Archive, Journal

Televisi Bekas dan Reformasi

Suatu sore yang masam di penghujung tahun 1997, ayah saya pulang membawa televisi bekas dua belas inci yang terikat di sadel motornya. Saya yang sedang bermain di halaman, berselebrasi melihat benda terajaib pada masanya itu. Aye, Captain!

Setelah sekian kali bertanya kepada ayah, kapan kita punya televisi sendiri agar pada hari minggu saya tidak perlu lagi kuturut ayah ke kota, naik delman istimewa. Terkabul sudah hasrat menonton Dragon Ball, Detektif Conan, One Piece, Felix the Cat, Wiro Sableng, hingga Keluarga Cemara dari rumah sendiri. Sebelumnya, jika hari minggu tiba, saya harus segera ke rumah teman untuk menemani dia menonton – kadang, momen semacam ini saya rindukan kembali dan karenanya, pada hari minggu saya sesekali tetap ke rumah teman itu atau dia yang datang ke rumah saya. Ternyata yang kita butuhkan memang adalah teman.

Sembilan bulan pasca rumah kami memiliki tabung kaca itu, suatu sore sepulang ayah bermain bola di lapangan pesantren, seperti biasa, ia bersiap-siap mandi dan menuju ke masjid. Tetapi di hadapan televisi dia berdiri menggunakan handuk berwarna hijau. Sesekali berkedip. Tak bergerak dan tak menjawab pertanyaan saya. Kenapa mahasiswa kumpul-kumpul? Kenapa mahasiswa ditembaki? Kenapa mahasiswa minta presiden turun? Kenapa? Kenapa?

Ayah saya hanya diam. Untuk pertama kalinya pula ayah saya – entah waktu itu dia sadar atau tidak, belum mandi untuk ke masjid saat azan sudah selesai. Dan saya tidak disuruh pula ke masjid. Kami berdua hanya menonton pewarta berbaju merah jambu dengan rambut sebahu mewartakan apa yang sedang terjadi di Ibu Kota. Saat jeda iklan, ayah saya tersenyum dan mengatakan, akhirnya Soeharto turun, Nak! Saya ikut tersenyum. Waktu itu saya tidak paham mengapa ayah saya tersenyum. Tetapi senyum saya pertanda yang lain, akhirnya saya bisa salat magrib di rumah dan langsung menonton Tuyul dan Mba Yul. Dalam hati, saya berdoa semoga setiap hari Soeharto turun dari jabatannya. Tetapi saya keliru, keesokan magribnya, ayah saya sudah berpakaian lengkap dan berjalan menuju ke masjid. Di belakangnya, saya ikut berjalanan. Itulah shalat magrib pertama saya ketika Habibie resmi menjadi presiden.

Belakangan saya tahu, tabungan ayah berbulan-bulan mungkin cukup membeli televisi baru sekiranya tahun itu tidak terjadi krisis moneter. Pada saat yang sama, di kampung saya, benda-benda yang ada kata bekas di belakangnya menjadi primadona – mulai motor hingga kulkas. Tumbuh pula beberapa penyedia servis reparasi alat elektronik yang selalu laku karena orang-orang lebih mampu memperbaiki dari pada mengganti. Pada titik terburuk, mereka menjual yang ada tanpa tahu kapan bisa membeli yang baru.

Pengaruh itu rupanya tertanam dalam kepala saya – mungkin juga teman sebaya pada masa itu. Sejak kecil saya tidak pernah bercita-cita menjadi polisi, dokter, apa lagi presiden. Beruntung pula ayah saya tidak pernah mengharuskan saya menjadi apa. Cukup pelihara kiblatmu! Teman-teman saya juga waktu itu lebih banyak membayangkan dirinya menjadi seorang yang mampu memperbaiki semuanya, kecuali negara ini.

Saya ingat percakapan dengan Ahmad dan Yabot – saya sudah bertaman dengan mereka sekitar dua puluh dua tahun yang lalu. Suatu hari ketika selesai bermain kelereng, kami singgah meminum air keran di masjid. Mulanya, Ahmad bercerita tentang bentuk susunan pohon dekat lapangan bola yang menyerupai helikopter – tentu kami tidak pernah benar-benar melihat helikopter. Sambil menunggu ibu kami keluar mencari anaknya. Pantang pulang sebelum sapu patah adalah jalan ninja kami.

Di penghujung sore itu, kami berbagi cerita soal cita-cita. Dengan penuh semangat, Ahmad menjelaskan kepada kami berdua tentang cita-citanya, ahli air! Tentu yang muncul di benak saya adalah Mario Bros. Yabot menjadikan sepak bola sebagai jalan mengubah nasibnya yang harus menjadi penghafal seperti ayahnya. Saya sendiri waktu itu, punya dua cita-cita, seorang tukang jahit dan penjual gado-gado. Bukan tanpa alasan, saya pernah melihat ibu saya memberi uang lima ribu – bukan nominal yang kecil pada masa itu, kepada tukang jahit. Lalu menjadi penjual gado-gado itu terinspirasi oleh seorang Mba yang berjualan gado-gado tepat di depan sekolah dasar saya. Dia baik dan gado-gadonya enak! Alfatihah!

