Archive, Journal, Resensi

Panritasaga

Museum dan perpustakaan adalah simbol peradaban.

13 Maret 2016, setelah melalui tujuh jam perjalanan darat, saya bersama empat orang kawan dari Makassar tiba di Desa Pambusuang. Aroma laut menyatu dengan udara pukul delapan pagi yang sejuk di tanah Mandar.

Seorang lelaki dengan rambut yang dililit ke dalam topi menuruni tiga anak tangga dan menyambut kami; Muhammad Ridwan Alimuddin. Dialah penggagas Armada Pustaka, di desa yang terletak di Kecamatan Bala Nipa ini.

“Sejak tahun lalu, kami sudah mengoprasikan Perahu Pustaka, Becak Pustaka, Bendi Pustaka, dan Motor Pustaka. Nusa Pustaka – perpustakaan dan museum maritim,  hadir untuk melengkapi Armada Pustaka yang selama ini, secara aktif digunakan sebagai alat kampanye literasi di Sulawesi Barat.” Terangnya dengan ramah ketika menjelaskan kepada kami aktivitasnya belakangan ini.

Sebelum tiba, saya mencari beberapa pralana di internet tentang Nusa Pustaka, termasuk acara Perpustakaan Rakyat Sepekan III yang akan saya hadiri. Tidak banyak, tapi lumayan lengkap. Belakangan, melalui balasan surat elektronik, Ridwan membilangkan, “Hanya saja, di internet, ada beberapa pemberitaan “Armada Pustaka” yang berfantasi. Hahaha”

 Mulanya, saya merasa tempat ini tidak jauh berbeda dengan perpustakaan alternatif pada umumnya. Namun ketika berdiri di ambang pintu, memandang beberapa anak-anak sibuk membaca dan Sandeq – perahu tradisional Mandar, sepanjang tiga meter terpajang dengan ratusan buku di atasnya, saya nyaris tidak percaya. Bagaimana mungkin, perpustakaan menjadi tempat “bermain” anak-anak?

Dalam benak saya, bersit kecemburuan muncul pada gairah orang-orang di desa ini terhadap dunia literasi. Menyandingkan dengan Katakerja, tempat saya bekerja sebagai pustakawan di Makassar, hanya ada satu anak kecil yang rutin berkunjung, itupun adalah tetangga kami.

Salah satu yang menarik perhatian saya, di antara deretan buku di atas Sandeq itu, adalah Kalindaqdaq – puisi khas Mandar. Saya mengambil buku bersampul kuning dengan gambar seorang lelaki Paqkalindaqdaq itu, kemudian membuka halamanya secara acak.

Polei paqlolang posa

Pesiona balao

Soroqmo dolo

Andiang buku bau

Telah bertandang seekor kucing

Yang mengaku utusan tikus

Sudahlah, pulanglah

Di sini tidak ada tulang-tulang ikan

            Dinding yang dibuat dari Alisiq – anyaman bambu, membuat sirkulasi udara terus terjaga. Almanak dan beberapa foto kegiatan Armada Pustaka terpajang. Lantai dari bilahan bambu semakin menguatkan kesan lokalitas dari perpustakan ini.

            Ridwan menyajikan seteko kopi dan memanggil kami untuk istirahat sejenak. Tapi karena masih penasaran, saya melanjutkan ke bagian dalam Nusa Pustaka. Dua rak buku berwarna merah saling memunggungi atau sedang berpelukan. Berdempet rapat.

“Ada ribuan buku hasil sumbangannya teman-teman. Selain yang terpajang di sini, masih ada juga yang di Perahu Pustaka.” Tutur Ridwan ketika saya menanyakan jumlah bukunya.

            Saya mengamati judul-judul bukunya yang sangat beragam. Mulai dari sastra, sejarah, budaya, dan buku pelajaran.

“Apa yang terjadi bila setiap desa di Indonesia memiliki perpustakaan semacam ini?”

Lelaki berambut panjang itu hanya tersenyum mendengar lirih yang sengaja saya ucapakan sedikit keras itu. Dari caranya menjawab, saya coba menerka dua singgungan, yang pertama, apakah setiap desa memiliki orang yang tertarik menggeluti literasi? Kedua, sampai sejauh mana komitmen mereka bersetia pada dunia literasi yang sunyi ini?

