Archive, Journal

1 – Para Pembual yang Populer

Catatan perjalanan ini saya tulis setelah selamat dari kematian dalam perjalanan ke Toraja. Dengan kaki kanan yang patah, saya akan mengingat mereka melalui tulisan ini; Charles Bukowski yang mulutnya adalah kolam penampungan alkohol, Franz Kafka yang menggerutu pada realitas; Chuck Palahniuk yang selalu kontra pada dirinya sendiri; Milan Kundera yang bijaksana dan penuh kemarahan.

Yap! Semua ini bermula saat sedang memberi makan dua ayam kesayangan saya, Nagasakti dan Heroisma di halaman kontrakan, berdering pula panggilan telepon dari Arkil Akis – teman saya yang bekerja sebagai editor dan punya travel, dia menawarkan pekerjaan untuk mengantar empat orang tamunya yang akan melakukan residensi penulis di Toraja.

Sesuai jadwal, kamis malam saya menjemput mereka di Bandara Sultan Hasanuddin. Setelah perkenalan singkat, mereka naik ke mobil dan kami mulai menyusuri jalur utara yang panjang dan membosankan. Tetapi transmisi Mobil Elf putih yang bertuliskan pariwisata di kaca depannya ini bermasalah. Kemalangan itu terjadi di perbatasan Pangkep dan Barru, tepat di lokasi deretan warung remang-remang – tempat para sopir truk lintas Sulawesi singgah menghibur lelah. Walhasil, saya mengarahkan mereka untuk masuk di warung tersebut.

“Apakah di dalam ada bir dingin?” Bukowski bertanya sambil membuka tutup botol wine flask-nya yang tampaknya sudah kosong.

“Tentu saja!” jawab saya sambil mencari kontak Mahfud – salah seorang kawan di Barru, yang mungkin bisa membantu memperbaiki transmisi mobil ini. Menjaga mereka tidak bosan adalah tugas lain, “selain itu, kamu akan ditemani perempuan-perempuan cantik di dalam sana.”

Kafka hanya tertawa mendengar pertanyaan itu. Kundera membuka dompetnya dan melempar kondom ke arah Bukowski. Sementara Palahniuk duduk di trotoar seraya memasang headset dan mulai mendengar podcast favoritnya. Dengan kata lain, hanya Bukowski yang masih punya inspirasi masuk ke warung remang-remang itu.

Butuh waktu satu jam buat Mahfud datang dan satu jam lagi buat memperbaiki transmisi mobil ini. Kafka, Palahniuk, dan Kundera sibuk memperdebatkan kemenangan Bob Dylan yang meraih Nobel Sastra. Dan Bukowski belum juga keluar dari warung remang-remang itu.

 “Si brandal itu belum juga keluar!” gerutu Palahniuk.

“Tenanglah, Sob. Biarkan dia menyelesaikan malamnya yang berkabut itu dengan bir dan perempuan.” Kafka memberi pemakluman kepada Palahniuk.

“Iya, sampai kapan kita menunggu di sini sementara dia sedang membuat seorang perempuan menjerit-jerit di dalam sana? Kita punya tujuan dan itu sudah melelahkan. Mengapa dia bisa tenang-tenang saja!”

“Paling sebentar lagi dia keluar.”

“Wah, saya jadi paham mengapa kamu sanggup menulis karya tentang metamorfosis kecoak. Kamu memberi terlalu banyak kewajaran pada hidup tetapi pada waktu yang sama gagal menjelaskan kerangka dasarnya; hidup ini keras dan tiada ampun!” Palahniuk merapikan posisi kacamatanya.

“Kamu kira semua hal di dunia ini bisa selesai dengan bergabung bersama komunitas yang pekerjaannya melampiaskan tekanan hidup pada ring perkelahian?”

“Tentu saja! Segala tentang kota adalah perjudian nyata atas hidup. Dan kekerasan selalu punya akar yang sama pada banyak kebudayaan di dunia ini!”

Suara tawa Kafka seolah mengejek pandangan Palahniuk. Perdebatan itu terjadi selama satu jam. Dan Bukowski belum juga keluar dari warung remang-remang itu. Saya akhirnya berinisiatif menelepon dia. Panggilan pertama berlalu. Panggilan kedua berlalu. Dia mengangkat panggilan ketiga saya.

“Sudah beres, Kamerad?”

“Siapa?”

“Saya sopir yang mengantar kamu!”

“Saya sudah di jalan.”

“Di jalan? Maksudnya?”

“Iya, saya sudah di jalan.”

“Kamu tidak salah naik mobil?”

“Anjing! Iya, kalian berbeda di mobil ini.” jawab Bukowski dengan nada kacau.

Setelah kami menunggu satu jam, Bukowski tiba juga. Dia jalan dengan memegang wine flask-nya yang kembali kosong. Matahari mulai terang dan saya belum tidur.

“Bukowski, kamu terlalu payah! Sekali-kali berpisahlah dengan wine flask di tanganmu itu. Lepaskan fiksi-fiksi tentang penderitaan yang kamu karang di bawah kupluk usangmu itu. Hiduplah dengan kenyataan yang ada.” Gerutu Palahniuk kepada kawan residensinya itu.

Don’t try!” jawab Bukowski.

“Bangke!

Kami kembali melanjutkan perjalanan. Setelah melewati perbatasan Barru – Pare-pare, saya mengarahkan mobil ke Cafe Kampoeng Kopi Teras Empang. Jika ada nasib baik, mereka mungkin kelelahan dan butuh istirahat. Saya juga barangkali akan tertidur.

Harapan untuk istirahat sejenak itu sirna! Mereka memang benar-benar pembual, setengah sadar sambil berbaring, mereka masih berdebat. Kali ini tentang belly-side of contemporary life. Saya sudah menebak bahwa ini akan panjang dan membosankan. Dua kutub realisme dalam sastra; realisme lusuh dan realisme magis akan diperdebatkan.

“Apakah mereka benar-benar tidak bisa diam?” gerutu saya dalam hati. Saya yang awalnya tertarik atas semua obrolan mereka mulai jengkel. Rasa kantuk yang payah, tekanan dari kekasih yang ingin dilamar, kontrakan yang berakhir Desember ini, dan bualan mereka atas dunia ini sama sekali tidak bisa menyelamatkan apa pun.

“Kamu pikir realisme lusuh yang kamu agung-agungkan itu bisa menyelamatkan manusia dari tekanan hidup?” Kafka yang semula pasif kini mulai menyerang argumen Bukowski.

“Diam, Kafka!” pinta Palahniuk, “Semua karyamu, Bukowski. Semuanya! Adalah ilusi puisi semata; penderitaan yang kamu lampiaskan pada alkohol; kesedihan yang kamu sandarkan pada alkohol; masa lalu yang kamu tayangkan melalui alkohol, hanyalah ilusi!” lanjut Palahniuk yang mulanya membela realisme lusuhnya Bukowski kini cenderung mengambil pandangan yang berbeda dari keduanya.

Milan Kundera memukul meja dan melempar semangkuk pisang goreng ke arah Bukowski.

