Archive, Journal, Resensi

Alanis; Dunia yang Bertahan dari Rumus Fiksi

Kesedihan bermigrasi dari satu peristiwa ke peristiwa lain melalui perantara kuasa negara, orang-orang hidup dalam dunia transaksional yang statis, cinta melabelkan diri pada penderitaan yang setara, kenyataan-kenyataan itu harus bertahan dari rumus fiksi yang moralis.

Demikian film Alanis menjelaskan struktur masyarakat yang direpresi dan bagaimana mereka bertahan menghadapinya.

Kebinalan Boenos Aires mulai digambarkan dari apartemen yang disewa seorang pelacur bernama Alanis. Di ruang kecil itu, ia tinggal bersama Dante – anaknya yang baru berumur delapan belas bulan, dan Gisela – kawannya. Keduanya bersilang peran untuk menjaga Dante dan bagi Dante, kedua perempuan itu adalah  orang tuanya.

Kekuasaan negara yang despotik diurai melalui penggeledahan oleh petugas di apartemen Alanis. Uang dan ponselnya disita sebagai barang bukti. Gisela dituduh sebagai muncikari dan harus ikut ke kantor polisi. Seorang interogator berkali-kali menawarkan agar Alanis mau direhabilitasi. Namun baginya, ajakan itu sama saja menyerah tanpa kepastian pada negara.

Pasca penggeledahan tersebut, Santiago – pemilik apartemen mengusir Alanis. Ia terpaksa tinggal sementara di ruko milik bibinya. Kehilangan tempat tinggal tetap membuatnya menolak direhabilitasi. Setidaknya, pilihan menumpang tanpa jaminan adalah kepastian baginya.

Setelah Alanis tinggal bersama bibinya dan Gisela masih ditahan di kantor polisi, ia terpaksa kembali menjalani aktivitas melacurnya. Karena ponselnya disita oleh petugas, ia kehilangan relasinya. Ia terpaksa mangkal di daerah yang dipenuhi pelacur imigran. Hukum rimba tentu saja membuatnya diusir oleh pelacur yang merasa tempat itu adalah daerah kekuasannya. Ia terpaksa harus sembunyi dari pengawasan pelacur lain untuk mendapatkan pelanggan.

Kompleksitas urban dalam diri Alanis seolah menjawab, mengapa sepanjang film tidak ada hotel berbintang, rumah mewah, pusat perbelanjaan, atau gedung bertingkat penuh pencahayaan yang tajam disorot. Alanis dibuat tidak memiliki privasi untuk pantas berada di tempat-tempat semacam itu atau kemapanan yang jauh dari dirinya menjauhkan pula semua kemewahan tersebut.

Aktivitas ruang Alanis sepanjang film tidak terlepas dari rumah bordil, apartemen sederhana, jalanan, kantor polisi, dan layanan aduan masyarakat. Bahasa yang digunakan Alanis dalam percakapan sehari-harinya juga sering kali adalah kalimat persuasif. Bagaimana ia mengajak pelanggannya, menghindari kejaran pelacur yang lain, menjawab interogasi petugas, meminta tempat tinggal, dan mencari pekerjaan. Kalimat semacam itu tidak terang kita dengar dari tokoh lain yang memiliki privasi.

Tata upaya yang digunakan Alanis dalam bertahan hidup dijelaskan Sigmund Freud sebagai represi – diartikan sebagai mekanisme pertahanan diri manusia yang paling dasar. Mekanisme ini berfungsi sebagai pertahanan diri ketika manusia menghadapi situasi traumatis. Alanis menghapus kekhawatirannya ketika kenyataan menolak harapan, sebelum hal tersebut mengganggu alam bawah sadarnya. Hasrat terbesar Alanis menghapus kekhawatirannya barang kali didorong oleh kesadaran atas hidupnya yang terasing, terbuang, dan tentu saja, Dante.