Pada akhirnya, tentu saja tidak ada di antara kami yang menjadi apa yang pernah dicita-citakan. Ahmad sekarang menjadi seorang tenaga ahli profesional, Yabot merintis karir sebagai guru di pesantrennya. Lalu saya? Di tulisan inilah saya mungkin menjadi cerita dan menuang separuh kenaifan jika kembali mengingat pertanyaan saya kepada ayah soal televisi. Jika bisa memilih, rasanya keluarga kami tidak perlu memiliki televisi di rumah dan berharap apa yang saya nonton bersama ayah sore itu seharusnya hanya sebuah fiksi.

Tetapi, rupanya negara membuat harapan saya itu benar-benar terjadi. Dia terus-menerus menganggap masa lalu itu sebagai fiksi yang tak beriman.

Standard
Archive, Journal

Catatan atas Pre-teks Naskah Digitalisasi Memori Eksternal oleh Tri Wibowo

Dari mana kata pertama itu datang? Pertanyaan ini dapat digunakan penyair menelusuri ingatan masa kecil mereka. Suatu masa yang kini silam terbentang. Beberapa adegan dari masa kecil tersebut barangkali menjadi samar bagi penyair, tetapi tidak sedikit pula yang turut tumbuh di tubuh dewasanya dan membawa daya traumatis. Hal tersebut mempengaruhi bagaimana penyair memandang dunia, bagaimana mereka menginterogasi sorotan yang datang, dan tentu saja, gejolak yang membuatnya rentan terhadap emosi yang tidak stabil.

Penyair adalah pemilik tunggal dari masa kecil itu. Tetapi tidak satu pun dari mereka yang mampu masuk kembali ke dalam sana, menyamar menjadi seorang bocah yang bertemu dengan diri mereka di masa lalu. Jika bisa, saya akan mengirim seorang bocah yang menjadi pembunuh berantai ke masa kecil saya. Saya penasaran bagaimana diri saya di masa lalu menghadapinya.

Sebelum tiba pada kesadaran dewasanya, penyair bisa saja kehilangan suara dari kisah masa lalunya – terendam rutinitas, diembus arus pengetahuan baru, dijerat pangkal kota yang terus tumbuh tanpa melibatkan masa kecilnya lagi. Sementara itu, penyair harus terus berada pada titik kesadaran sebagai subjek dan objek atas segala yang ada di sekitarnya.

Lalu apa yang mesti ditulis menjadi sajak? Terlebih dahulu, suara dari kisah-kisah itu mesti dirangkai kembali menjadi lanskap ingatan. Yap! masa kecil adalah momen-momen terjujur saya melihat dunia! Proses perangkaian ingatan itu bisa dilakukan dengan berbagai metode, salah satunya tentu adalah menarik diri dari dunia atau dalam kisah para nabi, kita mengenalnya dengan istilah pengendapan.

***

Satu-satunya yang bisa dipercaya oleh penyair adalah ingatan mereka sendiri. Tetapi pada waktu yang sama ingatan itu pula yang paling mereka ragukan. Kerentanan penyair menghadapi ingatan mereka adalah tragedi yang ketika diolah menjadi sajak, maka menjadi sekumpulan paradoks yang ingin segera dilupakan tetapi berharap, di ujung sajaknya, ia menemukan pembenaran atas diri mereka.

Ketika seorang penyiar menulis sebuah sajak, dia adalah subjek sekaligus objek. Dua peran yang berbeda ini sering kali berperang untuk saling mendominasi dan menimbulkan emosi yang rentan dan tidak stabil dari sebuah sajak.

Barangkali, sajak-sajak semacam, “Kita selalu berada di daerah perbatasan/antara menang dan mati. Tak boleh lagi/ada kebimbangan memilih keputusan…” atau “Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun,/karena angin pada kemuning. Ia dengar resah kuda serta langkah pedati ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti,/yang jauh. Tapi di antara mereka berdua, tidak ada yang berkata-kata…” Atau sajak penyair Sitor, yang dari pemilihan judulnya saja, kita bisa merasakan kesadaran posisi subjek-objek itu, Dia dan Aku, “Akankah kita bercinta dalam kealpaan semesta?/-Bukankah udara penuh hampa ingin harga?-/Mari, Dik, dekatkan hatimu pada api ini/Tapi jangan sampai terbakar sekali…” adalah sajak yang ditulis di ruang netral penyiarnya. Nyaris tidak ada letupan di dalam sajaknya, dan penyairnya memindahkan metafora itu kepada kita – pembaca yang senang menebak-nebak maksud dari sesuatu yang sebenarnya cukup untuk kita nikmati.

***

Beberapa penyair butuh menciptakan “kamus”-nya sendiri agar diksi dalam sajak-sajaknya konsisten dan tetap sinkronis. Beberapa yang lain tentu saja tidak membutuhkan itu dengan berbagai pertimbangan yang cermat.

Salah satu yang kerap diperhatikan ketika membaca sebuah sajak tentu saja adalah keutuhannya – keutuhan yang lahir dari kejelian penyair menyusun kelas kata, menciptakan idiom, dan tentu saja meramu metafora.

Sebuah sajak yang dipenuhi konjungsi sering dianggap “tidak padat” tetapi di satu sisi, sajak liris sedikit mengabaikan permasalahan itu. Ia justru memilih mengolah wilayah konjungsi sebagai satu kekuatan bahasa agar menciptakan interpretasi baru dari sebuah sajak.

Ingatan masa kecil, kesadaran atas peran penyair sebagai subjek dan objek, keutuhan sebuah sajak adalah hal-hal mendasar yang barangkali akan turut mempengaruhi performa sajak yang ia hasilkan. Selain perkara tersebut, hal lain yang tentu tidak kalah penting adalah, bagaimana bentuk sajak itu menyesuikan dengan tema yang penyair pilih.