*Perjalanan ini berlanjut di 2 – Para Pembual yang Populer

Standard
Archive, Journal

1-Struktur Cinta yang Pudar

Dulu, dulu sekali, saya tidak memiliki bayangan utuh tentang kekusutan kepala penulis dan segera menemukan alasan mengapa jalan hidup mereka tak perlu membuat saya khawatir. Dua simpulan yang membutuhkan untuk saling meniadakan. Semua itu bermula ketika membaca catatan Arief Budiman dalam buku Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan ketika saya masih duduk di penghujung bangku sekolah menengah pertama yang membosankan. Mereka yang ingin lari dari rumah, membenci masa silam yang baru saja berlalu, dan mereka yang mendengar terlalu banyak aturan, mencintai pukul sepuluh malam dengan pintu kamar yang tertutup, akan menemukan sabana dengan gubuk kecil berpenerang suluh. Ke sana dan hanya di sana, tempat terbaik untuk mengumpat nasib buruk. Masa itu, saya tidak peduli sama sajak-sajak Chairil, nisan, aku ini bintang jalang, cintaku jauh di pulau, atau di pintumu aku mengetuk, hanya kepura-puraan yang saya kutip pada banyak omong kosong agar mereka tidak perlu mengerti apa yang sebenarnya ingin saya katakan. Mereka berbicara tentang dunia yang teratur dengan simbol-simbol moral yang akut. Saya hanya ingin mempertemukan belasan tahun baru dalam satu malam yang panjang dan segera bangun di usia dua puluh lima tahun. Tidak ada rumah atau satu-satunya yang berani saya anggap rumah adalah diri saya sendiri. Tidak ada desakan atau satu-satunya yang saya anggap mendesak adalah masuk ke dalam kamar dan seseorang bisa memastikan mengunci pintunya dari luar. Chairil Anwar pada masa itu – mungkin juga kini, nanti, atau di neraka, tetap akan dianggap sebagai panutan. Tetapi bagi saya, dia adalah godam dari palung yang berguna untuk menghancurkan apa yang manusia anggap sebagai dirinya. Lebur tanpa nama atau utuh tanpa nyawa. Diri yang dibenamkan ke dalam cermin dan mereka berdiri di hadapannya dengan penuh syaraf kegetiran. Mereka tertawa dan meminta seseorang di dalam sana menemaninya menghabiskan kebahagiaan yang sudah kadaluwarsa. Sesekali mereka mencoba mendefinisikan apa itu kehidupan dan arti pentingnya terlibat dalam struktur masyarakat yang sakit. Melacak riwayat kebahagiaan dan ingin melibatkan dirinya ke dalam semua warna yang tersedia di dunia, kecuali pekat hitam yang selalu mereka percayai seperti mitos. Lalu apa yang membuat manusia tetap ingin bangun di pagi hari untuk menyiapkan senapan yang tidak bisa mereka kokang? Penyangkalan! Manusia butuh berpura-pura dalam waktu yang lama agar sanggup menjaga jarak dari batas yang selalu berusaha menjadi realitas. Seperti usaha menghindari bising kendaraan tetapi sulit untuk berhenti menghirup polusinya. Manusia menyelamatkan telinganya tetapi membiarkan paru-parunya menjadi saringan polusi lalu sesekali menepi diri ke dalam hutan untuk menghirup udara yang asing. Siapa yang tidak bisa berpura-pura akan menisankan dirinya tanpa nama. Seperti lirik lagu Ridwan Sau yang saya terjemahkan, jika ada tanah baru yang bergunduk / kubur yang tak ditaburi bunga / aule! sayalah itu. Di dunia ini, manusia bisa menciptakan apa pun yang belum pernah dibayangkan sebelumnya, kecuali solusi. Usaha terbaik untuk masalah yang manusia hadapi hanya kompromi yang radiusnya, jika bukan untuk menyelamatkan biografi seseorang, berarti untuk menolong autobiografinya. Jika seseorang dan itu kamu, atau kamu, atau mungkin adalah saya, menemukan solusi atas hidup ini, cukup katakan bahwa itu adalah doktrin. Sampai di sini saya masih sulit menekan tombol enter untuk paragraf baru tetapi harus menutup catatan ini sebelum semua diri saya di masa lalu datang dan tidak bisa kembali lagi ke dunianya yang sudah punah itu. Alasan lain catatan ini hanya terdiri dari satu paragraf panjang yang konstan adalah, untuk mempersilakan dirimu menulis paragraf baru sebelum atau sesudah atau di antaranya. Barangkali kamu punya trauma dan ingin pura-pura melupakan luapannya.

Standard
Archive, Journal

Sebuah Pesta Perpisahan

Saya selalu mewaspadai dua hal dalam hidup; jawaban dan kepastian. Terhadap yang pertama, di tengah taman, saya akan menangkap banyak kupu-kupu meskipun sadar tidak semua dan mungkin tidak ada, yang bisa saya rawat dan menetap di rumah. Terhadap yang kedua, di dalam kepala ini, segala sesuatu terbelah dan tidak pernah selesai, memastikan sesuatu hanya membuatnya menjadi kesia-siaan belaka.

Dalam sebuah kesempatan diskusi, ketika berbicara tentang proses kreatif, saya memilih berbagi tentang pengalaman di awal menulis dan pertanyaan-pertanyaan yang datang dari teman-teman sekitar saat itu.

Sebutlah lima tahun lalu, meski mungkin kurang lebih, bersama beberapa teman, kami memutuskan mulai menjalani salah satu tugas mahasiswa sastra; menulis. Tidak jelas mengapa demikian, awalnya kami hanya senang membaca dan sesekali diskusi kecil-kecilan tentang apa yang kami temukan.

Penjelajahan dimulai dari salah satu periodesasi sastra buatan H. B Jassin, Balai Pustaka. Robohnya Surau Kami milik A. A. Navis memulai pelahapan kami terhadap karya angkatan mereka.

Seiring waktu berjalan, kesenangan saya menulis puisi – juga beberapa teman lain, membuat diskusi semakin menarik. Hingga pada sebuah perjumpaan, teman saya bertanya, “Kenapa-ko kau masih menulis puisi, baru ada-mi Aan Mansyur?” pertanyaan yang akhirnya membuat dia lebih sering dan tekun menulis prosa. Pada kesempatan lainnya, teman itu mengajak saya untuk membenci Aan, baik dalam karya maupun pribadi. Dengan alasan, jika tidak demikian, kami kesulitan terlepas dari bayang-bayangnya.

Saya terbiasa untuk tidak menjawab pertanyaan dan pernyataan semacam itu. Tapi dalam benak, sebuah pertanyaan menyusun tubuhnya sendiri, apakah dengan membenci, saya bisa sehat dan terlepas dari bayang-bayang seseorang? Move on tidak semudah itu, Gaes.

Secara sadar, ketika memutuskan menjadi penulis puisi, saya tinggal di sebuah kota di mana Aan Mansyur begitu berpengaruh dan mendominasi banyak penulis muda. Dan tawaran membencinya bukan pilihan yang baik, setidaknya bagi saya, untuk usaha menemukan dan berkenalan dengan proses kreatif itu sendiri.

Maka yang saya lakukan adalah sebaliknya, saya berusaha mengenal – bahkan jika perlu hingga cara kencingnya, dengan penyair yang saya senangi karyanya. Itulah yang membuat saya membaca puisi-puisi melalui jejak generasi, dimulai dari Sitor Situmorang, Afrizal Malna, Aslan Abidin, dan Aan Mansyur. Beruntung karena dua di antara mereka berada di kota yang sama dengan saya.

Saya tidak tahu apakah pilihan ini salah dan pilihan teman saya benar. Atau mungkin sebaliknya atau tidak kedua-duanya. Saya tidak tahu sekaligus ragu. Yang saya lakukan hanya berusaha dan terus berusaha menemukan jawaban paling sederhana tentang apa itu puisi?

Cara saya saat ini untuk menemukan jawaban itu, dengan membaca sedikit buku – secara jumlah barangkali dalam setahun hanya dua puluh hingga dua puluh lima, dan mengulang-ngulangnya sebanyak mungkin. Selain karena saya sadar kemampuan otak saya mencerna sesuatu memang tidak begitu kuat, itu juga melatih saya untuk fokus terhadap sebuah frame tertentu. Sekali lagi, saya tidak tahu apakah cara ini benar.

Saya selalu mewaspadai dua hal dalam hidup; jawaban dan kepastian. Di kota ini, beberapa penyair muda masih sering terjebak dan mempertanyakan hal serupa. Semisal, mengapa banyak sekali yang ingin menulis puisi dan menjadi penyair? Atau bagaimana cara menaklukkan penyair yang puisinya lebih kuat dari dirinya?