            Tepat di atas rak buku tersebut, dengan penghubung lima anak tangga, ada ruangan lain yang lebih privat. Benar saja, itu adalah kantor Nusa Pustaka. Ketika menjulurkan kepala, saya melihat sebuah komputer dan beberapa kertas catatan terhambur di sekitarnya, “Barangkali bekas jurnalis Radar Sulbar yang produktif menulis tentang kemaritiman Mandar itu senang mengerjakan tulisannya di sana.” Gumam saya sambil meletakkan kembali buku Mandar Nol Kilometer.

            Setelah puas mengamati Nusa Pustaka, barulah saya mencecap kopi itu dan mengobrol bersama teman-teman lain. Tampak beberapa pustakawan, sedang mendata buku-buku. Sementara di halaman, beberapa anak kecil tadi kini sibuk bercengkrama dengan beberapa orang dewasa.

 “Hari ini rencananya mau dikasi’ pulang Perahu Pustaka, mauki ikut?” Ridwan menawari kami untuk menemaninya.

“di manaki perahunya itu, Kak? sambung Irmawati dengan lugas.

“Di Tanga-tanga, dekat pasar Tinambung. Kemarin ada Festival Sungai Mandar di sana, tapi sudah selesai. Jadi maumi dikasih pulang itu perahu.”

“Bagaimana yang lain? Kalau saya mauka ikut.”

            Selain Aan Manyur yang nampak masih lelah dan memilih beristirahat di Nusa Pustaka. Kami bertujuh sepakat untuk ikut berlayar, Randi Akbar, Hardiman, Maman Suherman, Irmawati, Ridwan bersama anak lelakinya, Nabigh Panritasaga, dan saya sendiri.

            Setelah bersiap-siap, di antar seorang pemuda menggunakan mobil, jadilah kami menuju desa Tanga-tanga, sekitar enam belas kilo meter dari Pambusuang.

***

Dia melempar anak lelakinya yang berusia enam tahun dari kapal. Melayang beberapa saat sebelum terhempas di lautan. Bantuan pelampung yang memeluk tubuhnya membuat anak itu terapung. Tapi itu tidak cukup untuk melawan ketakutannya. Di bawah matahari pukul tiga belas siang, ia menangis, sedu sekali.

            Sesaat sebelumnya, tiga awak perahu menepikan Baqog – perahu tradisional Mandar, dengan menarik penambatnya. Tulisan pada dinding luar kapal mulai luntur, tapi masih jelas terbaca, Perahu Pustaka Pattingaloang. Setelah cukup dekat, salah seorang awak perahu menurunkan tangga dan kami menaikinya. “Orang Mandar percaya bahwa tangga itu harus ganjil, sebab yang menggenapi adalah rezeki.” Tutur Ridwan menjelaskan mengapa tangga perahu itu jumlahnya lima. 

Sejak kami naik, perahu terus berbuncang. “Keras ombat kapiteng.”Teriak Randi.

Kurang lebih dua puluh batang bambu sisa Festival Sungai Mandar ditumpuk. Sementara dalam lambungnya, tersimpan sekitar empat ratusan buku. Melalui buritan perahu, Maman Suherman memilih masuk dalam lambung kapal untuk melihat tampakan di dalamnya. Saya memilih berdiri di dekat tiang perahu bersama Randi dan Irmawati. Tidak jauh dari tempat saya, Hardiman terlihat cemas memegang tali layar. Sementara Ridwan bersama anaknya berada di bagian belakang, berdiri dengan tenang.

Dua puluh meter perahu meninggalkan bibir pantai, mesin belum dinyalakan, dan keseimbangan perahu tetap tidak bisa dikendalikan. Para awak terlihat cukup tenang. Sebagai pelaut Mandar, mereka sepertinya telah terbiasa menghadapi keadaan ini. Wajah para awak yang setangguh karang membuat saya kurang merisaukan kebuncangan perahu.

            Beberapa detik setelah itu, ketika salah seorang awak perahu ingin naik, keseimbangan semakin sulit dikendalikan. Hingga akhirnya, perlahan tapi pasti,  Perahu Pustaka terbalik. Blurp!