Apa yang dihadapi Alinas sepanjang film mungkin bisa kita temukan – dalam bentuk yang berbeda, pada laku umum masyarakat urban di Indonesia yang menghadapi tekanan bertumpuk. Tetapi bagaimana jika ternyata Alinas memilih direhabilitasi? Itu mungkin lebih berhasil lagi menjelaskan diri kita yang paling jujur – kisah-kisa semacam itu harusnya hanya bisa kita baca dalam karang fiksi.

Standard
Archive, Journal, Resensi

Everybody Knows; Membawa Rahasia ke Tempat Terbuka

Apakah sebenarnya rahasia yang pedih kita pendam adalah kebohongan menyakitkan bagi orang lain?

Sekiranya ada jalan tebus menuju semesta konflik dalam film Everybody Knows, pertanyaan di atas barangkali menjadi rambu paling awal yang mengikat keseluruhan fragmen konflik dalam film ini. Terdiri dari lapisan cerita tentang sisa-sisa kejayaan masa lalu keluarga tuan tanah bernama Antonio, bagaimana masyarakat menghadapi keraguan pada institusi negara, dan perayaan atas kekalahan-kekalahan kecil mereka pada kecurigaan yang rapuh. Serumpun peristiwa itu diurai di kota kecil di pinggiran Madrid yang menjadi latar film.

Ana dan Joan mengumpulkan kembali keluarga Antonio melalui pesta pernikahan mereka. Mariana dan Rocio menyambut kepulangan saudaranya, Laura – yang kini tinggal bersama Alejandro, suaminya di Buenos Aires. Laura datang dengan kedua anaknya, gadis cantik bernama Irene yang usianya terpaut cukup jauh dengan adik lelakinya. Pelukan hangat Laura kepada ayahnya mengembalikan sekali lagi arti rumah bagi mantan tuan tanah yang kini renta dan temperamen itu. Kepulangan ini juga disambut oleh Paco – suami Bea, mantan kekasih Laura yang kini mengelola tanah perkebunan anggurnya.

Sekilas, apa yang dirasakan Laura di kota kelahirannya sering pula kita jumpai, bahkan mungkin menjadi laku kita dalam keseharian. Euforia pulang kampung setelah merantau cukup lama. Kejutan atas perubahan yang amat lambat pada tubuh kota. Orang-orang yang kita jumpai menjadi lebih tua dari bayangan semula. Sudut-sudut kota yang menyimpan kisah. Laura bernostalgia dengan masa lalunya.

Namun peristiwa tak terduga pada malam pernikahan Ana dan Joan menjadi mula perkara dalam film ini. Saat pesta sedang berlangsung, lampu seketika padam. Sesaat sebelumnya, Irene harus istirahat lebih dulu karena kepalanya sedikit pusing. Setelah lampu menyala kembali, Laura memeriksa keadaan kedua anaknya di kamar. Irene tidak ada di ranjang dan pintu kamar kecil terkunci. Dalam keadaan kalut, Laura memanggil Paco untuk mendobrak pintu. Mata Bea menangkap adegan itu sebagai kecemburuan yang halus dan penuh ambisi.

Di ranjang tempat Irene tidur sebelumnya, tergeletak potongan koran tentang penculikan anak yang baru-baru ini terjadi. Tidak berantara lama, ketika Laura masih sibuk mencari Irene di loteng, pesan singkat masuk ke ponselnya, Putrimu bersama kami. Jika lapor polisi kami akan membunuhnya. Ia segera memperlihatkan pesan itu kepada Paco. Kesimpulan mereka, Irene diculik!

Peristiwa penculikan itu menjadi sumbu yang membakar rahasia masing-masing tokoh. Rahasia yang enggan mereka bicarakan secara terbuka selama bertahun-tahun itu, kini tiba pada kulminasi yang menderetkan sejumlah dampak dan berujung pada sikap saling curiga satu sama lain.