Pertanyaan pertama hanya membenarkan penggalan soneta Neruda, mungkin karena puisi adalah between the shadow and the soul. Tapi untuk menaklukkan penyair lain? Bagi saya, dunia puisi – juga persajakan, harus terlepas dari ambisi kepanikan semacam itu. Saya tidak tertarik kesurupan dengan praktik bahwa, untuk tumbuh harus menebang dulu. Kenapa kita tidak sama-sama tumbuh? Bukankah itu jauh lebih sehat.

Jika pada akhirnya saya memang harus menebang, maka pilihannya adalah menghilangkan beberapa bagian paling mengganggu dalam hidup saya. Semacam menonaktifkan akun facebook, melepas instagram, dan membiarkan path menjadi museum. Itu yang saya lakukan. Dan sekali lagi, saya tidak tahu apakah cara ini yang benar. Saya hanya rindu. Rindu sama siapa? Entahlah. Mungkin seseorang yang di kejauhan sana sedang membaca tulisan ini.

Saat ini saya merasa cukup muda untuk melakukan banyak hal, tapi bayangan bahwa yang saya lalui adalah jalan kecil menjadi tua, membuat saya hanya bisa memilih sedikit hal di dunia ini dan tenggelam di dalamnya. Dan kini, puisi adalah laut yang saya pilih. Maukah kau membantuku bertukar napas ketika tenggelam bersama?  

Standard
Archive

Menggenapkan Keganjilan

Tradisi masyarakat kita senang berkumpul, bertemu, dan merayakan pesta. Kegiatan-kegiatan yang memiliki peran tersendiri untuk membangun sistem sosial dalam masyarakat. Pertemuan-pertemuan yang terjadi kemudian menjadi instrumen yang membangun rasa persaudaraan. Kita bertemu dan merayakan semua pesta, mulai dari kelahiran, pernikahan, masuk rumah baru, kelulusan, kematian, hingga sunatan.

Tradisi ini telah melampaui waktu. Menembus sekat peradaban dan masih terawat hingga saat ini. Meskipun harus diakui bahwa zaman telah mengubahnya ke dalam bentuk yang lebih sederhana. Pesta yang biasanya kita lakukan di rumah – atau paling tidak di halaman rumah, berpindah ke warung kopi, cafe, atau hotel.

Kesenangan berkumpul ini kemudian menjadi budaya yang turun temurun. Siapapun yang pertama kali membuat pesta korontigi, atau pelamaran tidak pernah membayangkan bahwa kegiatan itu akan bertahan hingga saat ini. Dan sekarang, korontigi telah sampai di masa kita sebagai sesuatu yang tak terpisahkan. Begitupun dengan kebiasaan-kebiasaan lain yang masih terpelihara hingga saat ini.

***

Ada ungkapan yang sering terdengar jika menghadiri acara di kampung saya. Jika sudah sampai di pintu, tuan rumah berdiri dan mempersilakan tamu untuk masuk seraya mengucapkan antamaki mae/katte mami nitayang/punna tena nakintama/tena na angganna ilalang yang dalam arti bahasa Indonesia yang tidak baku, masuk-ki ke dalam, sisa kita ditunggu, kalau tidak masuk-ki tidak genap-ki. Meskipun si pemilik rumah tidak pernah menghitung, apakah tamu yang datang itu sudah genap atau masih ganjil.

Sekilas kalimat dalam bahasa Makassar tadi terdengar biasa saja. Tapi pernahkah kita bayangkan bahwa penggunaan kata “angganna” yang dalam bahasa Indonesia diartikan genap adalah ungkapan keakraban yang mengandung makna keakraban yang tinggi.

Bahwa mengundang orang untuk bergabung dengan menggunakan kata genap berarti bahwa pesta ini ganjil jika orang tersebut tidak bergabung. Kata genap juga dapat diartikan cukup atau utuh.

Kalimat bahasa Makassar tadi masih digunakan meskipun saya lebih sering mendengarnya dilafalkan dengan bahasa Indonesia. Masuk-ki, kita mami yang ditunggu, kalau tidak masuk-ki, tidak jadi acara. Kata anggannadan tidak-jadi memang memiliki efek sosial yang sama. Tapi angganna jauh lebih kuat untuk membangun keakraban sosial. Entah mengapa, mungkin memang dalam budaya kita sengaja diciptakan pengomunalan kelompok masyarakat.

***

Disadari atau tidak, berkumpul adalah salah satu cara untuk membangun keakraban. Bahkan lebih dari itu, bisa membangun kekuatan yang sangat besar. Bayangkanlah, seandainya pada tahun 1914 Henk Sneevliet dan Pak Yahya tidak bertemu, maka Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV) atau Persatuan Sosial Demokrat Hindia Belanda pasti tidak didirikan. Jika Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV) tidak didirkan maka tidak ada kongres ISDV. Jika kongres ISDV di Semarang pada Mei 1920 tidak ada, maka penggantian nama dari ISDV ke Perserikatan Komunis Hindia tidak pernah terjadi. Jika perubahan nama dari ISDV menjadi PKH tidak terjadi maka Partai Komunis Indonesia juga tidak ada. Jika PKI tidak lahir pada tahun 1924 maka pada tahun 1965 tidak ada pengganyangan. Jika pengganyangan itu tidak ada maka Soeharto tidak pernah jadi Presiden. Jika Soeharto tidak jadi presiden, maka reformasi yang mahasiswa perjuangkan pada tahun 1998 tidak pernah terjadi. Jika tidak ada reformasi, mungkin negara kita masih dikuasai oleh rezim Soeharto – bahkan bisa saja lebih buruk dari saat ini.

Henk Sneevliet dan Pak Yahya sebagai pendiri Indische Sociaal-Democratische Vereeniging, tidak pernah bertemu dengan Soeharto. Tapi apa yang dilakukan oleh Sneevliet pada tahun 1914 masih punya kaitan dengan apa yang kita rasakan saat ini.

Sneevliet tidak pernah membayangkan bahwa ISDV yang ia dirikan pada tahun 1914 akan berubah menjadi Partai Komunis Indonesia. Apa lagi membayangkan bahwa partai non-penguasa terbesar di dunia itu akan dijadikan korban. Simpatisan dan pendirinya ditangkap dan dituduh sebagai biang onar.

Sneevliet, Soeharto, Mahasiswa 1998, dan kita semua adalah sebuah kegenapan. Kegenapan yang tercipta tanpa kita sadari. Terbangun dari akar sejarah yang sama. Ini termasuk ke dalam konsep kegenapan dalam tradisi kita. Kegenapan yang membangun ikatan yang dapat menembus ruang dan waktu.

1 November 2014 di revi.us

Standard
Archive, Journal, Resensi

Panritasaga

Museum dan perpustakaan adalah simbol peradaban.

13 Maret 2016, setelah melalui tujuh jam perjalanan darat, saya bersama empat orang kawan dari Makassar tiba di Desa Pambusuang. Aroma laut menyatu dengan udara pukul delapan pagi yang sejuk di tanah Mandar.

Seorang lelaki dengan rambut yang dililit ke dalam topi menuruni tiga anak tangga dan menyambut kami; Muhammad Ridwan Alimuddin. Dialah penggagas Armada Pustaka, di desa yang terletak di Kecamatan Bala Nipa ini.

“Sejak tahun lalu, kami sudah mengoprasikan Perahu Pustaka, Becak Pustaka, Bendi Pustaka, dan Motor Pustaka. Nusa Pustaka – perpustakaan dan museum maritim,  hadir untuk melengkapi Armada Pustaka yang selama ini, secara aktif digunakan sebagai alat kampanye literasi di Sulawesi Barat.” Terangnya dengan ramah ketika menjelaskan kepada kami aktivitasnya belakangan ini.