Satu persatu dari kami menceburkan diri ke laut. Kecuali Hardiman dan Maman Suherman. Dia memeluk tiang dan baru ikut tercebur ketika penyangga layar itu menyentuh permukaan laut, sementara Maman terjebak di lambung perahu bersama buku-buku. Dengan bantuan dua orang awak, butuh beberapa menit untuk dirinya bisa keluar.

Beberapa warga yang melihat kejadian itu langsung berenang menuju perahu. Salah seorang di antaranya menarik Sandeq berukuran kecil untuk kami tumpangi ke daratan. Sementara itu, para awak dan beberapa pemuda, berusaha membalik Perahu Pustaka agar buku-buku yang sebagian masih tersimpan di lambung perahu, dapat segera diselamatkan.

Layar patah dan mesin perahu harus dikeringkan. Sambil menunggu pemuda yang mengantar kami tadi kembali, buku-buku dan gawai yang ikut tercebur kami jemur di halaman rumah warga.

***

Selain ucapan kekasih yang memberi harapan palsu, salah satu pembunuh paling akrab adalah media dengan segala kegegeran yang ditimbulkannya.

Kurang lebih satu jam setelah Perahu Pustaka terbalik, salah satu media daring langsung mengangkat beritanya, “Perahu yang ditumpangi Maman Suherman dan Aan Mansyur Terbalik di Perairan Majene.” Meskipun belakangan berita ini dihapus oleh adminnya, tapi itu sudah cukup merepotkan. Setidaknya bagi Aan sendiri, melalui panggilan telepon dan grup whatsaap, beberapa kawan di Makassar yang mendengar kabar ini langsung menghubunginya.

“Saya yang setengah mati tenggelam, Aan Mansyur-ji yang terkenal.” Canda Randi saat membaca berita itu, ketika kami tiba kembali di Pambusuang.

Setelah beristirahat dan melewatkan acara pembukan Perpustakaan Rakyat Sepekan III, menjelang Maghrib, saya meminjam gawai seorang kawan yang bekerja sebagai reporter Fajar, kemudian menjejaki “Perahu Pustaka Terbalik” melalui mesin penelusuran di internet.

Apa yang saya temukan membenarkan candaan Randi. Setidaknya membuat saya senyum-senyum geli. Semisal yang ditulis oleh Junaedi di regionalkompas.com dengan judul “Perahu Pustaka Terbalik, 11 Awak Selamat tetapi Ribuan Buku Terendam” dalam pemberitaannya, dia menuliskan, “Sebanyak 11 awak, termasuk seorang anak, selamat. Namun, ribuan buku, sejumlah laptop, dan handphone rusak setelah terendam air.”

            Data yang sebenarnya adalah, kami hanya bersepuluh, termasuk tiga awak perahu. Tidak ada leptop dan jumlah buku yang ikut tenggalam sekitar empat ratusan.

Efek yang ditimbulkan oleh berita ini hanya berkisar tentang taksiran jumlah kerugian secara materi. Namun bagaimana nasib anak-anak di pulau dan di kampung nelayan, yang karena kerusakan Perahu Pustaka, barangkali akan mengganggu jadwal mereka mendapat bahan bacaan?

Ini juga adalah kerugian lain, kerugian yang jauh lebih penting. Mengingat Sulawesi Barat, pada tahun 2012, melalui rilis yang dikeluarkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menempatkan provinsi termuda di Indonesia itu sebagai tiga daerah dengan jumlah buta aksara paling tinggi.

Sementara kanal berita gosulsel.com, dengan tagline, melihat lebih utuh, memuat tiga berita tentang terbaliknya Perahu Pustaka. Salah satunya adalah “Maman Suherman Selamat Setelah Perahu yang Ditumpangi Terbalik di Mandar.”

Dengan mengutip beberapa tweet kawan Maman yang sudah mendapat kabar dari Notulen Gondolo itu, terbitlah sebuah berita yang fantastis. Ini sangat mengharukan tentunya.

Ketika membaca beberapa berita – atau bisa juga disebut karangan bebas, itu di halaman rumah Ridwan, saya menyayangkan mengapa tidak ada media yang tertarik mengulas nasib para penunggu buku, yang selama ini biasa disambangi oleh Perahu Pustaka?

Padahal perahu itu sudah menebar semangat literasi di Pulau Battoa dan Pulau Tosalamaq yang terletak di Teluk Polewali. Tidak lupa juga menyinggahi beberapa kampung nelayan di pesisir Sulawesi Barat, mulai dari Gonda di Campalagiang hingga yang berada di kota Majene, seperi Pamboang, Sendana dan Malunda.

