Archive, Sajak

Malam dan Bulan Penuh dan Tiga Kabel atau Sebuah Gitar yang Ganjil

Kecurigaan yang tak terlatih akan melarung cinta di sungai seperti sebatang kayu dan padanya kita lihat nasib mengalir tak berdaya.

Sebuah lagu menghapus liriknya di antara kursi tua dan dermaga yang sama hampanya. Salah satu pada mereka bersedih dan menyamarkan air mata melalui tangkapan waktu yang sulit kita lepaskan.

Tetapi sungai pandai menertawakan kehilangan kita. Yang tak terucap tetap tancap terasa di dada. Yang tak terasa tetap lancar kita ucap. Siapa yang lebih sulit kita tipu, malam yang sendirian atau diri kita yang telah pada masing-masing?

Standard
Sajak

3 Sajak; Disadur dari Struktur Cinta yang Pudar

Identitas Kesepian

Setiap orang memiliki perang yang tak pernah mereka menangkan. Obsesi pada kesendirian terjungkal seimbang. Hari-hari muda penuh label merekayasa struktur waktu. Masa depan menghapus rahasia dan yang autentik dari diri tak pernah ada.

Setiap orang memesan citra diri tiap pekan di penjahit langganan. Usaha memenuhi lemari dengan koleksi kemeja tak pernah berhasil. Sebagai zirah, kemeja ini cukup tebal, tetapi begitu tipis untuk tidur di bawah naungan benda-benda dan pelukan tepuk tangan.

Setiap orang mematahkan hatinya sendiri. Meyakini kebahagiaan adalah pencarian yang tersembunyi pada babak akhir. Ia membenci masa lalu tetapi menceritakannya sebagai perayaan terbaik.

Setiap orang tertipu oleh kesetiaan yang diciptakan untuk menipu diri sendiri. Begitu banyak yang tenggelam di permukaan. Sementara inti kehidupan yang tersisa hanya kedangkalan-kedangkalan yang digandakan rahasia.

I – Bacakan Aku Sajak ini

Jika aku belum sanggup mencintaimu kembali, jangan meminta penjelasan pada sajak yang kutulis. Selalu ada tangan yang sanggup menghapus kata-kata sebelum menjadi peluru dalam pikiranmu.

Barangkali kau tak pernah mengingat bagaimana aku menunda semua kesimpulan. Berharap resah dalam kepalaku hanya roman yang bisa dibaca dalam karangan atau sesuatu yang tak sengaja berubah menjadi fiksi.

Kau tak perlu berkenalan pada penyesalan karena mengulang kesalahan pada orang yang sama. Barangkali aku yang memberi kesempatan diriku terluka berkali-kali.

Aku ingin berubah menjadi senjata dan kenangan buruk adalah gagangnya. Kelak aku sanggup membidik diriku di masa lalu, jika kau mendengar ledaknya, adakah bait yang kau siapkan untuk menutup sajak ini?

II – Sebelum Kau Pergi Bersamanya

Jika aku terus berjalan pada malam hari dan mengabaikan semua rambu, jangan mengusap punggungku dengan ajaran-ajaran ketegaran. Biarkan aku berpura-pura mampu menanggung semua kelemahan yang tersisa atau semua yang tersisa adalah kelemahanku.

Aku tak ingin kau mencari luka yang kubiarkan betah di punggungku, mencari semai luka yang tak ingin kusembuhkan. Biarkan aku mengingat cinta sebagai silogisme dari kesepian yang kau serahkan kepada orang yang masih mencintaimu.

Kau tak perlu merasa bersalah karena aku belum tentu benar dalam segala. Biarkan malam menyamarkan penjelasan-penjelasan yang tak perlu lagi kita karang.

Aku ingin mengubah punggungku menjadi taman. Kelak akan tumbuh mawar pada bekas lukanya. Datanglah. Kau boleh memetik putik terbaik. Sebab durinya yang pendendam akan mencintaimu dan cintamu kubiarkan menyakitiku sekali lagi.

Standard