Standard
Uncategorized

Kelambanan yang Membantu Saya

Saya selalu lamban dalam memahami sesuatu. Memindahkan sebuah teks atau gambar ke dalam kepala saya atau menangkap pesan yang tertulis di soal-soal ujian. Kelambanan ini pernah saya benci. Dunia terasa berjalan cepat sementara saya tertatih-tatih di belakangnya. Itulah kesadaran yang dibangun komunitas tempat saya hidup pada masa remaja.

Kelambanan adalah kekalahan. Dan kekalahan semacam itu adalah yang paling lemah! Itulah gambaran bagaimana komunitas saya membentuk pemahaman soal lamban dan cepat!

Kesadaran itu dibangun melalui media. Di ruang kelas, selain gambar Pancasila yang memisahkan presiden dan wakilnya, juga ada poster-poster pencerahan — begitu kami dulu menyebutnya. Satu kalimat yang terus menghantui saya pada saat itu, Buku adalah Jendela Dunia. Di tembok-tembok pesantren, ada tipografi berbahasa Arab atau Inggris yang juga berfungsi sebagai kalimat pencerahan. Yang paling saya ingat adalah, experience is the best teacher – dua kalimat ini tentu akrab dengan kita.

Tante saya adalah pustakawan di sekolah. Saya sering diam-diam masuk ke perpustakaan pada malam hari dan mengambil beberapa buku, sebut saja Malu Aku Jadi Orang Indonesia, O Amuk, O Kapak, Atheis, Siti Nurbaya, Rubuhnya Surau Kami, Jalan Tak Ada Ujung, Belenggu, Tenggelamnya Kapal Var der Wijck. Saya membaca karena dorongan kalimat pencerahan pertama. Sementara kalimat kedua membuat saya menjadi pribadi yang sedikit liar. Kabur dari pesantren untuk melakukan hal-hal yang pada saat itu dianggap nakal. Ke stadion untuk menonton PSM bertanding. Ke tempat penyewaan playstation, kolam renang, bioskop, dan tentu saja toko buku.

Pada masa itu, di kepala saya, dunia berjalan cepat. Segala hal seperti berkaki seribu dan ia berlari secepat mungkin. Semua itu berubah ketika saya dikeluarkan dari pesantren oleh ayah saya sendiri. Bagi orang lain, mungkin saya dikeluarkan, tetapi bagi saya, itu proses pencabutan diri dari tempat saya lahir.

Di pesantren kedua itu, setiap hari kamis, ada seorang ibu yang datang pada siang hari. Ia membawa sebakul buku dan dijual kepada kami. Jika keuangan saya sedang menyedihkan, ia rela saya membawa bukunya dengan kesepakatan, “Dari pulang pako baru kau bayar, Nak”.

Ia menjual novel-novel yang sedang laris saat itu, sebut saja, Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, Maryamah Karpov, Ipung I, Ipung II, Ayat-ayat Cinta, Pudarnya Pesona Cleopatra. Itulah judul yang sempat saya ingat. Oh iya, saat itu ia juga menjual novel-novel Tere Liye, tetapi entah mengapa saya tidak tertarik membelinya.

Orang lain mungkin berpikir betapa hancurnya hidup saya pasca dikeluarkan, tetapi setelah kembali melanjutkan pendidikan di pesantren yang kedua, saya menemukan kalimat pencerahan baru yang tidak ditulis di mana-mana, tidak disebutkan oleh siapa pun. Dunia tidak berjalan cepat, hanya orang-orang yang terus mengejarnya! Saat itu, saya masih menjadi seorang pembaca liar yang terobsesi membaca semua buku. Saya tidak menyesalinya, tapi menyadiri, bukan itu yang saya butuhkan sekarang!

***

Kini, dalam satu tahun, saya hanya mampu membaca paling banyak dua puluh lima sampai dua puluh lima judul buku (kalau tidak salah, pernah beberapa kali melebihi angka itu). Jumlah yang sedikit tentu saja — apa lagi jika bercita-cita menjadi penulis. Tetapi saya melakukan itu atas kesadaran yang membantu saya selama ini tetap bisa belajar.

Kesadaran itu lahir ketika saya mempelajari ingatan di tahun-tahun krusial dalam hidup saya. Ketika di sekolah dasar, saya bukan murid yang cerdas — jika ukurannya adalah rangking. Hanya pernah beberapa kali mendapatkan peringkat tiga di kelas. Itu pun, nilai matematika saya tidak pernah berubah dari tahun ke tahun. Jika guru saya jujur mengisi rapor, mungkin itu selalu merah. Saya benar-benar membenci pelajaran itu. Dulu!

Tetapi pelajaran bahasa membuat saya bergairah di hari-hari tertentu. Perjumpaan pertama saya dengan puisi Walau Hujan dan Cerita Pengembala dari kelas bahasa. Saya membuka buku ajar Bahasa Indonesia untuk mencari puisi dan cerpen. Membacanya berkali-kali. Dan setelah itu merasa telah mempelajari seisi buku. Konyol tapi membahagiakan.

Itu satu-satunya ingatan yang bisa dihubungkan dengan hidup saya sekarang. Menjadi pembaca yang lamban dan belajar menulis.