Berita semacam ini semakin mengaburkan apa yang seharusnya masyarakat kenal dari usaha Ridwan Alimuddin untuk menghidupkan budaya literasi di Sulawesi Barat. Itu juga tidak akan membantu mengurangi angka buta huruf, yang berdasarkan data Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Sulbar, mencapai 90,54 persen dari 1,5 juta penduduk Sulbar pada tahun 2014.  

Berita yang muncul akhirnya hanya mengedepankan pemuatan kegegeran konten tanpa punya kepentingan terhadap kebenaran dan bagaimana dampak yang ditimbulkan. Saya kembali mengingat balasan surat elektronik Ridwan, “Ada beberapa pemberitaan yang berfantasi.” Tapi kali ini, saya merasa bahwa semua berita tentang insiden terbaliknya Perahu Pustaka Pattingaloang lebih jelek dari fantasi yang buruk.

***

Sebagai penulis dan notulen di Indonesia Lawak Klub, Maman Suherman memang cukup dikenal oleh publik. Sementara Aan Mansyur sendiri, penyair yang puisi-puisinya akan kita temukan dalam film Ada Apa dengan Cinta 2 ini cukup digemari penikmat puisi di Indonesia.

            Media, dengan cara seperti ini, berhasil membuat kepopuleran dua tokoh itu mengaburkan makna penting dari perjuangan Ridwan menyabarkan semangat literasi. Pada akhirnya, yang masyarakat ketahui hanya percikan insiden yang juga tidak begitu mendalam.

Sementara Armada Pustaka masih harus berjuang untuk ikut membantu pemerintah memberantas buta aksara. Selain itu, yang menjadi tugas utamanya,  memudahkan anak-anak untuk mendapatkan bahan bacaan, bukan hanya di pulau dan pesisir, tapi juga yang berada di pegunungan.

“Gerakan kita langsung dengan beberapa armada yang saling melengkapi. Awalnya perahu saja, yang menjangkau jauh hingga ke pulau. Tapi itu menjadi “sia-sia” bila ternyata di lingkungan tempat saya tinggal tidak membaca buku. Nah saat proses finishing Perahu Pustaka, kita buat juga Bendi Pustaka, untuk kemudian Becak Pustaka. Sebab di sini juga banyak kampung di pegunungan, kita buat juga Motor Pustaka. Lalu akhirnya hadirlah Nusa Pustaka ini. Setidaknya itulah yang membedakan gerakan literasi kami dengan yang lain.” Demikian penjelasan Ridwan ketika saya menanyakan apa yang harus diketahui oleh orang tentang Armada Pustaka dan gerakan literasinya.

Aan Mansyur sendiri menganggap bahwa “Kalau katakerja – perpustakaan yang dikelola Aan di Makassar, itu untuk semakin mendekatkan orang-orang pada buku. Sementara apa yang dilakukan oleh Ridwan dengan Armada Pustaka untuk semakin memperkenalkan masyarakat pada buku. Kondisinya tentu berbeda.”

Maka yang menjadi perhatian penting dari Ridwan Alimuddin, selain menjaga ciri khas dalam mendorong anak-anak mencintai buku, turut membantu mengurangi angka buta huruf di daerahnya.

Jika di antara kita, ada yang memiliki bahan bacaan yang lebih, Armada Pustaka selalu terbuka untuk menerima pendonasian buku. Tentu, selain modal untuk melayarkan Perahu Pustaka.

***

Adzan maghrib berkumandang. Langit senja di Mandar mulai pudar. Selain warga yang berjalan menuju masjid di pertigaan jalan itu, nyaris tidak seorangpun yang berkeliaran. Desa ini menjadi lebih sunyi dari sebelumnya.

Salah satu hal yang jarang saya jumpai lagi di Makassar, antara Maghrib dan Isya, di masjid itu terdengar pengajian kitab kuning. Seorang ustadz menjadi pemandu yang menerangkan isi kitab dalam bahasa Mandar dan puluhan santri terlihat khidmat memahaminya. Assaduna.

Jeda waktu shalat ini, tidak ada aktivitas selain kegiatan keagamaan. Pambusuang seolah menjadi pesantren. Meskipun kita bisa melihat banyak rumah warga.

