Uncategorized

Bersama Joko Pinurbo

Mei 2016, jarum pendek menunjuk angka sepuluh. Kala itu Makassar sedang berada di 36o C ketika penyair yang akrab dengan kata celana dan sarung itu menikmati pagi di beranda hotel. Sebatang rokok setia terapit di jemari dan tangan kanannya bermalasan di lengan kursi. Hirup-hembus-hirup-hembus. Asyik sekali.

“Selamat pagi, Mas Jokpin.” Dia tersenyum. Ajakan berbincang yang disarankan Shinta Febriany disanggupi. Jadilah kami (Chalvin James Papilaya, Cicilia Oday, Irma Agryanti, Wahid Afandi, dan saya sendiri) menuju satu ruang di mana dunia ini terlihat sangat berbeda. Ruang merokok. Ditemani kurator cantik itu, Jokpin berjalan di depan sambil sesekali mengisap rokoknya.

Same Hotel meletakkan ruang merokok di lantai dua. Kami menaiki tangga sambil mengupas lelah. Dalam benak kami, percakapan ini adalah ruang belajar yang jarang dan penting. Apa yang akan dicakapkan?

Penyair kelahiran 1962 itu memilih duduk di pojok. Lima anak muda yang tahun ini terpilih sebagai Emerging Writers MIWF 2016 santun di depannya. Mirip ruang kuliah tapi dalam versi yang lebih santai dan terbuka.

“Sastra kita mulai bergeser ke timur. Kalau sebelumnya dikuasai Sumatra dan Jawa, kini orang-orang mulai tertarik membaca karya-karya dari sini.” Jokpin membuka perbincangan dan menjelaskan pandangannya terhadap keadaan geografis kesusastraan Indonesia saat ini.

“Coba kita perhatikan Mario (F Lawi), karya-karyanya memenuhi halaman sastra hari ini dan Aan (Mansyur) memecahkan rekor penjualan buku puisi.” Pembuka Jokpin mengajak kami untuk masuk ke dalam dunia yang lebih rumit. “Kalian harus menulis sebanyak mungkin dan memanfaatkan bergesernya pusat sastra agar gagasan kalian dapat dibaca banyak orang.” Sebenarnya, pesan ini berlaku bagi siapapun yang ingin menulis.

“Semalam, waktu kalian membaca karya, saya perhatikan kok.” Sambungnya dengan anggukan yang tidak saya pahami. Dia menyebut satu demi satu nama kami dan membahas karya yang didengarnya itu. Tatapan Chalvin dalam, Irma kokoh mendengarkan, Cicilia terlihat tidak ingin kehilangan satu kata pun, Wahid mencerna pesan-pesan untuknya, dan saya sendiri, memperhatikan ekspresi mereka dengan serius.

“Karya kalian, secara teknik, sudah bagus. Tinggal menemukan frame dalam karyamu. Semisal kalau saya baca kumpulan puisi orang lain, saya akan cari tahu frame-nya itu bicara tentang apa. Nah di karya kalian, hal itu belum terasa. Ada. Tapi belum kuat.”

Saya melirik asbak yang tergeletak di depan Jokpin. Sudah empat batang. Membandingkannya dengan asbak yang di depan saya, masih dua batang. “Pakaluru tattara.” Gumam saya dalam hati.

Tidak terasa setengah jam berlalu. Kini Jokpin berbicara soal proses kreatif. “Ibe, ingat waktu kita ngobrol di pojok itu?” Tanya Jokpin dan saya mengangguk sebagai jawaban iya. “Sadar tidak, rokok dan korek kamu ketinggalan.” Kami tertawa. “Nah, tertinggalnya rokokmu itu bisa jadi ide tulisan. Apa lagi pas saya buka, isinya sudah kosong.”

Jokpin membakar rokoknya yang ke lima dan lanjut menjelaskan. “Kamu tinggal ganti pembungkus rokok dengan apa. Kembangkan ceritanya, buat pembaca penasaran dan tertarik untuk tahu apa isinya. Tapi kalau ternyata kosong, mereka mungkin akan ketawa, kecewa, atau malah, tersinggung. Itu bergantung cerita apa yang kamu kembangkan.”

Penyair yang juga senang membaca puisi Remy Silado itu memberikan kami contoh bagaimana, di sekitar kita, ada banyak ide, peristiwa, dan gagasan yang dapat dikembangkan ke dalam puisi. “Tugas seorang penulis adalah memperhatikan sekitarnya.” Sambungnya dengan tekanan nada yang meminta diingat.

