Archive

Bocah Lelaki yang Menulis Puisi

(NASKAH MONOLOG ADAPTASI CERPEN YUKIO MISHIMA DENGAN JUDUL YANG SAMA)

JAM MENUNJUKKAN PUKUL DUA DINI HARI. LELAKI ITU TERBANGUN DARI TIDUR. MEMBUKA BUKU CATATAN DI ATAS MEJA TULIS. SETELAH BERUSAHA MENULIS, TETAPI TETAP TIDAK BISA.

Ini adalah momen puitik. Mimpi itu kembali. Aku ada dalam alam puitik. Mimpi yang aku tunggu sekian lama akhirnya membentuk dunia metafor. 

Mimpi ini tidak seperti dunia metafor yang telah lalu, kepompong yang membuat renda dari daun-daun akasia atau kawanan bangau melesat ke tengah lipatan ombak untuk mencari jasad orang tenggelam. 

Aku harus menulis puisi malam ini. Betapa tahun-tahun usang dan sunyi begitu kejam terhadap kehidupanku. Kekejaman itu seringkali menumbuhkan hasrat untuk bunuh diri.

Dan aku, dalam sunyi kehidupan dan pikiran, telah berkali-kali melihat tubuhku diseret ke taman berbunga yang disinggahi para peziarah putus asa.

Hidup sendiri dan sendirian adalah keegoisan tertinggi manusia. Kadang, saat melihat sepasang kekasih bercumbu dengan latar matahari senja, sepintas sesal menghangat. Dan aku tahu, puisi bisa menyelamatkan hidupku dari semua perkara yang tidak bisa aku maafkan.

BERDIRI DARI KURSINYA.

Kata apa yang tepat untuk membuka puisiku? Hanya pada momen puitik seperti ini, metafor dalam benak menjalar dan menguasai seluruh indraku. 

Metafor ini tentang melapas kutukan benci dalam jiwaku. Terbayang tubuh perempuan yang pernah aku cintai atau masih aku cintai, terlilit lidahku yang lemah dan tajam. Ia meronta dengan seluruh hasrat dalam diri dan mulutnya yang penuh rayu memuntahkan kata-kata ke atas lantai ini.

Metafor ini menggali penyesalan dalam diriku. Tapi mengapa aku tetap tidak bisa menulis satu kata pun?

DUDUK DI TEPI RANJANG DAN TERMENUNG MEMANDANG PIALA.

Aku adalah penyair. Lihatlah piala itu. Seluruh kata-kataku berdiri di sana. Mengakui kemahiranku menjelaskan persoalan rumit yang orang-orang alami di dunia ini.

Cinta? Airmata? Politik? Penggusuran? Onani? Aku telah merangkumnya ke dalam satu kata; puisi. Piala itu adalah milikku dengan seluruh kata yang menjunjungnya dengan abadi.

BERDIRI MENGANGKAT PIALA ITU DENGAN BANGGA.

Lihatlah piala ini. Aku telah abadi sebagai penyair. Jika penyair lain butuh merasakan tergusur untuk menulis penggusuran, berbeda denganku. Aku hanya butuh membayangkan semuanya dalam kamar ini. 

Di dalam jiwaku, segala perasaan di dunia ini telah aku terima, meski bentuknya hanya firasat, dan kadang-kadang datang sebagai dugaan semata. Tapi itu sudah cukup untuk mengetahui apa yang terjadi di dalam jiwa orang-orang dan menuliskannya ke dalam puisi yang terang.

Oh, waktu begitu cepat berlalu. Dua puluh tiga tahun lalu, saat seluruh penyair yang karyanya dipuja saat ini, bertepuk tangan untuk diriku yang masih berusia lima belas tahun. 

Inilah Penyair Muda kita dengan karyanya yang mengagumkan, Sepekan: Sebuah Kumpulan Puisi.

TERTAWA.

Merah penuh cahaya. Aku masih hapal warna karpet yang disediakan untuk menyambutku ke atas panggung. Seluruh lampu sorot mengarah kepadaku. Tidak ada beban yang mampu memberatkan hidupku sebagai penyair. 