Memasuki pukul dua puluh, rangkaian acara Perpustakaan Rakyat Sepekan III dilanjutkan. Puluhan orang memenuhi Nusa Pustaka, termasuk beberapa santri yang tadi ikut pengajian di masjid. Kali ini giliran Aan Mansyur yang membawakan materi.

“Kalau kamu mau kaya, jangan jadi penulis. Kalau ada penulis yang terlihat kaya, Talatalekangji itu,” ucapnya dengan nada bercanda, “Persoalan penerbitan buku di Indonesia, itu telah menjadi industri yang dikuasai oleh segelintir orang. Lihatlah coba Gramedia. Penulis sendiri hanya menjadi bagian paling kecil dari industri itu.” Sambungnya menerangkan.

            Di hadapan pulahan anak muda, Aan bercerita tentang kiat menulis dan proses kreatifnya melalui beberapa kisah.

“Ibu saya tinggal di Balikpapan dan bekerja sebagai penjahit. Suatu waktu, saya bertanya, “Mengapa banyak kain yang dilebihkan, bukankah itu pemborosan?” Dan ibu saya menjawab, “Lebih mudah mengecilkan hal yang besar dari pada membesarkan hal kecil.” Dari cerita itu, kita bisa menemukan banyak sekali pelajaran tentang menulis. Misalnya saya, jika ingin menulis sesuatu yang panjangnya seribu kata, maka saya akan membuatnya menjadi tiga ribu kata dan menyuntingnya hingga seribu.”

Beberapa orang coba memahami penjelasan yang dituturkan Aan, lelaki berkacamata yang belum menikah di usia tiga puluh lima tahun itu kemudian melanjutkan.

“Saya juga senang dengan  kisah Gandhi, suatu waktu, seorang ibu dan anak datang menemuinya, “Putra saya ini tidak mau mendengar saya. Namun entah mengapa dia selalu mau mendengar nasehatmu. Saat ini dia terlalu banyak makan gula. Saya khawatir, giginya akan rusak dan gula sangat berbahaya bagi kesehatannya.” Mendengar itu, Gandhi menyanggupi dan memintanya kembali dua minggu kemudian. Ibu dan anak itu kembali pada waktu yang telah dijanjikan. “Nak, dengarlah yang ibumu katakan, terlalu banyak makan gula itu tidak baik.” Ibu itu heran, “Kalau sekadar mengucapkan itu, mengapa harus menunggu dua minggu?” tanyanya, “Karena saya harus latihan berhenti memakan gula.”

Aan menutup materinya dengan membacakan puisi Tidak Ada New York Hari Ini, salah satu yang termuat dalam buku puisi terbarunya yang terbit April ini.

Resah di dadamu, dan rahasia yang menanti di jantung puisi ini.

Dipisah kata-kata. Begitu pula rindu.

Lihat tanda tanya itu.

Jurang antara kebodohan dan keinginanku.

Memilikimu sekali lagi.

***

Di halaman Nusa Pusataka, untuk hari ini, kegiatan Perpustakaan Rakyat Sepekan III sudah selesai. Bersama pustakawan, kami duduk melingkar dan bercerita kembali tentang pengalaman siang tadi. Maman memperlihatkan luka di kakinya yang tergores karang, Randi yang juga kakinya terluka menimpali.

“Perawatnya tadi, seharusnya lebih lama lagi na-obati kakiku.” Kami tertawa dan paham betul kegenitan itu.

Pukul dua puluh tiga, rombongan kami pamit untuk pulang ke Makassar.

“April atau selambatnya Mei, Perahu Pustaka berlayar ke Kepuluan Supermonde sampai ke Makassar.” Melihat kami berjalan ke mobil, Ridwan mengucapkan sampai jumpanya itu.

Jalan begitu lengang, hanya satu dua kendaraan melintas. Efek Rumah Kaca mengalun. Menemani kepulangan kami.

Standard
Archive, Journal, Resensi

Alanis; Dunia yang Bertahan dari Rumus Fiksi

Kesedihan bermigrasi dari satu peristiwa ke peristiwa lain melalui perantara kuasa negara, orang-orang hidup dalam dunia transaksional yang statis, cinta melabelkan diri pada penderitaan yang setara, kenyataan-kenyataan itu harus bertahan dari rumus fiksi yang moralis.