Sebelum tiba, saya mencari beberapa pralana di internet tentang Nusa Pustaka, termasuk acara Perpustakaan Rakyat Sepekan III yang akan saya hadiri. Tidak banyak, tapi lumayan lengkap. Belakangan, melalui balasan surat elektronik, Ridwan membilangkan, “Hanya saja, di internet, ada beberapa pemberitaan “Armada Pustaka” yang berfantasi. Hahaha”

 Mulanya, saya merasa tempat ini tidak jauh berbeda dengan perpustakaan alternatif pada umumnya. Namun ketika berdiri di ambang pintu, memandang beberapa anak-anak sibuk membaca dan Sandeq – perahu tradisional Mandar, sepanjang tiga meter terpajang dengan ratusan buku di atasnya, saya nyaris tidak percaya. Bagaimana mungkin, perpustakaan menjadi tempat “bermain” anak-anak?

Dalam benak saya, bersit kecemburuan muncul pada gairah orang-orang di desa ini terhadap dunia literasi. Menyandingkan dengan Katakerja, tempat saya bekerja sebagai pustakawan di Makassar, hanya ada satu anak kecil yang rutin berkunjung, itupun adalah tetangga kami.

Salah satu yang menarik perhatian saya, di antara deretan buku di atas Sandeq itu, adalah Kalindaqdaq – puisi khas Mandar. Saya mengambil buku bersampul kuning dengan gambar seorang lelaki Paqkalindaqdaq itu, kemudian membuka halamanya secara acak.

Polei paqlolang posa

Pesiona balao

Soroqmo dolo

Andiang buku bau

Telah bertandang seekor kucing

Yang mengaku utusan tikus

Sudahlah, pulanglah

Di sini tidak ada tulang-tulang ikan

            Dinding yang dibuat dari Alisiq – anyaman bambu, membuat sirkulasi udara terus terjaga. Almanak dan beberapa foto kegiatan Armada Pustaka terpajang. Lantai dari bilahan bambu semakin menguatkan kesan lokalitas dari perpustakan ini.

            Ridwan menyajikan seteko kopi dan memanggil kami untuk istirahat sejenak. Tapi karena masih penasaran, saya melanjutkan ke bagian dalam Nusa Pustaka. Dua rak buku berwarna merah saling memunggungi atau sedang berpelukan. Berdempet rapat.

“Ada ribuan buku hasil sumbangannya teman-teman. Selain yang terpajang di sini, masih ada juga yang di Perahu Pustaka.” Tutur Ridwan ketika saya menanyakan jumlah bukunya.

            Saya mengamati judul-judul bukunya yang sangat beragam. Mulai dari sastra, sejarah, budaya, dan buku pelajaran.

“Apa yang terjadi bila setiap desa di Indonesia memiliki perpustakaan semacam ini?”

Lelaki berambut panjang itu hanya tersenyum mendengar lirih yang sengaja saya ucapakan sedikit keras itu. Dari caranya menjawab, saya coba menerka dua singgungan, yang pertama, apakah setiap desa memiliki orang yang tertarik menggeluti literasi? Kedua, sampai sejauh mana komitmen mereka bersetia pada dunia literasi yang sunyi ini?

            Tepat di atas rak buku tersebut, dengan penghubung lima anak tangga, ada ruangan lain yang lebih privat. Benar saja, itu adalah kantor Nusa Pustaka. Ketika menjulurkan kepala, saya melihat sebuah komputer dan beberapa kertas catatan terhambur di sekitarnya, “Barangkali bekas jurnalis Radar Sulbar yang produktif menulis tentang kemaritiman Mandar itu senang mengerjakan tulisannya di sana.” Gumam saya sambil meletakkan kembali buku Mandar Nol Kilometer.

            Setelah puas mengamati Nusa Pustaka, barulah saya mencecap kopi itu dan mengobrol bersama teman-teman lain. Tampak beberapa pustakawan, sedang mendata buku-buku. Sementara di halaman, beberapa anak kecil tadi kini sibuk bercengkrama dengan beberapa orang dewasa.

 “Hari ini rencananya mau dikasi’ pulang Perahu Pustaka, mauki ikut?” Ridwan menawari kami untuk menemaninya.

“di manaki perahunya itu, Kak? sambung Irmawati dengan lugas.

“Di Tanga-tanga, dekat pasar Tinambung. Kemarin ada Festival Sungai Mandar di sana, tapi sudah selesai. Jadi maumi dikasih pulang itu perahu.”

“Bagaimana yang lain? Kalau saya mauka ikut.”

            Selain Aan Manyur yang nampak masih lelah dan memilih beristirahat di Nusa Pustaka. Kami bertujuh sepakat untuk ikut berlayar, Randi Akbar, Hardiman, Maman Suherman, Irmawati, Ridwan bersama anak lelakinya, Nabigh Panritasaga, dan saya sendiri.

            Setelah bersiap-siap, di antar seorang pemuda menggunakan mobil, jadilah kami menuju desa Tanga-tanga, sekitar enam belas kilo meter dari Pambusuang.

***

Dia melempar anak lelakinya yang berusia enam tahun dari kapal. Melayang beberapa saat sebelum terhempas di lautan. Bantuan pelampung yang memeluk tubuhnya membuat anak itu terapung. Tapi itu tidak cukup untuk melawan ketakutannya. Di bawah matahari pukul tiga belas siang, ia menangis, sedu sekali.

            Sesaat sebelumnya, tiga awak perahu menepikan Baqog – perahu tradisional Mandar, dengan menarik penambatnya. Tulisan pada dinding luar kapal mulai luntur, tapi masih jelas terbaca, Perahu Pustaka Pattingaloang. Setelah cukup dekat, salah seorang awak perahu menurunkan tangga dan kami menaikinya. “Orang Mandar percaya bahwa tangga itu harus ganjil, sebab yang menggenapi adalah rezeki.” Tutur Ridwan menjelaskan mengapa tangga perahu itu jumlahnya lima. 

Sejak kami naik, perahu terus berbuncang. “Keras ombat kapiteng.”Teriak Randi.

Kurang lebih dua puluh batang bambu sisa Festival Sungai Mandar ditumpuk. Sementara dalam lambungnya, tersimpan sekitar empat ratusan buku. Melalui buritan perahu, Maman Suherman memilih masuk dalam lambung kapal untuk melihat tampakan di dalamnya. Saya memilih berdiri di dekat tiang perahu bersama Randi dan Irmawati. Tidak jauh dari tempat saya, Hardiman terlihat cemas memegang tali layar. Sementara Ridwan bersama anaknya berada di bagian belakang, berdiri dengan tenang.

Dua puluh meter perahu meninggalkan bibir pantai, mesin belum dinyalakan, dan keseimbangan perahu tetap tidak bisa dikendalikan. Para awak terlihat cukup tenang. Sebagai pelaut Mandar, mereka sepertinya telah terbiasa menghadapi keadaan ini. Wajah para awak yang setangguh karang membuat saya kurang merisaukan kebuncangan perahu.

            Beberapa detik setelah itu, ketika salah seorang awak perahu ingin naik, keseimbangan semakin sulit dikendalikan. Hingga akhirnya, perlahan tapi pasti,  Perahu Pustaka terbalik. Blurp!

Satu persatu dari kami menceburkan diri ke laut. Kecuali Hardiman dan Maman Suherman. Dia memeluk tiang dan baru ikut tercebur ketika penyangga layar itu menyentuh permukaan laut, sementara Maman terjebak di lambung perahu bersama buku-buku. Dengan bantuan dua orang awak, butuh beberapa menit untuk dirinya bisa keluar.

Beberapa warga yang melihat kejadian itu langsung berenang menuju perahu. Salah seorang di antaranya menarik Sandeq berukuran kecil untuk kami tumpangi ke daratan. Sementara itu, para awak dan beberapa pemuda, berusaha membalik Perahu Pustaka agar buku-buku yang sebagian masih tersimpan di lambung perahu, dapat segera diselamatkan.