Dalam film ini, apa yang disebut rahasia hanya sesuatu yang tidak mereka bicarakan langsung dengan objek tertuju. Tetapi di kamar tidur, dapur yang sepi, meja makan yang dingin, pojok bar yang hangat, pematang perkebunan anggur yang diterpa terik, atau sudut gereja yang tak terduga, rahasia lama ditukar dengan rahasia baru melalui interaksi yang intim oleh tokoh.

Antonio menyimpan rahasia atas kekecewaannya pada Paco yang membeli tanah dengan murah dari Laura ketika mereka pacaran. Ia berkali-kali menyinggung hal tersebut lantaran Paco dianggap memanfaatkan kedekatannya dengan Laura saat itu. Rocio menyimpan rahasia atas perpisahannya dengan Gabriel yang palsu. Paco diam-diam merahasiakan perasaannya pada Laura yang masih menyala walau redup dan mungkin hanya kilasan. Alejandro menyimpan rahasia dari keluarga Laura tentang kebangkrutannya selama dua tahun belakangan ini. Laura menyimpan rahasia dari Paco tentang status Irene. Selama ini Laura menganggap bahwa semua orang hanya tahu bahwa Irena adalah anak dari Alejandro.

Rahasia dan peristiwa penculikan itu rupanya dirasakan imbasnya oleh seluruh masyarakat di kota itu. Suatu siang, Antonio bertengkar di bar setelah memabuki kehilangan cucunya. Ia mengumpat, Kamu berutang padaku. Tanah ini milikku. Seluruh tanah ini milikku! Umpatan itu dibalas salah satu pengunjung bar, Seharusnya kamu tidak mempertaruhkan tanahmu di perjudian. Paco yang menenangkan Antonio juga tidak menjelaskan penyebab mabuk Antonio meski pemilik bar bertanya apa masalah yang menimpa mereka.

Setelah Alejandro menyusul Laura, mereka pergi bersama ke kantor polisi dengan niat awal melaporkan kehilangan anak mereka. Aku sangat takut jika sesuatu terjadi padanya, ucap Laura mengingat ancaman si penculik. Alejandro terpaksa mengurungkan niatnya untuk turun dari mobil.  

Ketika Bea pulang, para buruh pemetik anggur di perkebunan mereka  berkumpul di depan rumahnya. Mereka mendatangi Bea karena beredar isu bahwa Paco akan menjual tanahnya, Mereka dengar bahwa kau akan menjual perkebunan ini, siapa yang akan bayar upah kami? Tanya salah satu buruh dengan wajah bingung dan putus harap.

Suatu hari yang saling terpisah, Mariana mendapati Rocio pulang tengah malam dengan keadaan basah dan mencurigai keanehan adiknya tersebut. Bea mencurigai bahwa Paco masih mencintai Laura. Laura mencurigai Paco yang menculik Irene karena cinta mereka tidak suci sampai altar pernikahan. Setelah Paco tahu bahwa Alejandro menganggur selama dua tahun, ia curiga dalang penculikan Irene adalah ayahnya sendiri.

Deretan kejadian di atas tentu sering kita jumpai rupanya dalam kehidupan sehari-hari. Mereka hidup bukan hanya saling curiga, tetapi juga diikat oleh konsensus dan konflik. Penculik menekan keluarga Laura – karena mereka kira keluarga ini telah berhasil, padahal Alejandro menganggur selama dua tahun. Sementara Laura – yang sejak awal melibatkan Paco dengan kasus penculikan putrinya juga menekan suami Bea itu. Paco yang merasa dibutuhkan untuk menyelamatkan nyawa Irene kemudian menekan buruh pemetik anggur itu dengan niat untuk menjual tanahnya. Para buruh ini harus menekan apa selain menyerahkan nasibnya pada cara orang-orang di atas dalam menyelesaikan kasus penculikan Irene? Benar saja, sebab posisi tertentu di dalam masyarakat mendelegasikan kekuasaan dan otoritas terhadap posisi yang lain.