Seperti yang saya tulis di pembuka catatan ini, saya hanya mampu membaca dua puluh lima judul buku selama satu tahun. Yah, saya lamban dan itu memang benar adanya. Tetapi untuk menyiasati kelambanan itu, saya menggunakan metode membaca. Biasanya, jika di bulan pertama saya membaca buku A, C, dan F, maka bulan kedua saya membaca, H, L, dan M. Bulan ketiga, saya akan mengulangi membaca A, F, dan M.

Setiap kali mengulangi buku yang pernah saya baca, saya mendapatkan sesuatu yang baru. Sesuatu yang luput saya masukkan dalam kepala saya. Saya benar-benar lamban memahami sesuatu.

Misalnya dua tahun lalu, buku yang saya baca berulang sampai tujuh kali adalah The Art of War. Setiap kali saya membaca bukunya, selalu ada pemahaman, penafsiran, dan pengetahuan baru. Betapa lambannya saya menangkap sesuatu.

Akhirnya, pola semacam ini berpindah pada medium lain, ketika saya menonton film, mendengar lagu, dan ketika saya jatuh cinta — hahahah.

Saya pernah membenci kelambanan saya dan memaksa diri saya membaca begitu banyak buku. Tetapi saya merasa hanya menemukan tumpukan buku dalam kepala saya dan tidak tahu bagaimana cara membuka halamannya. Dan itu membuat saya merasa lebih lamban dan dungu!

Standard
Archive, Journal, Resensi

Alanis; Dunia yang Bertahan dari Rumus Fiksi

Kesedihan bermigrasi dari satu peristiwa ke peristiwa lain melalui perantara kuasa negara, orang-orang hidup dalam dunia transaksional yang statis, cinta melabelkan diri pada penderitaan yang setara, kenyataan-kenyataan itu harus bertahan dari rumus fiksi yang moralis.

Demikian film Alanis menjelaskan struktur masyarakat yang direpresi dan bagaimana mereka bertahan menghadapinya.

Kebinalan Boenos Aires mulai digambarkan dari apartemen yang disewa seorang pelacur bernama Alanis. Di ruang kecil itu, ia tinggal bersama Dante – anaknya yang baru berumur delapan belas bulan, dan Gisela – kawannya. Keduanya bersilang peran untuk menjaga Dante dan bagi Dante, kedua perempuan itu adalah  orang tuanya.

Kekuasaan negara yang despotik diurai melalui penggeledahan oleh petugas di apartemen Alanis. Uang dan ponselnya disita sebagai barang bukti. Gisela dituduh sebagai muncikari dan harus ikut ke kantor polisi. Seorang interogator berkali-kali menawarkan agar Alanis mau direhabilitasi. Namun baginya, ajakan itu sama saja menyerah tanpa kepastian pada negara.

Pasca penggeledahan tersebut, Santiago – pemilik apartemen mengusir Alanis. Ia terpaksa tinggal sementara di ruko milik bibinya. Kehilangan tempat tinggal tetap membuatnya menolak direhabilitasi. Setidaknya, pilihan menumpang tanpa jaminan adalah kepastian baginya.

Setelah Alanis tinggal bersama bibinya dan Gisela masih ditahan di kantor polisi, ia terpaksa kembali menjalani aktivitas melacurnya. Karena ponselnya disita oleh petugas, ia kehilangan relasinya. Ia terpaksa mangkal di daerah yang dipenuhi pelacur imigran. Hukum rimba tentu saja membuatnya diusir oleh pelacur yang merasa tempat itu adalah daerah kekuasannya. Ia terpaksa harus sembunyi dari pengawasan pelacur lain untuk mendapatkan pelanggan.

Kompleksitas urban dalam diri Alanis seolah menjawab, mengapa sepanjang film tidak ada hotel berbintang, rumah mewah, pusat perbelanjaan, atau gedung bertingkat penuh pencahayaan yang tajam disorot. Alanis dibuat tidak memiliki privasi untuk pantas berada di tempat-tempat semacam itu atau kemapanan yang jauh dari dirinya menjauhkan pula semua kemewahan tersebut.

Aktivitas ruang Alanis sepanjang film tidak terlepas dari rumah bordil, apartemen sederhana, jalanan, kantor polisi, dan layanan aduan masyarakat. Bahasa yang digunakan Alanis dalam percakapan sehari-harinya juga sering kali adalah kalimat persuasif. Bagaimana ia mengajak pelanggannya, menghindari kejaran pelacur yang lain, menjawab interogasi petugas, meminta tempat tinggal, dan mencari pekerjaan. Kalimat semacam itu tidak terang kita dengar dari tokoh lain yang memiliki privasi.

Tata upaya yang digunakan Alanis dalam bertahan hidup dijelaskan Sigmund Freud sebagai represi – diartikan sebagai mekanisme pertahanan diri manusia yang paling dasar. Mekanisme ini berfungsi sebagai pertahanan diri ketika manusia menghadapi situasi traumatis. Alanis menghapus kekhawatirannya ketika kenyataan menolak harapan, sebelum hal tersebut mengganggu alam bawah sadarnya. Hasrat terbesar Alanis menghapus kekhawatirannya barang kali didorong oleh kesadaran atas hidupnya yang terasing, terbuang, dan tentu saja, Dante.

