Archive, Journal, Resensi

Panritasaga

Museum dan perpustakaan adalah simbol peradaban.

13 Maret 2016, setelah melalui tujuh jam perjalanan darat, saya bersama empat orang kawan dari Makassar tiba di Desa Pambusuang. Aroma laut menyatu dengan udara pukul delapan pagi yang sejuk di tanah Mandar.

Seorang lelaki dengan rambut yang dililit ke dalam topi menuruni tiga anak tangga dan menyambut kami; Muhammad Ridwan Alimuddin. Dialah penggagas Armada Pustaka, di desa yang terletak di Kecamatan Bala Nipa ini.

“Sejak tahun lalu, kami sudah mengoprasikan Perahu Pustaka, Becak Pustaka, Bendi Pustaka, dan Motor Pustaka. Nusa Pustaka – perpustakaan dan museum maritim,  hadir untuk melengkapi Armada Pustaka yang selama ini, secara aktif digunakan sebagai alat kampanye literasi di Sulawesi Barat.” Terangnya dengan ramah ketika menjelaskan kepada kami aktivitasnya belakangan ini.

Sebelum tiba, saya mencari beberapa pralana di internet tentang Nusa Pustaka, termasuk acara Perpustakaan Rakyat Sepekan III yang akan saya hadiri. Tidak banyak, tapi lumayan lengkap. Belakangan, melalui balasan surat elektronik, Ridwan membilangkan, “Hanya saja, di internet, ada beberapa pemberitaan “Armada Pustaka” yang berfantasi. Hahaha”

 Mulanya, saya merasa tempat ini tidak jauh berbeda dengan perpustakaan alternatif pada umumnya. Namun ketika berdiri di ambang pintu, memandang beberapa anak-anak sibuk membaca dan Sandeq – perahu tradisional Mandar, sepanjang tiga meter terpajang dengan ratusan buku di atasnya, saya nyaris tidak percaya. Bagaimana mungkin, perpustakaan menjadi tempat “bermain” anak-anak?

Dalam benak saya, bersit kecemburuan muncul pada gairah orang-orang di desa ini terhadap dunia literasi. Menyandingkan dengan Katakerja, tempat saya bekerja sebagai pustakawan di Makassar, hanya ada satu anak kecil yang rutin berkunjung, itupun adalah tetangga kami.

Salah satu yang menarik perhatian saya, di antara deretan buku di atas Sandeq itu, adalah Kalindaqdaq – puisi khas Mandar. Saya mengambil buku bersampul kuning dengan gambar seorang lelaki Paqkalindaqdaq itu, kemudian membuka halamanya secara acak.

Polei paqlolang posa

Pesiona balao

Soroqmo dolo

Andiang buku bau

Telah bertandang seekor kucing

Yang mengaku utusan tikus

Sudahlah, pulanglah

Di sini tidak ada tulang-tulang ikan

            Dinding yang dibuat dari Alisiq – anyaman bambu, membuat sirkulasi udara terus terjaga. Almanak dan beberapa foto kegiatan Armada Pustaka terpajang. Lantai dari bilahan bambu semakin menguatkan kesan lokalitas dari perpustakan ini.

            Ridwan menyajikan seteko kopi dan memanggil kami untuk istirahat sejenak. Tapi karena masih penasaran, saya melanjutkan ke bagian dalam Nusa Pustaka. Dua rak buku berwarna merah saling memunggungi atau sedang berpelukan. Berdempet rapat.

“Ada ribuan buku hasil sumbangannya teman-teman. Selain yang terpajang di sini, masih ada juga yang di Perahu Pustaka.” Tutur Ridwan ketika saya menanyakan jumlah bukunya.

            Saya mengamati judul-judul bukunya yang sangat beragam. Mulai dari sastra, sejarah, budaya, dan buku pelajaran.

“Apa yang terjadi bila setiap desa di Indonesia memiliki perpustakaan semacam ini?”

Lelaki berambut panjang itu hanya tersenyum mendengar lirih yang sengaja saya ucapakan sedikit keras itu. Dari caranya menjawab, saya coba menerka dua singgungan, yang pertama, apakah setiap desa memiliki orang yang tertarik menggeluti literasi? Kedua, sampai sejauh mana komitmen mereka bersetia pada dunia literasi yang sunyi ini?

            Tepat di atas rak buku tersebut, dengan penghubung lima anak tangga, ada ruangan lain yang lebih privat. Benar saja, itu adalah kantor Nusa Pustaka. Ketika menjulurkan kepala, saya melihat sebuah komputer dan beberapa kertas catatan terhambur di sekitarnya, “Barangkali bekas jurnalis Radar Sulbar yang produktif menulis tentang kemaritiman Mandar itu senang mengerjakan tulisannya di sana.” Gumam saya sambil meletakkan kembali buku Mandar Nol Kilometer.

            Setelah puas mengamati Nusa Pustaka, barulah saya mencecap kopi itu dan mengobrol bersama teman-teman lain. Tampak beberapa pustakawan, sedang mendata buku-buku. Sementara di halaman, beberapa anak kecil tadi kini sibuk bercengkrama dengan beberapa orang dewasa.

 “Hari ini rencananya mau dikasi’ pulang Perahu Pustaka, mauki ikut?” Ridwan menawari kami untuk menemaninya.

“di manaki perahunya itu, Kak? sambung Irmawati dengan lugas.

“Di Tanga-tanga, dekat pasar Tinambung. Kemarin ada Festival Sungai Mandar di sana, tapi sudah selesai. Jadi maumi dikasih pulang itu perahu.”

“Bagaimana yang lain? Kalau saya mauka ikut.”

            Selain Aan Manyur yang nampak masih lelah dan memilih beristirahat di Nusa Pustaka. Kami bertujuh sepakat untuk ikut berlayar, Randi Akbar, Hardiman, Maman Suherman, Irmawati, Ridwan bersama anak lelakinya, Nabigh Panritasaga, dan saya sendiri.

            Setelah bersiap-siap, di antar seorang pemuda menggunakan mobil, jadilah kami menuju desa Tanga-tanga, sekitar enam belas kilo meter dari Pambusuang.

***

Dia melempar anak lelakinya yang berusia enam tahun dari kapal. Melayang beberapa saat sebelum terhempas di lautan. Bantuan pelampung yang memeluk tubuhnya membuat anak itu terapung. Tapi itu tidak cukup untuk melawan ketakutannya. Di bawah matahari pukul tiga belas siang, ia menangis, sedu sekali.

            Sesaat sebelumnya, tiga awak perahu menepikan Baqog – perahu tradisional Mandar, dengan menarik penambatnya. Tulisan pada dinding luar kapal mulai luntur, tapi masih jelas terbaca, Perahu Pustaka Pattingaloang. Setelah cukup dekat, salah seorang awak perahu menurunkan tangga dan kami menaikinya. “Orang Mandar percaya bahwa tangga itu harus ganjil, sebab yang menggenapi adalah rezeki.” Tutur Ridwan menjelaskan mengapa tangga perahu itu jumlahnya lima. 