Apa yang terjadi pada masyarakat ini dijelaskan oleh Ralf Dahrendorf sebagai imperatively coordinated associations atau asosiasi yang dikoordinasikan secara paksa. Karena kepentingan pihak-pihak dalam asosiasi tersebut berbeda. Penculik itu berkepentingan mendapatkan keuntungan dari keluarga Laura yang mereka duga telah sukses di tanah rantau. Laura berkepentingan melibatkan Paco karena ia tidak memiliki uang untuk menebus penculik tersebut. Paco berkepentingan menjual tanahnya demi memenuhi permintaan penculik agar nyawa Irene selamat. Dan buruh pemetik anggur itu, hanya bisa bertanya, siapa yang akan bayar upah kami?

Nyaris seluruh tokoh dalam film ini terlibat dalam kekalahan-kekalahan kecil mereka. Kekalahan yang bersumber pada ketertutupan satu sama lain, asumsi berlebihan pada kenyataan yang mereka tidak tahu, dan rahasia yang mereka simpan hingga konflik semakin runyam. Namun konflik yang mendera para tokoh dalam film ini tentu bisa membawa perubahan sosial, jika mereka mengorganisir diri dan bersama-sama menyadari perannya sosialnya dalam masyarakat.

Tentu catatan ini hanya mengurai hal-hal sederhana dari keruwetan dalam semesta film Everybody Knows. Jadi, siapa yang menculik Irene? Silakan nonton filmnya!

Standard
Archive, Sajak

Malam dan Bulan Penuh dan Tiga Kabel atau Sebuah Gitar yang Ganjil

Kecurigaan yang tak terlatih akan melarung cinta di sungai seperti sebatang kayu dan padanya kita lihat nasib mengalir tak berdaya.

Sebuah lagu menghapus liriknya di antara kursi tua dan dermaga yang sama hampanya. Salah satu pada mereka bersedih dan menyamarkan air mata melalui tangkapan waktu yang sulit kita lepaskan.

Tetapi sungai pandai menertawakan kehilangan kita. Yang tak terucap tetap tancap terasa di dada. Yang tak terasa tetap lancar kita ucap. Siapa yang lebih sulit kita tipu, malam yang sendirian atau diri kita yang telah pada masing-masing?

Standard
Archive

Imagined Community

“Semua kerendahan dan kejahatan peradaban kita dapat diukur dengan sebuah aksioma bodoh, bahwa bangsa yang bahagia tidak punya sejarah.” ― Albert Camus

Inggris sebagai kerajaan dan Inggris sebagai pemerintahan berakar dari dua serpihan sejarah yang berbeda. Mengapa rakyat Inggris, sebagian besar, hingga saat ini masih menghormati kemonarkian Ratu Inggris?

Sebab imajinasi yang terbangun tentang Inggris lahir dari hukum sebab-akibat yang dalam dan panjang. “Tidak mungkin ada negara saat ini, jika keluarga raja di masa lalu, tidak pernah melakukan invasi.” Ini mutlak dan dapat dibuktikan, setidaknya, rakyat Inggris percaya pada sejarahnya.

Melalui jurnal perjalanan, karya sastra, dan folklor, kisah heroik nenek moyang mereka terus terpelihara. Ini yang kemudian membentuk pengakuan, jika tidak bisa disebut sebagai bentuk terima kasih, yang kemudian mengeras dalam benak masyarakat Inggris sebagai citraan masa lalu yang mereka agungkan.

Kerajaan dan imajinasi yang melekat padanya kemudian dijadikan simbol yang menyatukan rakyat. Negara jajahan atau yang pernah bersinggungan dengan Inggris, tetap akan melihat sejarah panjang bangsa ini — bahkan setelah mereka merdeka. Meskipun banyak yang berubah, termasuk bentuk pemerintahan yang kini diatur oleh seorang perdana menteri. Tapi yang menjadi panutan dan yang mengurus masalah kenegaraan secara menyeluruh, tetaplah The Queen.