Saya sebenarnya mendapat tugas untuk mewawancarai Jokpin. Wawancara? Yang muncul dalam benak saya adalah, menyiapkan draft pertanyaan, kertas, dan pulpen. Tapi melihat Jokpin yang asyik diajak berbicara panjang lebar, muncul pertanyaan lain. Apa ia perbincangan kami yang asyik ini kemudian dibatasi oleh draft pertanyaan?

Jadilah selama kurang lebih dua jam, kami menikmati lintasan pikiran – bertukarnya gagasan, ide, dan semangat untuk terus menulis. “Saya tunggu karya-karya kalian.” Tutup Jokpin yang disambung senyum simpul Shinta Febriany.

31 Mei 2016 di revi.us

Standard
Uncategorized

Tiga Puisi Paling Berpengaruh dalam Hidup Saya

Jika kau bertanya apa arti puisi, maka saya akan menjawab seadanya. Seperti kau menjawab pertanyaan, bagaimana perasaanmu ketika melihat orang yang kau cintai telah mencintai orang lain sebagaimana dia dulu mencintaimu? Huft!

Apa pun jawabanmu, itulah puisi bagi saya. Sederhana? Tentu. Cukup masa lalu saja yang rumit. Lah, apa hubungannya dengan puisi? Terserah, kan saya yang menulis.

Kembali pada pembahasan semula. Puisi adalah ruang sunyi tempat menyimpan makna. Tapi orang lain dibebaskan melihatnya dari sudut berbeda. Sudut yang mungkin berlainan dari makna semula. Bahkan, orang lain dengan bebas menarik keramaian dalam ruang sunyi itu.

Saya bukan pembaca yang tekun. Saya lebih senang membaca wajah kekasih saya – tunggu dulu, kekasih? Memang kamu punya? Punya dong. Memangnya saya Arkil. Tulisan ini hanya upaya untuk mengingat pengalaman yang saya temukan dari beberapa puisi.

Berikut 3 puisi yang paling berpengaruh dalam hidup saya;

“The Road Not Taken” – Robert Frost

Two roads diverged in a yellow wood,

And sorry I could not travel both

And be one traveler, long I stood

And looked down one as far as I could

To where it bent in the undergrowth;

Then took the other, as just as fair,

And having perhaps the better claim,

Because it was grassy and wanted wear;

Though as for that the passing there

Had worn them really about the same,

And both that morning equally lay

In leaves no step had trodden black.

Oh, I kept the first for another day!

Yet knowing how way leads on to way

I doubted if I should ever come back.

I shall be telling this with a sigh

Somewhere ages and ages hence:

Two roads diverged in a wood, and I,

I took the one less traveled by,

And that has made all the difference.

Pertama kali membaca puisi ini, saya merasa menemukan peta. Peta kata-kata. Puisi ini seperti setan cantik yang dengan lembut masuk melalui celah kecil di kulit dan menembus tengkorak kepala saya. Pengalaman yang membawa saya pada satu titik kehijrahan. Dan itu mengubah cara saya memandang kehidupan yang cetar membahana dan lebay ini.

Larik Oh, I kept the first for another day!/Yet knowing how way leads on to way/I doubted if I should ever come back bahkan mampu menjadi kawan yang setia memberi nasihat.

Puisi ini seperti bibir ayah saya yang pernah berpesan, “Meskipun orang menganggap jalan yang kamu pilih salah, teruslah menempuhnya. Kamu tahu karena melalui, dan kamu tahu karena melihat adalah dua hal yang berbeda. Dan hanya satu yang menuntunmu lebih tegar.” Kalimat itu ia sampaikan ketika mengeluarkan saya dari sekolah. Beberapa tahun setelah itu, saya bertemu The Road Not Taken dan membuat saya semakin paham makna pesan itu.

“Between Going And Coming” – Octavio Paz

Between going and staying

the day wavers,

in love with its own transparency.

The circular afternoon is now a bay

where the world in stillness rocks.

All is visible and all elusive,

all is near and can’t be touched.

Paper, book, pencil, glass,

rest in the shade of their names.

Time throbbing in my temples repeats

the same unchanging syllable of blood.

The light turns the indifferent wall

into a ghostly theater of reflections.

I find myself in the middle of an eye,

watching myself in its blank stare.

The moment scatters. Motionless,

I stay and go: I am a pause.

Dari judulnya saja, puisi ini sudah membawa kita pada dirinya. Diri yang sunyi. Jika memiliki tubuh, maka peluklah tubuh puisi ini setiap kau melihat hal-hal yang kau cintai pergi dan lepaslah ketika kau menemukan sesuatu yang bertahan di antara sekian kepergian. Dan barangkali hanya puisi ini yang kau temukan paling terakhir. Puisi yang meminta kejedaan dari semua yang riuh dan berlalu. Cepat dan sulit diterka.