Kebebasan adalah sebatang lilin. Tapi jangan pernah membakarnya dalam ruang yang penuh cahaya. Demikianlah aku menutup pidato kemenangan buku puisiku malam itu. 

KEMBALI KE MEJA TULIS.

Malam ini, aku tidak akan membuyarkan momen puitik ini begitu saja ke udara kamarku yang pengap dan penuh dendam. Aku adalah penyair. Puisi adalah sukma yang kugenggam.

MENGUCAPKAN APA YANG IA TULIS.

Malam membuka mulut rimba dan lidahku…BERPIKIR SEJENAK LALU MENCORETNYA.

Lidahku adalah rahim bagi kekalahan…BERPIKIR SEJENAK LALU MENCORETNYA.

Rimba kekalahan memancung lidahku…BERPIKIR SEJENAK LALU MENCORETNYA.

BERDIRI DARI KURSI MENJAUHI MEJA TULISNYA.

Mengapa semua kata hambar dalam kepalaku? Apakah ini sama saat aku melihat perempuan yang pernah aku cintai atau masih kucintai itu, mengambil sayap dan terbang ke pelukan orang yang lain?

Kata-kata tidak bersayap. Tapi mengapa ia bisa terbang begitu saja dari kepalaku?

Tidak, ia tidak hilang, mungkin aku belum menemukan pengalaman puncuk agar bisa lebih mengilhami alam puitik ini.

Kalian harus tahu, tahun saat berhasil mendapatkan piala itu, dalam sehari aku bisa menuliskan dua atau tiga puisi. Beberapa di antaranya dipuji bagus oleh kakak kelas dan guru-guruku, meski bagiku puisi itu lemah dan payah. 

Bayanglah, betapa rendah selera puisi mereka di mata penyair muda seperti diriku?

Muda? Apakah kerutan penderitaan ini masih membuatku muda? Apakah rerimbun kumis penyesalan ini tetap membuatku muda?

TERTAWA.

Penyair muda. Kala itu, semua orang menginginkan gelar tersebut di depan namanya. Agar gelar itu masih milikku, aku harus menulis puisi malam ini. Inilah saat paling tepat menulis puisi. Metafor, alam puitik, dan kepergiannya sudah cukup menjadi puisi.

TERMENUNG.

Jika tubuhku diseret ke taman berbunga yang disinggahi para peziarah putus asa, apakah aku masih dinggap penyair yang mati muda?

Tidak. Tidak. Aku tidak ingin mati sebelum menuntaskan dendamku melalui puisi kepada perempuan yang mencuri kata-kataku dan menjadikannya sayap untuk terbang.

Aku ingin menjalani hari tua seperti Goethe. Kehidupan Schiller, seperti kata juru monitor dulu, tidaklah begitu tepat dengan kondisiku saat ini. Masih ada begitu banyak hal yang harus aku puisikan sebelum jiwaku bebas.

KEMBALI KE MEJA TULISNYA DAN TERMENUNG MEMIKIRKAN JUDUL PUISINYA.

Sepertinya judul ini menarik, Sarang Dusta pada Lidi Sayapmu. 

Dunia ini butuh dusta agar tetap seimbang. Kesedihan adalah cermin tempat wajah manusia tersenyum. Bukankah mereka seperti kumpulan lidi yang mengepak dan membersihkan halaman.

Mengapa manusia membersihkan halaman sementara bukan dirinya yang mengotori? Apakah karena takut pada realitas atau selama ini mereka terpenjara oleh ilusi yang membingungkan?

Satu puisi lahir karena kesedihan, kutukan, atau keputusasaan, dan pusatnya adalah kesunyian.

Setelah kepergian perempuan jahannam itu, bertahun-tahun aku hidup sendiri sebagai seorang perenung yang berusaha menulis puisi. Kamar ini adalah saksinya, aku ada dalam pusat kesunyian, tempat puisi-puisi agung lahir.