***

James Richardson Logan, pada tahun 1850, menulis artikel dengan judul The Ethnology of the Indian Archipelago. Dalam tulisannya, ia menyebut “Mr Earl menyarankan istilah etnografi “Indunesian”, tetapi menolaknya dan mendukung “Malayunesian”. Saya lebih suka istilah geografis murni “Indonesia”, yang hanya sinonim yang lebih pendek untuk Pulau-pulau Hindia atau Kepulauan Hindia.”

Dari sanalah kemudian, nama Indonesia mulai dikenal dan digunakan para peneliti secara permanen untuk menyebut wilayah Kepulauan Hindia.

Sampai di sini, pertanyaan yang harus kita rumuskan jawabannya adalah, apa itu Indonesia? Apakah sebuah bangsa atau istilah ilmiah yang digunakan peneliti? Apapun jawaban yang kita pilih, tentu dibutuhkan sebuah penalaran yang dalam dan kuat.

Untuk menyebutnya sebagai bangsa, tentu tidaklah cukup. Mengingat pada lintasan abad dua belas hingga enam belas, ada istilah yang lebih akrab, setidaknya itu lahir dari salah satu cikal bakal negara ini kemudian, Nusantara. Penggunaan nama ini bisa kita temukan dalam literatur Jawa kuno yang digunakan untuk menggambarkan konsep kenegaraan yang digunakan Majapahit.

Lantas apa itu Indonesia? Sederhananya adalah kumpulan kerajaan yang sepakat untuk melebur dalam satu bangsa yang lebih besar. Bangsa yang dimaksud adalah sebuah gagasan yang mereka ciptakan. Sebuah imajinasi yang mewakili keadaan mereka.

Dalam sejarahnya, kerajaan-kerajaan ini yang kemudian menjadi penyumbang dana untuk digunakan oleh Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia.

Meskipun kerajaan-kerajaan ini kemudian tunduk pada aturan negara yang mereka ciptakan sendiri, tapi di setiap wilayah adatnya, kerajaan ini memiliki peranan penting. Simaklah bagaimana Kasunanan Surakarta memiliki Sunan atau dalam hal ini raja dan juga memiliki bupati. Atau intiplah bagaimana Daerah Istimewa Jogjakarta hingga saat ini masih memiliki raja yang diakui rakyatnya.

Sebagai negara, Indonesia kemudian memiliki sistem pemerintahan sendiri. Mulai kepala RT hingga presiden. Tapi pada satu sisi, kerajaan-kerajaan ini, yang lahir jauh sebelum Indonesia merdeka, tetap memelihara apa yang disebutnya sebagai bangsa, meskipun seiring waktu kian lemah atau mungkin memang dilemahkan.

***

Di Kabupaten Gowa, muncul Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Lembaga Adat Gowa, yang salah satu isinya menyebutkan bahwa, “Ketua adalah Bupati Gowa yang selanjutnya disebut Raja Gowa.”

Bagaimana mungkin seorang pengendara kuda, tanpa ilmu laut yang memadai, menjadi kapten kapal yang dituntut piawai oleh awaknya? Pertanyaan ini mungkin cukup mewakili kekisruhan tersebut. Jangan terlihat bodoh dengan memaksakan suatu kehendak yang keliru.

Meskipun Ranperda ini kemudian disahkan dan Adnan Purichta I.Y.L, sebagai bupati, resmi menjadi Raja Gowa. Dia tidak bisa melawan imajinasi kolektif rakyat. Seperti di Inggris, Kerajaan Gowa memiliki garis keturunan resmi sebagai raja dan sebagai keturunan bangsawan.

Tidak cukupkah jabatan bupati bagi Adnan? Ataukah ini merupakan upaya nama yang melekat padanya untuk melemahkan Gowa sebagia kerajaan, yang di masa lalu pernah berjaya?