Saya baru berkenalan dengan Octavio Paz, kesulitan memahami puisi asing alasannya. Tapi kebetulan, seorang kawan menawarkan link di Twitter dan saya membukanya. Ternyata, di antara sekian puisi yang di muat di blog itu, salah satunya “Between Going and Coming”. Sedikit demi sedikit saya mengartikan dan yang saya temukan adalah pusat kesunyian. Pusat di mana seseorang dengan keharusan yang disadari menerima hal-hal yang datang padanya. Dan puisi ini menawarkan cara. Cara untuk menghadapi semuanya

“Aku” – Chairil Anwar

Kalau sampai waktuku

‘Ku mau tak seorang kan merayu

Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang

Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku

Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari

Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Buku pertama yang saya beli berjudul Aku, kumpulan puisi Chairil Anwar. Saya lupa alasan membeli buku itu. Mungkin hanya sok-sok supaya dikira senang dengan sastra. Tapi, ke-sok-sok-an itulah yang mengantar perkenalan pertama saya dengan puisi.

Waktu itu saya hanya mengenal puisi dari bangku sekolah dasar yang diajarkan almarhumah guru bahasa Indonesia. Tapi semuanya berubah ketika mulai membaca satu demi satu puisi di buku itu. Dan setelah selesai membacanya, saya kembali membuka halaman Aku. Membacanya sekali lagi. Sekali lagi.

Larik favorit saya di puisi ini adalah Aku ini binatang jalang/Dari kumpulannya terbuang. Ketika membacanya, secara naluri, saya langsung tertarik. Terlebih ketika dikeluarkan dari sekolah, kalimat itu seperti bernyawa dan berdiri menjadi bayangan saya.

Belakangan, ketika internet sudah masuk di kampung, saya mencari biografi Chairil Anwar dan tepat, dia memang binatang jalang yang paling terhormat. Saya tidak pernah menyesal mengapa harus jatuh cinta dengan puisi.

***

Demikianlan perkenalan saya dengan puisi, barangkali tidak sepenting mencari tahu siapa anak kecil kurang ajar yang bilang “heart” di lagu “Thinking Out Loud”-nya Ed Sheeran. Yang jelas, saya mencintaimu seperti puisi-puisi yang tidak pernah mengkhianti penyairnya meskipun kelak penyairlah yang memiliki kuasa mengkhianati puisinya sendiri. Bravo sepak bola Indonesia!

14 Mei 2015

Standard
Uncategorized

Kelambanan yang Membantu Saya

Saya selalu lamban dalam memahami sesuatu. Memindahkan sebuah teks atau gambar ke dalam kepala saya atau menangkap pesan yang tertulis di soal-soal ujian. Kelambanan ini pernah saya benci. Dunia terasa berjalan cepat sementara saya tertatih-tatih di belakangnya. Itulah kesadaran yang dibangun komunitas tempat saya hidup pada masa remaja.

Kelambanan adalah kekalahan. Dan kekalahan semacam itu adalah yang paling lemah! Itulah gambaran bagaimana komunitas saya membentuk pemahaman soal lamban dan cepat!

Kesadaran itu dibangun melalui media. Di ruang kelas, selain gambar Pancasila yang memisahkan presiden dan wakilnya, juga ada poster-poster pencerahan — begitu kami dulu menyebutnya. Satu kalimat yang terus menghantui saya pada saat itu, Buku adalah Jendela Dunia. Di tembok-tembok pesantren, ada tipografi berbahasa Arab atau Inggris yang juga berfungsi sebagai kalimat pencerahan. Yang paling saya ingat adalah, experience is the best teacher – dua kalimat ini tentu akrab dengan kita.

Tante saya adalah pustakawan di sekolah. Saya sering diam-diam masuk ke perpustakaan pada malam hari dan mengambil beberapa buku, sebut saja Malu Aku Jadi Orang Indonesia, O Amuk, O Kapak, Atheis, Siti Nurbaya, Rubuhnya Surau Kami, Jalan Tak Ada Ujung, Belenggu, Tenggelamnya Kapal Var der Wijck. Saya membaca karena dorongan kalimat pencerahan pertama. Sementara kalimat kedua membuat saya menjadi pribadi yang sedikit liar. Kabur dari pesantren untuk melakukan hal-hal yang pada saat itu dianggap nakal. Ke stadion untuk menonton PSM bertanding. Ke tempat penyewaan playstation, kolam renang, bioskop, dan tentu saja toko buku.