Layar patah dan mesin perahu harus dikeringkan. Sambil menunggu pemuda yang mengantar kami tadi kembali, buku-buku dan gawai yang ikut tercebur kami jemur di halaman rumah warga.

***

Selain ucapan kekasih yang memberi harapan palsu, salah satu pembunuh paling akrab adalah media dengan segala kegegeran yang ditimbulkannya.

Kurang lebih satu jam setelah Perahu Pustaka terbalik, salah satu media daring langsung mengangkat beritanya, “Perahu yang ditumpangi Maman Suherman dan Aan Mansyur Terbalik di Perairan Majene.” Meskipun belakangan berita ini dihapus oleh adminnya, tapi itu sudah cukup merepotkan. Setidaknya bagi Aan sendiri, melalui panggilan telepon dan grup whatsaap, beberapa kawan di Makassar yang mendengar kabar ini langsung menghubunginya.

“Saya yang setengah mati tenggelam, Aan Mansyur-ji yang terkenal.” Canda Randi saat membaca berita itu, ketika kami tiba kembali di Pambusuang.

Setelah beristirahat dan melewatkan acara pembukan Perpustakaan Rakyat Sepekan III, menjelang Maghrib, saya meminjam gawai seorang kawan yang bekerja sebagai reporter Fajar, kemudian menjejaki “Perahu Pustaka Terbalik” melalui mesin penelusuran di internet.

Apa yang saya temukan membenarkan candaan Randi. Setidaknya membuat saya senyum-senyum geli. Semisal yang ditulis oleh Junaedi di regionalkompas.com dengan judul “Perahu Pustaka Terbalik, 11 Awak Selamat tetapi Ribuan Buku Terendam” dalam pemberitaannya, dia menuliskan, “Sebanyak 11 awak, termasuk seorang anak, selamat. Namun, ribuan buku, sejumlah laptop, dan handphone rusak setelah terendam air.”

            Data yang sebenarnya adalah, kami hanya bersepuluh, termasuk tiga awak perahu. Tidak ada leptop dan jumlah buku yang ikut tenggalam sekitar empat ratusan.

Efek yang ditimbulkan oleh berita ini hanya berkisar tentang taksiran jumlah kerugian secara materi. Namun bagaimana nasib anak-anak di pulau dan di kampung nelayan, yang karena kerusakan Perahu Pustaka, barangkali akan mengganggu jadwal mereka mendapat bahan bacaan?

Ini juga adalah kerugian lain, kerugian yang jauh lebih penting. Mengingat Sulawesi Barat, pada tahun 2012, melalui rilis yang dikeluarkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menempatkan provinsi termuda di Indonesia itu sebagai tiga daerah dengan jumlah buta aksara paling tinggi.

Sementara kanal berita gosulsel.com, dengan tagline, melihat lebih utuh, memuat tiga berita tentang terbaliknya Perahu Pustaka. Salah satunya adalah “Maman Suherman Selamat Setelah Perahu yang Ditumpangi Terbalik di Mandar.”

Dengan mengutip beberapa tweet kawan Maman yang sudah mendapat kabar dari Notulen Gondolo itu, terbitlah sebuah berita yang fantastis. Ini sangat mengharukan tentunya.

Ketika membaca beberapa berita – atau bisa juga disebut karangan bebas, itu di halaman rumah Ridwan, saya menyayangkan mengapa tidak ada media yang tertarik mengulas nasib para penunggu buku, yang selama ini biasa disambangi oleh Perahu Pustaka?

Padahal perahu itu sudah menebar semangat literasi di Pulau Battoa dan Pulau Tosalamaq yang terletak di Teluk Polewali. Tidak lupa juga menyinggahi beberapa kampung nelayan di pesisir Sulawesi Barat, mulai dari Gonda di Campalagiang hingga yang berada di kota Majene, seperi Pamboang, Sendana dan Malunda.

Berita semacam ini semakin mengaburkan apa yang seharusnya masyarakat kenal dari usaha Ridwan Alimuddin untuk menghidupkan budaya literasi di Sulawesi Barat. Itu juga tidak akan membantu mengurangi angka buta huruf, yang berdasarkan data Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Sulbar, mencapai 90,54 persen dari 1,5 juta penduduk Sulbar pada tahun 2014.  

Berita yang muncul akhirnya hanya mengedepankan pemuatan kegegeran konten tanpa punya kepentingan terhadap kebenaran dan bagaimana dampak yang ditimbulkan. Saya kembali mengingat balasan surat elektronik Ridwan, “Ada beberapa pemberitaan yang berfantasi.” Tapi kali ini, saya merasa bahwa semua berita tentang insiden terbaliknya Perahu Pustaka Pattingaloang lebih jelek dari fantasi yang buruk.

***

Sebagai penulis dan notulen di Indonesia Lawak Klub, Maman Suherman memang cukup dikenal oleh publik. Sementara Aan Mansyur sendiri, penyair yang puisi-puisinya akan kita temukan dalam film Ada Apa dengan Cinta 2 ini cukup digemari penikmat puisi di Indonesia.

            Media, dengan cara seperti ini, berhasil membuat kepopuleran dua tokoh itu mengaburkan makna penting dari perjuangan Ridwan menyabarkan semangat literasi. Pada akhirnya, yang masyarakat ketahui hanya percikan insiden yang juga tidak begitu mendalam.

Sementara Armada Pustaka masih harus berjuang untuk ikut membantu pemerintah memberantas buta aksara. Selain itu, yang menjadi tugas utamanya,  memudahkan anak-anak untuk mendapatkan bahan bacaan, bukan hanya di pulau dan pesisir, tapi juga yang berada di pegunungan.

“Gerakan kita langsung dengan beberapa armada yang saling melengkapi. Awalnya perahu saja, yang menjangkau jauh hingga ke pulau. Tapi itu menjadi “sia-sia” bila ternyata di lingkungan tempat saya tinggal tidak membaca buku. Nah saat proses finishing Perahu Pustaka, kita buat juga Bendi Pustaka, untuk kemudian Becak Pustaka. Sebab di sini juga banyak kampung di pegunungan, kita buat juga Motor Pustaka. Lalu akhirnya hadirlah Nusa Pustaka ini. Setidaknya itulah yang membedakan gerakan literasi kami dengan yang lain.” Demikian penjelasan Ridwan ketika saya menanyakan apa yang harus diketahui oleh orang tentang Armada Pustaka dan gerakan literasinya.

Aan Mansyur sendiri menganggap bahwa “Kalau katakerja – perpustakaan yang dikelola Aan di Makassar, itu untuk semakin mendekatkan orang-orang pada buku. Sementara apa yang dilakukan oleh Ridwan dengan Armada Pustaka untuk semakin memperkenalkan masyarakat pada buku. Kondisinya tentu berbeda.”

Maka yang menjadi perhatian penting dari Ridwan Alimuddin, selain menjaga ciri khas dalam mendorong anak-anak mencintai buku, turut membantu mengurangi angka buta huruf di daerahnya.

Jika di antara kita, ada yang memiliki bahan bacaan yang lebih, Armada Pustaka selalu terbuka untuk menerima pendonasian buku. Tentu, selain modal untuk melayarkan Perahu Pustaka.

***

Adzan maghrib berkumandang. Langit senja di Mandar mulai pudar. Selain warga yang berjalan menuju masjid di pertigaan jalan itu, nyaris tidak seorangpun yang berkeliaran. Desa ini menjadi lebih sunyi dari sebelumnya.

Salah satu hal yang jarang saya jumpai lagi di Makassar, antara Maghrib dan Isya, di masjid itu terdengar pengajian kitab kuning. Seorang ustadz menjadi pemandu yang menerangkan isi kitab dalam bahasa Mandar dan puluhan santri terlihat khidmat memahaminya. Assaduna.