Sejak kami naik, perahu terus berbuncang. “Keras ombat kapiteng.”Teriak Randi.

Kurang lebih dua puluh batang bambu sisa Festival Sungai Mandar ditumpuk. Sementara dalam lambungnya, tersimpan sekitar empat ratusan buku. Melalui buritan perahu, Maman Suherman memilih masuk dalam lambung kapal untuk melihat tampakan di dalamnya. Saya memilih berdiri di dekat tiang perahu bersama Randi dan Irmawati. Tidak jauh dari tempat saya, Hardiman terlihat cemas memegang tali layar. Sementara Ridwan bersama anaknya berada di bagian belakang, berdiri dengan tenang.

Dua puluh meter perahu meninggalkan bibir pantai, mesin belum dinyalakan, dan keseimbangan perahu tetap tidak bisa dikendalikan. Para awak terlihat cukup tenang. Sebagai pelaut Mandar, mereka sepertinya telah terbiasa menghadapi keadaan ini. Wajah para awak yang setangguh karang membuat saya kurang merisaukan kebuncangan perahu.

            Beberapa detik setelah itu, ketika salah seorang awak perahu ingin naik, keseimbangan semakin sulit dikendalikan. Hingga akhirnya, perlahan tapi pasti,  Perahu Pustaka terbalik. Blurp!

Satu persatu dari kami menceburkan diri ke laut. Kecuali Hardiman dan Maman Suherman. Dia memeluk tiang dan baru ikut tercebur ketika penyangga layar itu menyentuh permukaan laut, sementara Maman terjebak di lambung perahu bersama buku-buku. Dengan bantuan dua orang awak, butuh beberapa menit untuk dirinya bisa keluar.

Beberapa warga yang melihat kejadian itu langsung berenang menuju perahu. Salah seorang di antaranya menarik Sandeq berukuran kecil untuk kami tumpangi ke daratan. Sementara itu, para awak dan beberapa pemuda, berusaha membalik Perahu Pustaka agar buku-buku yang sebagian masih tersimpan di lambung perahu, dapat segera diselamatkan.

Layar patah dan mesin perahu harus dikeringkan. Sambil menunggu pemuda yang mengantar kami tadi kembali, buku-buku dan gawai yang ikut tercebur kami jemur di halaman rumah warga.

***

Selain ucapan kekasih yang memberi harapan palsu, salah satu pembunuh paling akrab adalah media dengan segala kegegeran yang ditimbulkannya.

Kurang lebih satu jam setelah Perahu Pustaka terbalik, salah satu media daring langsung mengangkat beritanya, “Perahu yang ditumpangi Maman Suherman dan Aan Mansyur Terbalik di Perairan Majene.” Meskipun belakangan berita ini dihapus oleh adminnya, tapi itu sudah cukup merepotkan. Setidaknya bagi Aan sendiri, melalui panggilan telepon dan grup whatsaap, beberapa kawan di Makassar yang mendengar kabar ini langsung menghubunginya.

“Saya yang setengah mati tenggelam, Aan Mansyur-ji yang terkenal.” Canda Randi saat membaca berita itu, ketika kami tiba kembali di Pambusuang.

Setelah beristirahat dan melewatkan acara pembukan Perpustakaan Rakyat Sepekan III, menjelang Maghrib, saya meminjam gawai seorang kawan yang bekerja sebagai reporter Fajar, kemudian menjejaki “Perahu Pustaka Terbalik” melalui mesin penelusuran di internet.

Apa yang saya temukan membenarkan candaan Randi. Setidaknya membuat saya senyum-senyum geli. Semisal yang ditulis oleh Junaedi di regionalkompas.com dengan judul “Perahu Pustaka Terbalik, 11 Awak Selamat tetapi Ribuan Buku Terendam” dalam pemberitaannya, dia menuliskan, “Sebanyak 11 awak, termasuk seorang anak, selamat. Namun, ribuan buku, sejumlah laptop, dan handphone rusak setelah terendam air.”

            Data yang sebenarnya adalah, kami hanya bersepuluh, termasuk tiga awak perahu. Tidak ada leptop dan jumlah buku yang ikut tenggalam sekitar empat ratusan.

Efek yang ditimbulkan oleh berita ini hanya berkisar tentang taksiran jumlah kerugian secara materi. Namun bagaimana nasib anak-anak di pulau dan di kampung nelayan, yang karena kerusakan Perahu Pustaka, barangkali akan mengganggu jadwal mereka mendapat bahan bacaan?

Ini juga adalah kerugian lain, kerugian yang jauh lebih penting. Mengingat Sulawesi Barat, pada tahun 2012, melalui rilis yang dikeluarkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menempatkan provinsi termuda di Indonesia itu sebagai tiga daerah dengan jumlah buta aksara paling tinggi.

Sementara kanal berita gosulsel.com, dengan tagline, melihat lebih utuh, memuat tiga berita tentang terbaliknya Perahu Pustaka. Salah satunya adalah “Maman Suherman Selamat Setelah Perahu yang Ditumpangi Terbalik di Mandar.”

Dengan mengutip beberapa tweet kawan Maman yang sudah mendapat kabar dari Notulen Gondolo itu, terbitlah sebuah berita yang fantastis. Ini sangat mengharukan tentunya.

Ketika membaca beberapa berita – atau bisa juga disebut karangan bebas, itu di halaman rumah Ridwan, saya menyayangkan mengapa tidak ada media yang tertarik mengulas nasib para penunggu buku, yang selama ini biasa disambangi oleh Perahu Pustaka?

Padahal perahu itu sudah menebar semangat literasi di Pulau Battoa dan Pulau Tosalamaq yang terletak di Teluk Polewali. Tidak lupa juga menyinggahi beberapa kampung nelayan di pesisir Sulawesi Barat, mulai dari Gonda di Campalagiang hingga yang berada di kota Majene, seperi Pamboang, Sendana dan Malunda.

Berita semacam ini semakin mengaburkan apa yang seharusnya masyarakat kenal dari usaha Ridwan Alimuddin untuk menghidupkan budaya literasi di Sulawesi Barat. Itu juga tidak akan membantu mengurangi angka buta huruf, yang berdasarkan data Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Sulbar, mencapai 90,54 persen dari 1,5 juta penduduk Sulbar pada tahun 2014.  

Berita yang muncul akhirnya hanya mengedepankan pemuatan kegegeran konten tanpa punya kepentingan terhadap kebenaran dan bagaimana dampak yang ditimbulkan. Saya kembali mengingat balasan surat elektronik Ridwan, “Ada beberapa pemberitaan yang berfantasi.” Tapi kali ini, saya merasa bahwa semua berita tentang insiden terbaliknya Perahu Pustaka Pattingaloang lebih jelek dari fantasi yang buruk.

***

Sebagai penulis dan notulen di Indonesia Lawak Klub, Maman Suherman memang cukup dikenal oleh publik. Sementara Aan Mansyur sendiri, penyair yang puisi-puisinya akan kita temukan dalam film Ada Apa dengan Cinta 2 ini cukup digemari penikmat puisi di Indonesia.