Demikian film Alanis menjelaskan struktur masyarakat yang direpresi dan bagaimana mereka bertahan menghadapinya.

Kebinalan Boenos Aires mulai digambarkan dari apartemen yang disewa seorang pelacur bernama Alanis. Di ruang kecil itu, ia tinggal bersama Dante – anaknya yang baru berumur delapan belas bulan, dan Gisela – kawannya. Keduanya bersilang peran untuk menjaga Dante dan bagi Dante, kedua perempuan itu adalah  orang tuanya.

Kekuasaan negara yang despotik diurai melalui penggeledahan oleh petugas di apartemen Alanis. Uang dan ponselnya disita sebagai barang bukti. Gisela dituduh sebagai muncikari dan harus ikut ke kantor polisi. Seorang interogator berkali-kali menawarkan agar Alanis mau direhabilitasi. Namun baginya, ajakan itu sama saja menyerah tanpa kepastian pada negara.

Pasca penggeledahan tersebut, Santiago – pemilik apartemen mengusir Alanis. Ia terpaksa tinggal sementara di ruko milik bibinya. Kehilangan tempat tinggal tetap membuatnya menolak direhabilitasi. Setidaknya, pilihan menumpang tanpa jaminan adalah kepastian baginya.

Setelah Alanis tinggal bersama bibinya dan Gisela masih ditahan di kantor polisi, ia terpaksa kembali menjalani aktivitas melacurnya. Karena ponselnya disita oleh petugas, ia kehilangan relasinya. Ia terpaksa mangkal di daerah yang dipenuhi pelacur imigran. Hukum rimba tentu saja membuatnya diusir oleh pelacur yang merasa tempat itu adalah daerah kekuasannya. Ia terpaksa harus sembunyi dari pengawasan pelacur lain untuk mendapatkan pelanggan.

Kompleksitas urban dalam diri Alanis seolah menjawab, mengapa sepanjang film tidak ada hotel berbintang, rumah mewah, pusat perbelanjaan, atau gedung bertingkat penuh pencahayaan yang tajam disorot. Alanis dibuat tidak memiliki privasi untuk pantas berada di tempat-tempat semacam itu atau kemapanan yang jauh dari dirinya menjauhkan pula semua kemewahan tersebut.

Aktivitas ruang Alanis sepanjang film tidak terlepas dari rumah bordil, apartemen sederhana, jalanan, kantor polisi, dan layanan aduan masyarakat. Bahasa yang digunakan Alanis dalam percakapan sehari-harinya juga sering kali adalah kalimat persuasif. Bagaimana ia mengajak pelanggannya, menghindari kejaran pelacur yang lain, menjawab interogasi petugas, meminta tempat tinggal, dan mencari pekerjaan. Kalimat semacam itu tidak terang kita dengar dari tokoh lain yang memiliki privasi.

Tata upaya yang digunakan Alanis dalam bertahan hidup dijelaskan Sigmund Freud sebagai represi – diartikan sebagai mekanisme pertahanan diri manusia yang paling dasar. Mekanisme ini berfungsi sebagai pertahanan diri ketika manusia menghadapi situasi traumatis. Alanis menghapus kekhawatirannya ketika kenyataan menolak harapan, sebelum hal tersebut mengganggu alam bawah sadarnya. Hasrat terbesar Alanis menghapus kekhawatirannya barang kali didorong oleh kesadaran atas hidupnya yang terasing, terbuang, dan tentu saja, Dante.

Apa yang dihadapi Alinas sepanjang film mungkin bisa kita temukan – dalam bentuk yang berbeda, pada laku umum masyarakat urban di Indonesia yang menghadapi tekanan bertumpuk. Tetapi bagaimana jika ternyata Alinas memilih direhabilitasi? Itu mungkin lebih berhasil lagi menjelaskan diri kita yang paling jujur – kisah-kisa semacam itu harusnya hanya bisa kita baca dalam karang fiksi.

Standard
Archive, Journal, Resensi

Everybody Knows; Membawa Rahasia ke Tempat Terbuka

Apakah sebenarnya rahasia yang pedih kita pendam adalah kebohongan menyakitkan bagi orang lain?