Jeda waktu shalat ini, tidak ada aktivitas selain kegiatan keagamaan. Pambusuang seolah menjadi pesantren. Meskipun kita bisa melihat banyak rumah warga.

Memasuki pukul dua puluh, rangkaian acara Perpustakaan Rakyat Sepekan III dilanjutkan. Puluhan orang memenuhi Nusa Pustaka, termasuk beberapa santri yang tadi ikut pengajian di masjid. Kali ini giliran Aan Mansyur yang membawakan materi.

“Kalau kamu mau kaya, jangan jadi penulis. Kalau ada penulis yang terlihat kaya, Talatalekangji itu,” ucapnya dengan nada bercanda, “Persoalan penerbitan buku di Indonesia, itu telah menjadi industri yang dikuasai oleh segelintir orang. Lihatlah coba Gramedia. Penulis sendiri hanya menjadi bagian paling kecil dari industri itu.” Sambungnya menerangkan.

            Di hadapan pulahan anak muda, Aan bercerita tentang kiat menulis dan proses kreatifnya melalui beberapa kisah.

“Ibu saya tinggal di Balikpapan dan bekerja sebagai penjahit. Suatu waktu, saya bertanya, “Mengapa banyak kain yang dilebihkan, bukankah itu pemborosan?” Dan ibu saya menjawab, “Lebih mudah mengecilkan hal yang besar dari pada membesarkan hal kecil.” Dari cerita itu, kita bisa menemukan banyak sekali pelajaran tentang menulis. Misalnya saya, jika ingin menulis sesuatu yang panjangnya seribu kata, maka saya akan membuatnya menjadi tiga ribu kata dan menyuntingnya hingga seribu.”

Beberapa orang coba memahami penjelasan yang dituturkan Aan, lelaki berkacamata yang belum menikah di usia tiga puluh lima tahun itu kemudian melanjutkan.

“Saya juga senang dengan  kisah Gandhi, suatu waktu, seorang ibu dan anak datang menemuinya, “Putra saya ini tidak mau mendengar saya. Namun entah mengapa dia selalu mau mendengar nasehatmu. Saat ini dia terlalu banyak makan gula. Saya khawatir, giginya akan rusak dan gula sangat berbahaya bagi kesehatannya.” Mendengar itu, Gandhi menyanggupi dan memintanya kembali dua minggu kemudian. Ibu dan anak itu kembali pada waktu yang telah dijanjikan. “Nak, dengarlah yang ibumu katakan, terlalu banyak makan gula itu tidak baik.” Ibu itu heran, “Kalau sekadar mengucapkan itu, mengapa harus menunggu dua minggu?” tanyanya, “Karena saya harus latihan berhenti memakan gula.”

Aan menutup materinya dengan membacakan puisi Tidak Ada New York Hari Ini, salah satu yang termuat dalam buku puisi terbarunya yang terbit April ini.

Resah di dadamu, dan rahasia yang menanti di jantung puisi ini.

Dipisah kata-kata. Begitu pula rindu.

Lihat tanda tanya itu.

Jurang antara kebodohan dan keinginanku.

Memilikimu sekali lagi.

***

Di halaman Nusa Pusataka, untuk hari ini, kegiatan Perpustakaan Rakyat Sepekan III sudah selesai. Bersama pustakawan, kami duduk melingkar dan bercerita kembali tentang pengalaman siang tadi. Maman memperlihatkan luka di kakinya yang tergores karang, Randi yang juga kakinya terluka menimpali.

“Perawatnya tadi, seharusnya lebih lama lagi na-obati kakiku.” Kami tertawa dan paham betul kegenitan itu.

Pukul dua puluh tiga, rombongan kami pamit untuk pulang ke Makassar.

“April atau selambatnya Mei, Perahu Pustaka berlayar ke Kepuluan Supermonde sampai ke Makassar.” Melihat kami berjalan ke mobil, Ridwan mengucapkan sampai jumpanya itu.

Jalan begitu lengang, hanya satu dua kendaraan melintas. Efek Rumah Kaca mengalun. Menemani kepulangan kami.

Standard
Archive, Journal

1 – Puisi Post-Tragedy: Kisah Romeo dan Hawa

Kepala karangan ini adalah asumsi reflektif tentang salah satu hal yang barangkali sudah sangat klise. Adalah cinta – yang pernah memusnahkan dewa-dewa, menyusun kasta-strata, dan sanggup mengobarkan perang di bumi ini. Kisahnya tertuang dalam kitab suci serta tertelusur di epos. Cinta pula yang sanggup menggerakkan infanteri ke selatan untuk merebut mahkota kaisar agung. Cinta dan darah adalah perang!

Tragedi pertama dalam sejarah manusia adalah kisah cinta tentang nestapa pengusiran, berderet kemudian tentang persilangan restu, lalu berhala-berhala yang diserang oleh api, dan mungkin yang paling banyak memberondong manusia adalah kisah cinta kepada seseorang yang tidak bisa dimiliki.

Oleh penyair, kisah-kisah ini telah mengilhami karya mereka. Kita membacanya penuh heroisme. Sejumlah masterpiece mereka hasilkan atas interpretasi dan respons mereka kepada tragedi-tragedi tersebut. Turut pula berbagai persoalan lain yang begitu deras dikandung masyarakat melalui pembacaan karya mereka. Mulai dari problem patriarki, patron klien, hingga kolonialisme. Dan di hadapan cinta, manusia tunduk dan pada masa yang lain menjadi tanduk untuk segala kekacauan itu.

Lalu apa yang disisikan penyair terdahulu kepada kita? Pertanyaan ini tentu terdengar putus asa – jika tidak bisa disebut menyerah. Beberapa penyair masa kini masih berkarya dengan meneruskan trah dari tragedi-tragedi tersebut. Sementara kebudayaan diciptakan bersamaan dengan hadirnya tragedi baru. Apakah kepurbaan tragedi akan menambah keeksotikan sebuah puisi? Atau para penyair masa kini hanya berusaha menelusuri keluasan bacaan mereka pada tragedi di masa silam dan pada waktu yang bersamaan, mereka memudarkan anasir penting dari hubungan puisi dan manusia?

Memang benar bahwa bagi penyair masa kini, jarak antara tragedi-tragedi itu dihalangi oleh masterpiece – dipenuhi interpretasi, keseimbangan logika, intertekstualitas, hingga counterfactual, dari penyair sebelumnya, dan sebelumnya, lalu sebelumnya lagi. Apakah ini menandakan bahwa penyair masa kini terancam menulis sesuatu yang berulang? Tak ada darah yang mengalir dari tubuh untuk kedua kalinya seperti tidak ada tragedi yang terulang.

Barangkali inilah saatnya menghancurkan tragedi-tragedi itu – yang barangkali telah menjadi monumen ingatan dalam kepala manusia. Beberapa tragedi berubah menjadi mitos atau folklor, sehingga sangkalan atau kritikan atas itu berarti menyeberangi batas tabu dan moral.

Beberapa penyair sedang mengontekskan tragedi nun lampau menjadi karya. Tentu hal ini bukan sebuah kemunduran yang berisiko – dengan segala upaya menghubung-hubungkannya dengan masyarakat masa kini. Tetapi itu artinya ada pula alternatif yang membentang sebagai tragedi baru bagi penyair.

Watak kolonialisme yang mencetak laku modernisme di sebuah kota melahirkan begitu banyak problem. Katakanlah, unsur kegilaan, kriminalitas, perusakan ekosistem alam, dan penggusuran – yang oleh negara dianggap sebagai bagian dari penertiban. Apakah pembangunan memang harus menyerahkan itu kepada kita? Lalu bagaimana dengan kelompok sub-urban yang sering kali menjadi subjek dari penertiban semacam itu? Bukankah ini merupakan tragedi baru yang menarik untuk diolah menjadi puisi? Dengan Romeo-nya adalah penguasa dan kita adalah Hawa yang tahu bahwa khuldi dari Romeo berdampak Buruk. Tetapi selalu saja, karma dan simalakama adalah satu-satunya pilihan. Atau katakanlah sebenarnya penguasa adalah Adam yang misoginis dan kesepian. Kita hanyalah Juliet yang diminta berbaring di tepi pantai dengan secawan racun bersamanya.