            Media, dengan cara seperti ini, berhasil membuat kepopuleran dua tokoh itu mengaburkan makna penting dari perjuangan Ridwan menyabarkan semangat literasi. Pada akhirnya, yang masyarakat ketahui hanya percikan insiden yang juga tidak begitu mendalam.

Sementara Armada Pustaka masih harus berjuang untuk ikut membantu pemerintah memberantas buta aksara. Selain itu, yang menjadi tugas utamanya,  memudahkan anak-anak untuk mendapatkan bahan bacaan, bukan hanya di pulau dan pesisir, tapi juga yang berada di pegunungan.

“Gerakan kita langsung dengan beberapa armada yang saling melengkapi. Awalnya perahu saja, yang menjangkau jauh hingga ke pulau. Tapi itu menjadi “sia-sia” bila ternyata di lingkungan tempat saya tinggal tidak membaca buku. Nah saat proses finishing Perahu Pustaka, kita buat juga Bendi Pustaka, untuk kemudian Becak Pustaka. Sebab di sini juga banyak kampung di pegunungan, kita buat juga Motor Pustaka. Lalu akhirnya hadirlah Nusa Pustaka ini. Setidaknya itulah yang membedakan gerakan literasi kami dengan yang lain.” Demikian penjelasan Ridwan ketika saya menanyakan apa yang harus diketahui oleh orang tentang Armada Pustaka dan gerakan literasinya.

Aan Mansyur sendiri menganggap bahwa “Kalau katakerja – perpustakaan yang dikelola Aan di Makassar, itu untuk semakin mendekatkan orang-orang pada buku. Sementara apa yang dilakukan oleh Ridwan dengan Armada Pustaka untuk semakin memperkenalkan masyarakat pada buku. Kondisinya tentu berbeda.”

Maka yang menjadi perhatian penting dari Ridwan Alimuddin, selain menjaga ciri khas dalam mendorong anak-anak mencintai buku, turut membantu mengurangi angka buta huruf di daerahnya.

Jika di antara kita, ada yang memiliki bahan bacaan yang lebih, Armada Pustaka selalu terbuka untuk menerima pendonasian buku. Tentu, selain modal untuk melayarkan Perahu Pustaka.

***

Adzan maghrib berkumandang. Langit senja di Mandar mulai pudar. Selain warga yang berjalan menuju masjid di pertigaan jalan itu, nyaris tidak seorangpun yang berkeliaran. Desa ini menjadi lebih sunyi dari sebelumnya.

Salah satu hal yang jarang saya jumpai lagi di Makassar, antara Maghrib dan Isya, di masjid itu terdengar pengajian kitab kuning. Seorang ustadz menjadi pemandu yang menerangkan isi kitab dalam bahasa Mandar dan puluhan santri terlihat khidmat memahaminya. Assaduna.

Jeda waktu shalat ini, tidak ada aktivitas selain kegiatan keagamaan. Pambusuang seolah menjadi pesantren. Meskipun kita bisa melihat banyak rumah warga.

Memasuki pukul dua puluh, rangkaian acara Perpustakaan Rakyat Sepekan III dilanjutkan. Puluhan orang memenuhi Nusa Pustaka, termasuk beberapa santri yang tadi ikut pengajian di masjid. Kali ini giliran Aan Mansyur yang membawakan materi.

“Kalau kamu mau kaya, jangan jadi penulis. Kalau ada penulis yang terlihat kaya, Talatalekangji itu,” ucapnya dengan nada bercanda, “Persoalan penerbitan buku di Indonesia, itu telah menjadi industri yang dikuasai oleh segelintir orang. Lihatlah coba Gramedia. Penulis sendiri hanya menjadi bagian paling kecil dari industri itu.” Sambungnya menerangkan.

            Di hadapan pulahan anak muda, Aan bercerita tentang kiat menulis dan proses kreatifnya melalui beberapa kisah.

“Ibu saya tinggal di Balikpapan dan bekerja sebagai penjahit. Suatu waktu, saya bertanya, “Mengapa banyak kain yang dilebihkan, bukankah itu pemborosan?” Dan ibu saya menjawab, “Lebih mudah mengecilkan hal yang besar dari pada membesarkan hal kecil.” Dari cerita itu, kita bisa menemukan banyak sekali pelajaran tentang menulis. Misalnya saya, jika ingin menulis sesuatu yang panjangnya seribu kata, maka saya akan membuatnya menjadi tiga ribu kata dan menyuntingnya hingga seribu.”

Beberapa orang coba memahami penjelasan yang dituturkan Aan, lelaki berkacamata yang belum menikah di usia tiga puluh lima tahun itu kemudian melanjutkan.

“Saya juga senang dengan  kisah Gandhi, suatu waktu, seorang ibu dan anak datang menemuinya, “Putra saya ini tidak mau mendengar saya. Namun entah mengapa dia selalu mau mendengar nasehatmu. Saat ini dia terlalu banyak makan gula. Saya khawatir, giginya akan rusak dan gula sangat berbahaya bagi kesehatannya.” Mendengar itu, Gandhi menyanggupi dan memintanya kembali dua minggu kemudian. Ibu dan anak itu kembali pada waktu yang telah dijanjikan. “Nak, dengarlah yang ibumu katakan, terlalu banyak makan gula itu tidak baik.” Ibu itu heran, “Kalau sekadar mengucapkan itu, mengapa harus menunggu dua minggu?” tanyanya, “Karena saya harus latihan berhenti memakan gula.”

Aan menutup materinya dengan membacakan puisi Tidak Ada New York Hari Ini, salah satu yang termuat dalam buku puisi terbarunya yang terbit April ini.

Resah di dadamu, dan rahasia yang menanti di jantung puisi ini.

Dipisah kata-kata. Begitu pula rindu.

Lihat tanda tanya itu.

Jurang antara kebodohan dan keinginanku.

Memilikimu sekali lagi.

***

Di halaman Nusa Pusataka, untuk hari ini, kegiatan Perpustakaan Rakyat Sepekan III sudah selesai. Bersama pustakawan, kami duduk melingkar dan bercerita kembali tentang pengalaman siang tadi. Maman memperlihatkan luka di kakinya yang tergores karang, Randi yang juga kakinya terluka menimpali.

“Perawatnya tadi, seharusnya lebih lama lagi na-obati kakiku.” Kami tertawa dan paham betul kegenitan itu.

Pukul dua puluh tiga, rombongan kami pamit untuk pulang ke Makassar.

“April atau selambatnya Mei, Perahu Pustaka berlayar ke Kepuluan Supermonde sampai ke Makassar.” Melihat kami berjalan ke mobil, Ridwan mengucapkan sampai jumpanya itu.

Jalan begitu lengang, hanya satu dua kendaraan melintas. Efek Rumah Kaca mengalun. Menemani kepulangan kami.

