Archive

Bajak dan Laut

“Pemerintah dan rakyat Makassar tidak boleh berlayar ke mana pun kecuali Bali, pantai Jawa, Jakarta, Banten, Jambi, Palembang, Johor, dan Kalimantan, dan harus meminta surat izin dari Komandan Belanda di sini (Makassar). Mereka yang berlayar tanpa surat izin akan dianggap musuh dan diperlakukan sebagaimana musuh. Tidak boleh ada kapal yang dikirim ke Bima, Solor, Timor, dan lainnya semua wilayah di timur Tanjung Lasso, di utara atau timur Kalimantan atau pulau-pulau di sekitarnya. Mereka yang melanggar harus menebusnya dengan nyawa dan harta.”

– Butir Sembilan Perjanjian Bungaya

Siapa yang hendak ditunggu jika semua orang telah berkumpul dalam halaman penuh kecemasan? Kabar apa yang mesti disiarkan karena kekalahan telah mengalir seperti sungai yang menghanyutkan ranting patah, daun gugur, dan harapan ke lautan yang ombaknya menghapus makna dari pepatah.

Dalam beberapa epos purba dan folklor, laut telah menjadi tinta sumpah – bukan hanya sebagai latar, tetapi juga penentu alur dan ilham bagi kemunculan kisah heroik selama sekian abad. Dari jiwa gelap Anne Bonny hingga Khairuddin Barbarossa yang dijuluki kapten berjanggut merah yang kejam. Kisah kemurkaan Sawerigading di lautan untuk menemukan kekasihnya hingga kemistisan kapal Flying Dutchmen yang dikutuk mengarungi tujuh samudera.

Pada periode yang sama, Alfonso de Alburquerque – seorang penjelajah dari Portugis, membuka gerbang bangsa Eropa memasuki Asia dan merintis lahirnya kolonialisme selama berabad-abad. Demi Feitoria, Fortaleza, dan Igreja, mereka memulai pelayaran dari Sungai Tagus dan akhirnya berhasil menanam tapal wilayah dari perang dan diplomasi di negeri asing.

Tanjung Harapan di Afrika adalah terminal laut yang menghubungkan penjelajah Eropa dengan benua yang kini kita kenal sebagai Asia. Dari sana, kapal-kapal ini berlayar ke Malaka sebelum tiba di Maluku, Banda, dan Ternate – yang menjadi jantung kekayaan di Nusantara pada masa itu. Portugis – wilayah yang berjarak kurang lebih 6.894 mil laut dari Nusantara, tiba di Banda pada tahun 1512 dan memulai monopoli perdagangan rempah-rempah.

Waktu mengubah wajah benua dan teknologi pelayaran meringkas jarak. Kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara waktu itu tumbuh menjadi kota kosmopolit. Terjadi interaksi dan transaksi antar bangsa. Namun harga yang harus ditebus untuk itu semua tidaklah murah. Sebab, bangsa yang datang kemudian, bukan hanya hendak memonopoli perdagangan, tetapi juga jalur pelayaran.

Sebuah bangsa yang hendak monopoli dua hal tersebut, mesti mengangkat bendera merah, menembakkan meriam, dan menjadi pemenang yang memaksa sebuah kerajaan melakukan perjanjian. Itulah yang terjadi di Kerajaan Gowa pada tahun 1667 ketika VOC hendak memonopoli perdagangan dan pelayaran di timur Nusantara. Butir perjanjian yang dikutip di awal catatan ini merupakan salah satu siasat kolonialisme untuk mengamankan dua jalur yang hendak mereka kuasai.

Seorang pelaut ulung tidak pernah bisa diceraikan dari laut. Ketika pertama kali membaca buku Bajak Laut karangan La Side, ada hubungan erat antara kolonialisme, kebudayaan maritim, dan kesenjangan ekonomi yang ditunjukkan melalui pesta pernikahan para bangsawan. Dan dengan segera – kausalitas dari tujuan Alfonso de Alburquerque berlayar ke Asia kian tidak tertebak – melahirkan kolonialisme, monopoli pelayaran, penindasan, dan munculnya gerakan anti penjajahan semacam I Tolok – juga itu berarti memicu terjadinya kekacauan sosial yang membuat tokoh seperti Nakhoda Salabangka menjadi bajak laut yang oportunis dan kejam.

Laut – dengan pantainya, adalah cara kita menunggu ketika semua telah berkumpul dalam halaman penuh kecemasan. Sebab ia selalu menyimpan rahasia dari kesedihan dan kepasrahan manusia. Buku ini patut dibaca untuk mencurigai makna laut dalam benak kita. Apakah tempat indah untuk menghibur diri pada akhir pekan atau akan ada petang yang mengambang dan menemani debur ombak tempat kita menemukan kisah-kisah agung yang telah dan akan terjadi? Selamat membaca!

Prolog untuk buku Bajak Laut karangan La Side yang akan terbit di Basabasi.

Standard