Entahlah, barangkali saya yang keliru melihat niat baik kehadiran Ranperda ini. Apapun alasannnya, bupati dipilih oleh rakyat dan raja dipilih oleh sejarah. Semoga apa yang dikatakan Albert Camus dalam pembuka tulisan ini, tidak terjadi pada Kerajaan Gowa. Onjoki to Bajeng!

*Pernah tayang di Kolom Literasi Koran Tempo Makassar

Standard
Archive

Kepada Tuhan yang Mana Lagi

Adam – seorang pemuda dari kelompok Islam garis keras, bersama puluhan penduduk beragama nasrani terjebak di gereja saat perang itu menghancurkan Kota Yursala. Suara tembakan, bom meledak, dan teriakan orang-orang yang tidak bisa menyelamatkan diri terdengar sangat nyaring.

Suara ketakutan dari orang-orang di luar sana menggema hingga ke altar gereja. Mereka yang berhasil sembunyi di dalam gereja juga terlihat menyimpan kesedihan, ketakutan, juga kebencian. Perasaan itu bersatu dan melahirkan keputusasaan yang dalam.

Keadaan yang mencekam ini membuat Pastor Costana berlari ke atas mimbar gereja. Ia menyerukan kepada seluruh yang ada di ruangan ini untuk berdoa. Adam juga ikut berdoa. Berdoa dengan cara nasrani, bukan karena ia takut dikeluarkan dari gereja. Tapi Adam sadar bahwa perang ini tidak memandang agama apa. Maka ia berdoa kepada Tuhan di hadapan patung Yesus dan Bunda Maria agar perang sipil antar kelompok masyarakat dan pasukan pemberontak ini segera berakhir.

Setelah larut malam, samar-samar Adam melihat Ghandi, teman sekolahnya dulu yang beragama Hindu, Dr. Patra, seorang pengacara yang Atheis, dan Dini, penganut kepercayaan kuno di Kota Yursala. Mereka semua berkumpul di gereja yang sama. Berdoa agar perang ini segera usai.

***

Jangan cari kisah di atas. Karena tidak akan ditemukan di novel, cerpen, apa lagi dikehidupan nyata. Saya mengutipnya di sebuah diskusi kecil dengan seorang kawan. Kisah itu hanya bayangan kami berdua. Bayangan yang lahir dari keresahan usang.

Seperti biasa, menjelang natal, selalu saja muncul perdebatan usang. Di media sosial, di televisi, di warung kopi, di ruang kuliah, bahkan di atas ranjang. Perihal seorang muslim yang memberikan ucapan selamat natal kepada seorang kristiani.

Di Twitter, beberapa orang memenggal kalimat perkalimat dan mendadak menjadi juru kebenaran. Juru kebenaran yang menyerukan agar seorang muslim tak memberikan ucapan selamat natal.

Atau di Facebook, beberapa orang menyusun status yang panjang. Mengutip kiri dan kanan apapun yang bisa digunakan sebagai pembenaran agar tak seorangpun yang beragama islam berani mengucapkan selamat natal.

Tapi saya kurang yakin di antara mereka ada yang benar-benar kembali ke Alquran dan hadis. Mereka hanya berlindung di belakang dogma keyakinan yang sangat picik. Dogma yang seringkali mengurung kita pada perkara yang terlihat meyakinkan padahal sebenarnya itu sangat meragukan.

Yang paling mengerikan, beberapa hari yang lalu ada sekelompok mahasiswa yang mengaku beragama tapi  melakukan pemboikotan perayaan natal di fakultas sastra – ini terjadi di salah satu universitas negeri di Makasssar. Dengan keadaan dan tekanan yang tentu sulit diterima, kegiatan khidmat itu akhirnya dipindahkan keluar kampus.

Meskipun membahas tulisan seperti ini terlalu rentan dan bisa menjadi pemantik sebuah konflik. Tapi saya yakin, masih lebih banyak di antara kita yang beragama dan menjunjung keberagaman sebagai pilar utama kehidupan. Masih banyak di antara kita yang bisa menerima perbedaan. Bahkan Rasullullah SAW pernah mengatakan; Perbedaan adalah rahmat.