*berlanjut

Standard
Archive, Journal

Televisi Bekas dan Reformasi

Suatu sore yang masam di penghujung tahun 1997, ayah saya pulang membawa televisi bekas dua belas inci yang terikat di sadel motornya. Saya yang sedang bermain di halaman, berselebrasi melihat benda terajaib pada masanya itu. Aye, Captain!

Setelah sekian kali bertanya kepada ayah, kapan kita punya televisi sendiri agar pada hari minggu saya tidak perlu lagi kuturut ayah ke kota, naik delman istimewa. Terkabul sudah hasrat menonton Dragon Ball, Detektif Conan, One Piece, Felix the Cat, Wiro Sableng, hingga Keluarga Cemara dari rumah sendiri. Sebelumnya, jika hari minggu tiba, saya harus segera ke rumah teman untuk menemani dia menonton – kadang, momen semacam ini saya rindukan kembali dan karenanya, pada hari minggu saya sesekali tetap ke rumah teman itu atau dia yang datang ke rumah saya. Ternyata yang kita butuhkan memang adalah teman.

Sembilan bulan pasca rumah kami memiliki tabung kaca itu, suatu sore sepulang ayah bermain bola di lapangan pesantren, seperti biasa, ia bersiap-siap mandi dan menuju ke masjid. Tetapi di hadapan televisi dia berdiri menggunakan handuk berwarna hijau. Sesekali berkedip. Tak bergerak dan tak menjawab pertanyaan saya. Kenapa mahasiswa kumpul-kumpul? Kenapa mahasiswa ditembaki? Kenapa mahasiswa minta presiden turun? Kenapa? Kenapa?

Ayah saya hanya diam. Untuk pertama kalinya pula ayah saya – entah waktu itu dia sadar atau tidak, belum mandi untuk ke masjid saat azan sudah selesai. Dan saya tidak disuruh pula ke masjid. Kami berdua hanya menonton pewarta berbaju merah jambu dengan rambut sebahu mewartakan apa yang sedang terjadi di Ibu Kota. Saat jeda iklan, ayah saya tersenyum dan mengatakan, akhirnya Soeharto turun, Nak! Saya ikut tersenyum. Waktu itu saya tidak paham mengapa ayah saya tersenyum. Tetapi senyum saya pertanda yang lain, akhirnya saya bisa salat magrib di rumah dan langsung menonton Tuyul dan Mba Yul. Dalam hati, saya berdoa semoga setiap hari Soeharto turun dari jabatannya. Tetapi saya keliru, keesokan magribnya, ayah saya sudah berpakaian lengkap dan berjalan menuju ke masjid. Di belakangnya, saya ikut berjalanan. Itulah shalat magrib pertama saya ketika Habibie resmi menjadi presiden.

Belakangan saya tahu, tabungan ayah berbulan-bulan mungkin cukup membeli televisi baru sekiranya tahun itu tidak terjadi krisis moneter. Pada saat yang sama, di kampung saya, benda-benda yang ada kata bekas di belakangnya menjadi primadona – mulai motor hingga kulkas. Tumbuh pula beberapa penyedia servis reparasi alat elektronik yang selalu laku karena orang-orang lebih mampu memperbaiki dari pada mengganti. Pada titik terburuk, mereka menjual yang ada tanpa tahu kapan bisa membeli yang baru.

Pengaruh itu rupanya tertanam dalam kepala saya – mungkin juga teman sebaya pada masa itu. Sejak kecil saya tidak pernah bercita-cita menjadi polisi, dokter, apa lagi presiden. Beruntung pula ayah saya tidak pernah mengharuskan saya menjadi apa. Cukup pelihara kiblatmu! Teman-teman saya juga waktu itu lebih banyak membayangkan dirinya menjadi seorang yang mampu memperbaiki semuanya, kecuali negara ini.

Saya ingat percakapan dengan Ahmad dan Yabot – saya sudah bertaman dengan mereka sekitar dua puluh dua tahun yang lalu. Suatu hari ketika selesai bermain kelereng, kami singgah meminum air keran di masjid. Mulanya, Ahmad bercerita tentang bentuk susunan pohon dekat lapangan bola yang menyerupai helikopter – tentu kami tidak pernah benar-benar melihat helikopter. Sambil menunggu ibu kami keluar mencari anaknya. Pantang pulang sebelum sapu patah adalah jalan ninja kami.

Di penghujung sore itu, kami berbagi cerita soal cita-cita. Dengan penuh semangat, Ahmad menjelaskan kepada kami berdua tentang cita-citanya, ahli air! Tentu yang muncul di benak saya adalah Mario Bros. Yabot menjadikan sepak bola sebagai jalan mengubah nasibnya yang harus menjadi penghafal seperti ayahnya. Saya sendiri waktu itu, punya dua cita-cita, seorang tukang jahit dan penjual gado-gado. Bukan tanpa alasan, saya pernah melihat ibu saya memberi uang lima ribu – bukan nominal yang kecil pada masa itu, kepada tukang jahit. Lalu menjadi penjual gado-gado itu terinspirasi oleh seorang Mba yang berjualan gado-gado tepat di depan sekolah dasar saya. Dia baik dan gado-gadonya enak! Alfatihah!

Pada akhirnya, tentu saja tidak ada di antara kami yang menjadi apa yang pernah dicita-citakan. Ahmad sekarang menjadi seorang tenaga ahli profesional, Yabot merintis karir sebagai guru di pesantrennya. Lalu saya? Di tulisan inilah saya mungkin menjadi cerita dan menuang separuh kenaifan jika kembali mengingat pertanyaan saya kepada ayah soal televisi. Jika bisa memilih, rasanya keluarga kami tidak perlu memiliki televisi di rumah dan berharap apa yang saya nonton bersama ayah sore itu seharusnya hanya sebuah fiksi.

Tetapi, rupanya negara membuat harapan saya itu benar-benar terjadi. Dia terus-menerus menganggap masa lalu itu sebagai fiksi yang tak beriman.

Standard
Archive, Journal

Catatan atas Pre-teks Naskah Digitalisasi Memori Eksternal oleh Tri Wibowo

Dari mana kata pertama itu datang? Pertanyaan ini dapat digunakan penyair menelusuri ingatan masa kecil mereka. Suatu masa yang kini silam terbentang. Beberapa adegan dari masa kecil tersebut barangkali menjadi samar bagi penyair, tetapi tidak sedikit pula yang turut tumbuh di tubuh dewasanya dan membawa daya traumatis. Hal tersebut mempengaruhi bagaimana penyair memandang dunia, bagaimana mereka menginterogasi sorotan yang datang, dan tentu saja, gejolak yang membuatnya rentan terhadap emosi yang tidak stabil.

Penyair adalah pemilik tunggal dari masa kecil itu. Tetapi tidak satu pun dari mereka yang mampu masuk kembali ke dalam sana, menyamar menjadi seorang bocah yang bertemu dengan diri mereka di masa lalu. Jika bisa, saya akan mengirim seorang bocah yang menjadi pembunuh berantai ke masa kecil saya. Saya penasaran bagaimana diri saya di masa lalu menghadapinya.

Sebelum tiba pada kesadaran dewasanya, penyair bisa saja kehilangan suara dari kisah masa lalunya – terendam rutinitas, diembus arus pengetahuan baru, dijerat pangkal kota yang terus tumbuh tanpa melibatkan masa kecilnya lagi. Sementara itu, penyair harus terus berada pada titik kesadaran sebagai subjek dan objek atas segala yang ada di sekitarnya.