Sekiranya ada jalan tebus menuju semesta konflik dalam film Everybody Knows, pertanyaan di atas barangkali menjadi rambu paling awal yang mengikat keseluruhan fragmen konflik dalam film ini. Terdiri dari lapisan cerita tentang sisa-sisa kejayaan masa lalu keluarga tuan tanah bernama Antonio, bagaimana masyarakat menghadapi keraguan pada institusi negara, dan perayaan atas kekalahan-kekalahan kecil mereka pada kecurigaan yang rapuh. Serumpun peristiwa itu diurai di kota kecil di pinggiran Madrid yang menjadi latar film.

Ana dan Joan mengumpulkan kembali keluarga Antonio melalui pesta pernikahan mereka. Mariana dan Rocio menyambut kepulangan saudaranya, Laura – yang kini tinggal bersama Alejandro, suaminya di Buenos Aires. Laura datang dengan kedua anaknya, gadis cantik bernama Irene yang usianya terpaut cukup jauh dengan adik lelakinya. Pelukan hangat Laura kepada ayahnya mengembalikan sekali lagi arti rumah bagi mantan tuan tanah yang kini renta dan temperamen itu. Kepulangan ini juga disambut oleh Paco – suami Bea, mantan kekasih Laura yang kini mengelola tanah perkebunan anggurnya.

Sekilas, apa yang dirasakan Laura di kota kelahirannya sering pula kita jumpai, bahkan mungkin menjadi laku kita dalam keseharian. Euforia pulang kampung setelah merantau cukup lama. Kejutan atas perubahan yang amat lambat pada tubuh kota. Orang-orang yang kita jumpai menjadi lebih tua dari bayangan semula. Sudut-sudut kota yang menyimpan kisah. Laura bernostalgia dengan masa lalunya.

Namun peristiwa tak terduga pada malam pernikahan Ana dan Joan menjadi mula perkara dalam film ini. Saat pesta sedang berlangsung, lampu seketika padam. Sesaat sebelumnya, Irene harus istirahat lebih dulu karena kepalanya sedikit pusing. Setelah lampu menyala kembali, Laura memeriksa keadaan kedua anaknya di kamar. Irene tidak ada di ranjang dan pintu kamar kecil terkunci. Dalam keadaan kalut, Laura memanggil Paco untuk mendobrak pintu. Mata Bea menangkap adegan itu sebagai kecemburuan yang halus dan penuh ambisi.

Di ranjang tempat Irene tidur sebelumnya, tergeletak potongan koran tentang penculikan anak yang baru-baru ini terjadi. Tidak berantara lama, ketika Laura masih sibuk mencari Irene di loteng, pesan singkat masuk ke ponselnya, Putrimu bersama kami. Jika lapor polisi kami akan membunuhnya. Ia segera memperlihatkan pesan itu kepada Paco. Kesimpulan mereka, Irene diculik!

Peristiwa penculikan itu menjadi sumbu yang membakar rahasia masing-masing tokoh. Rahasia yang enggan mereka bicarakan secara terbuka selama bertahun-tahun itu, kini tiba pada kulminasi yang menderetkan sejumlah dampak dan berujung pada sikap saling curiga satu sama lain.

Dalam film ini, apa yang disebut rahasia hanya sesuatu yang tidak mereka bicarakan langsung dengan objek tertuju. Tetapi di kamar tidur, dapur yang sepi, meja makan yang dingin, pojok bar yang hangat, pematang perkebunan anggur yang diterpa terik, atau sudut gereja yang tak terduga, rahasia lama ditukar dengan rahasia baru melalui interaksi yang intim oleh tokoh.

Antonio menyimpan rahasia atas kekecewaannya pada Paco yang membeli tanah dengan murah dari Laura ketika mereka pacaran. Ia berkali-kali menyinggung hal tersebut lantaran Paco dianggap memanfaatkan kedekatannya dengan Laura saat itu. Rocio menyimpan rahasia atas perpisahannya dengan Gabriel yang palsu. Paco diam-diam merahasiakan perasaannya pada Laura yang masih menyala walau redup dan mungkin hanya kilasan. Alejandro menyimpan rahasia dari keluarga Laura tentang kebangkrutannya selama dua tahun belakangan ini. Laura menyimpan rahasia dari Paco tentang status Irene. Selama ini Laura menganggap bahwa semua orang hanya tahu bahwa Irena adalah anak dari Alejandro.