Saya lahir dan besar di pesantren tapi tidak sekalipun ada ajaran untuk bersikap intoleran terhadap agama lain. Apa lagi sampai menghalangi saudara kita untuk beribadah. Tuhan yang mana melarang agama lain untuk beribadah?

 Ini bukan perkara siapa yang benar dan siapa yang salah. Tapi perkara kita meletakkan Tuhan di mana saat melakukan pelarangan orang lain untuk beribadah. Apakah Tuhan kita masih hidup jika sebagai hamba menganggap Tuhannya yang paling benar?

Sikap-sikap arogan seperti itu hanya dimiliki oleh pecundang sosial. Pecundang yang memiliki pembenaran yang buta di dalam hatinya. Arogansi seperti itu lebih tepat disebut sebuah ego. Ego yang juga dimiliki oleh para iblis.

***

Terkikisnya kemampuan untuk hidup berdampingan dalam perbedaan adalah bukti jika kita adalah manusia biasa. Manusia biasa yang dengan mudah dicuri oleh pemahaman yang sangat jauh dari konsep kebudayaan kita.

Kita bisa belajar dari sepasang kekasih yang menjalani kisah cinta tapi dalam banyak hal mereka berbeda, tentu terasa hangat dan menggairahkan. Tak bermaksud berkhutbah, tapi hidup di tengah perbedaan dan bisa menerima itu sebagai keindahan tentu terasa menenangkan.

  Saya mengingat puisi Robert Fost – penyair asal Amerika Serikat, di hutan, kulihat dua cabang jalan terbentang. Kuambil yang jarang dilalui orang. Dan itulah yang membuat segala perbedaan.

Perbedaan itu memang tidak menciptakan dirinya sendiri atau diciptakan oleh manusia. Tapi ia selalu ada. Selelah apapun kita menghindarinya, ia hidup dalam bayang-bayang setiap benda bernyawa ataupun tidak.

Siapa yang tahu, Tuhan mungkin saja menciptakan banyak agama dan kepercayaan agar ia bisa disembah dengan banyak cara. Agar kita bisa hidup dalam banyak rasa. Selamat hari natal.

*Pernah dimuat di Kolom Literasi Tempo Makassar

Standard
Archive

Kota Puisi

Tereliminasi dari peradaban semacam hukuman bagi mereka yang tinggal di kota metropolitan. Kota dengan kumpulan orang yang lebih bahagia melupakan dari pada dilupakan. Lebih senang memiliki dari pada dimiliki. Lebih memilih dicintai dari pada mencintai. Sialnya, kita terjebak di kota semacam itu.

Merasa kalah saing dan terasing jika tidak memiliki telepon genggam yang cerdas, baju yang bermerek, potongan rambut terbaru, atau terlibat hura-hara yang banyak digemari oleh manusia lain. Padahal semua itu serupa puisi Sapardi Djoko Damono; yang fana adalah waktu, kita abadi.

Kita seperti berburu di hutan belantara. Memanah hewan apapun yang kita inginkan. Itulah kebuasan yang manusia miliki. Kebuasan tersembunyi yang lebih buas dari hewan yang terlihat paling buas. Sehingga kadang terlupakan, jika menyembunyikan sesuatu, kita sebenarnya sedang membiarkan seseorang menemukannya.

Di sekolah dan bangku perkuliahan kita hanya belajar untuk menyembunyikan kebuasan tersebut. Para guru mendidik kita cara untuk sabar dan patuh. Para dosen menuntut kita untuk pintar dan lebih bijak. Bukankah itu berangkat dari kesadaran bahwa manusia memang memiliki sifat kebinatangan. Sifat tersembunyi dalam diri setiap orang yang harus ditaklukkan.

***

Ruang karoke, diskotek, rumah ibadah, atau gelanggang tinju adalah beberapa tempat yang kadang dijadikan manusia sebagai hutan belantara. Hutan kebebasan untuk mengeluarkan kebuasan.