Apa yang dihadapi Alinas sepanjang film mungkin bisa kita temukan – dalam bentuk yang berbeda, pada laku umum masyarakat urban di Indonesia yang menghadapi tekanan bertumpuk. Tetapi bagaimana jika ternyata Alinas memilih direhabilitasi? Itu mungkin lebih berhasil lagi menjelaskan diri kita yang paling jujur – kisah-kisa semacam itu harusnya hanya bisa kita baca dalam karang fiksi.

Standard
Archive, Journal, Resensi

Everybody Knows; Membawa Rahasia ke Tempat Terbuka

Apakah sebenarnya rahasia yang pedih kita pendam adalah kebohongan menyakitkan bagi orang lain?

Sekiranya ada jalan tebus menuju semesta konflik dalam film Everybody Knows, pertanyaan di atas barangkali menjadi rambu paling awal yang mengikat keseluruhan fragmen konflik dalam film ini. Terdiri dari lapisan cerita tentang sisa-sisa kejayaan masa lalu keluarga tuan tanah bernama Antonio, bagaimana masyarakat menghadapi keraguan pada institusi negara, dan perayaan atas kekalahan-kekalahan kecil mereka pada kecurigaan yang rapuh. Serumpun peristiwa itu diurai di kota kecil di pinggiran Madrid yang menjadi latar film.

Ana dan Joan mengumpulkan kembali keluarga Antonio melalui pesta pernikahan mereka. Mariana dan Rocio menyambut kepulangan saudaranya, Laura – yang kini tinggal bersama Alejandro, suaminya di Buenos Aires. Laura datang dengan kedua anaknya, gadis cantik bernama Irene yang usianya terpaut cukup jauh dengan adik lelakinya. Pelukan hangat Laura kepada ayahnya mengembalikan sekali lagi arti rumah bagi mantan tuan tanah yang kini renta dan temperamen itu. Kepulangan ini juga disambut oleh Paco – suami Bea, mantan kekasih Laura yang kini mengelola tanah perkebunan anggurnya.

Sekilas, apa yang dirasakan Laura di kota kelahirannya sering pula kita jumpai, bahkan mungkin menjadi laku kita dalam keseharian. Euforia pulang kampung setelah merantau cukup lama. Kejutan atas perubahan yang amat lambat pada tubuh kota. Orang-orang yang kita jumpai menjadi lebih tua dari bayangan semula. Sudut-sudut kota yang menyimpan kisah. Laura bernostalgia dengan masa lalunya.

Namun peristiwa tak terduga pada malam pernikahan Ana dan Joan menjadi mula perkara dalam film ini. Saat pesta sedang berlangsung, lampu seketika padam. Sesaat sebelumnya, Irene harus istirahat lebih dulu karena kepalanya sedikit pusing. Setelah lampu menyala kembali, Laura memeriksa keadaan kedua anaknya di kamar. Irene tidak ada di ranjang dan pintu kamar kecil terkunci. Dalam keadaan kalut, Laura memanggil Paco untuk mendobrak pintu. Mata Bea menangkap adegan itu sebagai kecemburuan yang halus dan penuh ambisi.

Di ranjang tempat Irene tidur sebelumnya, tergeletak potongan koran tentang penculikan anak yang baru-baru ini terjadi. Tidak berantara lama, ketika Laura masih sibuk mencari Irene di loteng, pesan singkat masuk ke ponselnya, Putrimu bersama kami. Jika lapor polisi kami akan membunuhnya. Ia segera memperlihatkan pesan itu kepada Paco. Kesimpulan mereka, Irene diculik!

Peristiwa penculikan itu menjadi sumbu yang membakar rahasia masing-masing tokoh. Rahasia yang enggan mereka bicarakan secara terbuka selama bertahun-tahun itu, kini tiba pada kulminasi yang menderetkan sejumlah dampak dan berujung pada sikap saling curiga satu sama lain.

Dalam film ini, apa yang disebut rahasia hanya sesuatu yang tidak mereka bicarakan langsung dengan objek tertuju. Tetapi di kamar tidur, dapur yang sepi, meja makan yang dingin, pojok bar yang hangat, pematang perkebunan anggur yang diterpa terik, atau sudut gereja yang tak terduga, rahasia lama ditukar dengan rahasia baru melalui interaksi yang intim oleh tokoh.

Antonio menyimpan rahasia atas kekecewaannya pada Paco yang membeli tanah dengan murah dari Laura ketika mereka pacaran. Ia berkali-kali menyinggung hal tersebut lantaran Paco dianggap memanfaatkan kedekatannya dengan Laura saat itu. Rocio menyimpan rahasia atas perpisahannya dengan Gabriel yang palsu. Paco diam-diam merahasiakan perasaannya pada Laura yang masih menyala walau redup dan mungkin hanya kilasan. Alejandro menyimpan rahasia dari keluarga Laura tentang kebangkrutannya selama dua tahun belakangan ini. Laura menyimpan rahasia dari Paco tentang status Irene. Selama ini Laura menganggap bahwa semua orang hanya tahu bahwa Irena adalah anak dari Alejandro.

Rahasia dan peristiwa penculikan itu rupanya dirasakan imbasnya oleh seluruh masyarakat di kota itu. Suatu siang, Antonio bertengkar di bar setelah memabuki kehilangan cucunya. Ia mengumpat, Kamu berutang padaku. Tanah ini milikku. Seluruh tanah ini milikku! Umpatan itu dibalas salah satu pengunjung bar, Seharusnya kamu tidak mempertaruhkan tanahmu di perjudian. Paco yang menenangkan Antonio juga tidak menjelaskan penyebab mabuk Antonio meski pemilik bar bertanya apa masalah yang menimpa mereka.