Standard
Archive, Journal

1 – Puisi Post-Tragedy: Kisah Romeo dan Hawa

Kepala karangan ini adalah asumsi reflektif tentang salah satu hal yang barangkali sudah sangat klise. Adalah cinta – yang pernah memusnahkan dewa-dewa, menyusun kasta-strata, dan sanggup mengobarkan perang di bumi ini. Kisahnya tertuang dalam kitab suci serta tertelusur di epos. Cinta pula yang sanggup menggerakkan infanteri ke selatan untuk merebut mahkota kaisar agung. Cinta dan darah adalah perang!

Tragedi pertama dalam sejarah manusia adalah kisah cinta tentang nestapa pengusiran, berderet kemudian tentang persilangan restu, lalu berhala-berhala yang diserang oleh api, dan mungkin yang paling banyak memberondong manusia adalah kisah cinta kepada seseorang yang tidak bisa dimiliki.

Oleh penyair, kisah-kisah ini telah mengilhami karya mereka. Kita membacanya penuh heroisme. Sejumlah masterpiece mereka hasilkan atas interpretasi dan respons mereka kepada tragedi-tragedi tersebut. Turut pula berbagai persoalan lain yang begitu deras dikandung masyarakat melalui pembacaan karya mereka. Mulai dari problem patriarki, patron klien, hingga kolonialisme. Dan di hadapan cinta, manusia tunduk dan pada masa yang lain menjadi tanduk untuk segala kekacauan itu.

Lalu apa yang disisikan penyair terdahulu kepada kita? Pertanyaan ini tentu terdengar putus asa – jika tidak bisa disebut menyerah. Beberapa penyair masa kini masih berkarya dengan meneruskan trah dari tragedi-tragedi tersebut. Sementara kebudayaan diciptakan bersamaan dengan hadirnya tragedi baru. Apakah kepurbaan tragedi akan menambah keeksotikan sebuah puisi? Atau para penyair masa kini hanya berusaha menelusuri keluasan bacaan mereka pada tragedi di masa silam dan pada waktu yang bersamaan, mereka memudarkan anasir penting dari hubungan puisi dan manusia?

Memang benar bahwa bagi penyair masa kini, jarak antara tragedi-tragedi itu dihalangi oleh masterpiece – dipenuhi interpretasi, keseimbangan logika, intertekstualitas, hingga counterfactual, dari penyair sebelumnya, dan sebelumnya, lalu sebelumnya lagi. Apakah ini menandakan bahwa penyair masa kini terancam menulis sesuatu yang berulang? Tak ada darah yang mengalir dari tubuh untuk kedua kalinya seperti tidak ada tragedi yang terulang.

Barangkali inilah saatnya menghancurkan tragedi-tragedi itu – yang barangkali telah menjadi monumen ingatan dalam kepala manusia. Beberapa tragedi berubah menjadi mitos atau folklor, sehingga sangkalan atau kritikan atas itu berarti menyeberangi batas tabu dan moral.

Beberapa penyair sedang mengontekskan tragedi nun lampau menjadi karya. Tentu hal ini bukan sebuah kemunduran yang berisiko – dengan segala upaya menghubung-hubungkannya dengan masyarakat masa kini. Tetapi itu artinya ada pula alternatif yang membentang sebagai tragedi baru bagi penyair.

Watak kolonialisme yang mencetak laku modernisme di sebuah kota melahirkan begitu banyak problem. Katakanlah, unsur kegilaan, kriminalitas, perusakan ekosistem alam, dan penggusuran – yang oleh negara dianggap sebagai bagian dari penertiban. Apakah pembangunan memang harus menyerahkan itu kepada kita? Lalu bagaimana dengan kelompok sub-urban yang sering kali menjadi subjek dari penertiban semacam itu? Bukankah ini merupakan tragedi baru yang menarik untuk diolah menjadi puisi? Dengan Romeo-nya adalah penguasa dan kita adalah Hawa yang tahu bahwa khuldi dari Romeo berdampak Buruk. Tetapi selalu saja, karma dan simalakama adalah satu-satunya pilihan. Atau katakanlah sebenarnya penguasa adalah Adam yang misoginis dan kesepian. Kita hanyalah Juliet yang diminta berbaring di tepi pantai dengan secawan racun bersamanya.

*berlanjut

Standard
Archive, Journal

Televisi Bekas dan Reformasi

Suatu sore yang masam di penghujung tahun 1997, ayah saya pulang membawa televisi bekas dua belas inci yang terikat di sadel motornya. Saya yang sedang bermain di halaman, berselebrasi melihat benda terajaib pada masanya itu. Aye, Captain!

Setelah sekian kali bertanya kepada ayah, kapan kita punya televisi sendiri agar pada hari minggu saya tidak perlu lagi kuturut ayah ke kota, naik delman istimewa. Terkabul sudah hasrat menonton Dragon Ball, Detektif Conan, One Piece, Felix the Cat, Wiro Sableng, hingga Keluarga Cemara dari rumah sendiri. Sebelumnya, jika hari minggu tiba, saya harus segera ke rumah teman untuk menemani dia menonton – kadang, momen semacam ini saya rindukan kembali dan karenanya, pada hari minggu saya sesekali tetap ke rumah teman itu atau dia yang datang ke rumah saya. Ternyata yang kita butuhkan memang adalah teman.

Sembilan bulan pasca rumah kami memiliki tabung kaca itu, suatu sore sepulang ayah bermain bola di lapangan pesantren, seperti biasa, ia bersiap-siap mandi dan menuju ke masjid. Tetapi di hadapan televisi dia berdiri menggunakan handuk berwarna hijau. Sesekali berkedip. Tak bergerak dan tak menjawab pertanyaan saya. Kenapa mahasiswa kumpul-kumpul? Kenapa mahasiswa ditembaki? Kenapa mahasiswa minta presiden turun? Kenapa? Kenapa?

Ayah saya hanya diam. Untuk pertama kalinya pula ayah saya – entah waktu itu dia sadar atau tidak, belum mandi untuk ke masjid saat azan sudah selesai. Dan saya tidak disuruh pula ke masjid. Kami berdua hanya menonton pewarta berbaju merah jambu dengan rambut sebahu mewartakan apa yang sedang terjadi di Ibu Kota. Saat jeda iklan, ayah saya tersenyum dan mengatakan, akhirnya Soeharto turun, Nak! Saya ikut tersenyum. Waktu itu saya tidak paham mengapa ayah saya tersenyum. Tetapi senyum saya pertanda yang lain, akhirnya saya bisa salat magrib di rumah dan langsung menonton Tuyul dan Mba Yul. Dalam hati, saya berdoa semoga setiap hari Soeharto turun dari jabatannya. Tetapi saya keliru, keesokan magribnya, ayah saya sudah berpakaian lengkap dan berjalan menuju ke masjid. Di belakangnya, saya ikut berjalanan. Itulah shalat magrib pertama saya ketika Habibie resmi menjadi presiden.

Belakangan saya tahu, tabungan ayah berbulan-bulan mungkin cukup membeli televisi baru sekiranya tahun itu tidak terjadi krisis moneter. Pada saat yang sama, di kampung saya, benda-benda yang ada kata bekas di belakangnya menjadi primadona – mulai motor hingga kulkas. Tumbuh pula beberapa penyedia servis reparasi alat elektronik yang selalu laku karena orang-orang lebih mampu memperbaiki dari pada mengganti. Pada titik terburuk, mereka menjual yang ada tanpa tahu kapan bisa membeli yang baru.