Lalu apa yang mesti ditulis menjadi sajak? Terlebih dahulu, suara dari kisah-kisah itu mesti dirangkai kembali menjadi lanskap ingatan. Yap! masa kecil adalah momen-momen terjujur saya melihat dunia! Proses perangkaian ingatan itu bisa dilakukan dengan berbagai metode, salah satunya tentu adalah menarik diri dari dunia atau dalam kisah para nabi, kita mengenalnya dengan istilah pengendapan.

***

Satu-satunya yang bisa dipercaya oleh penyair adalah ingatan mereka sendiri. Tetapi pada waktu yang sama ingatan itu pula yang paling mereka ragukan. Kerentanan penyair menghadapi ingatan mereka adalah tragedi yang ketika diolah menjadi sajak, maka menjadi sekumpulan paradoks yang ingin segera dilupakan tetapi berharap, di ujung sajaknya, ia menemukan pembenaran atas diri mereka.

Ketika seorang penyiar menulis sebuah sajak, dia adalah subjek sekaligus objek. Dua peran yang berbeda ini sering kali berperang untuk saling mendominasi dan menimbulkan emosi yang rentan dan tidak stabil dari sebuah sajak.

Barangkali, sajak-sajak semacam, “Kita selalu berada di daerah perbatasan/antara menang dan mati. Tak boleh lagi/ada kebimbangan memilih keputusan…” atau “Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun,/karena angin pada kemuning. Ia dengar resah kuda serta langkah pedati ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti,/yang jauh. Tapi di antara mereka berdua, tidak ada yang berkata-kata…” Atau sajak penyair Sitor, yang dari pemilihan judulnya saja, kita bisa merasakan kesadaran posisi subjek-objek itu, Dia dan Aku, “Akankah kita bercinta dalam kealpaan semesta?/-Bukankah udara penuh hampa ingin harga?-/Mari, Dik, dekatkan hatimu pada api ini/Tapi jangan sampai terbakar sekali…” adalah sajak yang ditulis di ruang netral penyiarnya. Nyaris tidak ada letupan di dalam sajaknya, dan penyairnya memindahkan metafora itu kepada kita – pembaca yang senang menebak-nebak maksud dari sesuatu yang sebenarnya cukup untuk kita nikmati.

***

Beberapa penyair butuh menciptakan “kamus”-nya sendiri agar diksi dalam sajak-sajaknya konsisten dan tetap sinkronis. Beberapa yang lain tentu saja tidak membutuhkan itu dengan berbagai pertimbangan yang cermat.

Salah satu yang kerap diperhatikan ketika membaca sebuah sajak tentu saja adalah keutuhannya – keutuhan yang lahir dari kejelian penyair menyusun kelas kata, menciptakan idiom, dan tentu saja meramu metafora.

Sebuah sajak yang dipenuhi konjungsi sering dianggap “tidak padat” tetapi di satu sisi, sajak liris sedikit mengabaikan permasalahan itu. Ia justru memilih mengolah wilayah konjungsi sebagai satu kekuatan bahasa agar menciptakan interpretasi baru dari sebuah sajak.

Ingatan masa kecil, kesadaran atas peran penyair sebagai subjek dan objek, keutuhan sebuah sajak adalah hal-hal mendasar yang barangkali akan turut mempengaruhi performa sajak yang ia hasilkan. Selain perkara tersebut, hal lain yang tentu tidak kalah penting adalah, bagaimana bentuk sajak itu menyesuikan dengan tema yang penyair pilih.

Standard
Archive, Journal, Resensi

Alanis; Dunia yang Bertahan dari Rumus Fiksi

Kesedihan bermigrasi dari satu peristiwa ke peristiwa lain melalui perantara kuasa negara, orang-orang hidup dalam dunia transaksional yang statis, cinta melabelkan diri pada penderitaan yang setara, kenyataan-kenyataan itu harus bertahan dari rumus fiksi yang moralis.

Demikian film Alanis menjelaskan struktur masyarakat yang direpresi dan bagaimana mereka bertahan menghadapinya.

Kebinalan Boenos Aires mulai digambarkan dari apartemen yang disewa seorang pelacur bernama Alanis. Di ruang kecil itu, ia tinggal bersama Dante – anaknya yang baru berumur delapan belas bulan, dan Gisela – kawannya. Keduanya bersilang peran untuk menjaga Dante dan bagi Dante, kedua perempuan itu adalah  orang tuanya.

Kekuasaan negara yang despotik diurai melalui penggeledahan oleh petugas di apartemen Alanis. Uang dan ponselnya disita sebagai barang bukti. Gisela dituduh sebagai muncikari dan harus ikut ke kantor polisi. Seorang interogator berkali-kali menawarkan agar Alanis mau direhabilitasi. Namun baginya, ajakan itu sama saja menyerah tanpa kepastian pada negara.

Pasca penggeledahan tersebut, Santiago – pemilik apartemen mengusir Alanis. Ia terpaksa tinggal sementara di ruko milik bibinya. Kehilangan tempat tinggal tetap membuatnya menolak direhabilitasi. Setidaknya, pilihan menumpang tanpa jaminan adalah kepastian baginya.

Setelah Alanis tinggal bersama bibinya dan Gisela masih ditahan di kantor polisi, ia terpaksa kembali menjalani aktivitas melacurnya. Karena ponselnya disita oleh petugas, ia kehilangan relasinya. Ia terpaksa mangkal di daerah yang dipenuhi pelacur imigran. Hukum rimba tentu saja membuatnya diusir oleh pelacur yang merasa tempat itu adalah daerah kekuasannya. Ia terpaksa harus sembunyi dari pengawasan pelacur lain untuk mendapatkan pelanggan.

Kompleksitas urban dalam diri Alanis seolah menjawab, mengapa sepanjang film tidak ada hotel berbintang, rumah mewah, pusat perbelanjaan, atau gedung bertingkat penuh pencahayaan yang tajam disorot. Alanis dibuat tidak memiliki privasi untuk pantas berada di tempat-tempat semacam itu atau kemapanan yang jauh dari dirinya menjauhkan pula semua kemewahan tersebut.

Aktivitas ruang Alanis sepanjang film tidak terlepas dari rumah bordil, apartemen sederhana, jalanan, kantor polisi, dan layanan aduan masyarakat. Bahasa yang digunakan Alanis dalam percakapan sehari-harinya juga sering kali adalah kalimat persuasif. Bagaimana ia mengajak pelanggannya, menghindari kejaran pelacur yang lain, menjawab interogasi petugas, meminta tempat tinggal, dan mencari pekerjaan. Kalimat semacam itu tidak terang kita dengar dari tokoh lain yang memiliki privasi.

Tata upaya yang digunakan Alanis dalam bertahan hidup dijelaskan Sigmund Freud sebagai represi – diartikan sebagai mekanisme pertahanan diri manusia yang paling dasar. Mekanisme ini berfungsi sebagai pertahanan diri ketika manusia menghadapi situasi traumatis. Alanis menghapus kekhawatirannya ketika kenyataan menolak harapan, sebelum hal tersebut mengganggu alam bawah sadarnya. Hasrat terbesar Alanis menghapus kekhawatirannya barang kali didorong oleh kesadaran atas hidupnya yang terasing, terbuang, dan tentu saja, Dante.

Apa yang dihadapi Alinas sepanjang film mungkin bisa kita temukan – dalam bentuk yang berbeda, pada laku umum masyarakat urban di Indonesia yang menghadapi tekanan bertumpuk. Tetapi bagaimana jika ternyata Alinas memilih direhabilitasi? Itu mungkin lebih berhasil lagi menjelaskan diri kita yang paling jujur – kisah-kisa semacam itu harusnya hanya bisa kita baca dalam karang fiksi.

Standard