Setelah Alejandro menyusul Laura, mereka pergi bersama ke kantor polisi dengan niat awal melaporkan kehilangan anak mereka. Aku sangat takut jika sesuatu terjadi padanya, ucap Laura mengingat ancaman si penculik. Alejandro terpaksa mengurungkan niatnya untuk turun dari mobil.  

Ketika Bea pulang, para buruh pemetik anggur di perkebunan mereka  berkumpul di depan rumahnya. Mereka mendatangi Bea karena beredar isu bahwa Paco akan menjual tanahnya, Mereka dengar bahwa kau akan menjual perkebunan ini, siapa yang akan bayar upah kami? Tanya salah satu buruh dengan wajah bingung dan putus harap.

Suatu hari yang saling terpisah, Mariana mendapati Rocio pulang tengah malam dengan keadaan basah dan mencurigai keanehan adiknya tersebut. Bea mencurigai bahwa Paco masih mencintai Laura. Laura mencurigai Paco yang menculik Irene karena cinta mereka tidak suci sampai altar pernikahan. Setelah Paco tahu bahwa Alejandro menganggur selama dua tahun, ia curiga dalang penculikan Irene adalah ayahnya sendiri.

Deretan kejadian di atas tentu sering kita jumpai rupanya dalam kehidupan sehari-hari. Mereka hidup bukan hanya saling curiga, tetapi juga diikat oleh konsensus dan konflik. Penculik menekan keluarga Laura – karena mereka kira keluarga ini telah berhasil, padahal Alejandro menganggur selama dua tahun. Sementara Laura – yang sejak awal melibatkan Paco dengan kasus penculikan putrinya juga menekan suami Bea itu. Paco yang merasa dibutuhkan untuk menyelamatkan nyawa Irene kemudian menekan buruh pemetik anggur itu dengan niat untuk menjual tanahnya. Para buruh ini harus menekan apa selain menyerahkan nasibnya pada cara orang-orang di atas dalam menyelesaikan kasus penculikan Irene? Benar saja, sebab posisi tertentu di dalam masyarakat mendelegasikan kekuasaan dan otoritas terhadap posisi yang lain.

Apa yang terjadi pada masyarakat ini dijelaskan oleh Ralf Dahrendorf sebagai imperatively coordinated associations atau asosiasi yang dikoordinasikan secara paksa. Karena kepentingan pihak-pihak dalam asosiasi tersebut berbeda. Penculik itu berkepentingan mendapatkan keuntungan dari keluarga Laura yang mereka duga telah sukses di tanah rantau. Laura berkepentingan melibatkan Paco karena ia tidak memiliki uang untuk menebus penculik tersebut. Paco berkepentingan menjual tanahnya demi memenuhi permintaan penculik agar nyawa Irene selamat. Dan buruh pemetik anggur itu, hanya bisa bertanya, siapa yang akan bayar upah kami?

Nyaris seluruh tokoh dalam film ini terlibat dalam kekalahan-kekalahan kecil mereka. Kekalahan yang bersumber pada ketertutupan satu sama lain, asumsi berlebihan pada kenyataan yang mereka tidak tahu, dan rahasia yang mereka simpan hingga konflik semakin runyam. Namun konflik yang mendera para tokoh dalam film ini tentu bisa membawa perubahan sosial, jika mereka mengorganisir diri dan bersama-sama menyadari perannya sosialnya dalam masyarakat.

Tentu catatan ini hanya mengurai hal-hal sederhana dari keruwetan dalam semesta film Everybody Knows. Jadi, siapa yang menculik Irene? Silakan nonton filmnya!

Standard
Archive, Sajak

Malam dan Bulan Penuh dan Tiga Kabel atau Sebuah Gitar yang Ganjil

Kecurigaan yang tak terlatih akan melarung cinta di sungai seperti sebatang kayu dan padanya kita lihat nasib mengalir tak berdaya.

Sebuah lagu menghapus liriknya di antara kursi tua dan dermaga yang sama hampanya. Salah satu pada mereka bersedih dan menyamarkan air mata melalui tangkapan waktu yang sulit kita lepaskan.

Tetapi sungai pandai menertawakan kehilangan kita. Yang tak terucap tetap tancap terasa di dada. Yang tak terasa tetap lancar kita ucap. Siapa yang lebih sulit kita tipu, malam yang sendirian atau diri kita yang telah pada masing-masing?

Standard
Archive

Imagined Community

“Semua kerendahan dan kejahatan peradaban kita dapat diukur dengan sebuah aksioma bodoh, bahwa bangsa yang bahagia tidak punya sejarah.” ― Albert Camus

Inggris sebagai kerajaan dan Inggris sebagai pemerintahan berakar dari dua serpihan sejarah yang berbeda. Mengapa rakyat Inggris, sebagian besar, hingga saat ini masih menghormati kemonarkian Ratu Inggris?

Sebab imajinasi yang terbangun tentang Inggris lahir dari hukum sebab-akibat yang dalam dan panjang. “Tidak mungkin ada negara saat ini, jika keluarga raja di masa lalu, tidak pernah melakukan invasi.” Ini mutlak dan dapat dibuktikan, setidaknya, rakyat Inggris percaya pada sejarahnya.