Rahasia dan peristiwa penculikan itu rupanya dirasakan imbasnya oleh seluruh masyarakat di kota itu. Suatu siang, Antonio bertengkar di bar setelah memabuki kehilangan cucunya. Ia mengumpat, Kamu berutang padaku. Tanah ini milikku. Seluruh tanah ini milikku! Umpatan itu dibalas salah satu pengunjung bar, Seharusnya kamu tidak mempertaruhkan tanahmu di perjudian. Paco yang menenangkan Antonio juga tidak menjelaskan penyebab mabuk Antonio meski pemilik bar bertanya apa masalah yang menimpa mereka.

Setelah Alejandro menyusul Laura, mereka pergi bersama ke kantor polisi dengan niat awal melaporkan kehilangan anak mereka. Aku sangat takut jika sesuatu terjadi padanya, ucap Laura mengingat ancaman si penculik. Alejandro terpaksa mengurungkan niatnya untuk turun dari mobil.  

Ketika Bea pulang, para buruh pemetik anggur di perkebunan mereka  berkumpul di depan rumahnya. Mereka mendatangi Bea karena beredar isu bahwa Paco akan menjual tanahnya, Mereka dengar bahwa kau akan menjual perkebunan ini, siapa yang akan bayar upah kami? Tanya salah satu buruh dengan wajah bingung dan putus harap.

Suatu hari yang saling terpisah, Mariana mendapati Rocio pulang tengah malam dengan keadaan basah dan mencurigai keanehan adiknya tersebut. Bea mencurigai bahwa Paco masih mencintai Laura. Laura mencurigai Paco yang menculik Irene karena cinta mereka tidak suci sampai altar pernikahan. Setelah Paco tahu bahwa Alejandro menganggur selama dua tahun, ia curiga dalang penculikan Irene adalah ayahnya sendiri.

Deretan kejadian di atas tentu sering kita jumpai rupanya dalam kehidupan sehari-hari. Mereka hidup bukan hanya saling curiga, tetapi juga diikat oleh konsensus dan konflik. Penculik menekan keluarga Laura – karena mereka kira keluarga ini telah berhasil, padahal Alejandro menganggur selama dua tahun. Sementara Laura – yang sejak awal melibatkan Paco dengan kasus penculikan putrinya juga menekan suami Bea itu. Paco yang merasa dibutuhkan untuk menyelamatkan nyawa Irene kemudian menekan buruh pemetik anggur itu dengan niat untuk menjual tanahnya. Para buruh ini harus menekan apa selain menyerahkan nasibnya pada cara orang-orang di atas dalam menyelesaikan kasus penculikan Irene? Benar saja, sebab posisi tertentu di dalam masyarakat mendelegasikan kekuasaan dan otoritas terhadap posisi yang lain.

Apa yang terjadi pada masyarakat ini dijelaskan oleh Ralf Dahrendorf sebagai imperatively coordinated associations atau asosiasi yang dikoordinasikan secara paksa. Karena kepentingan pihak-pihak dalam asosiasi tersebut berbeda. Penculik itu berkepentingan mendapatkan keuntungan dari keluarga Laura yang mereka duga telah sukses di tanah rantau. Laura berkepentingan melibatkan Paco karena ia tidak memiliki uang untuk menebus penculik tersebut. Paco berkepentingan menjual tanahnya demi memenuhi permintaan penculik agar nyawa Irene selamat. Dan buruh pemetik anggur itu, hanya bisa bertanya, siapa yang akan bayar upah kami?

Nyaris seluruh tokoh dalam film ini terlibat dalam kekalahan-kekalahan kecil mereka. Kekalahan yang bersumber pada ketertutupan satu sama lain, asumsi berlebihan pada kenyataan yang mereka tidak tahu, dan rahasia yang mereka simpan hingga konflik semakin runyam. Namun konflik yang mendera para tokoh dalam film ini tentu bisa membawa perubahan sosial, jika mereka mengorganisir diri dan bersama-sama menyadari perannya sosialnya dalam masyarakat.

Tentu catatan ini hanya mengurai hal-hal sederhana dari keruwetan dalam semesta film Everybody Knows. Jadi, siapa yang menculik Irene? Silakan nonton filmnya!

Standard