Pada masa itu, di kepala saya, dunia berjalan cepat. Segala hal seperti berkaki seribu dan ia berlari secepat mungkin. Semua itu berubah ketika saya dikeluarkan dari pesantren oleh ayah saya sendiri. Bagi orang lain, mungkin saya dikeluarkan, tetapi bagi saya, itu proses pencabutan diri dari tempat saya lahir.

Di pesantren kedua itu, setiap hari kamis, ada seorang ibu yang datang pada siang hari. Ia membawa sebakul buku dan dijual kepada kami. Jika keuangan saya sedang menyedihkan, ia rela saya membawa bukunya dengan kesepakatan, “Dari pulang pako baru kau bayar, Nak”.

Ia menjual novel-novel yang sedang laris saat itu, sebut saja, Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, Maryamah Karpov, Ipung I, Ipung II, Ayat-ayat Cinta, Pudarnya Pesona Cleopatra. Itulah judul yang sempat saya ingat. Oh iya, saat itu ia juga menjual novel-novel Tere Liye, tetapi entah mengapa saya tidak tertarik membelinya.

Orang lain mungkin berpikir betapa hancurnya hidup saya pasca dikeluarkan, tetapi setelah kembali melanjutkan pendidikan di pesantren yang kedua, saya menemukan kalimat pencerahan baru yang tidak ditulis di mana-mana, tidak disebutkan oleh siapa pun. Dunia tidak berjalan cepat, hanya orang-orang yang terus mengejarnya! Saat itu, saya masih menjadi seorang pembaca liar yang terobsesi membaca semua buku. Saya tidak menyesalinya, tapi menyadiri, bukan itu yang saya butuhkan sekarang!

***

Kini, dalam satu tahun, saya hanya mampu membaca paling banyak dua puluh lima sampai dua puluh lima judul buku (kalau tidak salah, pernah beberapa kali melebihi angka itu). Jumlah yang sedikit tentu saja — apa lagi jika bercita-cita menjadi penulis. Tetapi saya melakukan itu atas kesadaran yang membantu saya selama ini tetap bisa belajar.

Kesadaran itu lahir ketika saya mempelajari ingatan di tahun-tahun krusial dalam hidup saya. Ketika di sekolah dasar, saya bukan murid yang cerdas — jika ukurannya adalah rangking. Hanya pernah beberapa kali mendapatkan peringkat tiga di kelas. Itu pun, nilai matematika saya tidak pernah berubah dari tahun ke tahun. Jika guru saya jujur mengisi rapor, mungkin itu selalu merah. Saya benar-benar membenci pelajaran itu. Dulu!

Tetapi pelajaran bahasa membuat saya bergairah di hari-hari tertentu. Perjumpaan pertama saya dengan puisi Walau Hujan dan Cerita Pengembala dari kelas bahasa. Saya membuka buku ajar Bahasa Indonesia untuk mencari puisi dan cerpen. Membacanya berkali-kali. Dan setelah itu merasa telah mempelajari seisi buku. Konyol tapi membahagiakan.

Itu satu-satunya ingatan yang bisa dihubungkan dengan hidup saya sekarang. Menjadi pembaca yang lamban dan belajar menulis.

Seperti yang saya tulis di pembuka catatan ini, saya hanya mampu membaca dua puluh lima judul buku selama satu tahun. Yah, saya lamban dan itu memang benar adanya. Tetapi untuk menyiasati kelambanan itu, saya menggunakan metode membaca. Biasanya, jika di bulan pertama saya membaca buku A, C, dan F, maka bulan kedua saya membaca, H, L, dan M. Bulan ketiga, saya akan mengulangi membaca A, F, dan M.

Setiap kali mengulangi buku yang pernah saya baca, saya mendapatkan sesuatu yang baru. Sesuatu yang luput saya masukkan dalam kepala saya. Saya benar-benar lamban memahami sesuatu.

Misalnya dua tahun lalu, buku yang saya baca berulang sampai tujuh kali adalah The Art of War. Setiap kali saya membaca bukunya, selalu ada pemahaman, penafsiran, dan pengetahuan baru. Betapa lambannya saya menangkap sesuatu.

Akhirnya, pola semacam ini berpindah pada medium lain, ketika saya menonton film, mendengar lagu, dan ketika saya jatuh cinta — hahahah.

Saya pernah membenci kelambanan saya dan memaksa diri saya membaca begitu banyak buku. Tetapi saya merasa hanya menemukan tumpukan buku dalam kepala saya dan tidak tahu bagaimana cara membuka halamannya. Dan itu membuat saya merasa lebih lamban dan dungu!

Standard