Melalui jurnal perjalanan, karya sastra, dan folklor, kisah heroik nenek moyang mereka terus terpelihara. Ini yang kemudian membentuk pengakuan, jika tidak bisa disebut sebagai bentuk terima kasih, yang kemudian mengeras dalam benak masyarakat Inggris sebagai citraan masa lalu yang mereka agungkan.

Kerajaan dan imajinasi yang melekat padanya kemudian dijadikan simbol yang menyatukan rakyat. Negara jajahan atau yang pernah bersinggungan dengan Inggris, tetap akan melihat sejarah panjang bangsa ini — bahkan setelah mereka merdeka. Meskipun banyak yang berubah, termasuk bentuk pemerintahan yang kini diatur oleh seorang perdana menteri. Tapi yang menjadi panutan dan yang mengurus masalah kenegaraan secara menyeluruh, tetaplah The Queen.

***

James Richardson Logan, pada tahun 1850, menulis artikel dengan judul The Ethnology of the Indian Archipelago. Dalam tulisannya, ia menyebut “Mr Earl menyarankan istilah etnografi “Indunesian”, tetapi menolaknya dan mendukung “Malayunesian”. Saya lebih suka istilah geografis murni “Indonesia”, yang hanya sinonim yang lebih pendek untuk Pulau-pulau Hindia atau Kepulauan Hindia.”

Dari sanalah kemudian, nama Indonesia mulai dikenal dan digunakan para peneliti secara permanen untuk menyebut wilayah Kepulauan Hindia.

Sampai di sini, pertanyaan yang harus kita rumuskan jawabannya adalah, apa itu Indonesia? Apakah sebuah bangsa atau istilah ilmiah yang digunakan peneliti? Apapun jawaban yang kita pilih, tentu dibutuhkan sebuah penalaran yang dalam dan kuat.

Untuk menyebutnya sebagai bangsa, tentu tidaklah cukup. Mengingat pada lintasan abad dua belas hingga enam belas, ada istilah yang lebih akrab, setidaknya itu lahir dari salah satu cikal bakal negara ini kemudian, Nusantara. Penggunaan nama ini bisa kita temukan dalam literatur Jawa kuno yang digunakan untuk menggambarkan konsep kenegaraan yang digunakan Majapahit.

Lantas apa itu Indonesia? Sederhananya adalah kumpulan kerajaan yang sepakat untuk melebur dalam satu bangsa yang lebih besar. Bangsa yang dimaksud adalah sebuah gagasan yang mereka ciptakan. Sebuah imajinasi yang mewakili keadaan mereka.

Dalam sejarahnya, kerajaan-kerajaan ini yang kemudian menjadi penyumbang dana untuk digunakan oleh Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia.

Meskipun kerajaan-kerajaan ini kemudian tunduk pada aturan negara yang mereka ciptakan sendiri, tapi di setiap wilayah adatnya, kerajaan ini memiliki peranan penting. Simaklah bagaimana Kasunanan Surakarta memiliki Sunan atau dalam hal ini raja dan juga memiliki bupati. Atau intiplah bagaimana Daerah Istimewa Jogjakarta hingga saat ini masih memiliki raja yang diakui rakyatnya.

Sebagai negara, Indonesia kemudian memiliki sistem pemerintahan sendiri. Mulai kepala RT hingga presiden. Tapi pada satu sisi, kerajaan-kerajaan ini, yang lahir jauh sebelum Indonesia merdeka, tetap memelihara apa yang disebutnya sebagai bangsa, meskipun seiring waktu kian lemah atau mungkin memang dilemahkan.

***

Di Kabupaten Gowa, muncul Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Lembaga Adat Gowa, yang salah satu isinya menyebutkan bahwa, “Ketua adalah Bupati Gowa yang selanjutnya disebut Raja Gowa.”

Bagaimana mungkin seorang pengendara kuda, tanpa ilmu laut yang memadai, menjadi kapten kapal yang dituntut piawai oleh awaknya? Pertanyaan ini mungkin cukup mewakili kekisruhan tersebut. Jangan terlihat bodoh dengan memaksakan suatu kehendak yang keliru.

Meskipun Ranperda ini kemudian disahkan dan Adnan Purichta I.Y.L, sebagai bupati, resmi menjadi Raja Gowa. Dia tidak bisa melawan imajinasi kolektif rakyat. Seperti di Inggris, Kerajaan Gowa memiliki garis keturunan resmi sebagai raja dan sebagai keturunan bangsawan.

Tidak cukupkah jabatan bupati bagi Adnan? Ataukah ini merupakan upaya nama yang melekat padanya untuk melemahkan Gowa sebagia kerajaan, yang di masa lalu pernah berjaya?

Entahlah, barangkali saya yang keliru melihat niat baik kehadiran Ranperda ini. Apapun alasannnya, bupati dipilih oleh rakyat dan raja dipilih oleh sejarah. Semoga apa yang dikatakan Albert Camus dalam pembuka tulisan ini, tidak terjadi pada Kerajaan Gowa. Onjoki to Bajeng!

*Pernah tayang di Kolom Literasi Koran Tempo Makassar

Standard
Archive

Kepada Tuhan yang Mana Lagi

Adam – seorang pemuda dari kelompok Islam garis keras, bersama puluhan penduduk beragama nasrani terjebak di gereja saat perang itu menghancurkan Kota Yursala. Suara tembakan, bom meledak, dan teriakan orang-orang yang tidak bisa menyelamatkan diri terdengar sangat nyaring.