Pengaruh itu rupanya tertanam dalam kepala saya – mungkin juga teman sebaya pada masa itu. Sejak kecil saya tidak pernah bercita-cita menjadi polisi, dokter, apa lagi presiden. Beruntung pula ayah saya tidak pernah mengharuskan saya menjadi apa. Cukup pelihara kiblatmu! Teman-teman saya juga waktu itu lebih banyak membayangkan dirinya menjadi seorang yang mampu memperbaiki semuanya, kecuali negara ini.

Saya ingat percakapan dengan Ahmad dan Yabot – saya sudah bertaman dengan mereka sekitar dua puluh dua tahun yang lalu. Suatu hari ketika selesai bermain kelereng, kami singgah meminum air keran di masjid. Mulanya, Ahmad bercerita tentang bentuk susunan pohon dekat lapangan bola yang menyerupai helikopter – tentu kami tidak pernah benar-benar melihat helikopter. Sambil menunggu ibu kami keluar mencari anaknya. Pantang pulang sebelum sapu patah adalah jalan ninja kami.

Di penghujung sore itu, kami berbagi cerita soal cita-cita. Dengan penuh semangat, Ahmad menjelaskan kepada kami berdua tentang cita-citanya, ahli air! Tentu yang muncul di benak saya adalah Mario Bros. Yabot menjadikan sepak bola sebagai jalan mengubah nasibnya yang harus menjadi penghafal seperti ayahnya. Saya sendiri waktu itu, punya dua cita-cita, seorang tukang jahit dan penjual gado-gado. Bukan tanpa alasan, saya pernah melihat ibu saya memberi uang lima ribu – bukan nominal yang kecil pada masa itu, kepada tukang jahit. Lalu menjadi penjual gado-gado itu terinspirasi oleh seorang Mba yang berjualan gado-gado tepat di depan sekolah dasar saya. Dia baik dan gado-gadonya enak! Alfatihah!

Pada akhirnya, tentu saja tidak ada di antara kami yang menjadi apa yang pernah dicita-citakan. Ahmad sekarang menjadi seorang tenaga ahli profesional, Yabot merintis karir sebagai guru di pesantrennya. Lalu saya? Di tulisan inilah saya mungkin menjadi cerita dan menuang separuh kenaifan jika kembali mengingat pertanyaan saya kepada ayah soal televisi. Jika bisa memilih, rasanya keluarga kami tidak perlu memiliki televisi di rumah dan berharap apa yang saya nonton bersama ayah sore itu seharusnya hanya sebuah fiksi.

Tetapi, rupanya negara membuat harapan saya itu benar-benar terjadi. Dia terus-menerus menganggap masa lalu itu sebagai fiksi yang tak beriman.

Standard
Archive, Journal

Catatan atas Pre-teks Naskah Digitalisasi Memori Eksternal oleh Tri Wibowo

Dari mana kata pertama itu datang? Pertanyaan ini dapat digunakan penyair menelusuri ingatan masa kecil mereka. Suatu masa yang kini silam terbentang. Beberapa adegan dari masa kecil tersebut barangkali menjadi samar bagi penyair, tetapi tidak sedikit pula yang turut tumbuh di tubuh dewasanya dan membawa daya traumatis. Hal tersebut mempengaruhi bagaimana penyair memandang dunia, bagaimana mereka menginterogasi sorotan yang datang, dan tentu saja, gejolak yang membuatnya rentan terhadap emosi yang tidak stabil.

Penyair adalah pemilik tunggal dari masa kecil itu. Tetapi tidak satu pun dari mereka yang mampu masuk kembali ke dalam sana, menyamar menjadi seorang bocah yang bertemu dengan diri mereka di masa lalu. Jika bisa, saya akan mengirim seorang bocah yang menjadi pembunuh berantai ke masa kecil saya. Saya penasaran bagaimana diri saya di masa lalu menghadapinya.

Sebelum tiba pada kesadaran dewasanya, penyair bisa saja kehilangan suara dari kisah masa lalunya – terendam rutinitas, diembus arus pengetahuan baru, dijerat pangkal kota yang terus tumbuh tanpa melibatkan masa kecilnya lagi. Sementara itu, penyair harus terus berada pada titik kesadaran sebagai subjek dan objek atas segala yang ada di sekitarnya.

Lalu apa yang mesti ditulis menjadi sajak? Terlebih dahulu, suara dari kisah-kisah itu mesti dirangkai kembali menjadi lanskap ingatan. Yap! masa kecil adalah momen-momen terjujur saya melihat dunia! Proses perangkaian ingatan itu bisa dilakukan dengan berbagai metode, salah satunya tentu adalah menarik diri dari dunia atau dalam kisah para nabi, kita mengenalnya dengan istilah pengendapan.

***

Satu-satunya yang bisa dipercaya oleh penyair adalah ingatan mereka sendiri. Tetapi pada waktu yang sama ingatan itu pula yang paling mereka ragukan. Kerentanan penyair menghadapi ingatan mereka adalah tragedi yang ketika diolah menjadi sajak, maka menjadi sekumpulan paradoks yang ingin segera dilupakan tetapi berharap, di ujung sajaknya, ia menemukan pembenaran atas diri mereka.

Ketika seorang penyiar menulis sebuah sajak, dia adalah subjek sekaligus objek. Dua peran yang berbeda ini sering kali berperang untuk saling mendominasi dan menimbulkan emosi yang rentan dan tidak stabil dari sebuah sajak.

Barangkali, sajak-sajak semacam, “Kita selalu berada di daerah perbatasan/antara menang dan mati. Tak boleh lagi/ada kebimbangan memilih keputusan…” atau “Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun,/karena angin pada kemuning. Ia dengar resah kuda serta langkah pedati ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti,/yang jauh. Tapi di antara mereka berdua, tidak ada yang berkata-kata…” Atau sajak penyair Sitor, yang dari pemilihan judulnya saja, kita bisa merasakan kesadaran posisi subjek-objek itu, Dia dan Aku, “Akankah kita bercinta dalam kealpaan semesta?/-Bukankah udara penuh hampa ingin harga?-/Mari, Dik, dekatkan hatimu pada api ini/Tapi jangan sampai terbakar sekali…” adalah sajak yang ditulis di ruang netral penyiarnya. Nyaris tidak ada letupan di dalam sajaknya, dan penyairnya memindahkan metafora itu kepada kita – pembaca yang senang menebak-nebak maksud dari sesuatu yang sebenarnya cukup untuk kita nikmati.

***

Beberapa penyair butuh menciptakan “kamus”-nya sendiri agar diksi dalam sajak-sajaknya konsisten dan tetap sinkronis. Beberapa yang lain tentu saja tidak membutuhkan itu dengan berbagai pertimbangan yang cermat.

Salah satu yang kerap diperhatikan ketika membaca sebuah sajak tentu saja adalah keutuhannya – keutuhan yang lahir dari kejelian penyair menyusun kelas kata, menciptakan idiom, dan tentu saja meramu metafora.

Sebuah sajak yang dipenuhi konjungsi sering dianggap “tidak padat” tetapi di satu sisi, sajak liris sedikit mengabaikan permasalahan itu. Ia justru memilih mengolah wilayah konjungsi sebagai satu kekuatan bahasa agar menciptakan interpretasi baru dari sebuah sajak.

Ingatan masa kecil, kesadaran atas peran penyair sebagai subjek dan objek, keutuhan sebuah sajak adalah hal-hal mendasar yang barangkali akan turut mempengaruhi performa sajak yang ia hasilkan. Selain perkara tersebut, hal lain yang tentu tidak kalah penting adalah, bagaimana bentuk sajak itu menyesuikan dengan tema yang penyair pilih.

Standard
Uncategorized

Kelambanan yang Membantu Saya

Saya selalu lamban dalam memahami sesuatu. Memindahkan sebuah teks atau gambar ke dalam kepala saya atau menangkap pesan yang tertulis di soal-soal ujian. Kelambanan ini pernah saya benci. Dunia terasa berjalan cepat sementara saya tertatih-tatih di belakangnya. Itulah kesadaran yang dibangun komunitas tempat saya hidup pada masa remaja.

Kelambanan adalah kekalahan. Dan kekalahan semacam itu adalah yang paling lemah! Itulah gambaran bagaimana komunitas saya membentuk pemahaman soal lamban dan cepat!

Kesadaran itu dibangun melalui media. Di ruang kelas, selain gambar Pancasila yang memisahkan presiden dan wakilnya, juga ada poster-poster pencerahan — begitu kami dulu menyebutnya. Satu kalimat yang terus menghantui saya pada saat itu, Buku adalah Jendela Dunia. Di tembok-tembok pesantren, ada tipografi berbahasa Arab atau Inggris yang juga berfungsi sebagai kalimat pencerahan. Yang paling saya ingat adalah, experience is the best teacher – dua kalimat ini tentu akrab dengan kita.

Tante saya adalah pustakawan di sekolah. Saya sering diam-diam masuk ke perpustakaan pada malam hari dan mengambil beberapa buku, sebut saja Malu Aku Jadi Orang Indonesia, O Amuk, O Kapak, Atheis, Siti Nurbaya, Rubuhnya Surau Kami, Jalan Tak Ada Ujung, Belenggu, Tenggelamnya Kapal Var der Wijck. Saya membaca karena dorongan kalimat pencerahan pertama. Sementara kalimat kedua membuat saya menjadi pribadi yang sedikit liar. Kabur dari pesantren untuk melakukan hal-hal yang pada saat itu dianggap nakal. Ke stadion untuk menonton PSM bertanding. Ke tempat penyewaan playstation, kolam renang, bioskop, dan tentu saja toko buku.

Pada masa itu, di kepala saya, dunia berjalan cepat. Segala hal seperti berkaki seribu dan ia berlari secepat mungkin. Semua itu berubah ketika saya dikeluarkan dari pesantren oleh ayah saya sendiri. Bagi orang lain, mungkin saya dikeluarkan, tetapi bagi saya, itu proses pencabutan diri dari tempat saya lahir.

Di pesantren kedua itu, setiap hari kamis, ada seorang ibu yang datang pada siang hari. Ia membawa sebakul buku dan dijual kepada kami. Jika keuangan saya sedang menyedihkan, ia rela saya membawa bukunya dengan kesepakatan, “Dari pulang pako baru kau bayar, Nak”.

Ia menjual novel-novel yang sedang laris saat itu, sebut saja, Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, Maryamah Karpov, Ipung I, Ipung II, Ayat-ayat Cinta, Pudarnya Pesona Cleopatra. Itulah judul yang sempat saya ingat. Oh iya, saat itu ia juga menjual novel-novel Tere Liye, tetapi entah mengapa saya tidak tertarik membelinya.

Orang lain mungkin berpikir betapa hancurnya hidup saya pasca dikeluarkan, tetapi setelah kembali melanjutkan pendidikan di pesantren yang kedua, saya menemukan kalimat pencerahan baru yang tidak ditulis di mana-mana, tidak disebutkan oleh siapa pun. Dunia tidak berjalan cepat, hanya orang-orang yang terus mengejarnya! Saat itu, saya masih menjadi seorang pembaca liar yang terobsesi membaca semua buku. Saya tidak menyesalinya, tapi menyadiri, bukan itu yang saya butuhkan sekarang!

***

Kini, dalam satu tahun, saya hanya mampu membaca paling banyak dua puluh lima sampai dua puluh lima judul buku (kalau tidak salah, pernah beberapa kali melebihi angka itu). Jumlah yang sedikit tentu saja — apa lagi jika bercita-cita menjadi penulis. Tetapi saya melakukan itu atas kesadaran yang membantu saya selama ini tetap bisa belajar.

Kesadaran itu lahir ketika saya mempelajari ingatan di tahun-tahun krusial dalam hidup saya. Ketika di sekolah dasar, saya bukan murid yang cerdas — jika ukurannya adalah rangking. Hanya pernah beberapa kali mendapatkan peringkat tiga di kelas. Itu pun, nilai matematika saya tidak pernah berubah dari tahun ke tahun. Jika guru saya jujur mengisi rapor, mungkin itu selalu merah. Saya benar-benar membenci pelajaran itu. Dulu!

Tetapi pelajaran bahasa membuat saya bergairah di hari-hari tertentu. Perjumpaan pertama saya dengan puisi Walau Hujan dan Cerita Pengembala dari kelas bahasa. Saya membuka buku ajar Bahasa Indonesia untuk mencari puisi dan cerpen. Membacanya berkali-kali. Dan setelah itu merasa telah mempelajari seisi buku. Konyol tapi membahagiakan.

Itu satu-satunya ingatan yang bisa dihubungkan dengan hidup saya sekarang. Menjadi pembaca yang lamban dan belajar menulis.

Seperti yang saya tulis di pembuka catatan ini, saya hanya mampu membaca dua puluh lima judul buku selama satu tahun. Yah, saya lamban dan itu memang benar adanya. Tetapi untuk menyiasati kelambanan itu, saya menggunakan metode membaca. Biasanya, jika di bulan pertama saya membaca buku A, C, dan F, maka bulan kedua saya membaca, H, L, dan M. Bulan ketiga, saya akan mengulangi membaca A, F, dan M.

Setiap kali mengulangi buku yang pernah saya baca, saya mendapatkan sesuatu yang baru. Sesuatu yang luput saya masukkan dalam kepala saya. Saya benar-benar lamban memahami sesuatu.

Misalnya dua tahun lalu, buku yang saya baca berulang sampai tujuh kali adalah The Art of War. Setiap kali saya membaca bukunya, selalu ada pemahaman, penafsiran, dan pengetahuan baru. Betapa lambannya saya menangkap sesuatu.

Akhirnya, pola semacam ini berpindah pada medium lain, ketika saya menonton film, mendengar lagu, dan ketika saya jatuh cinta — hahahah.

