tidak bisa menyelamatkan apa pun.

“Kamu pikir realisme lusuh yang kamu agung-agungkan itu bisa menyelamatkan manusia dari tekanan hidup?” Kafka yang semula pasif kini mulai menyerang argumen Bukowski.

“Diam, Kafka!” pinta Palahniuk, “Semua karyamu, Bukowski. Semuanya! Adalah ilusi puisi semata; penderitaan yang kamu lampiaskan pada alkohol; kesedihan yang kamu sandarkan pada alkohol; masa lalu yang kamu tayangkan melalui alkohol, hanyalah ilusi!” lanjut Palahniuk yang mulanya membela realisme lusuhnya Bukowski kini cenderung mengambil pandangan yang berbeda dari keduanya.

Milan Kundera memukul meja dan melempar semangkuk pisang goreng ke arah Bukowski.

*Perjalanan ini berlanjut di 2 – Para Pembual yang Populer

Standard

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *