Archive, Journal

Gula, Mesin Cetak, dan Kereta Api

Kemunculan kelas menengah pada masa kolonial hadir seiring berkembangnya kapitalisme perkebunan – dilanjutkan dengan munculnya industri mesin, yang digerakkan oleh komoditas gula, lalu mesin cetak untuk koran dan hadirnya kereta api setelah masa tanam paksa di Batavia diberlakukan.

Laju permintaan kapitalisme perkebunan saat itu memaksa pemerintah kolonial melakukan cultuurstelsel. Pada waktu yang sama, mereka sadar, untuk menjalankan program juga butuh menyebarkan berbagai maklumat resmi. Surat kabar tentu pilihan tepat. Tetapi, untuk menunjang semua itu, dibutuhkan transportasi yang lebih gegas. Jalan raya yang sudah dibangun sejak tahun 1808 dianggap tidak lagi mampu mengatasi tinggi dan cepatnya permintaan. Tercetuslah ide untuk membangun moda transportasi baru. Yap! Kereta api. 

***

Dibutuhkan lahan yang cukup luas dan di banyak tempat untuk membangun industri gula. Hal tersebut dimulai oleh orang-orang Cina pada abad 17 di Batavia.  Meski kala itu tebu masih digiling menjadi sari kemudian diproses menjadi gula. Industri gula modern baru hadir dua abad kemudian di Pamanukan, Jawa Barat. Sayangnya, karena kesalahan lokasi dan kekurangan pekerja, saudagar dari Inggris yang mencoba membangun industri itu hanya bertahan sekitar satu dasawarsa. Belanda yang memiliki riset yang cukup dalam tentang geografis Batavia, berhasil mengelola industri gula modern secara masif. Kala itu, mereka bahkan sanggup mengekspor gula ke Eropa sekitar 10.000 pikul setiap tahun.

Perjanjian Bungaya antara Laksamana Cornelis Speelman dan Sultan Hasanuddin di Makassar pada tahun 1667 adalah dokumen cetak pertama yang diproduksi oleh pemerintahan kolonial saat itu. Hendrik Brant mendapat kontrak mencetak dan menjilid buku atas nama VOC dengan upah 86 dolar yang dibayar dengan cara mencicil. Sekitar 77 tahun kemudian, surat kabar pertama terbit dengan nama Batavia Nouvelles. Percetakan Benteng yang dikelola oleh Jan Erdman Jordens menandai sumber informasi pertama di Batavia. Meski surat kabar saat itu hanya terdiri dari selembar kertas berukuran folio.Sumber lain manyatakan bahwa surat kabar pada saat itu masih ditulis tangan.

Desa Kemijen layak dicatat dalam sejarah perkeretaapian di Indonesia. Sebab di sanalah pertama kalinya jalur rel kereta api dibangun oleh Gubernur Jenderal Hindia belanda kala itu, L. A. J. Baron Sloet van den Beele. Pembangunan ini diprakarsai oleh perusahaan swasta yang bernama  Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij yang dimulai pada tanggal 17 Juni 1864. Rute pertama kereta api ini adalah Stasiun Semarang-Tanggung, yang kemudian dilanjutkan dengan menghubungkan Semarang dengan Surakarta yang berjarak 110 KM. 

***

Gula, mesin cetak, dan kereta api menjadi simbol dominasi kolonial atas pribumi. Lalu pada peristiwa yang lain, juga menjadi alasan memulai kolaborasi kolonial dengan pribumi untuk menindas pribumi yang lebih lemah. Dalam tulisan ini, tiga bagian itu dijadikan ruang terpisah yang tumbuh bersama untuk melihat kemunculan kelas menengah pada saat itu.

Kolonialisme dalam bentuknya kapitalisme perkebunan dan cultuurstelsel sebatas menjadi rangsangan struktural untuk hadirnya kelas menengah pada masa itu. Mereka adalah para bangsawan dan mestizo yang posisinya semakin lemah. Sejak awal mereka memiliki agensi. Dengan agensi itu mereka menganalisis bagaimana struktur sosial pada masa kolonial bekerja. Mereka percaya bahwa struktur sosial itu dapat diubah dengan segala konsekuensi yang ada di belakangnya.

Metode untuk mengubah struktur sosial cukup beragam. Tetapi, para bangsawan dan mestizo ini sadar, akses mereka kepada kekuasaan, senjata, dan ekonomi cukup lemah. Maka jalan terakhir adalah memanfaatkan kekuatan massa yang pada waktu yang sama juga mengalami penindasan secara kolektif.

Tirto Adhi Soerjo adalah patron nyata tentang hipotesis di atas. Ia golongan bangsawan yang memiliki hasrat untuk menjalani gaya hidup baru. Dan itu yang membuatnya menjadi versi lokal dari kaum borjuis. Dengan agensi yang dimilik, ia mulai menulis di media tentang kritik atas pemerintahan kolonial. Ia menyuarakan kegelisahan massa – mereka yang datang dari kelas bawah. 

Tetapi dalam upaya memahami perjuangan kelas, dibutuhkan konteks untuk melihat pengaruhnya terhadap pranata. Selain itu, kita harus selalu mencurigai perjuangan dan apa yang diperjuangkan oleh kelas menengah. Sebab itu tidak selamanya murni perjuangan kelas. Mereka juga sering kali memanfaatkan perjuangan itu untuk menaikkan posisi mereka sendiri. 

Gula, mesin cetak, dan kereta api adalah pola berulang yang harus selalu diwaspadai. Untuk konteks masa kini, hadir kelas menengah yang datang dari atas atau muncul dari bawah. Mereka memperjuangkan demokrasi, korupsi, dan kebebasan pers. Sayangnya, setelah mereka hilang setelah cukup dekat dengan kekuasaan. Apakah memang perjuangan yang diinisiasi oleh kelas menengah hanyalah mitos?

Kabar baiknya, sebagian besar kita – jika bukan semuanya, yang memiliki akses bacaan semacam ini adalah kelas menengah. Yang seperti apa? Carpe diem!

Standard