Aku tidak takut pada realitas dan segala kejeniusan dalam diriku tidak membuat aku terpenjara oleh ilusi membingungkan. Aku selalu jujur dalam menuliskan puisi.

Puisi tidak boleh diisi dusta. Maka biarkanlah aku yang menuliskan tentang kedustaan dalam puisi ini.

BERDIRI MENGANGKAT KERTAS DAN PULPENNYA.

Aku telah menemukan judulnya. Berapa waktu yang saya habiskan sepanjang malam hanya untuk menemukan judul puisi yang ingin aku tulis?

Apakah kalian bisa bertahan hidup merenungi banyak hal dalam kamar kecil ini? 

Aku melakukan itu karena hidupku telah dikuasai puisi. Dan pusat puisi ada dalam kesunyian.

Sekarang tinggal menemukan ritus untuk membuka puisi ini.

BERJALAN MENGELILINGI KAMAR DAN BERULANG KALI MENGUCAPKAN KATA-KATA INI.

Dusta.

Penyesalan.

Pegkhianatan.

WAJAH BINGUNG.

Mengapa tidak ada emosi yang aku temukan dari kata-kata itu? Apa itu dusta? Betapa menjengkelkannya ketika berada di alam puitik, aku justru kehilangan emosi terhadap kata-kata. Semuanya menghambar.

Aku harus membuka kamus untuk menemukan arti katanya.

MENGAMBIL KAMUS DI ATAS MEJA DAN MENCARI ARTI KATANYA.

dusta/dus·ta/ a tidak benar (tentang perkataan); bohong;
berdusta/ber·dus·ta/ v berkata tidak benar; berbohong;
pendusta/pen·dus·ta/ n pembohong

BERPIKIR.

Mengapa aku tetap tidak menemukan emosi dari kata dusta. Apakah ini karena sudah terlalu lama perempuan itu pernah berdusta kepadaku. Ataukah aku butuh dusta yang baru untuk menemukan epifani dair semua ini.

Tidak. Tidak demikian. Segala perasaan telah ada dalam diriku. Aku bisa merasakaan semua perasaan tanpa harus melakukan hal-hal yang aneh. Aku pasti bisa menulis sebuah puisi malam ini.

MENGAMBIL PULPEN DAN BEBERAPA LEMBAR KERTAS DARI ATAS MEJA. KE SAMPING LEMARI DAN MENULIS SAMBIL BERDIRI DAN MEMBAKAR ROKOK. 

BEBERAPA KALI MENULIS KALIMAT PEMBUKA DAN TIDAK MENYUKAINYA LALU MENGGULUNG KERTAS TERSEBUT DAN MEMBUANGNYA.

Sial. Kata-kata yang dimuntahkan perempuan itu ke lantai mengganggu pikiranku.  Aku harus menbersihkannya sebelum hal itu mengotori alam puitikku.

BERJALAN KE SAMPING RANJANG. MENARIK KARDUS DI BAWAHNYA. MENGAMBIL BUKU SEPEKAN: SEBUAH KUMPULAN PUISI.

Meski berdebu, inilah buku pertama yang aku tulis. Ada baiknya aku membaca beberapa puisi untuk membantuku menemukan kalimat pembuka untuk puisi yang ingin aku tulis ini.

Siapa tahu, dari puisi lama ini, aku bisa juga menemukan emosi dari kata dusta.

MEMBACA PUISI.

Nyanyian Orang Hilang

seorang anak menghapus kata-kata dari papan tulis

padahal itu tidak pernah jadi miliknya

dari jendela, daun-daun menguning enggan gugur

meski tangan angin berusaha meraihnya

biarkanlah terpisah, dengarlah jeritan alam

anak itu menghapus kata-kata dengan tangan angin

kini, kulihat matahari begitu dekat dari jendala

membawa duka mereka yang gugur ke tanah 

24 Juni 1974

TERTAWA.

Jika ada yang ingin membandingkan puisiku dengan puisi Rangkuli, ketua Klub Sastra di sekolahku dulu, tentu itu adalah sebuah ketidakseimbangan yang mendekati penghinaan. 