Suara ketakutan dari orang-orang di luar sana menggema hingga ke altar gereja. Mereka yang berhasil sembunyi di dalam gereja juga terlihat menyimpan kesedihan, ketakutan, juga kebencian. Perasaan itu bersatu dan melahirkan keputusasaan yang dalam.

Keadaan yang mencekam ini membuat Pastor Costana berlari ke atas mimbar gereja. Ia menyerukan kepada seluruh yang ada di ruangan ini untuk berdoa. Adam juga ikut berdoa. Berdoa dengan cara nasrani, bukan karena ia takut dikeluarkan dari gereja. Tapi Adam sadar bahwa perang ini tidak memandang agama apa. Maka ia berdoa kepada Tuhan di hadapan patung Yesus dan Bunda Maria agar perang sipil antar kelompok masyarakat dan pasukan pemberontak ini segera berakhir.

Setelah larut malam, samar-samar Adam melihat Ghandi, teman sekolahnya dulu yang beragama Hindu, Dr. Patra, seorang pengacara yang Atheis, dan Dini, penganut kepercayaan kuno di Kota Yursala. Mereka semua berkumpul di gereja yang sama. Berdoa agar perang ini segera usai.

***

Jangan cari kisah di atas. Karena tidak akan ditemukan di novel, cerpen, apa lagi dikehidupan nyata. Saya mengutipnya di sebuah diskusi kecil dengan seorang kawan. Kisah itu hanya bayangan kami berdua. Bayangan yang lahir dari keresahan usang.

Seperti biasa, menjelang natal, selalu saja muncul perdebatan usang. Di media sosial, di televisi, di warung kopi, di ruang kuliah, bahkan di atas ranjang. Perihal seorang muslim yang memberikan ucapan selamat natal kepada seorang kristiani.

Di Twitter, beberapa orang memenggal kalimat perkalimat dan mendadak menjadi juru kebenaran. Juru kebenaran yang menyerukan agar seorang muslim tak memberikan ucapan selamat natal.

Atau di Facebook, beberapa orang menyusun status yang panjang. Mengutip kiri dan kanan apapun yang bisa digunakan sebagai pembenaran agar tak seorangpun yang beragama islam berani mengucapkan selamat natal.

Tapi saya kurang yakin di antara mereka ada yang benar-benar kembali ke Alquran dan hadis. Mereka hanya berlindung di belakang dogma keyakinan yang sangat picik. Dogma yang seringkali mengurung kita pada perkara yang terlihat meyakinkan padahal sebenarnya itu sangat meragukan.

Yang paling mengerikan, beberapa hari yang lalu ada sekelompok mahasiswa yang mengaku beragama tapi  melakukan pemboikotan perayaan natal di fakultas sastra – ini terjadi di salah satu universitas negeri di Makasssar. Dengan keadaan dan tekanan yang tentu sulit diterima, kegiatan khidmat itu akhirnya dipindahkan keluar kampus.

Meskipun membahas tulisan seperti ini terlalu rentan dan bisa menjadi pemantik sebuah konflik. Tapi saya yakin, masih lebih banyak di antara kita yang beragama dan menjunjung keberagaman sebagai pilar utama kehidupan. Masih banyak di antara kita yang bisa menerima perbedaan. Bahkan Rasullullah SAW pernah mengatakan; Perbedaan adalah rahmat.

Saya lahir dan besar di pesantren tapi tidak sekalipun ada ajaran untuk bersikap intoleran terhadap agama lain. Apa lagi sampai menghalangi saudara kita untuk beribadah. Tuhan yang mana melarang agama lain untuk beribadah?

 Ini bukan perkara siapa yang benar dan siapa yang salah. Tapi perkara kita meletakkan Tuhan di mana saat melakukan pelarangan orang lain untuk beribadah. Apakah Tuhan kita masih hidup jika sebagai hamba menganggap Tuhannya yang paling benar?

Sikap-sikap arogan seperti itu hanya dimiliki oleh pecundang sosial. Pecundang yang memiliki pembenaran yang buta di dalam hatinya. Arogansi seperti itu lebih tepat disebut sebuah ego. Ego yang juga dimiliki oleh para iblis.

***

Terkikisnya kemampuan untuk hidup berdampingan dalam perbedaan adalah bukti jika kita adalah manusia biasa. Manusia biasa yang dengan mudah dicuri oleh pemahaman yang sangat jauh dari konsep kebudayaan kita.

Kita bisa belajar dari sepasang kekasih yang menjalani kisah cinta tapi dalam banyak hal mereka berbeda, tentu terasa hangat dan menggairahkan. Tak bermaksud berkhutbah, tapi hidup di tengah perbedaan dan bisa menerima itu sebagai keindahan tentu terasa menenangkan.

  Saya mengingat puisi Robert Fost – penyair asal Amerika Serikat, di hutan, kulihat dua cabang jalan terbentang. Kuambil yang jarang dilalui orang. Dan itulah yang membuat segala perbedaan.

Perbedaan itu memang tidak menciptakan dirinya sendiri atau diciptakan oleh manusia. Tapi ia selalu ada. Selelah apapun kita menghindarinya, ia hidup dalam bayang-bayang setiap benda bernyawa ataupun tidak.

Siapa yang tahu, Tuhan mungkin saja menciptakan banyak agama dan kepercayaan agar ia bisa disembah dengan banyak cara. Agar kita bisa hidup dalam banyak rasa. Selamat hari natal.

*Pernah dimuat di Kolom Literasi Tempo Makassar

Standard