Saya pernah membenci kelambanan saya dan memaksa diri saya membaca begitu banyak buku. Tetapi saya merasa hanya menemukan tumpukan buku dalam kepala saya dan tidak tahu bagaimana cara membuka halamannya. Dan itu membuat saya merasa lebih lamban dan dungu!

Standard
Archive, Journal, Resensi

Alanis; Dunia yang Bertahan dari Rumus Fiksi

Kesedihan bermigrasi dari satu peristiwa ke peristiwa lain melalui perantara kuasa negara, orang-orang hidup dalam dunia transaksional yang statis, cinta melabelkan diri pada penderitaan yang setara, kenyataan-kenyataan itu harus bertahan dari rumus fiksi yang moralis.

Demikian film Alanis menjelaskan struktur masyarakat yang direpresi dan bagaimana mereka bertahan menghadapinya.

Kebinalan Boenos Aires mulai digambarkan dari apartemen yang disewa seorang pelacur bernama Alanis. Di ruang kecil itu, ia tinggal bersama Dante – anaknya yang baru berumur delapan belas bulan, dan Gisela – kawannya. Keduanya bersilang peran untuk menjaga Dante dan bagi Dante, kedua perempuan itu adalah  orang tuanya.

Kekuasaan negara yang despotik diurai melalui penggeledahan oleh petugas di apartemen Alanis. Uang dan ponselnya disita sebagai barang bukti. Gisela dituduh sebagai muncikari dan harus ikut ke kantor polisi. Seorang interogator berkali-kali menawarkan agar Alanis mau direhabilitasi. Namun baginya, ajakan itu sama saja menyerah tanpa kepastian pada negara.

Pasca penggeledahan tersebut, Santiago – pemilik apartemen mengusir Alanis. Ia terpaksa tinggal sementara di ruko milik bibinya. Kehilangan tempat tinggal tetap membuatnya menolak direhabilitasi. Setidaknya, pilihan menumpang tanpa jaminan adalah kepastian baginya.

Setelah Alanis tinggal bersama bibinya dan Gisela masih ditahan di kantor polisi, ia terpaksa kembali menjalani aktivitas melacurnya. Karena ponselnya disita oleh petugas, ia kehilangan relasinya. Ia terpaksa mangkal di daerah yang dipenuhi pelacur imigran. Hukum rimba tentu saja membuatnya diusir oleh pelacur yang merasa tempat itu adalah daerah kekuasannya. Ia terpaksa harus sembunyi dari pengawasan pelacur lain untuk mendapatkan pelanggan.

Kompleksitas urban dalam diri Alanis seolah menjawab, mengapa sepanjang film tidak ada hotel berbintang, rumah mewah, pusat perbelanjaan, atau gedung bertingkat penuh pencahayaan yang tajam disorot. Alanis dibuat tidak memiliki privasi untuk pantas berada di tempat-tempat semacam itu atau kemapanan yang jauh dari dirinya menjauhkan pula semua kemewahan tersebut.

Aktivitas ruang Alanis sepanjang film tidak terlepas dari rumah bordil, apartemen sederhana, jalanan, kantor polisi, dan layanan aduan masyarakat. Bahasa yang digunakan Alanis dalam percakapan sehari-harinya juga sering kali adalah kalimat persuasif. Bagaimana ia mengajak pelanggannya, menghindari kejaran pelacur yang lain, menjawab interogasi petugas, meminta tempat tinggal, dan mencari pekerjaan. Kalimat semacam itu tidak terang kita dengar dari tokoh lain yang memiliki privasi.

Tata upaya yang digunakan Alanis dalam bertahan hidup dijelaskan Sigmund Freud sebagai represi – diartikan sebagai mekanisme pertahanan diri manusia yang paling dasar. Mekanisme ini berfungsi sebagai pertahanan diri ketika manusia menghadapi situasi traumatis. Alanis menghapus kekhawatirannya ketika kenyataan menolak harapan, sebelum hal tersebut mengganggu alam bawah sadarnya. Hasrat terbesar Alanis menghapus kekhawatirannya barang kali didorong oleh kesadaran atas hidupnya yang terasing, terbuang, dan tentu saja, Dante.

Apa yang dihadapi Alinas sepanjang film mungkin bisa kita temukan – dalam bentuk yang berbeda, pada laku umum masyarakat urban di Indonesia yang menghadapi tekanan bertumpuk. Tetapi bagaimana jika ternyata Alinas memilih direhabilitasi? Itu mungkin lebih berhasil lagi menjelaskan diri kita yang paling jujur – kisah-kisa semacam itu harusnya hanya bisa kita baca dalam karang fiksi.

Standard
Archive, Journal, Resensi

Everybody Knows; Membawa Rahasia ke Tempat Terbuka

Apakah sebenarnya rahasia yang pedih kita pendam adalah kebohongan menyakitkan bagi orang lain?

Sekiranya ada jalan tebus menuju semesta konflik dalam film Everybody Knows, pertanyaan di atas barangkali menjadi rambu paling awal yang mengikat keseluruhan fragmen konflik dalam film ini. Terdiri dari lapisan cerita tentang sisa-sisa kejayaan masa lalu keluarga tuan tanah bernama Antonio, bagaimana masyarakat menghadapi keraguan pada institusi negara, dan perayaan atas kekalahan-kekalahan kecil mereka pada kecurigaan yang rapuh. Serumpun peristiwa itu diurai di kota kecil di pinggiran Madrid yang menjadi latar film.

Ana dan Joan mengumpulkan kembali keluarga Antonio melalui pesta pernikahan mereka. Mariana dan Rocio menyambut kepulangan saudaranya, Laura – yang kini tinggal bersama Alejandro, suaminya di Buenos Aires. Laura datang dengan kedua anaknya, gadis cantik bernama Irene yang usianya terpaut cukup jauh dengan adik lelakinya. Pelukan hangat Laura kepada ayahnya mengembalikan sekali lagi arti rumah bagi mantan tuan tanah yang kini renta dan temperamen itu. Kepulangan ini juga disambut oleh Paco – suami Bea, mantan kekasih Laura yang kini mengelola tanah perkebunan anggurnya.

Sekilas, apa yang dirasakan Laura di kota kelahirannya sering pula kita jumpai, bahkan mungkin menjadi laku kita dalam keseharian. Euforia pulang kampung setelah merantau cukup lama. Kejutan atas perubahan yang amat lambat pada tubuh kota. Orang-orang yang kita jumpai menjadi lebih tua dari bayangan semula. Sudut-sudut kota yang menyimpan kisah. Laura bernostalgia dengan masa lalunya.

Namun peristiwa tak terduga pada malam pernikahan Ana dan Joan menjadi mula perkara dalam film ini. Saat pesta sedang berlangsung, lampu seketika padam. Sesaat sebelumnya, Irene harus istirahat lebih dulu karena kepalanya sedikit pusing. Setelah lampu menyala kembali, Laura memeriksa keadaan kedua anaknya di kamar. Irene tidak ada di ranjang dan pintu kamar kecil terkunci. Dalam keadaan kalut, Laura memanggil Paco untuk mendobrak pintu. Mata Bea menangkap adegan itu sebagai kecemburuan yang halus dan penuh ambisi.

Di ranjang tempat Irene tidur sebelumnya, tergeletak potongan koran tentang penculikan anak yang baru-baru ini terjadi. Tidak berantara lama, ketika Laura masih sibuk mencari Irene di loteng, pesan singkat masuk ke ponselnya, Putrimu bersama kami. Jika lapor polisi kami akan membunuhnya. Ia segera memperlihatkan pesan itu kepada Paco. Kesimpulan mereka, Irene diculik!

Peristiwa penculikan itu menjadi sumbu yang membakar rahasia masing-masing tokoh. Rahasia yang enggan mereka bicarakan secara terbuka selama bertahun-tahun itu, kini tiba pada kulminasi yang menderetkan sejumlah dampak dan berujung pada sikap saling curiga satu sama lain.

Dalam film ini, apa yang disebut rahasia hanya sesuatu yang tidak mereka bicarakan langsung dengan objek tertuju. Tetapi di kamar tidur, dapur yang sepi, meja makan yang dingin, pojok bar yang hangat, pematang perkebunan anggur yang diterpa terik, atau sudut gereja yang tak terduga, rahasia lama ditukar dengan rahasia baru melalui interaksi yang intim oleh tokoh.

Antonio menyimpan rahasia atas kekecewaannya pada Paco yang membeli tanah dengan murah dari Laura ketika mereka pacaran. Ia berkali-kali menyinggung hal tersebut lantaran Paco dianggap memanfaatkan kedekatannya dengan Laura saat itu. Rocio menyimpan rahasia atas perpisahannya dengan Gabriel yang palsu. Paco diam-diam merahasiakan perasaannya pada Laura yang masih menyala walau redup dan mungkin hanya kilasan. Alejandro menyimpan rahasia dari keluarga Laura tentang kebangkrutannya selama dua tahun belakangan ini. Laura menyimpan rahasia dari Paco tentang status Irene. Selama ini Laura menganggap bahwa semua orang hanya tahu bahwa Irena adalah anak dari Alejandro.

Rahasia dan peristiwa penculikan itu rupanya dirasakan imbasnya oleh seluruh masyarakat di kota itu. Suatu siang, Antonio bertengkar di bar setelah memabuki kehilangan cucunya. Ia mengumpat, Kamu berutang padaku. Tanah ini milikku. Seluruh tanah ini milikku! Umpatan itu dibalas salah satu pengunjung bar, Seharusnya kamu tidak mempertaruhkan tanahmu di perjudian. Paco yang menenangkan Antonio juga tidak menjelaskan penyebab mabuk Antonio meski pemilik bar bertanya apa masalah yang menimpa mereka.

Setelah Alejandro menyusul Laura, mereka pergi bersama ke kantor polisi dengan niat awal melaporkan kehilangan anak mereka. Aku sangat takut jika sesuatu terjadi padanya, ucap Laura mengingat ancaman si penculik. Alejandro terpaksa mengurungkan niatnya untuk turun dari mobil.  

Ketika Bea pulang, para buruh pemetik anggur di perkebunan mereka  berkumpul di depan rumahnya. Mereka mendatangi Bea karena beredar isu bahwa Paco akan menjual tanahnya, Mereka dengar bahwa kau akan menjual perkebunan ini, siapa yang akan bayar upah kami? Tanya salah satu buruh dengan wajah bingung dan putus harap.

Suatu hari yang saling terpisah, Mariana mendapati Rocio pulang tengah malam dengan keadaan basah dan mencurigai keanehan adiknya tersebut. Bea mencurigai bahwa Paco masih mencintai Laura. Laura mencurigai Paco yang menculik Irene karena cinta mereka tidak suci sampai altar pernikahan. Setelah Paco tahu bahwa Alejandro menganggur selama dua tahun, ia curiga dalang penculikan Irene adalah ayahnya sendiri.

Deretan kejadian di atas tentu sering kita jumpai rupanya dalam kehidupan sehari-hari. Mereka hidup bukan hanya saling curiga, tetapi juga diikat oleh konsensus dan konflik. Penculik menekan keluarga Laura – karena mereka kira keluarga ini telah berhasil, padahal Alejandro menganggur selama dua tahun. Sementara Laura – yang sejak awal melibatkan Paco dengan kasus penculikan putrinya juga menekan suami Bea itu. Paco yang merasa dibutuhkan untuk menyelamatkan nyawa Irene kemudian menekan buruh pemetik anggur itu dengan niat untuk menjual tanahnya. Para buruh ini harus menekan apa selain menyerahkan nasibnya pada cara orang-orang di atas dalam menyelesaikan kasus penculikan Irene? Benar saja, sebab posisi tertentu di dalam masyarakat mendelegasikan kekuasaan dan otoritas terhadap posisi yang lain.

Apa yang terjadi pada masyarakat ini dijelaskan oleh Ralf Dahrendorf sebagai imperatively coordinated associations atau asosiasi yang dikoordinasikan secara paksa. Karena kepentingan pihak-pihak dalam asosiasi tersebut berbeda. Penculik itu berkepentingan mendapatkan keuntungan dari keluarga Laura yang mereka duga telah sukses di tanah rantau. Laura berkepentingan melibatkan Paco karena ia tidak memiliki uang untuk menebus penculik tersebut. Paco berkepentingan menjual tanahnya demi memenuhi permintaan penculik agar nyawa Irene selamat. Dan buruh pemetik anggur itu, hanya bisa bertanya, siapa yang akan bayar upah kami?

Nyaris seluruh tokoh dalam film ini terlibat dalam kekalahan-kekalahan kecil mereka. Kekalahan yang bersumber pada ketertutupan satu sama lain, asumsi berlebihan pada kenyataan yang mereka tidak tahu, dan rahasia yang mereka simpan hingga konflik semakin runyam. Namun konflik yang mendera para tokoh dalam film ini tentu bisa membawa perubahan sosial, jika mereka mengorganisir diri dan bersama-sama menyadari perannya sosialnya dalam masyarakat.

Tentu catatan ini hanya mengurai hal-hal sederhana dari keruwetan dalam semesta film Everybody Knows. Jadi, siapa yang menculik Irene? Silakan nonton filmnya!

Standard
Archive, Sajak

Malam dan Bulan Penuh dan Tiga Kabel atau Sebuah Gitar yang Ganjil

Kecurigaan yang tak terlatih akan melarung cinta di sungai seperti sebatang kayu dan padanya kita lihat nasib mengalir tak berdaya.

Sebuah lagu menghapus liriknya di antara kursi tua dan dermaga yang sama hampanya. Salah satu pada mereka bersedih dan menyamarkan air mata melalui tangkapan waktu yang sulit kita lepaskan.

Tetapi sungai pandai menertawakan kehilangan kita. Yang tak terucap tetap tancap terasa di dada. Yang tak terasa tetap lancar kita ucap. Siapa yang lebih sulit kita tipu, malam yang sendirian atau diri kita yang telah pada masing-masing?

Standard