Benarkah tempat karoke adalah wahana hiburan? Bukankah itu lebih mirip penjara dalam bentuk yang lebih bebas. Manusia bisa berteriak sambil bernyanyi. Memilih lagu tentang kekesalan jiwanya atau emosi yang ia simpan menahun.

Cobalah perhatikan mereka yang memilih diskotek sebagai tempat meluapkan emosi. Musik keras hanya membantu kita untuk berhenti sejenak memikirkan masalah. Kerlip lampu yang tiada henti membius mata kita hanya ilusi yang menenangkan pikiran. Toh, setelah pulang dan berhadapan dengan tumpukan pekerjaan yang belum selesai, kita akan memikirkannya lagi.

Atau rumah ibadah yang kadang didatangi oleh manusia hanya untuk buang hajat, atau istirahat dari penatnya perjalanan. Bahkan dengan perasaan yang tidak tentu, kita kadang berdoa meminta agar Tuhan memudahkan semua hal yang susah.

Atau di gelanggang tinju dan riuhan seporter yang berteriak mendukung petinju andalan mereka. Benarkah mereka menikmati pertandingan itu? Atau hanya senang melampiaskan emosinya melihat sepasang manusia saling memukul satu sama lain. Mereka mungkin tersenyum dan penuh semangat bersorak. Tapi saya melihat mata mereka merah. Wajah murung durja dan tangan mereka terkepal seakan ingin ikut memukul.

Kita sepertinya kehabisan cara untuk menikmati hidup. Seakan kota ini telah berubah menjadi deretan kalimat tuntutan. Milikilah ini! Jadilah itu! Bencilah ini! Cintailah ini! Dan tanpa sadar, suatu saat kita mungkin akan mendengar kalimat tuntutan; Bunuhlah dia!

Betapa kota ini telah mengubah bayi-bayi tak berdosa menjadi manusia-manusia penuh derita. Kita hanya tidak begitu pandai menyadari bahwa memiliki telepon genggam cerdas adalah sebuah penderitaan, menggunakan pakaian mewah adalah penderitaan, juga menghadiri kegiatan hura-hara adalah penderitaan. Penderitaan yang tidak akan sanggup kita anggap penderitaan.

Ada benarnya yang Pramoedya Ananta Toer pernah katakan, “Kehidupan ini seimbang, Tuan. Barang siapa hanya memandang pada keceriaannya saja, dia orang gila. Barang siapa memandang pada penderitaannya saja, dia sakit.”

Parahnya, kita bukan tidak bisa menyeimbangkan kehidupan lagi, tapi kita tidak bisa melihat yang mana penderitaan dan yang mana keceriaan.

***

Saya membayangkan suatu kapan. Ketika semua hal sudah terlalu abstrak untuk dijalani. Ketika semua manusia mulai merasa payah dalam menentukan seperti apa hidup yang layak. Ketika kita sudah berani memilih nasib sendiri. Mulai belajar membenci dan berkata tidak pada apa yang lama kita yakini sebagai kebenaran. Kita akan keluar dari semua jerat itu dan membangun kota baru. Kota puisi.

Kota puisi adalah kota di mana setiap orang bebas menentukan nasibnya sendiri. Bisa menjadi apa yang ia inginkan tanpa harus takut tuduhan orang lain. Percayalah, tuduhan sosial kepada seseorang jauh lebih penjara dari pada jeruji besi yang mengurung kita bertahun-tahun.

Saya berharap suatu saat tidak ada lagi orang yang dianggap aneh karena memanjangkan rambut. Seseorang tidak dipandang sinis lagi ketika badannya dipenuhi rajah. Atau orang lain tidak lagi protes ketika ada yang berani menyebut kata hantu sama indahnya dengan menyebut kata Tuhan. Semoga!

*Pernah tayang di Kolom Literasi Tempo Makassar

Standard