Rangkuli terlalu manja memilih kata. Terlebih setelah ia jatuh cinta dengan seorang perempuan yang telah menjadi istri seseorang, puisi-puisinya menjadi melankolis dan penuh bualan. Jatuh cinta memang adalah hal yang menjijikkan.

Aku tidak ingin terjebak dengan melankolis serupa. Aku telah merasakan jatuh cinta, meski sesaat dan kini telah didustai karenanya, itu tidak bisa membuatku menjadi menjijikkan.

Ah, sudahlah membahas Rangkuli. Membaca puisi-puisiku yang dulu cukup memberi semangat untuk menulis puisi saat ini.

BERJALAN KEMBALI KE DEKAT LEMARI DAN MULAI MENULIS.

Dusta. Dusta. Dusta. Ah, puisinya telah terlintas dalam benakku. Aku telah menemukan puisinya.

Aku harus segera menuliskannya.

Sarang Dusta pada Lidi Sayapmu

kau adalah pigura terakhir yang berdiri di ruang tamuku

aroma glacier meruak an dusta membusana di tubuhmu

tanganmu menggapai udara yang kering dan hambar 

sepasang sayap atau mungkin puisiku 

membawamu terbang

tetapi tanganku terlipat ketika ingin menggapai ketinggianmu

hanya lidahku menjulur jauh mendekatimu

menahanmu dan menjeratmu

kau meronta dengan mengharap maaf atas luka

yang tak laku bagi tangguh jiwaku

terbanglah bila kata-kata telah kau muntahkan habis

ke lantai ini, aku akan manari, melepasmu hingga mati 

dalam ketinggian yang tak seorangpun mampu menjangkaunya

TERTAWA

Akhirnya malam ini aku bisa menulis puisi. Setelah sekian tahun lamanya. Hari-hariku hanya penuh perenungan akan dusta, penyesalan, dan pengkhianatan. Kamar ini kembali menjadi saksi, betapa kecerdasan dalam diriku belum benar-benar punah.

Puisi ini menjauhkan aku dari taman berbunga yang disinggahi para peziarah putus asa. Puisi ini telah menyelamatkanku. 

MENGULANG-ULANG BAIT TERAKHIR DARI PUISI

aku akan menari, melepasmu hingga mati 

dalam ketinggian yang tak seorangpun mampu menjangkaunya

LAMPU PADAM. TOKOH KEMBALI TIDUR DI ATAS RANJANG. SEMUA PROPERTI KEMBALI SEPERTI SEMULA.

LAMPU MENYALA. TOKOH KEMBALI BANGUN SEPERTI ADEGAN PERTAMA IA TERBANGUN. MELIHAT JAM DAN TERSENTAK.

Bukankah pukul dua telah berlalu. Ke mana mimpiku yang mengagumkan itu. Ke mana puisi dalam mimpiku itu.

BERGEGAS KE MEJA MENCARI KERTAS YANG IA GUNAKAN MENULIS PUISI. TAPI SEMUANYA TETAP TERSUSUN SEPERTI SEMULA.  MENCARI KERTAS ITU DI ATAS LEMARI. TETAP TIDAK ADA. MENCARI GULANGAN KERTAS YANG BUANG KE LANTAI. TETAPI TIDAK ADA. 

Ke mana mimpiku yang mengagumkan itu. Ke mana puisi dalam mimpiku itu.

MENARIK KARDUS DI BAWAH RANJANG. MENGAMBIL BUKU PUISI PERTAMANYA. 

Perasaan tadi aku telah membersihakn buku ini. Mengapa tetap berdebu. Ke mana puisiku.

SETELAH LELAH MENCARI. IA TERMENUNG DAN MENYADARI. PUISI ITU HANYA DALAM MIMPI DAN IA TIDAK PERNAH BISA MENULIS PUISI.

Kamar ini telah berubah menjadi taman berbunga yang disinggahi para peziarah putus asa.

— SELESAI —

Standard

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *